
Sebulan sudah Arion tinggal di villa milik dokter Izabela dan akhirnya calon mertuanya itu pun pulang dan Tassa terlihat senang.
"Mama.. om Arion tiap hari ajak Sasa nikah, mama izinin?" Tanya Tassa begitu mereka masuk ke dalam kamar Izabela.
"Duduk sini.." Izabela menepuk kasur dan mereka duduk bersama.
"Sasa suka sama Arion?" Tanya Izabela dengan lembut.
"Ehm.. iya sih, om Arion tampan dan baik." Jawab Tassa jujur.
"Kalau dengan Leon?" Tanya Izabela lagi.
"Sayang.. Leon sangat manis dan anak baik tapi kenapa wajah Leon dan Sasa mirip ya?" Tanya Tassa yang tidak bisa di jawab oleh ibunya itu.
Izabela hanya mendesah pelan sambil melihat wajah Sasa yang juga sangat mirip suaminya.
"Coba tanyakan ke Arion, mama juga gak tau." Jawab Izabela sedikit ragu karena dia takut Tassa akan kesakitan lagi.
.
.
"om Arion..." Panggil Tassa pada Arion yang sedang mengobrol dengan Tinto di balkon ruang kerja dokter Izabela yang sebulan terakhir menjadi ruang kerjanya Arion.
"Ya Sasa sayang.. ada apa?" Tanya Arion dan Tinto mundur beberapa langkah untuk menghindari Tassa. Meskipun dia sudah tidak histeris melihat Tinto tapi pria itu tetap takut menyakiti nyonya mudanya.
"Eh.. ah aku mau tanya.. kenapa wajah Leon mirip denganku? Kata mama tanya ke om Arion."
"Eh.. itu.." Arion gelagapan, jika dia berkata yang sebenarnya takut Sasa yang sudah tenang jadi kambuh lagi, tapi dia sendiri bingung mau jawab apa.
"OM!!" Teriak Sasa karena Arion yang terlihat seperti melamun.
"Mungkin karna Nona Sasa berjodoh dengan Tuan kecil Leon." Celetuk Tinto tanpa berpikir panjang. Sasa dan Arion mengerutkan dahinya mendengar perkataan Tinto tersebut.
"Memangnya bisa?" Tanya Tassa lagi.
"Bisa saja, kan Sasa dan Leon akan jadi ibu dan anak jadi sudah jodoh, benar kata Tinto." Sambung Arion berharap Tassa tidak banyak berpikir.
"Kalau begitu ya sudah.." Tassa kembali melangkahkan kakinya meninggalkan Arion dan Tinto yang kini menghela nafas lega.
Malam semakin larut, Tassa yang masih memikirkan perkataan Tinto dan Arion merasa ada yang janggal. Memang dia sangat sayang pada Leon apalagi sebulan ini mereka bersama dan semakin dekat saja bahkan tidak terpisahkan.
"Ah.. aku akan cari om Arion lagi." Tassa keluar kamar dan menuju ruang kerja lagi tapi Arion tidak ada. Padahal mejanya masih berantakan, dengan banyak kertas dan laptop masih menyala. Bahkan kopinya masih dengan asap mengepul tanda baru dibuat.
"Kok orangnya gak ada.." Gumam Tassa lalu duduk di kursi kerja itu melihat layar laptop, dia tidak berani menyentuhnya karena memang tidak pernah menggunakan yang namanya laptop. Tapi dia membaca tulisan yang ada disana dan ada foto seorang pria muda.
"Denis... Denis..." Gumam Tassa lalu melihat foto itu dengan jelas sekali lagi. Tassa memucat, bayangan masa lalunya kembali sedikit demi sedikit, kepalaya terasa pusing tapi dia menahannya dan malah membaca beberapa baris tulisan disana.
__ADS_1
Denis berada di sebuah wilayah terpencil, disana hanya ada sebuah pabrik besar dan dia bekerja sebagai buruh pabrik karena sudah cacat, kaki kanannya di amputasi. Istrinya Daniya menjadi gila dan anaknya Sherly dibawa pergi oleh ibunya Tantri ke luar negri dan masih dalam pencarian.
"Denis.. Daniya.. Tantri.. Denis.. Daniya.. Tantri." Ucap Tassa berkali kali sembari memegang kepalanya yang sakit.
Dia mengingat perlakukan Denis.. lalu Tantri yang memperlakukannya bagai pelayan, lalu Daniya yang baik tapi hanya kebohongan, lalu Tassa juga ingat Mr. Liong dan..
"Aku ingat.. hiks hiks, mereka jahat, aku ingat.. huaaaa hu hu.." Tangis Tassa pecah, tangis yang begitu memilukan, ingatannya perlahan muncul dan dia semakin merasa jijik sewaktu mengingat bagaimana tubuhnya dipermainkan oleh para pengusaha tua dan dia menjagi piala bergilir mereka.
Tassa semakin histeris saat melihat kertas yang ada di meja, dia mengambilnya secara acak dan menemukan 1 foto disana, dia adalah salah satu pria paruh baya yang menikmati tubuhnya dulu. Tassa dengan histeris meremas dan merobek kertas-kertas itu dan membanting laptop serta semua yang ada di meja.
Marah, sedih, kecewa semua jadi satu, Tassa begitu murka dengan semuanya dan hidupnya.
"Sasa! Ada apa?" Tanya Arion terkejut melihat Tassa sedang membanting laptopnya. Arion menghentikannya membuat Tassa juga terkejut.
"Om Arion..." Lirihnya menatap ke Arion dengan tatapan yang terlihat sangat menyedihkan.
"Ada apa Sa? Kenapa kamu marah sayang?" Tanya Arion lagi dan dia takut Sasa melihat isi laptop itu.
"Jangan sentuh aku, aku sudah kotor." Tassa menghempaskan tangan Arion yang sedang memegang lengannya. Arion heran karena Tassa biasanya sangat patuh dan lembut meskipun sedikit nakal.
"Aku telah ingat semuanya!" Teriak Tassa kemudian dia menangis lagi, sangat sedih lalu dia duduk meringkuk di sana memeluk lututnya dan menangis terisak.
Arion juga terkejut, tidak menyangka Tassa akan mengingatnya, pria itu juga berjongkok dan memeluk tubuh yang terlihat lemah itu.
"Kenapa harus ingat? Aku ingin kau lupakan semuanya Sasa.." ucap Arion lirih sambil tetap merengkuh tubuh itu. Sasa mundur, dia tidak ingin Arion memeluknya.
"Aku tau, aku ingat semuanya tapi aku bukan Sasa mu lagi. Dia sudah tidak ada, aku hanya wanita kotor yang sudah di jadikan pelacur oleh orang-ornag brengsek itu." Jawab Tassa melirik sinis ke arah laptop Arion yang sudah hancur.
"Sa.. kamu tetap Sasa ku yang manis, lucu, polos dan nakal. Tidak ada yang berubah sayang. Aku tetap mencitaimu apapun yang terjadi. Aku mohon, bangkitlah demi aku, demi Leon." Ucap Arion lembut, berharap Tassa akan lebih tabah.
"Leon.. Leon anakku?" Tanya Tassa dan Arion mengangguk.
"Leon anak kita, kau tidak lupa kan pernah melahirkannya?" Tassa mengangguk, air matanya semakin deras mengucur melalui mata cantiknya, dadanya sesak bagaimana dia bisa melupakan anaknya.
"Leon.. anakku.." Tassa berdiri dan berlari dengan cepat menuju kamarnya, dilihatnya Leon dengan tidur dengan nyaman dan lelap.
"Leon.. anak mami.." Ucap Tassa lalu merengkuh tubuh mungil Leon. Tassa terus menangis apalagi dia mengingat kalau Leon pernah operasi jantung. Anak sekecil ini sudah melalui banyak hal, Tassa sangat menyesali hidupnya.
"Jangan nangis lagi Sasa.. aku tidak bisa melihatmu begini, lupakan masa lalu dan kita hidup dengan melihat masa depan, ok?"
"Bagaimana bisa?" jawab Sasa lalu melepaskan pelukannya pada Leon.
"Aku akan membalas semuanya, aku akan membuat mereka hancur." Ujar Tassa penuh kebencian.
"Tidak perlu, aku sudah menghancurkan mereka semua, tanpa sisa." Balas Arion juga dengan penuh kebencian. Tassa melihatnya dengan bingung.
"Kemarilah.. kita bicara sebentar." Arion menarik Tassa tapi gadis itu menolak dan malah melihat ke arah Leon. Tanpa menunggu Arion mengangkat tubuhnya lalu membuka pintu kamar dan kembali ke ruangan kerja. Arion mendudukkan Tassa di sofa lalu dia duduk di sampingnya dengan tetap merangkul tubuh gadis itu.
__ADS_1
"Aku selalu mencarimu Sa.. sejak kau pergi tiba-tiba aku selalu mencarimu hampir 1 tahun aku berkelana ke desa dengan pemandangan indah sejuk dan mempunyai sunrise yang cantik juga malam penuh bintang tapi tidak menemukan dirimu dimanapun. Lalu orang tuaku menelepon karena ada bayi di depan rumah dan setelah di cek itu adalah anakku dan aku juga yakin karena bayi itu mirip denganmu. Kondisinya sangat kritis dengan gagal jantung bawaan, kurang gizi dan dalam keadaan basah kehujanan." Arion terdiam, begitu juga Tassa mereka menangis bersama, apalagi Tassa yang sebagai ibu tidak bisa menjaga bayinya.
"Maaf.. aku tidak bisa menjaga bayi kita dengan baik." Lirih Tassa tapi Arion menggegelengkan kepalanya.
"Bukan salahmu, Melly sudah ceritakan semuanya."
"Mba Melly.. dia baik-baik saja?"
"Dia sekarang kerja menjadi pengasuh keponakanku dan hidup dengan baik."
"Syukurlah.."
"Sejak Melly datang, dia memohon untuk menyelamatkanmu dari Mr. Liong itu. Tetapi sesampainya aku disana semua telah terlambat, kau telah pergi dengan terjun ke sungai."
Tassa menangis lagi mengingat bagaimana kelakuan mereka terhadapnya, dia di siksa seperti binatang dan mereka memperlakukannya seperti boneka se x.
"Jangan mengingatnya..." Arion mengeratkan pelukannya lagi agar Tassa merasa aman.
"Mereka biadab, aku akan membunuh Mr. Liong dan 2 temannya. kau harus membantuku." Ucap Tassa dengan penuh amarah.
"Dua orang mafia itu sudah mati." Sahut Arion yang masih geram dengan mereka.
"Mafia? Mereka mafia?" Tanya Tassa tak percaya.
"Iya dan aku telah menghukum mereka karena berkhianat." Lanjut Arion.
"Ha? Om.. kau?" Tassa terbelalak kaget, dia ingat dulu Arion sempat mengatakan bahwa dia adalah mafia dan bisa minta tolong apapun yang dia butuhkan namun saat itu Tassa mengira Arion hanya bercanda dan tidak memperdulikannya.
"Apa kau lupa, aku pernah bilang kalau aku ini mafia."
"Aku kira om cuma bercanda."
"Sudah jangan pikirkan apapun karena aku telah membalas mereka semua, aku memotong tangan 7 pria brengsek itu, Denis sudah dihukum oleh kakak tertuaku dan Mr. Liong sekarang sudah struk tak berdaya dan mereka semua telah aku miskinkan." Jelas Arion agar Tassa tidak perlu memikirkan balas dendam lagi, semua telah dilakukan olehnya.
"Tapi.. "
"Ck.. diam, jangan bahas lagi. Lalu kenapa kau meninggalkan ku Sasa sayang?"
Tassa menatap Arion dengan mata sendu, dia baru ingat kalau dulu dia sempat yang meninggalkan Arion dan saat ini sangat merasa bersalah.
"Aku menyesal.. seandainya aku tidak pergi, mungkin aku tidak akan jadi seperti ini." Tassa menangis lagi, dia sungguh menyesal akan perbuatannya saat itu yang begitu bodoh.
"Aku kira kau hanya orang biasa, memang kaya tapi tidak sebanding dengan calon suami yang ayah jodohkan untukku. Akau takut dia mencelakaimu, karena ayah bilang dia sangat kaya dan bisa melakukan apapun. Mereka mengancam ayah. Makanya aku pergi setelah memberikanmu kehormatanku, untuk seseorang yang aku cintai. Tapi ternyata... " Tassa terisak sambil menjelaskan. Terjawab sudah, Arion juga merutuki kebodohannya saat itu yang mengabaikan segalanya dan terlena dengan kehadian gadis yang sangat dia cintai.
"Sudah, jangan mennagis lagi, hatiku sakit bila melihatmu menangis.. kita sama-sama bodoh saat itu. Jadi mulai detik ini jangan menyembunyikan apapun lagi. Semua bisa di bicarakan dan aku bukan orang biasa sayang.. jadi jangan takut." Arion mendekapnya dengan erat.
Bersambung~
__ADS_1