
"Apa maksudnya ini? Kau harus bertanggung jawab terhadap putriku!" Hardik Fredderic ayah dari Rena.
"Tenang dulu Fredd, kita bicarakan baik-baik.." Ujar Arden menengkan Fredd yang sangat marah dengan pemberitaan tentang Rena dan Ansel.
Setelah berdiskusi dan berdebat panjang, akhirnya mereka sepakat kalau dalam 2 bulan ini Rena hamil maka mereka akan bertunangan karena Ansel bersikeras tidak akan menikahi Rena sampai kapanpun. Mau tidak mau Fredd memberi usul, setidaknya mereka tunangan dengan alasan untuk lebih saling mengenal untuk membungkam public.
"Pokoknya mommy juga gak mau menantu selain Adel, TITIK!" Tegas Hanny yang begitu marah setelah tau kesepakatan antara Arden dan Fredd.
"Iya mommy.. ini juga bagus untuk sementara, Ansel juga setuju kok dan setelah anak itu lahir kita akan tes DNA agar semuanya jelas ya.. sayang.. jangan marah lagi." Jelas Arden sambil merayu sang istri yang sedang marah.
Sementara Ansel dan Anson duduk dengan tenang meskipun pikiran mereka kacau. Belum lagi Ana dan Ion yang masih kuliah mendapat begitu banyak pertanyaan dari orang-orang di kampus mereka tentang kebenaran ini sampai mereka harus libur sementara.
"Anson, kamu juga jaga itu anaconda kalau nggak mommy potong, Ion juga." Hanny menatap kedua putranya yang memang sangat tampan dan mempunyai sifat ramah sehingga membuat wanita manapun akan luluh pada mereka.
"Tenang mommy.. Anson gak sembarang tembak dalam kok, kalau ****** juga susah cari yang pas, jadi selalu tembak luar." Jawab Anson yang langsung dapat pelototan dari Hanny.
"Ion juga mom, bahkan belum pernah nembak-nembak di luar, palingan di kamar aja mom hehehehe.." Jawab Ion sambil terkekeh pelan.
"Kalian semua gila.." Ucap Ana lalu kembali ke kamarnya malas mendengar ocehan dua kakaknya.
"Ansel.. nanti tambah pengawal buat Ana dan kalian hati-hati karena ini moment yang tepat untuk siapapun yang mau menjatuhkan keluarga kita." Arden memberi peringatan pada anak-anaknya karena sudah mulai ada beberapa pesaing bisnis yang memperlihatkan taringnya tetapi Arden juga tidak takut menghadapi mereka karena dia belum mengeluarkan kekuatan 'Blake' yang telah bertahun-tahun tertidur.
"Aku akan kerahkan pengawal 'Blake' untuk cari Adel dad, jangan sampai terjadi sesuatu pada Adel nantinya." Ujar Ansel yakin dan Arden memberi izin padanya, jika begini Ansel akan masuk ke dunia bawah tetapi dia tetap akan di kawal oleh Vino.
Ansel mendatangi markas 'Blake' dengan ditemani Arden dan disana dia bertemu dengan Jeremy yang baru pulang dari luar negri.
"Hai Jer.. gimana? lancar?" Tanya Arden dan Jeremy mengangguk.
"Lancar, Jerome yang akan pantau si bungsu disana beberapa bulan jadi aku bisa tenang." Jawab Jeremy lalu mereka duduk bersama.
Ansel menceritakan semuanya dan meminta bantuan anak buah Jeremy yang sangat terlatih, meskipun 'Blake' adalah milik Arden dan Arlen tapi tetap mereka sangat menghormati Jeremy yang merupakan senior terakhir dan pembimbing mereka sampai saat ini. Jeremy menyanggupi dan akan membantu mencari Adel dengan bantuan anak buahnya.
"Makasih om.. " Ucap Ansel dan terlihat raut sedih yang begitu mendalam dari wajahnya dan Jeremy paham akan itu.
"Dimana kamu Adeline..." Batin Ansel begitu dia sampai di penthouse Adel dan dia memutuskan akan tingal disini sampai Adel ketemu.
__ADS_1
\=
\=
\=
"Non.. Tuan sudah datang."
"Ah iya bibi.. terima kasih."
"Uncle Je, gimana?"
"Tenanglah.. kamu aman disini tapi janji, paling lama 3 bulan setelah itu uncle antar kamu pulang Adel."
"Iya uncle, Adel cuma mau menenangkan diri dulu disini dan makasih."
Jeremy meninggalkan Adel setelah memberikan beberapa keperluannya, setidaknya gadis ini sudah kembali sehat dan tidak menangis lagi.
Adel masih merenung di balkon ruang tamu itu sambil sesekali menggambar baju barunya dan kali ini dia ingin membuat baju pengantin impiannya sendiri.
Adel masih duduk memandangi hamparan luas kebun teh yang terpampang di depannya sambil menghirup dalam-dalam udara yang begitu segar. Tapi tiba-tiba dia teringat dengan Ansel minggu lalu dan semua kejadian yang dia alami saat itu.
Adel masuk ke kamar paling ujung untuk membersihkan diri lalu mengganti bajunya menjadi gaun putih sederhana pilihan mamanya, kemudian dia akan turun untuk bersama keluarganya menghadiri pesta pertunangan Aileen, meskipun telat tapi Adel berusaha untuk tetap datang.
"Duh... hape tinggal nih.." Adel menepuk keningnya padahal dia sudah sampai di aula besar itu, meskipun tengah terjadi keributan tapi dia lebih mementingkan poselnya daripada kepo dengan urusan itu.
Adel berbalik jalan dengan santai sambil bersenandung kecil..
"Adel.. Adeline.." Teriak seseorang yang Adel sangat kenal dengan suaranya.
"Kak Ansel.. kenapa?" Tanya Adel begitu Ansel menggenggam tangannya.
"Adel.. kamu milikku dan gak ada 1 pun yang boleh memilikimu Adel.." Lirih Ansel lalu Adel yang kesal pun tidak mau merespon ucapan Ansel.
"Katakan itu bohong Adel, kau gak di jodohkan kan?" tanya Ansel.
__ADS_1
"Bukan urusan kak Ansel. Lepaskan." Adel menyentak tangannya kuat agar terlepas dari Ansel dan langsung masuk ke dalam kamarnya tetapi Ansel mengikutinya dari belakang.
"Adel..kau milikku hanya milikku." Ansel memeluk Adel dari belakang dan Adel membiarkan saja.
"Adel.. aku sangat pusing, kepalaku sakit. AAhh.." Ansel berteriak, Adel yang panik lalu berbalik dan melihat keadaan Ansel yang terlihat kesakitan.
"Adel.. maaf tapi aku gak tahan lagi, aku mencintaimu Adeline.." Ujar Ansel lalu dia memeluk Adel dan menjatuhkan diri ke atas tempat tidur. Ansel memaksa Adel dan dengan paksaan itu dia melakukan penyatuan, Adel yang baru pertama kali sangat merasa kesakitan dibawah sana.
"Kak Ansel.. sakit kak.. lepaskan, tolong kak.." Tangis Adel pecah, sakit yang teramat sangat begitu juga hatinya terluka karena pemaksaan yang dilakukan Ansel padanya.
Ansel bukan melepaskan tetapi makin memperdalam, belum seluruhnya anaconda itu masuk, Ansel mendorong kuat kali ini anaconda berhasil masuk sempurna dan Adel memekik kuat, air matanya terus mengalir tapi akhirnya dia pasrah terhadap apapun yang dilakukan Ansel padanya.
"Aku mencintaimu Adel, aahhh cintaku Adeline.. kau hanya milikku." Ansel terus meracau sambil mendesah nikmat, milik Adel begitu kuat mencengkram si anaconda dan Ansel yang memang sedang dipengaruhi obat terus bergerak tanpa henti tanpa jeda sampai dia berkali-kali mengeluarkan benihnya didalam Adel yang terus terisak.
.
.
.
Adel masih menangis pilu, dia juga sangat mencintai Ansel tapi bukan begini caranya. Tapi Adel paham kalau Ansel pasti sedang mabuk karena dia sangat kasar, tidak seperti Ansel yang biasanya.
Dengan tubuh yang remuk dan bagian bawahnya masih berdarah Adel memakai kembali dalaman dan gaunnya lalu keluar dengan langkah tertatih. Hampir pagi dan hotel itu masih sepi.
"Siapa yang bisa membantuku lagi? Tapi siapapun itu pasti papi dapat temukan aku.." Lirih Adel saat duduk di sebuah taman kota dekat hotel yang sangat sepi sambil memikirkan apa yang akan terjadi padanya di masa depan. Dia tidak mau bertemu siapapun dan hanya ingin bersembunyi dari segalanya, terutama Ansel dan keluarganya.
"Yah.. dia, uncle Jeremy sama kuatnya dengan papi dan om Arden, dia pasti bisa membantu." Adelpun mencoba menghubungi Jeremy dan untungnya dia mengangkat teleponnya meskipun masih jam 4 pagi.
Setelah menghubungi Jeremy dan menceritakan hal yang dia alami, Adel di jemput oleh Jono yang kala itu memang sedang diberikan libur, karena Jeremy dan keluarganya sedang di luar negri.
"Non Adel.. ayo ikut saya." Jono memnaggil Adel yang hampir tertidur di kursi taman itu. Jono kemudian memapah Adel yang terlihat susah berjalan.
Jeremy yang tau keadaan Adel dari Jono dan langsung hari itu juga di pulang lebih dulu bersama Kalila. Sebelumnya dia juga sudah mendengar cerita singkat dari Adel melalui telepon dan menyuruh Jono mengambil barang bukti, simpan dan musnahkan sisanya. Dia juga geram dan ingin memberi Ansel pelajaran karena tidak tegas dalam bersikap.
Adel akhirnya dibawa ke daerah gunung T di villa milik Kalila yang saat ini menjadi kawasan pribadi dan private, hanya keluarga Jeremy yang bisa keluar masuk dengan bebas, dan kawasan itu dijaga sangat ketat bahkan Arden kalau mau berkunjung harus atas izin dari Jeremy.
__ADS_1
\=Flasbackend=
TBC~