
Gelapnya malam berganti cerahnya pagi hari, sudah jam 9 pagi tapi Vio dan Anson masih tertidur pulas, dokter yang datang bertugas juga tidak berani membangunkan keduanya dan malah berbalik pergi hingga 1 suara yang Anson kenal membangunkan keduanya.
"Anson!!" Teriak Hanny dan menepuk bahu anaknya itu yang sedang tidur sambil memeluk Vio dengan erat.
"Mommy!"
Bukan hanya Anson tapi Vio juga terbagun dan lebih kaget lagi saat tau kalau Anson tidur di sampingnya sambil memeluknya.
"Kamu gila ya! Anak gadis orang ditiduri begitu!" Bentak Hanny lagi.
"Hah? Anson gak apa-apain Vio kok, cuma tidur dan jagain Vio." Balas Anson yang tidak mau disalahkan lalu dia turun dari tempat tidur itu. Sedangkan Vio juga langsung duduk karena sangat malu. Lalu dia segera turun dan berlari menuju toilet.
"Kamu ini ya.. untung mommy tanya ke Melvin tadi malam."
"Iya mommy ku sayang.. Son lagi jagain mantu baru mommy jadi jangan cemas ok!"
Hanny tersenyum dan segera menuntun Vio kembali yang baru keluar dari toilet dengan wajah yang telah segar.
"Terima kasih Nyonya." Kata Vio yang merasa tidak enak.
"Eh kok Nyonya lagi sih.. panggil tante, atau langsung mommy juga gak apa-apa." Ujar Hanny dan Vio tertunduk mendengarnya.
"Iya tante." Balasnya pelan.
"Baiklah, mommy juga gak bisa lama-lama disini, ini sarapan dan ini baju ganti kalian. Mommy mau antar Ana ke bandara karena mereka berangkat bulan mau. Bye.. jadi anak baik Son dan jangan macam-macam."
Hanny mengeluarkan semua bawaannya lalu mengancam Anson sebelum keluar dari kamar itu.
"Pak.. bapak tidak kerja? Dan kapan saya bisa pulang?" Tanya Vio dan Anson melihatnya dengan kesal.
"Bisa gak ganti panggilan bapak itu? Aku berasa tua dan kamu sekarang kekasihku, ingat."
"Ah tapi.. panggil apa? Bapak kan bos saya jadi kalau panggilan lain nanti tidak sopan."
"Hm.. panggil aku sayang, darling, cinta, tampan, apapun asal jangan BAPAK!"
Vio tersenyum melihat Anson yang kesal dengan wajah cemberutnya membuatnya semakin tampan menurut Vio.
Melihat Vio tersenyum Anson kembali mengecup bibir mungil itu hingga Vio kembali merona karena malu.
"Sudah.. ayo kamu mandi dulu terus sarapan baru kita pulang." Perintah Anson dan Vio menurut. Dia membawa papper bag itu dan ke toilet yang sangat lengkap.
"Wah, tante bawa baju yang cantik dan ********** kenapa bisa pas begini? Ini juga ada roti jepang. Kok bisa tau?" Vio mengeluarkan semua isi dari paper bag itu lalu segera membersihkan dirinya sebersih mungkin.
"Sudah sayang?" Tanya Anson lalu Vio mengangguk dan gantian Anson yang mandi dan mengganti bajunya.
Kini mereka sarapan bersama dan segera pulang, Anson membawa Vio ke alamat yang diberitahukan padanya lalu mengantar Vio sampai ke dalam apartement.
__ADS_1
"VIOLET!" teriak Emily begitu Vio masuk bersama Anson.
"EMILY!" Mereka berpelukan dan melompat bersama-sama. Emi belum sadar siapa yang mengantar Vio pulang sampai Melvin yang menghentikan mereka.
"Hei.. sudah jadi teletubies nya." Tegur Melvin dan Emi baru sadar akan keberadaan Anson disana.
"Tu tuan Anson!" Pekik Emi dan Anson hanya menggangguk.
"Vio.. ada apa ini?" Bisik Emi bertanya dan Vio hanya nyengir sambil melihat kearah sahabatnya itu.
"Baiklah, sepertinya sudah ada yang menjagamu, aku akan kekantor dan kau istirahat, besok baru masuk." Pamit Anson dan sempat-sempatnya dia mengecup Vio sekilas di kepalanya.
"Wow.. udah jadian nih?" Tanya Melvin dan Anson langsung menarik Melvin dengan mendekap lehernya sambil jalan keluar.
"Baby.. nanti malam aku datang lagi, calon suami kerja dulu ya.. bye!" Teriak Melvin sebelum pintu tertutup.
"Kau..??" Emi menunjuk ke Vio.
"Hehehe.. begitulah aku gak bisa nolak, dia terlalu tampan kan." Kekeh Vio dan Emi bersorak gembira.
"Hebat Vio kau hebaaaattt! Pantas saja kau jadi cantik begini ternyata sudah ada yang punya." Teriak Emi dan Vio menyuruhnya tenang dan menceritakan semuanya.
"Sudah tenanglah.. aku mau beli kacamata baru, temenin yah.." Pinta Vio dan tentu saja Emi mau karena dia juga ingin jalan-jalan setelah ujian yang begitu melelahkan selama ini. Kini dia kembali sebelum hari kelulusan dan mencari kerja.
*** *** ***
"Pertama, Violet adalah anak bungsu dari 2 bersaudara. Dia punya kakak lelaki yang sedang ada di penjara karena menghilangkan data perusahaan lalu ayahnya yang membayar hutang perusahaan itu dengan meminjam uang ke koperasi yang cukup besar di daerah dekat rumahnya. Setelah berjalan 5 tahun ayahnya meninggal dan disusul ibunya di tahun berikutnya. Sehingga Vio tidak bisa melanjukan kuliahnya di luar negri karena terbentur biaya hidup disana padahal dia mendapatkan beasiswa sama dengan Emily makanya dia bisa punya 2 gelar.
Kedua, Vio sekarang bekerja untuk membayar hutang ayahnya di koperasi dalam jumlah yang cukup besar per bulannya yaitu 4,5jt dengan gajinya yang lalu dia hanya bisa memakai sekitar 700-1jt per bulan untuk biaya hidupnya.
Ketiga, karena kebakaran rumah dia harus pindah sementara ke apartemen Emily sambil mencari tempat tinggal yang murah. Sebulan ini dia memakai uang dari sisa gajinya yang sebelumnya dan pinjaman dariku.
Keempat, Vio adalah sosok mandiri dan tidak ingin dibantu secara cuma-cuma makanya kami bingung bagaimana cara untuk membantunya. Uang yang dia pakai dariku saja dia balikin pas gajian. Jadi yah begitulah..."
"Hem.. trus dia ada musuh gak?" Tanya Anson lagi.
"Musuh sih gak ada tapi kata Emi, dulu di sekolah dan kampus banyak orang yang menghinanya dan membulinya karena dia pintar tapi jelek, terus mereka juga menghinanya miskin karena ayahnya hanya supir dan ibunya pelayan."
"Pergi dan bayarkan semua hutang Vio nanti aku yang akan beritahukan padanya."
"Baik bos! Laksanakan!"
~~
~~
~~
__ADS_1
"Vio aku mau ngomong sesuatu." Ucap Anson yang menghampiri meja kerja Vio.
"Iya pak ada apa?" Tanya Vio sambil berdiri.
"Kok bapak lagi? Kan kemarin sudah bilang ganti panggilan bapak Vio~" Anson kesal dengan panggilan itu dan entah kenapa dia merasa gemas dengan wanita didepannya ini.
"Tapi ini di kantor dan lebih baik tetap panggil bapak saja." Vio bersikukuh tapi Anson malah menariknya masuk ke ruanganya.
"Duduk sini.." Anson mengangkat Vio untuk duduk di pangkuannya tapi Vio berontak untuk turun.
"Jangan pak, ini kantor nanti ada yang masuk." Tolak Vio tapi Anson tetap mengeratkan pelukannya hingga Vio tak berkutik di dalam dekapan lengan kokoh dan besar Anson.
"Gak akan ada yang masuk, memangnya kau pernah liat ada yang masuk kecuali Melvin?"
"Iya sih.."
"Nah duduk yang tenang, aku mau cerita. Kau tau aku siapa kan?" Vio mengangguk.
"Kalau kisah cintaku kau tau?" Vio mengangguk lagi.
"Apa yang kau ketahui tentangku." Tanya Anson dan menatap mata Vio, dia menarik turun kacamata itu karena mau melihat manik mata Vio yang begitu cantik.
"Aku tidak bisa lihat dengan jelas." Vio menaikkan lagi kacamatanya.
"Ayo jawab."
"Kata Melvin, bapak itu banyak pacar dan pemain wanita. Pacaran tidak lebih dari 2 bulan pasti putus tapi tidak pernah cinta sama pacar bapak." Ucap Vio dan Anson tersenyum mendengar yang dia katakan.
"Jadi kenapa kau mau jadi pacarku? Kau gak takut aku putusin setelah 2 bulan?" Tanya Anson dan Vio membeku, dia melihat wajah Anson dengan raut wajah yang sulit diartikan.
"Hahahah jangan keget begitu Vio.. aku cinta kamu jadi jangan takut. Selama ini aku pacaran bukan karena aku yang mau tapi mereka yang mengejarku makanya aku cepat bosan, tapi seorang wanita yang mungil dan menggemaskan berhasil menggetarkan hatiku, namanya Violet." Jelas Anson.
Vio terlihat tersenyum, hatinya senang dan berbunga-bunga. Biarlah jika dia bertahan hanya beberapa bulan juga dia pasrah saja.
"Tapi.. kau harus kuat ya, karna mantanku itu semuanya bar-bar. Bahkan Adel pernah di siram dengan es kopi padahal kami hanya ngobrol di cafe. Auntie Ay juga di tampar dan dijambak karena dikira telah menggodaku."
Vio terlihat kaget mendengar hal itu.
"Tapi aku maunya kita pacaran rahasia, apalagi di kantor ini."
"Memangnya kenapa? kau takut?"
Vio mengangguk, "Aku masih mau kerja dengan damai. Kalau ada yang tau mereka pasti heboh dan ya begitulah.. Aku yakin bapak paham." Vio tidak bisa melanjutkan karena pasti yang pertama menyiksanya adalah Jannet.
"Baiklah.. apapun maumu Vio sayang.. kamu imut sekali sih. Bahkan wajahmu lebih kecil dari telapak tanganku, menggemaskan."
Anson mencium pipi Vio dengan gemas dan memeluknya erat seperti memeluk boneka.
__ADS_1
TBC~