
"Leon.. mami Vio bawa eskrim." Vio memanggil Leon yang sedang asik dengan bacaannya. Ya, Leon yang kini berumur 1 setengah tahun sedang belajar membaca, dan sudah mengenal beberapa huruf dengan cepat.
"Wahh mami Vio hebat. Papi pasti gak marah kalau eskrimnya dari mami Vio." Leon tersenyum cerah dan segera mengambil eskrim dari Vio.
"Tentu saja, mami kan pintar bikin eskrim sehat untuk Leon. Kamu lagi baca buku?" Tanya Vio yang heran melihat anak ini yang hobi sekali baca buku padahal belum bisa membaca semuanya.
"Iya mami, Leon mau jadi anak pintar dan nanti mau ciptakan alat canggih agar mami bisa masak tanpa capek." Ujar Leon dengan semangat meskipun nafasnya terdengar lelah.
"Sudah.. makan dulu, nanti kita ngobrol ya. Mami mau balik jemput Sean dan Jean di rumah uncle Ansel." Vio pamit dan membiarkan Leon dijaga oleh perawatnya dulu.
Leon memang anak yang pintar, meskipun sangat lemah tapi dia punya daya ingat kuat. Anak lain yang semumuran dengannya bahkan belum fasih berbicara tapi Leon sudah bisa berbicara dengan fasih seperti orang dewasa. Mungkin kehidupannya di RS yang selalu bertemu dan berinteraksi dengan orang dewasa.
Bahkan Leon terlihat tidak nyambung jika bermain bersama Sean dan Jean, padahal umur mereka sama. Leon lebih nyaman jika bersama dengan orang dewasa dan mendengar mereka berbicara. Leon juga tidak suka nonton kartun, dia hanya nonton iklan atau berita. Paling nonton acara reality show jalan-jalan dan adventure. Impiannya adalah bisa bepergian dengan papinya keliling dunia.
"Ya ampun kamu nonton ini lagi Leon.." Tegur Arion lalu mematikan tv di kamar Leon saat dia pulang dari perusahaannya.
"Tumben papi lama pulangnya." Ujar Leon dan Arion tersenyum sambil mengecup puncak kepalanya.
"Iya, papi kan mau lihat cara kerja direktur barunya dulu, baru bisa di tinggal." Jawab Arion lalu dia memeriksa kulkas, disana dia temukan eskrim buah yang dibawa Vio tadi.
"Mami Vio datang?" Tanya Arion yang sudah membuka eskrim itu dan melahapnya.
"Iya papi.. tapi nanti balik lagi, mau jemput Sean dan Jean." Balas Leon dan Arion menyuapinya lagi dengan eskrim alpukat itu.
"Papi, Leon mau buku lain itu sudah habis di baca." Kata Leon dan Arion terkejut, pasalnya itu adalah buku dongeng anak-anak untuk umur 6 tahun dan Leon sudah membacanya dalam waktu 2 hari?
"Sudah baca semua? memangnya Leon ngerti?" Tanya Arion tak percaya.
"Gak ngerti tapi tanya kakak suster jadinya ngerti." Jawab Leon enteng.
"Sudah bisa baca semuanya kah?" Tanya Arion lagi dan Leon mengangguk.
__ADS_1
"Diajari sama kakak suster kalau Leon lagi bosan." Jawabnya lagi dan Arion berpikir akan mendatangkan guru saja untuk anaknya yang terlihat pintar ini.
"Kalau Leon belajar menulis mau?" tanya Arion.
"MAU PAPI." Teriak Leon antusias.
"Baiklah anak papi emang pintar, nanti papi carikan guru ya.." Leon mengangguk dengan senyumnya yang mengembang.
.
.
.
"Sepertinya anakmu ini jenius Ion." Ucap Vio karena dia melihat banyaknya buku dongeng yang di baca sendiri oleh Leon.
"Benar, aku akan cari guru untuknya belajar agar dia gak bosan disini terus." Ucap Arion dan Vio juga setuju dengannya.
"Bahkan si kembar belum bisa apapun dan anak ini sudah bisa membaca. Tuhan memberikannya kelebihan yang luar biasa." Lirih Vio yang melihat Leon yang sedang tertidur dengan alat bantu pernafasan agar tidak sesak nafas di tengah malam.
Begitu banyak wanita yang di kenalkan ke Arion tapi dia tetap tidak tertarik, di hatinya hanya ada Sasa, si gadis desa periang dan cerewet, selalu bisa membuatnya tersenyum dan kadang jengkel.
"Hai Arion.." Sapa seorang wanita dengan pakaian seksi masuk ke ruang rawat Leon. Arion yang melihatnya hanya bernapas berat dan kesal. Ini pasti ulah Anson yang jahil itu mengirimkan wanita ini untuk mengganggunya.
"Mau apa kau kesini?" Tanya Arion ketus.
"Aku hanya ingin menemanimu dan melihat Leon." Jawab Wanita itu.
"Pergilah Daniya, aku mau istirahat." Usir Arion dan Daniya terlihat kesal dan malah duduk di samping Arion yang tengah jengkel.
"Kapan kau mau buka hatimu, aku bisa bantu jaga Leon dan jadi ibu yang baik untuknya." Ucap Daniya sambil mengelus lengan Arion tapi langsung ditepis olehnya.
__ADS_1
"Pergilah sebelum aku meyeretmu keluar." Perintah Arion dengan nada datar dan tatapan matanya tajam menusuk. Daniya yang sedikit takut segera keluar dari sana dengan menelan kekecewaan yang entah sudah ke berapa kalinya.
Sedangkan Leon yang tertidur itu tampak sedikit gelisah tapi hanya sebentar dan tenang lagi, berkali-kali seperti itu.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
"Vinsa, kau ikut Dennis ke pesta perusahaan koleganya ya.. Aku tidak enak badan." Perinta Tamy dan Vinsa sedikit heran, kenapa dia yang di suruh.
"Tapi mba, apa mas Dennis gak marah nanti?" Tanya Vinsa.
"Gak, dia juga sudah tau aku gak bisa dan kau yang pergi." Jawab Tamy dan dia segera menarik Vinsa dan mendandaninya dengan cantik.
Dengan gaun selutut dan makeup tipis dengan rambut di curly membuat Vinsa terlihat cantik, apalagi mata birunya yang menawan, dia mempunyai wajah khas oriental tapi bermata biru membuatnya sedikit unik.
"Nah itu Dennis sudah pulang cepat pergi, nanti kalian terlambat."
Vinsa keluar dan mendapati suaminya sudah menunggu untuk siap berangkat, meskipun perasaan Vinsa tidak tenang tapi dia berusaha bersikap normal dan menjauhkan pikiran buruknya.
"Di dalam nanti senyum yang manis dan jangan macam-macam, ikuti perintahku." Bisik Dennis dan Vinsa hanya mengangguk.
Pesta yang cukup mewah dan Vinsa sedikit takjub karena dia sama sekali belum pernah datang ke pesta seperti ini sebelumnya. Sesuai perintah dari Dennis, Vinsa hanya tersenyum jika melihat kolega yang mengobrol dengan suaminya.
"Wah Mr. Liong, apa kabar. Kenalkan ini istriku Vinsa." Dennis menyapa pria paruh baya yang masih tampak gagah itu. Mata Mr. Liong sudah menyapu seluruh tubuh Vinsa dan dia sepertinya tertarik dengannya apalagi mata biru menawannya.
"Wow, istrimu sangat cantik dan mempunyai mata yang indah." Ucap Mr. Liong dan akhirnya mereka mengobrol dengan bahasa yang tidak dimengerti oleh Vinsa sampai akhirnya Dennis menyuruhnya naik ke hotel dan diberikan kartu untuk menunggunya disana.
Vinsa duduk termenung di sebuah sofa yang menghadap langsung ke jendela dan dia menatap kosong ke luar, tapi sebenarnya pikirannya melayang dan hatinya sangat merindukan om Arion yang sangat dia cintai. Pria tampan yang sebenarnya jauh dari kata om-om tapi Vinsa sangat senang memanggilnya om yang membuat pria itu jengkel.
Lamunan Vinsa buyar karena suara pintu dan ada seseorang yang masuk ke kamar, dia mengira itu Dennis dan menoleh ternyata itu Mr. Liong.
"Mr. Liong.. mau apa kesini? Dimana suamiku?" Tanya Vinsa sedikit takut.
__ADS_1
"Tenang manis.. aku yang akan menemanimu malam ini." Jawab Mr. Liong sambil mendekati Vinsa yang telah terhalang jendela kaca besar di belakangnya.
Bersambung~