
Aileen masih betah menari diatas Fane dan tiba-tiba dia terkejut mendapati ruangan di seberang ada Arden dan Anson sedang memantau mereka dari jauh. Aileen begitu terkejut dan langsung memutar tubuhnya menghadap arah Fane yang masih menikmati goyangan dasyat istrinya.
"Fane.. ahhh.. FANE!!" Teriak Aileen dibarengi dengan getaran hebat di seluruh tubuhnya dan dia seketika terkulai lemas.
"Fane, di ruangan seberang ada kak Arden, cepat selesaikan dan kita pulang." Lirih Aileen lalu giliran Fane yang menegang dan menyembur kuat beberapa kali.
"Hei.. apakah terkejut bisa bikin org*sme?" Tanya Aileen dan kini mereka tertawa karena merasa hal ini sangat lucu.
Fane mengangkat tubuh Aileen yang masih menyatu dengannya dan membawanya masuk ke ruang kecil yang ada disana dan membersihkan lelehan sisa cairannya.
"G1string ini sangat berguna aku suka kau memakainya, tinggal di geser sedikit sudah bisa main. Kau nakal istriku." Bisik Fane lalu mereka segera keluar.
Aileen melihat Angel kini berbaring dan dihujam kuat oleh Rio yang masih belum selesai. Aileen melambaikan tangannya tanda pamit dengan senyum kepuasan.
Angel melihat mereka masih dengan tatapan penasaran sedangkan Rio merasa marah karena Aileen begitu menggodanya dan dia sangat ingin menjamah tubuh Aileen yang terlihat montok, seperti waktu itu tapi kali ini harus sampai tuntas.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
"Kalian sudah puas?" Tanya Arden dengan wajah datarnya.
"Maaf kak.." Cicit Aileen lalu mengeser sedikit kebelakang Fane untuk menyelamatkan diri dari tatapan tajam Arden.
"Terserah lah kalian ini suami istri, mau berbuat apapun itu hak kalian tapi jangan di tempat umum apalagi di sini dan jaga istrimu Fane, dia tanggung jawabmu sekarang."
"Baik kak Arden." Jawab Fane tegas.
"Dan hentikan kegilaan kalian haduh.. pengantin baru. Ay pikirkan umurmu dan bersiaplah punya anak." Titah Arden dan kini mereka ada di dalam mobil karena Fane akhirnya menarik Aileen masuk ke mobil Arden.
"Loh kan kak Arden sendiri yang kasih Ay minum pil itu, Ay masih rajin minum." Aileen melihat pada Arden yang duduk disampingnya, dia diapit oleh Arden dan Fane sedangkan Anson duduk di depan dengan supir. Arden memerintahkan mereka akan pulang ke rumahnya dan karena mereka sedikit minum jadi harus supirlah yang menyetir agar mereka tidak celaka nantinya.
"Kamu minum pil itu terus?" Tanya Arden memastikan. Aileen mengangguk dan Fane juga membenarkan.
"Kenapa kak?" Tanya Aileen karena dia pikir Arden tidak membiarkan mereka punya anak dulu untuk saling mengenal.
"Berapa lama kalian menikah?" Tanya Arden dan Fane yang menjawab, "2 bulan 3 minggu."
"Kau sudah datang bulan?" Tanya Arden lagi dan Aileen menggeleng.
DEG ! DEG!
"Ah.. iya sudah 2 bulan ini belum da.. tang... " Ucapan Aileen melemah dan dia menoleh ke Fane yang juga baru sadar. Selama ini mereka melakukannya setiap hari bahkan tidak ada selingan datang bulan.
"Besok ke dokter, karena pil itu adalah vitamin agar kau cepat hamil." Tukas Arden menahan senyumnya dan Aileen benar-benar tercekat tak bisa berkomentar apapun, dia dan Fane hanya saling memandang dalam diam tapi tangan Fane menggenggam erat tangan Aileen, begitu hangat.
Sampai dirumah Arden menyuruh Aileen dan Fane tidur di kamar tamu untuk sementara sampai adanya kepastian apakah benar Aileen sedang hamil.
"Ay.. apakah kau siap hamil?" Tanya Fane serius.
"Kalau kamu?" Aileen balik bertanya.
"Jangan pikirkan aku, pikirkan keinginanmu sendiri Ay aku tidak memaksa istriku untuk hamil atau punya anak karena aku tidak mempunyai hak memaksa pasanganku. Pernikahan bukan berarti selalu untuk keturunan kan? Kita harus sama-sama nyaman dalam pernikahan ini."
Aileen tertegun mendengar penjelasan Fane, dia tidak menyangka kalau Fane tidak memaksakan kehendaknya dalam pernikahan ini.
__ADS_1
"Tapi aku juga ingin tau keinginanmu."
"Kalau aku.. setiap manusia pasti ingin keturunan. Jika di beri seorang anak maka akan aku cintai dan didik dengan baik, jika tidak juga tidak masalah yang penting pasanganku bahagia hidup denganku tanpa paksaan dalam hidupnya."
"Terima kasih Fane.. kau sangat baik. Tapi aku janji jika benar hamil aku akan menjaga anak kita dan akan belajar jadi istri yang baik, jika memang belum, aku tidak akan menunda. Biarkan mengalir saja yang penting kita berdua bahagia, aku nyaman bersamamu."
"I love you baby.."
"Hm.. terima kasih Fane."
Aileen memeluk Fane dengan erat, tidak tau apakah Fane sudah mengisi hatinya atau belum yang pasti Aileen merasa nyaman dan tenang berada bersama suaminya selama ini.
"Ayo mandi dan tidur, besok kita ke rumah sakit." Fane menuntun Aileen dan mereka mandi bersama dengan cepat untuk segera istrirahat karena sudah jam 4 pagi.
Aileen masih menggulung dirinya di dalam selimut sedangkan Fane ada di kamar mandi untuk mencuci wajahnya agar segar. Dia tidak mandi lagi karena baru 3 jam lalu dia mandi. Setelah itu dia menghampiri Aileen yang masih tidur dengan nyenyak dan mengecup kening dan bibirnya, ini adalah ritual setiap paginya tanpa diketahui oleh Aileen selama hidup bersama.
"Fane kok sudah bangun? Bukannya kalian pulang hampir jam 4 pagi?" Tanya Hanny yang sedang menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya dan disana ada wajah baru yang tidak di kenal Fane tapi dia juga tidak mau memikirkannya.
"Iya ada syuting jam 8 ini dan aku pamit berangkat ya.. permisi." Pamit Fane yang tidak sempat untuk sarapan.
"Oh ya kak, aku titip Aileen dan katakan padanya kalau sudah bangun, jam 11 nanti aku kembali."
"Ok, hati-hati dan minta supir mengantarmu saja." Balas Hanny dan Fane mengangguk.
~
~
~
"Ah laparnyaaaa...." Aileen bangun dengan lesu dan dia segera mencuci wajahnya lalu mandi.
"Ay.. Fane akan balik jam 11 nanti." Ucap Hanny begitu melihat Aileen turun dari tangga dengan wajah masih mengantuk.
"Iya kak.. aku lapar." Balas Aileen lalu menuju dapur, di meja makan sudah ada beberapa menu makanan rumahan yang sangat dia sukai.
Aileen makan dengan lahap, ada sambel terasi, ikan gurame goreng, saus mangga yang asam pedas, sate ayam dan tumis toge.
"Astaga Ay, kamu itu belum makan berapa hari?" Tanya Hanny melihat Aileen sudah hampir menghabiskan 1 ekor gurame goreng dan saus mangganya.
"Enak banget kak, mirip sama resepnya bunda." Puji Aileen memberikan jempolnya lalu kembali makan.
"Memang bunda yang ajarin dan resep rahasia bunda hanya diturunkan ke menantu tapi kalau Ay mau belajar juga boleh."
"Gak mau, biar aja Fane yang masak dia kan jago."
"Ah iya juga pantas kamu jadi berisi gini makan enak terus, gak pernah olahraga."
"Eh ada kok olahraga, keluar keringat terus. Olahraga malam."
"Dasar... cepat habiskan itu, tanggung 1 ekor tinggal ekornya aja."
Hanny tertawa saat Aileen bersendawa karena kekenyangan, pas sekali Fane juga baru tiba membawakan box dessert.
__ADS_1
"Hai baby.." Fane mengcup pipi Aileen lalu menyapa kakak iparnya disana.
"Siang kak, bagaimana istriku ini? Merepotkan?" Tanya Fane basa basi lalu duduk dan membuka dessert yang dia bawa.
"Bagi 2 ya sama kak Hanny." Ujar Fane tapi Aileen menggeleng dan dia memakannya sendiri. Hanny terkikik geli, padahal Aileen baru menghabiskan sepiring nasi dengan sayur dan 1 ekor ikan gurame.
Setelah selesai Aileen kembali ke kamar untuk ganti baju, Arden juga sudah bangun dan akan mengantarkan mereka ke dokter kandungan terbaik di RS 'Blake'
"Loh Ay hamil?" Tanya Hanny kaget.
"Belum tau sayang.. ini mau antar ke dokter." Jawab Arden.
"Aku ikut kak.." Hanny segera berlari ke kamar dan mengganti bajunya untuk ikut bersama.
"Ay coba lihat perutmu." Hanny menghampiri Aileen yang baru turun dari lantai atas di temani Fane dan Hanny mengelus perut dan mengangkat sedikit bajunya.
"Kau tidak sadar perutmu sedikit buncit?" Tanya Hanny dan Aileen menggeleng.
"Aku naik 3 kilo kak gara-gara Fane selalu maksa aku makan malam kadang malah nambah karena enak. Jadi aku kira memang gemukan." Jawab Aileen dengan polosnya. Hanny menggeleng dan dia yakin Aileen pasti hamil tapi berapa bulan belum tau.
Akhirnya sampai juga mereka ke RS yang telah dikosongkan 1 lantai karena pemilik RS ini datang, Arden telah memerintahkan semuanya untuk berjaga agar tidak ada yang masuk karena Fane cukup terkenal juga.
"Baby.. jangan tegang, aku disini." Ucap Fane begitu Aileen masuk ke ruangan itu.
"Tuan dan Nyonya, kandungan sudah masuk minggu ke 8, selamat." Ucap dokter itu dan Fane tersnyum bahagia mendengarnya, dia masih menatap pada monitor yang bergerak-gerak begitu juga dengan Aileen, tak terasa airmatanya jatuh.
Fane memeluk Aileen dan mengusap pundaknya yang sedang terisak. "Jangan nangis Ay, kita akan jadi orangtua sebentar lagi."
"Iya.." Lirih Aileen lalu dia kembali menatap haru pada monitor itu.
Fane bertanya sangat banyak pada dokter, tentang apa saja yang boleh dan tidak, makanan serta gizi karena mulai sekaang dia yang akan memasak semua kebutuhan gizi dari istrinya yang sedang hamil ini.
"Bagaimana?" Tanya Arden saat mereka keluar.
"Sudah 2 bulan.. dan karena kehamilan pertama jadi tidak begitu terlihat." Jawab Fane dan Hanny langsung memeluk Aileen yang tersenyum bahagia.
"Selamat Fane.." Arden menepuk bahu Fane beberapa kali kemudian gantian memeluk Aileen adik kesayangannya.
"Ingat jangan berbuat hal-hal gila lagi seperti kemarin dan kurangi aksi liarmu itu." Arden menoyor pelan kening Aileen yang kini cemberut dan memukul lengan Arden, sungguh dia sangat malu sekarang mengingat liarnya dia tadi malam.
Fane terkekeh dan merangkul Aileen dan berjalan menuju parkiran untuk kembali ke rumah.
"Kalian kembali ke rumah besar saja, di apartemen tidak ada yang menjaga Ay.." Ujar Arden lalu mobil mereka mengantarkan ke rumah besar Tenggara.
"Hah... ini rumah mu Ay?" Tanya Fane tak percaya betapa luas dan megah rumah istrinya.
"Iya, ini rumah utama keluarga Tenggara dan aku yang tinggal di sini setelah ayah bunda gak ada." Jawab Aileen dengan wajah sendunya. Fane tau Aileen pasti kesepian selama ini.
"Jangan sedih.. nanti kiat buat anak yang banyak dan mengisi seluruh rumah ini dengan tawa mereka."
Aileen mendelik dan mencubit perut Fane gemas, "Ini aja belum lahir mau buat yang banyak, gak mau!" Aileen berjalan cepat meninggalkan Fane yang masih terbengong melihat Aileen yang telah berbicara santai padanya.
"Yes.. sudah jinak!" Pekik Fane lalu berlari mengejar Aileen yang sudah sampai di ruang tengah.
__ADS_1
TBC~