
Anson dan Vio sedang bersiap untuk kembali bekerja di kota S itu, mereka turun masing-masing untuk sarapan dan disana sudah berkumpul Mika dan Jannet serta 2 manajer yang ikut.
Setelah sarapan yang singkat mereka segera berangkat lagi untuk meeting terakhir dan Anson benar-benar puas atas kinerja Mika.
"Bagus Mika, kerjaanmu sempurna dan setelah kembali kau bisa mendampingi Vio mengerjakan pekerjaannya." Ucap Anson dan Mika tampak senang dan terus tersenyum, sedangkan Vio terlihat menghela napasnya malas karena dia lah yang akan mengerjakan semuanya.
.
.
.
Kegiatan Vio kembali seperti biasanya, bekerja dan menjadi asisten Anson tetapi ini adalah minggu terakhir dia menjadi asisten karena Melvin akan kembali minggu depan.
"Hei culun! ini kerjakan jangan salah ya.. jam 1 Anson mau ambil." Mika melempar sebuah map dan Vio hanya menghela berat dan mengambil itu. Hanya tinggal 15 menit dia harus selesaikan kerjaan itu.
"Sampai kapan aku akan mengerjakan semua ini? Aku lelah..." Gumam Vio pelan dan Anita hanya menggeleng melihat kejadian itu yang sudah sangat sering.
"Tolak saja Vio, jangan biarkan dia berlaku seenaknya." Ujar Anita.
"Gak apa-apa.. aku bisa kok ngerjain semuanya, hanya malas ribut." Balas Vio sambil tersenyum dan mengerjakan pekerjaannya.
Tapi baru saja dia mau mengerjakannya Anson telah keluar dan mengajaknya makan siang.
"Vio ayo makan siang, kita ke StarE." Ujar Anson dan sebelum Vio menjawab Anson sudah ada di depan lift, mau tidak mau Vio mengikutinya.
"Mba, titip pesan ke Mika aku gak bisa kerjain kerjaan itu." Bisik Vio dan Anita mengangguk lalu Vio menyambar tasnya dan berlari mengikuti Anson yang menunggunya di dalam lift.
"Vio.. nanti ketemu mommy juga di butik Adel ya, setelah makan siang." Ucap Anson dan Vio mengangguk lalu mereka jalan keluar bersama.
Vio yang baru kali ini ke gedung StarE begitu takjub dengan kemewahan disana bahkan dia melewati jalan rahasia yang langsung ke ruangan direktur.
"Kenapa ruanganmu gak ada yang begini?" Tanya Vio dengan polosnya.
"Waktu itu mau bikin juga tapi mommy larang, takut aku main wanita di dalam kantor hehehe..." Jelas Anson sambil terkekeh pelan.
"Ah iya juga, kalau dibuat begini bisa-bisanya tiap hari bukannya kerja." Balas Vio sambil mengangguk.
"Tapi kalau nanti sudah nikah aku mau renov bikin kamar disana, biar kita bisa tanam benih tiap saat." Bisik Anson lalu mereka sampai di ruangan Ansel dan disana sudah ada Ansel dan Arka serta Melvin.
__ADS_1
"Loh.. mana para ibu-ibu?" Tanya Anson yang tidak melihat para istri mereka.
"Lagi di lobi bawah, ada aktor hollywood datang jadi semuanya heboh." Jawab Ansel.
"Haaa.. untung calon istriku gak suka begituan." Kata Anson dan Vio hanya tersenyum.
Akhirnya keluarga itu makan siang dan langsung pergi ke butik Adel untuk mencoba baju pengantin Vio yang sangat cocok dia pakai. Adel membuatkan baju pengantin sederhana yang pas dengan gereja kecil yang akan menjadi tempat mereka melaksanakan pemberkatan sesuai keinginan Vio.
"Cantiknya.. kamu imut sekali Vio dan hari ini juga kita akan periksa matamu." Ucap Adel dan Vio hanya mengangguk, setelah fitting baju pengantin Vio kembali keluar bergabung bersama Hanny dan Ana.
"Nah gaunnya sudah cocok, tinggal finishing nanti. Sekarang Ana yang bawa Vio ke dokter mata saja." Ucap Adel dan mereka segera ke dokter mata karena Anson ingin Vio tampak cantik tanpa kacamatanya.
Sementara di kantor Mika sedang di marahi oleh Anson karena pekerjaannya belum selesai. Padahal harusnya dia selesaikan jam 1 dan kini sudah jam 3 sore. Anson cukup kecewa karena telah berharap banyak dari Mika yang akhir-akhir ini bekerja dengan baik.
Jam 4 sore Vio kembali ke kantor dan tengah mengambil barang-barangnya untuk kebali bersama Ana untuk ke dokter mata tapi dia di hadang oleh Mika yang kembali dari ruang meeting setelah di usir oleh Anson dan digantikan oleh Anita.
"Hei kau!! Sudah berani mengabaikan tugasmu?" Bentak Mika dan Vio sedikit terkejut karena suara bentakan yang tiba-tiba itu.
"Aku sudah titip pesan ke mba Anita kalau tadi Pak Anson membawaku keluar." Ucap Vio tapi Mika yang sudah emosi langsung menamparnya sampai pipi Vio memerah.
"Gara-gara kamu aku di marahi dan diusir dari ruang meeting, kau harus terima akibatnya!" Bentak Mika lagi dan dia menyeret Vio untuk ikut dengannya dan Vio dibawa ke salah satu ruangan yang lebih mirip gudang penyimpanan perkakas. Mika menamparnya lagi dan menendang Vio hingga terjerembab. Sudut bibirnya telah mengeluarkan darah dan keningnya yang terbentur juga terlihat memar.
Mika mengunci pintu itu dan membuang kuncinya ke tong sampah. Beberapa jam disana akan membuat Vio kapok, itu pikirnya.
"Kak Ana pasti akan mencariku jika aku lama tidak menyusulnya ke lobi." Gumam Vio dan berharap ada yang akan menemukannya di dalam sini. Dia tau kalau gudang penyimpanan ini sangat jarang di lalui orang bahkan belum tentu seminggu sekali ada yang masuk ke tempat itu.
Ana yang menunggu sudah hampir 15 menit sudah tidak sabar dan menelepon Vio tapi tidak aktif, lalu dia telepon Anson tidak di angkat.
"Jangan bilang mereka lagi pacaran diatas." Geram Ana lalu dia segera menyusul Vio.
"Mana Vio?" Tanya Ana begitu masuk ke ruangan sekretaris dan hanya melihat 1 orang disana dengan tampilan menggoda. Pakaian Mika selalu ketat dan memperlihatkan garis *********** lalu dengan makep tebal dan lipstick merah terang.
"Violet sedang keluar nona." Jawab Mika lembut karena dia tau kalau Ana adalah putri satu-satunya keluarga Tenggara.
"Apa ada yang bisa saya bantu nona?" Tanya Mika ramah tapi Ana malah mencebik kesal.
"Ck! Kalau kak Anson?" Tanyanya dengan nada kesal.
"Tuan Anson sedang meeting di lantai 12 ruang Bell nona." Jawab Mika lagi. Ana langsung meninggalkannya karena mengira Vio sedang bersama Anson untuk bekerja.
__ADS_1
.
.
"KAKAK MANA VIO?" Teriak Ana begitu membuka ruang meeting itu. Semua orang tampak terkejut karena nona muda Tenggara itu sangat jarang datang ke kantor ini.
"Loh mana kakak tau, bukannya dia pergi denganmu sejak siang?" Anson malah balik tanya.
"Gak ada kak.. Ana sudah tunggu 20 menit di lobi, dia bilang hanya ambil tas tapi belum balik sampai sekarang, ponselnya juga mati." Jelas Ana dengan cemas dan Anson juga bingung karena memang belum bertemu dengan Vio sejak selesai makan siang.
"Meeting di undur, Anita siapkan semuanya untuk meeting besok." Perintah Anson dan segera keluar untuk mencari Vio. karyawan disana juga heran melihat bos dan adiknya malah sibuk mencari seorang sekretaris sampai begitu hebohnya.
"Beneran Vio balik ke kantor?" Tanya Anson lagi karena dia benar tidak tau keberadaan Vio.
"Iya kak, tadi kami mau ke dokter mata tapi Vio harus ambil tasnya dulu biar sekalian pulang, aku tunggu di bawah dan setelah 15 menit dia gak turun juga." Jelas Ana sekali lagi.
Mereka kembali ke ruangan sekretaris tapi tidak ada seorang pun disana karena Mika juga sedang di toilet. Anson mencari ke seluruh ruangan tapi tidak menemukan siapapun. Karena lantai itu memang sepi jika sudah sore hari.
"Kita lihat cctv saja." Anson lalu segera ke lantai paling bawah dan menuju ruang keamanan, seluruh pengawal begitu terkejut karena direktur mereka turun sendiri disana. Anson segera memerintahkan untuk memutar kembali cctv di ruangannya sekretaris setengah jam yang lalu.
"Baik Tuan akan kami cari." Jawab pengawal yang bertugas saat itu.
Anson begitu marah ketika melihat layar yang ditayangkan oleh petugas itu, dia melihat sendiri kalau Vio di tampar, dan diseret dengan menarik rambutnya.
"Kemana dia membawanya?" Tanya Anson dengan nada datar dan wajah dinginnya. Ana sampai tidak berani menatap wajah kakak kesayangannya yang biasanya penuh tawa dan kejahilan.
"Kurang ajar wanita itu!" Geram Anson lalu dia berlari menuju ruangan tempat Vio di kurung. Ana ikut berlari bersamanya karena khawatir.
"Ana.. kau tunggu saja di lobi, jangan lari kau sedang hamil muda." Teriak Anson dan Ana baru ingat kalau dia sedang hamil dan berhenti dan menunggu saja di lobi sesuai perintah Anson.
"Braakk!"
Anson mendobrak pintu itu dan mendapati Vio sedang meringkuk di tengah ruangan sempit dan sedang tertidur.
"Kau membuatku cemas Vio." Anson mengangkat tubuh mungil itu dan melihat luka di bibir dan pipinya yang memar, juga dahinya yang membiru, dia sangat geram tapi saat ini dia harus membawa Vio dulu ke rumah sakit.
Banyak mata memandang Anson yang menggendong sekretarisnya dan bisik-bisik pun terdengar sampai di telinga Jannet, sedangkan Mika telah di seret paksa oleh pengawal dan di kurung dalam sebuah rungan tak terpakai di basement gedung sampai Anson memberikan perintah selanjutnya.
TBC~
__ADS_1