
"Berapa umurmu?" Tanya Aileen dengan nada tidak bersahabat, Fane yang sejak tadi melihat Aileen selalu memberikan respon yang sama dengan tersenyum dia menjawabnya.
"Aku 25 dan 2 bulan lagi 26."
"Ck.. beda umur kita terlalu jauh."
"Kurasa tidak, umur bukan penghalang dan kau masih terlihat imut di umurmu sekarang."
"Menyebalkan, jangan tersenyum!"
"Aku sedang bahagia karena sudah menemukanmu."
"Ya! Akhirnya kau bisa bermesum ria lagi kan? Kau kira aku tidak tau maksud dan tujuanmu?"
"Bukan begitu nona.. aku tidak bisa melakukannya dengan gadis lain dan hanya kau yang bisa, kalau tidak percaya kau bisa membuktikannya."
Aileen melotot padanya, "Sial bocah ini, buktikan? Maksudnya dia mau melakukannya padaku?" Batin Aileen kesal.
"Jangan begitu, aku tidak bermaksud melakukannya denganmu tapi kau bisa coba membawakanku seorang wanita sexy dan buktikan sendiri. Si dragon hanya bisa bangun melihatmu."
"Ck.. terseralah.. aku mau makan, lapar!"
Aileen keluar meninggalkan Fane tapi pria itu mengekori Aileen sampai di luar.
"Gimana bro, apa hasil pembicaraan kalian?" tanya Anson dengan penasaran tingkat tinggi ketika Fane dan Aileen telah sampai ke meja makan di taman.
"Dia tidak mau menikah jadi uncle menyuruh kami tinggal bersama untuk saling mengenal." Jawab Fane dan Anson tertawa mendengarnya.
"Jangan khawatir, auntie Ay itu sangat baik dan perasa, dia akan cepat luluh kalau kau selalu perhatian dan lembut padanya. Sikap kasarnya itu hanya pada orang lain." Bisik Anson sementara dari jauh Aileen sudah memberikan tatapan mematikan untuk Fane dan Anson.
"Tuh kalau marah ternyata sangat menggemaskan, dia sangat cantik dan jantungku, Astaga!" Fane memagang dadanya dan mengelus pelan kemudian menarik napas untuk mengontrol detak jantungnya yang berpacu cepat.
"Hahahaha penyakitmu bukan sembuh tapi nambah bro." Goda Anson melihat gelagat Fane yang seperti orang yang sedang jatuh cinta.
__ADS_1
Fane memasak lagi, dengan keahliannya di dapur, kali ini dia memasak sesuatu yang berbeda, khusus untuk Aileen yang telah membuatnya terpesona. Dengan telaten dia memasak di depan semua orang tapi Aileen masih melihatnya dengan tatapan sinis dan meremehkan.
"Silakan.." Ucapnya pelan sambil meletakan piring yang telah tersaji makanan yang terlihat sangat menggugah selera.
Aileen yang awalnya gengsi, akhirnya mencicipi makanan itu sedikit tapi dalam sekejab piringnya telah kosong karena makanan itu telah berpindah ke perutnya.
Arden dan Anson menahan senyumnya dengan memantau dari jauh, sedangkan Ansel masih setia menemani Aileen di meja makan.
"Ini makanan penutup." Fane memberikan pudding untuk Aileen yang telah dia siapkan sore tadi bersama Hanny dan para pelayan.
"Boleh juga, kau jago masak." Ucap Aileen pelan dan menikmati puddingnya.
"Kau pasti akan mencintaiku." Bisik Fane sambil mengambil piring dari depan Aileen untuk dibawa ke dapur karena dialah yang makan terakhir di meja itu.
"Dasar bocah!" Gerutu Aileen lalu dengan kesal memakan habis puddingnya dalam sekali suapan besar.
.
.
.
Anson, Aileen dan Fane duduk bersama di ruang tamu yang menyatu dengan dapur dan ruang makan, disini tidak disediakan pelayan dan mereka harus melakukan semuanya bersama. Dari membersihkan rumah, memasak dan mencuci seperti pasangan pengantin baru.
"KAU! Kau yang lakukan semuanya." Titah Aileen menunjuk Fane yang duduk di depannya.
"Aku akan memasak dan membersihkan rumah, tugasmu mencuci saja." Tawar Fane tapi Aileen langsung meliriknya sinis.
"Tidak bisa! Kau lihat kuku cantik ini bisa lepas semua kalau aku mencuci." Tolak Aileen dan dia memperlihatkan kuku jari tangannya yang memang sangat bagus.
"Ya ampun auntie... tinggal masukin ke mesin cuci dan tunggu sampai selesai lalu jemur." Ujar Anson sambil menggeleng melihat Aileen yang berubah manja, padahal dulu dia sering mencuci sendiri dan malah membantu bunda di dapur.
"Pokoknya kau yang lakukan semuanya, aku tidak mau tau." Aileen menghentakan kakinya kuat saat berjalan kembali ke kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Fane.
__ADS_1
"Wanita seperti apa auntie mu itu Anson?" Tanya Fane yang sedikit penasaran, lalu Anson bercerita tentang Aileen semasa sekolah sampai sekarang.
"Kalau pendidikan tak diragukan lagi, auntie yang terbaik mirip dengan mommy tapi masalah percintaan dan teman dia sangat payah. Meskipun dia cantik tapi selalu dapat pria brengsek yang hanya menguras uangnya dan teman yang selalu memanfaatkan kebaikannya. Dengar.. auntie tidak punya teman sama sekali, terakhir Rere itu yang merebut Rio darinya karena Auntie sangat menjaga dirinya dari sentuhan pria manapun. Makanya kami kaget saat tau Auntie melakukannya denganmu dan daddy juga om Arlen tidak bisa marah karena terlalu sayang padanya, ini lah yang jadi hukuman membiarkan kalian hidup bersama. Mungkin auntie akan luluh dan mau menikah denganmu, kalau bisa hamili dia."
Setelah Anson menceritakan tentang Aileen panjang lebar, Fane akhirnya mengerti dan tau apa yang akan dia lakukan sementara Aileen di dalam kamar masih terlihat kesal. Kamar di rumah besar sangat nyaman tapi dia harus tidur di apartemen ini.
"Sudah lah.. anggap saja lagi di rumah ayah di gunung, aku juga pernah hidup apa adanya, ini masih lebih bagus dari dulu." Ucap Aileen lalu beranjak membersihkan dirinya dan untung saja dia dapat kamar utama yang ada kamar mandi didalam meskipun tidak ada bathtub.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Pagi hari ini terlihat mendung yang tertanda akan hujan deras, Aileen yang kedinginan masih menggulung dirinya di dalam selimut tebal sambil mematikan AC dia perlahan berjalan ke kamar mandi dan membersihkan dirnya untuk bersiap kerja lagi seperti titah Arden padanya tadi malam.
"Haaaahhhh...." Aileen menghela panjang saat melihat ke jendela setelah selesai berpakaian dan merias diri. "Hujan.." Gumamnya lalu melamun sejenak sampai pintu kamarnya di ketuk dan dia tau siapa yang mengetuknya.
.
.
Fane yang semangat ingin memulai harinya sedang tersenyum dan menyemangati dirinya di depan cermin, dia telah selesai memasak sarapan dan kini dia berjalan keluar tanpa memakai baju, hanya celana trainingnya yang melekat pada tubuhnya. Fane memang tidak terlalu suka menggunakan baju saat dirumah.
"Waktunya memanggil calon istri." Fane mengetuk pintu kamar Aileen dan hanya 3 ketukan Aileen telah membuka pintu itu.
"AAhhh... Brengsek!! Kenapa kau tidak memakai baju?" Teriak Aileen lalu membuang pandangannya ke samping.
"Aku sudah biasa begini saat santai dirumah." Jawab Fane dengan santai.
"Kalau kau tinggal sendiri tapi ini kan ada aku!" Bentak Aileen kesal. "Ahhh sexy sekali dia, aku ingin menyentuh otot perut itu.." Lirih Aileen dalam hati dan sedikit melirik ke Fane yang masih ada di depannya.
"Minggir!!" Sentaknya sembari mendorong dada Fane, "Ohh no... dadanya keras dan hangat." Ucap Aileen tapi dalam hati.
Fane hanya tersenyum dan menyingkir beberapa langkah agar Aileen dapat leluasa berjalan, tapi dia menangkap kalau wajah Aileen sedikit memerah karena malu.
"Wanita ini benar-benar lucu, aku ingin menciumnya." Kata Fane dalam hati juga dan dia sedang menahan gairahnya karena pagi ini Aileen terlihat cantik dan sexy.
__ADS_1
Dengan dalaman yang ketat membentuk lekuk tubuh depannya di padukan dengan blazer dan celana panjang. Belahan dada Aileen terlihat menggoda imannya.
TBC~