
Makan malam di rumah Arlen, kali ini tentu saja Fane juga yang akan memasak sekalian memperkenalkan dia pada seluruh anggota keluarga 'Blake' yang tidak sempat hadir atau tidak tau tentang pernikahan Aileen. Fane masih berkutat di dapur, tempat favoritnya yang sangat lengkap setelah kehadirannya di keluarga besar ini.
Disana telah duduk Arden, Arlen dan seluruh keluarga, minus Ansel yang masih sibuk mencari Adel. Arka dan keluarganya minus Aksa yang menemani Ansel, Jupi dan keluarganya dan tentu ada Julie disana.
"Auntie.. aaahhh Julie kangen!!" Teriak Julie saat melihat Aileen yang baru saja menghampiri mereka di meja yang tersusun memanjang di tepi kolam renang.
"Kau ini sudah besar tapi masih manja." Tegur Aileen karena Julie yang melompat-lompat sambil memeluknya.
"Aku penasaran sama uncle yang katanya sangat tampan itu, yang bisa mengambil hati si angkuh Aileen, yang terkenal cerdas.." Goda Julie lalu mendapatkan jitakan oleh Aileen yang gemas padanya.
"Hahaha tapi iyah sih.. aku sekarang udah jinak sama suamiku, habisnya dia jago sih." Ucap Aileen yang akhirnya mendapat pelototan dari Jupi.
"Sorry kak Jupi, lupa kalau ini bocah masih polos." Aileen tertawa kecil menanggapi reaksi Jupi padanya.
"Ah itu si tua Teddy mau jodohin anaknya dengan Julie, aku sedang sibuk dan belum sempat selidiki anaknya itu, ada yang bisa bantu gak bos?" Tanya Jupi pada Arden.
"Tunggu Vino aja, paling 2 hari lagi balik. Emangnya Julie mau?" Tanya Arden balik dan Julie terlhat malu-malu.
"Ini anak sih mau tapi anaknya si Teddy itu yang nolak." Jawab Jupi.
"Hah... kok bisa-bisanya gadis manis gini ditolak?" Tanya Aileen tak terima karena Julie itu cantik dan manis seperti gadis idol korea yang lucu itu.
"Salahnya dia juga, waktu pertama bertemu dandan kaya tante-tante, yah mungkin pria itu terkejut." Ujar Clara dan Julie tersenyum kecut mengingat kebodohannya itu.
"Aku kan mau coba jadi wanita dewasa taunya malah mirip tante-tante mau kondangan." Cicit Julie dan Aileen tertawa mendengarnya.
Tak lama, pelayan datang satu persatu menghampiri mereka sambil meletakan hidangan luar biasa menggugah selera. Setelah semua hidangan sampai di depan Aileen menggeser 1 kursi kosong ke sebelahnya untuk tempat duduk suaminya.
"Cieee tepat khusus buat suami tercinta." Goda Julie dan Aileen tersenyum malu.
"Tapi curang ih.. masa makanan auntie lebih banyak sih." Protes Julie karena hanya dipiring Aileen porsinya lebih banyak dari yang lain.
"Maklum ibu hamil jadi makannya banyak, belum lagi dia makan dessert buatan sang suami tercinta." Cetetuk Hanny dan Julie tak percaya.
"Wah.. selamat Auntie, kalian memang hebat." Julie menaikan 2 jempolnya ke arah Aileen.
"Baby.. makan pelan-pelan jangan begitu nanti tersedak." Ucap Fane lembut pada Aileen yang makan semakin bar-bar sejak tau dia hamil.
Julie yang mendengar suara yang sangat dia kenal begitu terkejut saat mendongakkan kepalanya dan melihat Fane yang ada di sana berdiri tepat di samping Aileen dan mengelus lembut kepalanya.
__ADS_1
Hatinya langsung mencelos, dia tak kuasa menahan air matanya dan segera permisi untuk ke toilet tanpa menghiraukan suara yang memanggilnya dengan tatapan heran.
"Kau chef terkenal itu kan?" Tanya Clara tak percaya karena Julie hampir setiap waktu menonton videonya.
"Iya, saya Fane Walden dan juga suaminya Ay." Jawab Fane dengan senyum mengembang.
"ASTAGA!" Pekik Clara, semua orang memandangnya juga dengan tatapan bertanya.
"Kenapa Ra?" Tanya Hanny yang duduk agak berjauhan dengannya mereka sejak tadi tidak terlalu memperhatikan pembicaraan Julie dan Aileen.
"Dia anaknya Teddy Walden." Ucap Clara dan Jupi juga mematung tak percaya.
"Kasihan Julie ku.." Lirih Clara pada akhirnya dan Jupi terlihat memejamkan matanya dalam-dalam, dia mengerti bagaimana cintanya Julie pada seorang chef yang dia tonton dan Jupi tidak tau siapa karena kesibukannya selama ini.
"Julie.. jangan-jangan.. itu..." Aileen menghentikan ucapannya saat Clara mengangguk.
"Oh No!" Pekik Aileen lalu menatap pada Fane yang masih kebingungan.
Aileen lalu menceritakan tentang Julie pada Fane agar suaminya itu mengerti dan tidak bertindak yang dapat menyakiti Julie lebih dalam lagi.
"Kau itu cinta pertamanya Fane, haduh malangnya Julie." Wajah Aileen berubah sendu karena sejak kecil Julie selalu menempel padanya, Aileen merupakan role modelnya yang cantik, pintar dan mandiri. Julie selalu ingin menjadi Aileen jika dewasa nanti.
Setengah jam lamanya Julie akhirnya kembali bergabung, mata sembabnya tidak bisa dia tutupi. Aileen langsung memeluknya dan mengelus punggung Julie dengan pelan.
"Maaf auntie.. aku lancang menyukai suamimu, aku gak tau." Ucapnya pelan dan dengan lirih.
"Jangan sedih Jul, kamu cantik dan aku yakin pasti akan dapat pria yang lebih dari pada Fane." Jawab Aileen membesarkan hati Julie dan akhirnya gadis itu tersenyum. Dia akan mengubur cinta itu dalam-dalam dan melupakannya.
"Aku sangat ingin jadi seperti auntie, bahkan bisa suka sama pria yang sama haduh.. memalukan." Ucapnya lagi tapi kini dia tersenyum geli dengan dirinya sendiri.
"Tapi apakah benar kalian akan investasi di perusahaan ayahku?" Tanya Fane sambil menatap Jupi yang baru dia ketahui sebagai ayahnya Julie.
"Belum tau, karena aku lihat perusahaan itu sedang tidak sehat dan aku masih ragu." Jawab Jupi lalu Fane menceritakan rencana ayahnya yang beberapa waktu ini dia dengar dari Tedd sewaktu membujuknya.
"Hm.. kalau gitu, kita ikuti apa maunya dan aku akan pastikan dia menyesal berani berpikir untuk menipuku." Geram Jupi, karena kesal hampir saja putri kesayangannya menjadi korban kelicikan Teddy.
"Kau tidak masalah kan kalau mereka jatuh?" Tanya Jupi pada Fane.
"Tidak, aku dan dia tidak ada urusan apapun, aku hanya ingin jalani hidupku dengan tenang saja bersama istri dan anak-anakku kelak." Jawab Fane sambil tersenyum lalu menatap Aileen yang masih makan dengan lahapnya.
__ADS_1
Sedangkan Julie, dia tidak mampu melihat Fane terlalu lama karena hatinya masih sangat sakit saat cinta pertamanya tidak terbalas.
"Aku harus kuat, auntie dan Fane sangat bahagia, aku tidak boleh merusaknya." Ucap Julie dalam hati.
Dia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan dengan pelan untuk menenangkan hatinya lalu kembali menikmati makan malamnya yang tertunda tadi.
Keesokan paginya, studio terlihat kacau karena ada rumor di media yang mengatakan bahwa Fane adalah seorang yang berpenyakit mental dan dia juga impoten. Banyak netizen yang mencibirnya dan ada juga yang kasihan dengan memberi semangat.
Berbeda di studio, banyak mata melihat Fane dengan tatapan iba dan ada juga yang menghina karena iri pada ketampanan Fane tapi tidak berguna. Fane tidak menanggapi itu semua dan malah tetap bekerja seperti biasanya.
"Fane.. mau coba denganku lagi? Mungkin kau akan normal kali ini." Rayu Angel tapi Fane sama sekali tidak meresponnya.
"Fane! Sampai kapan kau mendiamkanku?" Tanya Angel lalu Fane melihat wajah Angel yang dulu sempat mengisi hatinya.
"Pergilah, aku tidak punya perasaan apapun lagi denganmu. Sejak kau beberapa kali mengkhianatiku dulu aku masih memaafkanmu, lalu saat aku terpuruk kau yang meninggalkanku. Aku hanya mengingatkan jika kau lupa. Jadi menjauh dariku karena aku sudah memiliki seorang yang sangat aku cintai."
Angel yang mendengarnya seketika emosi, "Apakah itu Aileen?" Tanya Angel sedikit menggeram marah.
"Ya benar, Aileen yang telah mengubahku dan jangan ganggu kehidupan bahagia kami." Fane berlalu meninggalkan Angel yang masih di studio yang mulai sepi itu.
Angel mengepal kuat tangannya karena emosi dan akan menghancurkan image polos Aileen di muka umum kali ini.
Besoknya terjadi lagi, foto Aileen dan Fane terpampang sedang berciuman dan bercumbu mesra di tempat yang mirip club malam. Laman berita amatir itu langsung mendapatan view fantastis dengan pemberitaan betapa liarnya kehidupan malam Fane dengan salah satu staff di studio tempat dia bekerja.
Arden melempar ponselnya yang hancur seketika karena marah, "Siapa yang berani menulis artikel itu!" Bentak Arden lalu Anson masuk dan menenangkannya. Mereka saat ini sedang ada di markas sedang menunggu Vino dan Jovan yang akan kembali sebentar lagi.
Jovan Angkasa, anak tertua dari Jupi dan Clara akan menggantikan Jupi sebagai asisten dari pekerjaan 'Blake' dan inilah tugas pertamanya untuk mengusut dan membereskan masalah Aileen dan Fane.
"Bos.. tapi biarkan saja, mereka kan memang suami istri jadi kita jadikan makin panas saja bagaimana?" Saran Jovan dan Arden mengernyit mendengarnya.
"Kau jadi lebih mirip Vino dari pada Jupi Jo." Kata Arden lalu dia tertawa merespon ucapan itu.
"Yah gimana om, kan suhu ku memang om Vino, papa sibuk gak bisa ajarin apapun." Balasnya dan Arden pun paham.
"Ya sudah kau atur saja lah tapi ingat jangan sampai Aileen stress dia sedang hamil."
"Baik bos!"
Jovan segera mengatur strategi agar berita itu makin panas dan sekalian mencari siapa dalang dari semuanya.
__ADS_1
TBC~