
"Kau pergilah dulu dan selesaikan itu." Perintah Arden yang melihat Fane yang tersiksa dnegan celananya yang terlihat ketat dan mengembung.
"Maaf sudah beberapa tahun dia tertidur." Ucap Fane lalu segera pergi ke toilet.
"Kenapa dia? Dasar tidak sopan!" Seru Aileen dan Arden menggebrak mejanya hingga Aileen terkejut dan diam.
"Itu gara-gara kau, dan apa yang kau lakukan malam itu berdampak buruk dan panjang untuknya. Dia jadi mengalami disfungsi er*ksi dan hanya denganmu lah si naganya itu bisa hidup lagi." Jelas Arden dan Aileen melongo mendengarnya.
"Masa sih? Aku tidak percaya kak." Ucap Aileen yakin.
"Mana mungkin aku percaya, malam itu meskipun aku yang bermain tapi naga dia tetap kokoh meskipun bentuknya lucu dan bikin gemas." Ucap Aileen lagi tapi dalam hati.
"Aksa dan Ansel sudah coba mengurungnya dengan para wanita bayaran terseksi tapi tetap naganya tidak mau hidup." Jawab Arden dan itu membuat Aileen sedikit merasa bersalah.
"Apa aku terlalu liar dan dia trauma?" Tanya Aileen tapi lagi-lagi dalam hati.
"Bukan trauma, tapi memang kalau bukan denganmu dia gak bisa." Sambung Arden seakan tau apa yang ada di benak Aileen.
Fane akhirnya masuk lagi dan kini dia duduk di depan Arden dan Arlen, sedangkan Aileen memilih duduk sendiri di sofa single di samping mereka.
"Jadi Ay, jelaskan apa yang terjadi malam itu, harus, dan jangan ada yang ditutup-tutupi." Titah Arden dan Aileen menghembuskan napasnya dengan lemah dan dia pasrah jika kedua kakaknya ini akan mengamuk nantinya.
"Aku sedih.. itu baru beberpa bulan setelah kepergian ayah dan bunda." Ucap Aileen lalu wajahnya berubah sendu, terlihat sangat sedih.
"Kakak tau, aku selalu menyalahkan diri sendiri, seandainya malam itu tidak pergi dengan Rio, tidak mungkin ayah menyusulku, seandainya aku tidak minta ayah datang, mungkin kecelakaan itu tidak terjadi, seandainya aku patuh pada bunda, mungkin ayah dan bunda masih hidup sekarang." Aileen menangis sedih, dia begitu menyalahkan dirinya sampai sekarang.
Ben dan Cecil mengalami kecelakaan karena Aileen sedang bermalam di apartemen Rio dan Ben sangat marah saat itu, Cecil juga membujuknya untuk pulang tapi Aileen menolak karena sangat cinta dengan Rio.
Tapi karena rasa tidak nyaman dia menelepon Ben untuk menjemputnya dan kejadian naas pun terjadi. Mobil Ben yang melaju dengan kecepatan sedang di hantam truk besar yang rem-nya blong dan mobil itu terpental jauh. Cecil langsung meninggal di tempat dan Ben terus memeluk istrinya sampai petugas medis datang dan menghembuskan napas terakhirnya setelah sampai di rumah sakit.
Sejak saat itu Aileen begitu sensitif dan menyalahkan diri sendiri sampai harus dibawa ke psikiater beberapa kali agar dia bisa hidup normal kembali. Tapi setelah dia mulai menata hatinya dan kesedihan itu dia simpan baik-baik, malah datang lagi kesedihan luar biasa pada malam dia sedang di Inggris untuk menghadiri acara kelulusan Ansel dan Aksa.
__ADS_1
"Rere mengirimkan video, dia dan Rio sedang bercumbu bahkan melakukan hal itu dengan sangat liar, aku marah lalu mabuk di bar setelah itu..." Aileen melirik ke arah Fane yang masih duduk diam mendengarkan penjelasan Aileen yang sedang menangis.
"Kemarilah..." Ucap Arlen lalu Aileen menghambur kepelukan kakaknya dan menangis di pelukan Arlen.
"Ayah dan bunda tidak apa-apa mereka telah bahagia, bisa sehidup semati bersama selamanya bahkan maut juga menyuruh mereka bersama. Jadi jangan menyalahkan dirimu, ayah juga berpesan pada kakak untuk selalu menjagamu karena kau anak kesayangan dan tercintanya ayah." Arlen mengusap kepalanya dengan lembut sampai Aileen tenang baru mereka melanjutkan pembicaraan.
"Lalu kau masih ingin sesuai rencana?" Tanya Arden pada Fane yang masih diam disana.
"Iya, aku akan tetap meminta tanggung jawabnya." Jawab Fane mantap.
"Kau gila! Kau itu hanya anak kecil umurmu juga jauh dibawahku." Hardik Aileen, meskipun dia masih sedih tapi dia tidak hilang kesadaran kali ini. Sebenarnya Fane sangat tidak suka melihat Aileen yang menangis, ingin rasanya dia peluk gadis itu.
"Setidaknya kau harus bantu dia sembuhkan penyakitnya Ay.." Ujar Arlen dan dia mendapat tatapan tajam dari Aileen.
"Kalian harus menikah!" Titah Arden.
"NO!!" Tolak Aileen dan dia menghembuskan napasnya kasar mendengar hal itu.
"Apa karena kau tau aku dari keluarga kaya makanya ingin menikah denganku?" Tanya Aileen sengaja menghinanya.
"Aku serius, kalian tau kondisiku dan aku tetap akan minta pertanggungjawaban." Lanjut Fane lagi.
"Hei! Kau itu masih bocah dan memangnya kau punya apa untuk berani menikah denganku?" Tanya Aileen sedikit meremehkan.
"Aku sudah cukup umur untuk menikah, apakah keponakanmu juga bocah? Bahkan aku lebih tua dari mereka. Aku memang tidak punya harta sepertimu tapi setidaknya aku punya keahlian, kau kan sudah kaya, apa lagi yang kau harapkan, aku hanya bisa memberikan cinta dan perhatian." Jawab Fane jujur dan apa adanya, Aileen melotot padanya.
"Berani sekali dia bicara begitu, cuma modal cinta, cih!" Aileen menggerutu dalam hati.
Sementara Arden sejak tadi senyum-senyum dengan pemikirannya sendiri dan itu ditangkap oleh Arlen.
Apa yang kau pikirkan?" Tanya Arlen bingung pada Arden.
__ADS_1
"Menurutku kalian pasangan yang cocok." Ujar Arden sambil melihat ke Fane dan Aileen bergantian.
"Apanya yang cocok kak? Tidak sama sekali, umurnya masih jauh dibawahku dan aku yakin dia tidak bisa mengimbangi gaya hidupku, tidak sama sekali." Sergah Aileen dengan kesal pada kakaknya.
"Baiklah, begini saja.. aku memberikan kalian 2 pilihan, pertama kalian langsung menikah, kedua kalian bisa pendekatan dulu untuk saling mengenal barulah menikah." Tawar Arden yang juga disetujui oleh Arlen.
"Baiklah yang kedua, aku yakin pria ini juga sebentar saja akan bosan padaku, semua pria kan sama saja kecuali ayah dan kakak. Liat saja bahkan Ansel saja begitu, kalau Anson jangan ditanya lagi huh..."
"AY.. " Tegur Arlen yang tidak suka dengan ucapan Aileen. Sementara Fane juga masih mencerna maksud dari Aileen dan akhirnya dia paham kalau Aileen ingin seorang pria yang setia.
"Aku akan menerima yang kedua juga, akan kubuktikan pada nona manja ini kalau aku bukan pria seperti yang dikira." Jawab Fane dengan yakin dan tenang.
"Baiklah, dan persyaratannya adalah, kalian akan tinggal di apartemen yang akan aku siapkan, Ay kau tetap bekerja seperti biasa dan semua fasilitas akan kakak siapkan untukmu." Jelas Arden sambil menatap adiknya yang akan protes itu.
"Tapi kak..."
"SStttt tidak ada tapi-tapian." tegas Arden, "Dan kau..." Arden menunjuk ke Fane.
"Kau juga akan aku berikan fasilitas pendukung dan..."
"Maaf, aku akan sesuai dengan rencanaku, ok aku setuju untuk tinggal di apartemen itu tapi fasilitas lainnya tidak akan aku terima. Aku akan cari kerja sendiri dan hidup dengan uangku sendiri." Fane yakin dia akan mampu hidup dengan usahanya sendiri dan akan membuat wanita cantik di depannya luluh dengan perhatian yang akan dia berikan.
"Cih.. kita liat saja nanti." Gumam Aileen meremehkan. Fane yang mendengarnya pun hanya tersenyum.
"Ah senyumnya menawan, sial.. kenapa dia sangat tampan!!" Batin Aileen sedikit kesal.
"Baiklah, kalian lanjut saja jika mau ngobrol, aku sudah lapar lagi dan mau makan.." Arden berdiri dan dengan santainya dia berjalan keluar meninggalkan mereka di ruangan itu.
"Ay.. ingat, kalau ada masalah jangan beralih ke minum-minum, itu tidak baik. Kau bisa cari kakak dan ceritakan semuanya, kita bisa cari solusinya." Ucap Arlen dengan lembut dan membelai lembut wajah Aileen yang terlihat masih ada guratan kesedihan.
"Dan kau.. aku harap kau bisa menjaga Aileen, aku belum percaya padamu tapi aku percaya pada Arden." Tegas Arlen pada Fane dengan tatapan tajamnya dan Fane mengangguk, "Baik uncle.."
__ADS_1
Arlen juga keluar dari sana meninggalkan Aileen dan Fane bersama yang masih saling tatap. Aileen dengan tatapan sinisnya dan Fane dengan tatapan kagumnya pada wanita di depannya. Yah.. bukan gadis kecil tapi wanita dewasa yang terlihat seperti gadis kecil.
TBC~