
"Vin kau antar Vio pulang dulu dengan selamat dan jangan sampai dia terluka." Perintah Anson pada asistennya dan Melvin yang heran dengan permintaan itu tak banyak tanya dan hanya menjalankan tugasnya mengantar Vio pulang.
"Vio, bos minta aku antar kamu pulang dengan selamat dan jangan sampai terluka." Ucap Melvin pada Vio yang sedang duduk dan bergabung dengan Hanny dan Ion.
Hanny masih kekeh mengenalkan Vio dengan Ion yang sedikit malas karena Vio bukanlah tipenya.
"Loh kenapa Anson itu? Posesif sekali dengan sekretarisnya?" Tanya Hanny bingung karena tidak mungkin Anson suka dengan Vio juga karena Vio sudah pasti bukan tipenya Anson. Sedangkan Vio sudah di bawa oleh Melvin untuk diantar pulang.
"Kayanya kak Anson suka sama sekretarismya itu mom." Arion memberi pendapatnya karena tadi dia telah mendapat bisikan dari Ana untuk mengerjai kakaknya itu.
"Ha?? Gak mungkin Ion, mommy tau tipe wanitanya kakakmu itu seperti apa.." Hanny menertawakan Ion yang tampak konyol baginya.
"Hah.. mommy, kita lihat aja nanti kalau mommy gak percaya. Kak Anson sudah sebulan ini kan gak dekat dengan wanita manapun.. nah kemungkinan karena Vio itu." Jelas Ion lagi tapi Hanny tidak mudah percaya karena Anson tidak akan mudah jatuh cinta dan paling bertahan 2 bulan sama pacar-pacarnya.
"Kalau beneran Anson suka sama Vio, mommy akan pastikan mereka segera nikah, mommy gak mau nanti Anson mainin perasaan Vio aja. Bantu mommy Ion.."
"Siap mommy.. Ion siap bantu mom untuk dapat menantu baru lagi."
Hanny tersenyum senang karena memang putra bungsunya ini selalu bisa diajak kerjasama.
.
.
Di dalam markas rahasia Arden, Vino dan Jovan telah mengumpulkan 4 pria muda teman dari Curt yang membantunya menjebak Ana tahun lalu dan kini Ansel dan Anson telah ada disana. Sedangkan Arden dan Arka tidak diperbolehkan pergi oleh sang ratu, istri masing-masing agar anak-anak mereka saja yang urus, apalagi masih ada Vino yang membantu.
Ansel dengan murkanya menghajar mereka dan Anson masih betah bermain dengan si curut yang telah mempermainkan adik kesayangannya. Tak lama Aksa masuk dengan wajah merah dan murka dia juga ikut menghajar Curt sampai babak belur.
Mereka baru tau kalau memang Curt tidak tulus mencintai Ana, dia hanya menggunakan Ana agar dapat menyokong perusahaan keluarganya.
__ADS_1
"Kau bermain dengan orang yang salah curut, kau kira bisa selamat setelah mempermainkan anak kesayangan keluarga Tenggara. Kau cari mati!" Sekali lagi Aksa menendang wajah Curt hingga darah segar kembali mengucur dari mulutnya.
"Sudah anak-anak.. biar sisanya Jeremy yang urus, kalian kembalilah." Ucap Vino yang melihat keganasan anak-anak muda ini yang tengah di bakar amarah.
"Dan kau pengantin baru, kembalilah tapi setelah membersihkan dirimu jangan sampai Ana melihatmu begitu." Ujar Jeremy yang baru masuk ke dalam ruangan yang sedang kacau itu.
Aksa kembali ke hotel setelah dia membersihkan diri, dia tersenyum melihat cara tidur Ana yang masih seperti anak kecil.
"Dasar, belum berubah juga." Gumam Aksa pelan dan membelai lembut kepala Ana yang tengah tidur dengan nyenyaknya.
Pagi menjelang, Ana mengerjabkan matanya karena silau dari sinar matahari yang masuk ke kamar mereka. "Ah ternyata gordennya gak ketutup rapat.. hm..." Keluh Ana lalu dia berbalik dan sedikit terkejut melihat sosok tampan yang telah dia kagumi sejak kecil,
"Aku lupa sudah menikah.. dengan pria tampan ini, ya ampun...Aku istri kak Aksa sekarang." Ucapnya dengan sangat pelan dan menatap Aksa dengan lembut.
Tak susah membuka hati untuk Aksa karena memang pria itu tidak pernah hilang dari hati Ana, dia hanya menutupnya dengan erat. Sekarang waktunya dia membuka kembali dan Aksa sudah memenuhi hatinya kembali.
"Aku memang tampan." Ucap Aksa sambil tersenyum manis lalu menarik Ana yang sedang terkejut lalu mengecup bibirnya lembut. Tentu Ana membalas ciuman itu karena itu bukan kali pertamanya.
"Maaf.. " Lirih Ana. Aksa juga tau, ini bukan ciuman pertama Ana karena sejak beberapa tahun lalu dia sering memergoki Ana sedang berciuman dengan Curt.
"Tapi.. dulu ciuman Ana yang pertama untuk kak Aksa kok." Ucap Ana dengan lirih masih dengan menutup wajahnya dengan tangan.
Aksa menarik turun tangannya dan menatap intens mata mata cantik Ana, "Maksudnya?"
"Maaf, dulu.. aku pernah mencium kak Aksa, sebelum kakak pergi kuliah ke Inggris." Ana mengaku dan Aksa sangat terkejut mendengarnya.
"Waktu itu beneran kamu?" Ana mengangguk pelan.
"Astaga! Kakak kira sedang bermimpi jadi kita..." Aksa terhenti mengingat kembali moment indah itu. Ana telah menutupi dirinya dengan selimutnya.
__ADS_1
Aksa masih terdiam tapi dia tersenyum, waktu itu dia sedang tidur di kamar Ansel karena kelelahan akibat masalah Adel dan ada yang menciumanya, Aksa kira dia hanya bermimpi sedang mencium gadis remaja cantik yang masih kekanakan itu dan membalas ciuman mesranya.
"Hei.. kau sudah nakal saat itu? Kakak kira cuma Adel saja yang dewasa sebelum waktunya tapi ternyata kau sama juga." Aksa menggoda Ana dan menarik turun selimutnya.
"Jangan.. aku malu." Ana kembali menarik selimutnya tapi Aksa memaksa menurunkannya lagi bahkan melemparkan selimut itu jatuh ke lantai. Dia menarik pinggang ramping Ana dan menciumanya lagi dan kali ini dengan panas dan bergairah.
"Jadi si curut itu selain mencium apa lagi yang dia lakukan?" Tanya Aksa setelah melepas Ana.
"Hanya itu.. gak lebih." Jawab Ana lalu Aksa tersenyum lagi sambil merengkuh tubuh Ana lebih dekat sampai menempel pada tubuhnya. Rasa panas menjalar di seluruh tubuh Ana dan darahnya berdesir saat Aksa membelai lembut punggungnya, entah sejak kapan gaun tidur Ana tersingkap dan tangan Aksa telah masuk kedalam.
"Kak.. aku belum mandi." tolak Ana saat Aksa ingin membuka gaun tidur itu, dia sadar ternyata Ana tidak memakai **********. Aksa tidak peduli dan tetap menanggalkan gaun itu dan Ana tampak menyilangkan tangannya untuk menutupi bagian atasnya.
"Jangan di tutup.. ini milikku." Bisik Aksa yang lebih mirip *******. Akhirnya dia menja mah seluruh tubuh Ana dengan lembut tapi menggairahkan.
Penyatuan tubuh mereka membuat Ana memekik kuat karena sakit, dia mencengkram punggung dan pundak Aksa, rasa nyeri juga dirasakan Aksa tapi dia lebih memilih mengejar kenikmatan yang sedang mereka raih.
Aksa mendorong kuat dan sempurnalah penyatuan mereka dengan teriakan kuat Ana. Dia sampai mengeluarkan air matanya menahan sakit dan Aksa tau ini pertama baginya dan juga Ana. Aksa dengan lembut membelai wajah Ana yang sedang menahan sakit.
"Maaf.. aku membuatmu kesakitan An.." Lirih Aksa tapi Ana menggeleng kemudian menarik wajah Aksa dan menciumnya.
.
.
Sudah hampir siang dan Aksa masih menghujam dirinya di dalam Ana yang telah bergetar hebat menerima serangan itu setelah berjam-jam lamanya, dia lelah tapi sangat menikmatinya. Sampai Aksa menanamkan benihnya lagi untuk yang kesekian kali pagi menjelang siang itu.
"Terima kasih sayang.. " Aksa mengecup kening Ana dengan lama, mencurahkan sayangnya pada istrinya tersebut.
"Kau mau berendam?" Tanya Aksa dan Ana mengangguk. Dia langsung membopong tubuh Ana dan mereka akhirnya berendam bersama dan saling menyentuh lagi tapi Aksa yang tau kalau Ana sedang lelah memilih menahan hasratnya.
__ADS_1
Setelah berendam akhirnya mereka tidur lagi setelah sarapan sekaligus makan siang.
TBC~