Menjaga Cinta Season 2

Menjaga Cinta Season 2
BAB 12 - Menikah dan Malam Kedua.


__ADS_3

"Semua sudah beres, Rena sudah tidak tinggal di rumah dan tes DNA asli juga sudah aku berikan ke Fredd serta pengacara dan wartawan. Saat ini kalian bisa kembali." Ujar Aksa setelah seminggu mereka ada di villa tersebut.


Rena dikirim jauh kembali ke pacarnya yang sebenarnya, yang telah menghamilinya, seorang pria dari Autralia yang memang sangat mencintai Rena tetapi dia hanya pemuda dari keluarga biasa sehingga Rena tidak mau menikah dengannya. Tapi kali ini Fredd memaksanya karena telah membuat malu keluarga.


"Tapi sepertinya kalian tetap harus konferensi pers deh, banyak opini public yang sangat melenceng." Lanjut Anson disana.


"Iya aku mau buat pesta pernikahan yang megah dan mengundang seluruh wartawan untuk melihat dan memberitahukan ke dunia kalau hanya Adeline satu-satunya wanita ku yang menjadi istriku." Ucap Ansel tegas yang langsung membuat wajah Adel bersemu.


"Kamu senang sayang?" Tanya Ansel dan Adel mengangguk dan tersenyum.


"Astaga itu bocah-bocah kenapa sampai bisa kesana?" tanya Anson begitu terkejut, pasalnya Arick dan Arron sudah berada jauh di ujung kebun teh dan berlari riang bermain bersama.


"Seperti kamu Son.. lupa ya? Dulu kau sampai turun ke sawah menangkap katak sampai mommy panik." Ujar Ansel mengingatkan.


"Hehehe.. seru tau, ya udah aku susul dulu 2 bocah itu." Anson juga melompat kebawah untuk mengejar keponakan kembarnya yang juga sama denganya yang kelebihan energy.


"Apa mereka selalu kelebihan energy?" tanya Ansel dan Adel mengangguk.


"Ya.. selalu bahkan aku kadang pusing sendiri bagaimana cara menghabiskan batre 2 bocah itu, tapi mereka anak yang pintar." Jelas Adel.


"Maaf.. kau pasti sangat kesusahan Adel.." Ucap Ansel lembut lalu mengeratkan pelukannya, kepalanya disandarkan ke pundak Adel.


"Jangan minta maaf lagi, aku menikmatinya dan mereka anak baik dan pintar, kau lupa gen keluargamu dan aku juga pintar kalau kau lupa." Adel mengelus lembut wajah Ansel yang terlihat sendu.


"Aku janji.. ah gak, aku akan buktikan, kehamilanmu selanjutnya aku akan jadi suami siaga."


Adel menatap lembut pada pria yang telah memenuhi hatinya sejak lama itu lalu mengecup bibirnya, entah keberanian dari mana dia melakukan hal itu.


"Kalian bisa gak sih jangan bermesraan di depan jomblo? Gak sopan!" Hardik Aksa kesal.


"Makanya cari pacar!" Balas Ansel yang masih terus-terusan mengecup pipi Adel.


"Bagaimana mau cari pacar Tuan Ansel yang terhormat kalau 24jam waktuku kau sita!"


"Ya sudah, liburan sana... eh tapi setelah aku menikah dan kembali dari bulan madu baru kau boleh liburan."


"Dasar calon adik ipar gak tau diri!"


Aksa yang kesal memilih meninggalkan sepasang kekasih yang sedang di mabuk cinta, lebih baik dia menemani si kembar yang sedang main bersama Anson di tengah kebun teh yang luas ini.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Jantung Adel berdegup kencang pagi ini, dia telah berdiri cukup lama memandangi dirinya sendiri dari pantulan cermin di depannya dan terus saja memegangi dadanya. Dia sangat gugup karena pagi ini dia akan menikah dengan Ansel, pria yang telah mengambil seluruh hati dan jiwa raganya.


"Sayang.. kenapa? Jangan gugup.. tarik napas pelan-pelan." Ucap Eve yang masuk kedalam kamar Adel. Disana juga ada Hanny yang tersenyum ceria karena akan mempunyai menantu pilihannya.

__ADS_1


"Deg degan ma.. aduh.. " Adel memukul dadanya pelan tapi Hanny segera datang dan mengelus lembut punggungnya.


"Jangan gugup sayang.. percayakan semuanya pada Ansel, tenang ya..."


"Iya mommy.."


Setelah prosesi pemberkatan selesai, Adel dan Ansel terlihat begitu lega dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajah mereka. Kini tiba saatnya mereka akan konferensi pers sebelum acara pesta di mulai 3 jam lagi.


Seluruh pertanyaan telah di tampung dan dirangkum oleh panitia acara dan Ansel hanya akan menjawab dalam sekali penjelasan.


"Saya disini memberitahukan pada semuanya, bahwa disamping saya adalah Adeline Arkana istri sah saya yang telah melahirkan anak-anak saya selama 4 tahun ini, kami baru bertemu kembali. Tidak ada wanita lain yang pernah melahirkan anak kandung saya selain Adeline Arkana, kalian bisa lihat sendiri mereka adalah calon penerus Tenggara, Arick dan Arron Tenggara."


"Woaahh iya benar, ini baru keturunan Tenggara, seperti yang lalu begitu mirip dengan mata indah itu."


"Benar, tak perlu tes DNA untuk membuktikannya."


"Kembar dengan wajah begitu mirip bahkan sama, sudah pasti."


Riuh terdengar komentar dari seluruh wartawan yang hadir disana, semua memastikan sendiri dan tanpa tes apapun sudah pasti anak kembar itu adalah anak dari Ansel Tenggara.


\=//=


"Bertahanlah sayang.. tamu kita masih banyak." Bisik Ansel pada istrinya yang terlihat lelah. Gaun panjang nan berat itu memang terlihat mewah dan megah tapi Adel sungguh lelah memakai gaun yang dia rancang sendiri selama 2 tahun ini.


"Dan kenapa gaun ini sangat sexy? Kau membuat gaun pengantin untuk menggodaku?" Bisi Ansel lagi dan Adel yang gemas langsung mencubit pinggang Ansel.


"Cup.. jangan begitu bibirnya, aku gak tahan sayang dan mulai sekarang jangan panggil kakak lagi, aku bukan Aksa."


"Jadi?"


"Carilah panggilan apapun.."


"Beruang kutub, es balok?"


"Ck.. akan kuhukum kamu nanti, lihat saja."


Adel terdiam, membayangkan bagaimana rasanya malam kedua mereka setelah 4 tahun lalu. Dia mulai merinding mengingat sakitnya waktu itu.


"Jangan takut sayangku.. kali ini aku dalam keadaan sadar dan akan sangat lembut, kau akan merasakan sensasi berbeda." Bisik Ansel lagi, mata para tamu tak berpaling dari mereka berdua yang terlihat mesra bahkan mereka begitu takjub karena Ansel terus saja tersenyum sejak tadi, hal yang sangat jarang bahkan tidak pernah mereka lihat selama ini.


"Yuk kita ke kamar.." Ajak Ansel tapi Adel mendelik, "Emang boleh?" Tanyanya polos.


"Boleh dong, siapa yang berani larang?"


"Iya iya.. kamu memang Ansel Tenggara dan gak ada yang bisa maksa kamu." Ucap Adel pasrah saat Ansel menarik tangannya setelah melihat sekeliling terlihat aman.

__ADS_1


Sementara Arden dan Hanny yang sedang mengobrol dengan teman-teman mereka sedikit heran karena pengantin tidak ada di pelaminan.


"Kak, Ansel dan Adel kok hilang?" Tanya Hanny dan Arden yang sudah tau hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Biasa sayang.. pengantin baru, mungkin Ansel gak tahan lagi.." Bisik Arden seraya memeluk pinggang Hanny dengan erat. "Kita juga nanti main kuda-kudaan ya.. udah kangen nih si jumbo." Bisiknya lagi yang langsung dapat cubitan pedas di perutnya.


Di kamar hotel, Ansel yang tidak sabaran segera melepaskan gaun yang dipakai Adel dengan cepat. Untunglah gaun ini memang gampang dibuka tapi Adel yang sedikit gugup dan seluruh tubuhnya gerah langsung masuk ke dalam kamar mandi meninggalkan Ansel yang sedang membuka bajunya juga.


"Sayang.. kenapa ninggalin aku?" Ansel menggedor pintu kamar mandi tapi Adel tetap bertahan dan tidak membukanya sampai dia selesai hampir 40 menit lamanya.


"Adel, kamu curang." Ansel mendekat padanya yang masih memakai jubah mandinya.


"Bentar kak.. aku ganti baju dulu." Adel menghentikan Asnsel yang mulai menciumi lehernya.


"Gak usah pakai baju\, nanti juga akan kulepas." Ansel kembali menciumanya dan lum*tan lembut itu semakin dalam dan menuntut. Adel melenguh saat hisap*n kuat terasa di lehernya\, dengan 1 tangannya Ansel menarik ikatan jubah mandi itu dan melepasnya.


"Sangat indah..." Ujar Ansel begitu tubuh polos Adel direbahkan dan dengan mata hijau indahnya, dia melahap habis seluruh tubuh polos itu.


"Ini sangat berbeda saat kamu 15 tahun waktu itu, ini lebih menggoda." Lanjutnya lagi dan jangan ditanya, wajah Adel berubah seperti tomat tapi dia juga menginginkannya. Ansel tak menunggu lama langsung melepaskan celana panjangnya dan semua yang melekat pada tubuh atletisnya.


Mata Adel begitu terpana melihat si anaconda yang sudah tegak siap mematuk, padahal anaconda kan melilit ya...


"Astaga! Ternyata.. pantas saja waktu itu sangat sakit. Mampus ini sudah 4 tahun apakah bisa masuk?" Ucap Adel dalam hati dengan lirih.


"Jangan takut Adel.. aku akan pelan-pelan, aku tau waktu itu sangat menyakitkan untukmu tapi kali ini aku akan membuatmu yang meminta lebih." Bisik Ansel begitu dia menindih tubuh Adel yang kini pasrah.


Setiap inci tubuh istrinya tak luput dari sapuan bibir dan lidahnya, entah di jil*t atau di cium, Adel menggeliat karena rasa geli bercampur nikmat dan benar saja dia menginginkan lebih. Apalagi saat Ansel telah sampai di sarang anacondanya, begitu lihai dia bermain disana, Adel telah merasakannya dulu tapi kali ini dia juga akan memuaskan suaminya, dengan suara indahnya dia membuat Ansel bersemangat.


"Kita pakai ini agar kamu nyaman sayang... untung mommy saranin pakai ini untuk pertama kali." Ansel menuangkan cairan kental dalam botol itu ke bagian sarang Anaconda dan memijat pelan disana dan menggunakan ja*inya dia membuka jalan masuk terlebih dulu sampai puas dia bermain barulah anaconda beraksi.


"NNgghhh..." Pekik Adel tertahan.


"Jangan ditahan..." Ucap Ansel lembut dan barulah Adel mengeluarkan lagi suara indahnya. Anconda belum masuk sempurna tapi Ansel telah mendes*h panjang pertanda begitu nikm*t rasa didalam Adel.


"Ahhh... cepat kak\, aku gak tahan lagi ini rasanya aahhh.. " Adel mendes*h kuat saat anaconda menus*k kuat dan tertanam sempurna di dalam sana.


"Gak sakit kan?" Tanya Ansel sambil mengelus kening Adel yang bercucuran keringat.


"Gak... tapi penuh banget, aaahh... oouuhh.." Des*hnya lagi saat Ansel mengeluarkan dan memasukkan begitu seterusnya dengan perlahan. Wajah Adel memerah dan begitu sensual.


Ansel yang ingin melihat reaksi lebih dari Adel mengangkat tubuhnya dan dengan posisi berlutut dia mengh*jam dalam sambil mengangkat kaki Adel. Dari posisi ini Ansel dapat lebih seluasa mengamati wajah dan tubuh indah Adel yang sedang menikmati permainannya, ini merupakan kesenangan barunya saat ini, begitu banyak fantasi liar telah ada di kepalanya untuk bermain berbagai posisi dengan istrinya.


Sampai Adel telah terkulai lemah tak bertenaga dan Ansel mengeluarkan benihnya entah yang keberapa kali malam itu. Yang pasti dia ingin segera membuat Adel hamil lagi.


"Terima kasih Adeline.." Ucap Ansel lalu mengecup bibir Adel begitu mereka selesaikan ritual malam kedua yang berakhir penuh peluh.

__ADS_1


TBC~


Untuk cerita Ansel dan Adel selesai yah... selanjutnya hanya selingan kehidupan setelah pernikahan yang akan diselipkan di cerita selanjutnya. Terima kasih 


__ADS_2