
Vinsa berusaha kabur saat Mr. liong merangkul tubuhnya dan berteriak meminta tolong tetapi pria tua itu malah tertawa dan menangkap Vinsa kembali dan melemparnya ke atas ranjang besar itu.
Dia langsung melucuti semua pakaiannya sendiri lalu menarik gaun Vinsa hingga terlepas, malam inilah mimpi buruk Vinsa kembali dimulai. Mr. Liong memperkosanya hingga Vinsa hampir tak sadarkan diri, dia lelah dan menangis terus menerus.
"Jangan menangis manis.. suamimu telah menyerahkanmu padaku dan kau akan tinggal disini untuk sementara. Uang yang ku investasikan di perusahaan suamimu cukup besar dan kau lah sebagai penggantinya." Bisik Mr. Liong sambil kembali menghujam dalam miliknya sampai Vinsa benar-benar pingsan.
Di tempat lain,
"Wuuuaaaaa mami mami... huaaaa mami..." Leon berteriak dalam tidurnya sambil memanggil mami. Arion yang tidur di sampingnya begitu terkejut karena Leon tidak pernah menangis seperti itu bahkan sejak bayi.
"Leon, sayang... bangun nak, ada apa?" Arion menepuk pelan Leon dan menekan tombol darurat. Tapi Leon terus histeris dan menangis hingga dokter datang dan menyuntikkan penenang.
"Dia menangis dan memanggil mami, ini belum pernah terjadi dokter." Ucap Arion.
"Mungkin hanya mimpi buruk tuan, jangan khawatir." Ucap dokter dan berlalu dari sana.
Hati Arion masih gelisah karena Leon berteriak mami, padahal selama ini dia tidak pernah bertanya tetang maminya sama sekali.
"Ada apa ini? Perasaanku sangat tidak enak. Seperti waktu itu." Gumam Arion sambil memukul dadanya pelan.
.
.
.
Pagi harinya Vinsa terbangun dengan tubuhnya yang masih polos dan sakit di daerah intinya. Dia menangis sejadi-jadinya karena mengingat kejadian tadi malam dan memukul dirinya sendiri.
Tak berapa lama datanglah Dennis yang tersenyum bahagia dan menyuruh Vinsa berganti pakaian lalu pulang dengannya. Vinsa berteriak histeris dan memaki, memukul Dennis tapi semuanya sia-sia.
PLAK
Tamparan keras mendarat di wajah Vinsa.
__ADS_1
"Jangan berulah, kau sudah aku jual pada Mr. Liong dan kapanpun dia mau kau harus melayaninya." Bentak Dennis dan segera menyeret Vinsa untuk keluar padahal dia belum memakai bajunya sama sekali.
"Cepat pakai bajumu!" Bentak Dennis lagi dan Vinsa segera memakai bajunya dan ditarik keluar oleh Dennis.
Sesampainya di rumah, Vinsa menangis lagi dalam pelukan Melly dan menceritakan semuanya, dia merasa kotor dan ingin mati saja saat itu juga.
"Kita kabur saja mau gak? Ini negara kita dan mereka pasti susah untuk temukan kita." Saran Melly dan Vinsa mengangguk.
Tapi kabur merupakan hal yang sangat sulit karena Dennis dan Tantri sudah mengantisipasinya, Vinsa dan Melly sama sekali tidak boleh keluar rumah dan hanya akan di antar Dennis jika mau ke manapun.
Bukan sekali ini saja bersama Mr. Liong, seminggu kemudian, Vinsa kembali dipaksa melayani seorang investor asal Kalimantan yang sudah sangat tua. Sekali lagi dia mengalami penderitaan yang sama.
"Mba Mel.. aku gak kuat lagi, sudah 2 orang dan mau berapa banyak lagi? Aku seperti pelacur mba Mel." Vinsa terus menangis dan Melly juga tak kuasa menahan air matanya dan terus memeluk adiknya itu.
Setahun berlalu dan Vinsa terus disuruh melayani nafsu bejat para pria tua kaya yang berinvestasi di perusahaan Dennis. Total sudah ada 7 orang yang secara rutin di layani oleh Vinsa. Dia pernah coba kabur tapi hasilnya tetap tertangkap dan malah Dennis dan Tantri menyiksanya, mencambuk dan mengurungnya selama 3 hari tanpa makan dan minum.
Vinsa juga pernah bunuh diri dengan minum racun serangga tapi berhasil digagalkan lagi karena Melly yang menemukan Vinsa di kamar mandi.
"Kau begitu menderita kan? Aku ada tawaran untukmu." Ucap Mr. Liong saat Vinsa di rawat di rumah sakit.
"Mau apa kau? Aku gak punya apapun lagi." Jawab Vinsa yang masih menangis meratapi nasib buruknya.
"Aku akan membuat Dennis bercerai denganmu tapi kau harus ikut aku." Tawar Mr. Liong.
"Hahaha.. Lepas dari mulut harimau, masuk kedalam mulut buaya." Ujar Vinsa sambil tertawa miris.
"Setidaknya kau hanya melayaniku tidak di jual ke orang lain, kau tau Dennis sedang mencoba dekati anggota mafia? Bagaimana jika kau di lempar masuk kesana?"
Vinsa langsung bergidik ngeri mendengar mafia dan dia akhirnya setuju dengan Mr. Liong.
"Baik aku mau tapi ada syaratnya." Vinsa menatap tajam pada Mr. Liong.
"Katakan."
__ADS_1
"Aku mau tetap di negara ini, terserah kau membawa aku kemana, Melly kakak sepupuku harus ikut denganku dan aku ingin bebas pergi kemanapun."
"Baiklah, kau akan aku bawa ke Bali saja karena aku mau buka resort baru disana. Aku janjikan kau akan cerai dengan Dennis 10 hari dari sekarang. Nanti ikutlah dengan asistenku setelah kakak sepupumu datang." Mr. Liong pergi meninggalkan Vinsa yang sedikit lega karena bisa lepas dari Dennis. Biarlah dia jadi simpanan pria tua itu yang penting dia tidak melayani banyak pria hidung belang lagi.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
"Apa maksudmu Mr. Liong?" Tanya Dennis saat Mr. Liong mengutarakan ingin mengambil Vinsa dan dengan sedikit ancaman.
"Ceraikan dia dan dia jadi milikku." Tegas pria itu lagi. Mereka sedang duduk di ruang tamu rumah Dennis yang cukup luas itu.
"Kenapa kau justru tertarik dengan wanita sepertinya yang sudah di jamah banyak pria?" Tanya Dennis dengan nada menghina.
"Terserah aku, pokoknya dalam seminggu ini kau harus serahkan surat ceraimu, kalau tidak aku tarik semua dana investasi." Ancam Mr. Liong lagi dan Dennis mengangguk tanda setuju.
"Dan mana yang namanya Melly?" Mr. Liong melihat 2 pelayan disana.
"Itu dia." Tunjuk Tantri dan Melly sedikit ketakutan.
"Siapkan barangmu karena Vinsa membutuhkanmu." Ucap Mr. Liong dan Melly langsung pergi menyiapkan seluruh barang mereka dan mengikuti Mr. Liong.
"Vinsa... kau kenapa?" Tanya Melly begitu masuk ke ruang rawat Vinsa dan memeluknya.
"Aku aku, mau mati saja mba Mel.." Tangis Vinsa pecah dan Melly terus memeluknya dengan erat.
"Ayo kita pergi, ganti bajumu dan jangan lupa lukamu tidak boleh terkena air." Pesan Mr. Liong dan dia menunggu diluar.
"kau yakin Vin untuk ikut dengan orang itu?" Tanya Melly saat Mr. Liong sudah keluar.
"Kurasa ini yang terbaik mba, dari pada harus bersama Dennis yang terus menjualku." Ucap Vinsa dan Melly membenarkan.
"Setidaknya aku hanya melayani 1 orang itu." Lanjut Vinsa dan mereka keluar untuk pergi ke Bali seperti yang Mr. Liong katakan sebelumnya. Mereka di tempatkan di sebuah rumah kecil di tengah kota tetapi tetap dengan beberapa pengawal disana untuk menjaga Vinsa agar tidak kabur.
Bersambung~
__ADS_1