
Fane melanjutkan harinya dengan bangun pagi dan berolahraga. Sementara dia akan tinggal di apartemen Ansel sampai dia berhasil mendapat pekerjaan itu dan menyewa apartemennya sendiri.
"Huh hah... huh hah... " Napasnya memburu kala mengangkat beban di tangannya lalu berganti melatih otot kaki dan paha. Rutinitas ini sebenarnya jarang dia lakukan, paling Fane hanya joging karena angkat beban biasa dia lakukan saat bekerja, dia mengangkut sendiri berkarung-karung terigu dengan berat 30 kilo setiap harinya di sebuah toko roti di kota London, lalu dia sempat bekerja sebagai pekerja kasar untuk memenuhi kebutuhan dan biaya sekolahnya.
Setelah mendinginkan badan, Fane lalu mandi dan berganti pakaian dengan yang lebih santai karena dia akan pergi membuat menu di restoran yang akan menjadi salah satu tempatnya bekerja. Restoran mewah itu begitu indah dan dapurnya sesuai dengan yang Fane harapkan.
"Selamat pagi Fane, saya manajer restoran ini. Bisa langsung saja memasak di sana dengan bahan yang tersedia, ingat harus menu baru." Ucap manajer itu dan Fane dengan cekatan bermain di dapur hingga 40 menit saja sudah ada 2 hidangan tersedia.
"Wah.. aromanya harum dan tampilannya menarik, akan aku bawa ke ruangan bos. Ayo ikut." Ajak manajer itu dan di ruangan telah ada seorang pria paruh baya yang telah menunggu mereka. Dia cukup puas setelah mencicipi masakan Fane dan mengangguk sambil tersenyum.
"Baiklah silakan baca kontrak ini dan tanda tangani jika setuju."
Fane membaca dengan teliti tapi ada yang aneh pada isi kontraknya. "Kenapa begini Tuan? Ini tidak sesuai dengan kesepakatan kita dan aku hanya di kontrak 6 bulan dan setelah itu resep saya menjadi hak milik restoran ini dengan bayaran hanya 3 bulan gaji?" Tanya Fane dan mereka mengangguk.
"Maaf saya tidak bisa, permisi!" Ketus Fane lalu dia segera keluar dari restoran itu dengan kesal dia merasa tertipu. Bagi Fane yang sangat suka memasak itu merupakan penghinaan baginya dan resepnya adalah milik restoran itu? Fane tidak akan pernah mengizinkannya.
Fane yang kesal memilih untuk bertemu Aksa dan Ansel tapi mereka tidak berada di kantor siang itu, untunglah Fane menelepon dulu sebelum dia kesana. Akhirnya Fane ke salah satu restoran di mall dekat sana untuk mencari makan siang dan tidak sengaja bertemu dengan Anson yang sedang makan eskrim sendirian.
"Hai Anson!" teriak Fane begitu melihatnya dan yah dia sudah bisa membedakan Ansel dan Anson. Karena Ansel selalu berpakaian rapi berbeda dengan Anson yang sedikit badboy dan urakan.
"Hai bro, bukannya ada tes masak?" Tanya Anson yang duduk berdua dengan Fane yang sedang lapar. Setelah dia memesan makanan lalu menceritakan kekesalannya yang di balas tawa oleh Anson yang memang mempunyai otak sedikit geser.
"Bagaimana kalau malam ini kau masak di rumah kami? Mommy mengadakan acara makan malam bersama tapi di rumah om ku, nah om Arlen itu punya banyak restoran mungkin dia tertarik dengan masakanmu." Saran Anson lalu Fane tertarik dan setuju untuk ikut.
"Baiklah aku ikut dan akan kuperlihatkan masakan terbaikku."
__ADS_1
Setelah makan siang, mereka melanjutkan mengobrol sampai lupa waktu, untung saja ada Fane yang menemani Anson makan eskrim disini karena dia sedang kebosanan mengingat semua pacarnya telah dia putuskan.
.
.
.
"Mommy cantik!" Teriak Anson begitu sampai ke rumah Arlen. Hanny sejak pagi sudah ada disana karena mengundang seluruh anggota keluarga seperti dulu.
"Mommy.. bala bantuan datang, ini temannya Ansel dari Inggris dan dia adalah koki hebat jadi dia akan bantu mommy masak hari ini." Ujar Anson begitu ketemu Hanny yang tengah sibuk di dapur, Anson mencium pipi Hanny dan membuat Fane merasa cemburu karena dia sudah tidak punya orangtua.
"Hai auntie cantik, saya Fane.." Sapa Fane lalu menjabat tangan Hanny.
"Wah bagus, mommy kewalahan memasak daging ini. Gak tau mau dimasak apa, ada saran?" Tanya Hanny pada koki muda di depannya.
Beberapa jam berkutat bersama Hanny di dapur membuat Fane dan Hanny menjadi akrab dan berbagi cerita sambil memasak. Hanny yang takjub pada cara masak Fane terus saja memuji pria muda itu sampai membuat Arden yang sejak tadi sudah datang dan memperhatikan sedikit cemburu.
"Kenapa dari tadi muji ini bocah terus?" tanya Arden sambil mengecup pipi Hanny.
"Dia sangat jago masak, kalau pria macho, gagah, tampan seperti ini plus mahir di dapur terlihat begitu sexy." Jawab Hanny yang sengaja membuat Arden panas.
"Tapi aku jago di ranjang." Bisik Arden dan Fane sebenarnya mendengar dan mengerti bahasa itu, tapi dia hanya tersenyum melihat orangtua temannya yang sangat mesra meski di hari tua mereka.
"Jangan ngaco kak, malu ada tamu." Hardik Hanny yang dibalas tawa oleh Arden lalu mencuri ciuman istrinya di bibir.
__ADS_1
"Dasar! Maaf Fane, dia itu memang cemburuan." Ucap Hanny tidak enak.
"it's okay auntie." Balas Fane yang masih mengaduk sausnya dengan gerakan telaten.
"Aku senang melihat kalian terlihat mesra, tidak seperti orangtuaku yang baru 10 tahun menikah sudah cerai dan aku berakhir di panti asuhan." Lanjut Fane lagi dan Hanny merasa sedih mendengarnya.
"Kenapa tidak ikut salah satu dari orangtuamu Fane?" Tanya Hanny dan Fane menghela panjang mengingat kisah hidupnya yang sangat menyedihkan.
"Awalnya aku bersama ibuku, tapi ayah tiriku sangat kejam dan selalu memukulku sampai dinas sosial datang dan membawaku ke ayah, tapi ibu tiriku juga sama saja akhirnya aku memilih ke panti asuhan. Tapi setelah aku lulus dan masuk cambridge dengan jalur beasiswa ayahku langsung ingin aku kambali padanya, aku menurut tapi ternyata aku hanya dimanfaatkan untuk menaikkan derajat mereka karena anaknya dengan istri barunya tidak pintar dalam belajar. Tapi aku akhirnya menyerah lagi dan hidup sendiri, sambil kuliah bisnis tapi passionku tidak disana dan sambil belajar masak, jadilah aku seperti ini sekarang." Fane kembali ceria dan Hanny juga tersenyum mendengarnya.
"Tidak apa-apa Fane, hidup ini memang susah ditebak, bisa jadi setelah ini kau bisa punya restoran sendiri, ya kan!" Tepuk Hanny pada pundak Fane yang kekar dan Arden yang kembali malah cemburu lagi.
"Ngapain pegang-pegang?" Tanyanya dan memeluk pinggang istrinya posesif.
"Ya ampun.. kak, aku hanya beri semangat pada Fane yang sudah berjuang dalam hidupnya. Apa kita jodohkan dia dengan Ana saja ya?" tanya Hanny dan Arden sangat tidak suka.
"Gak boleh sayang... hati dan tubuhnya sudah ada yang punya, aku gak mau nanti Ana menderita karena anak muda ini gak bisa kasih kepuasan." Balas Arden dan Fane tertawa mendengarnya. Dia sama sekali tidak marah karena itu memang benar, Fane selalu mengangap semua hal yang terjadi padanya itu adalah proses menuju kehidupan yang lebih baik.
"Bos.. nona Ay dalam perjalanan pulang, dan mungkin 2 jam lagi dia akan sampai kesini." Ucap Vino dan Arden sangat lega mendengarnya.
"Tapi masalahnya adalah dia sudah beli tiket ke London untuk besok malam." Sambung Vino.
"Ngapain dia ke London, sedirian?" Tanya Arden dan Vino mengangguk.
"Begitu Ay sampai bawa dia kesini." Titah Arden dan Hanny mengelus lembut punggungnya.
__ADS_1
"Jangan terlalu keras sama Ay kak, kasihan dia." Ucap Hanny lembut dan Arden mengangguk.
TBC~