
Malam harinya Arion membawa Tassa ke busnya dan berbicara disana. Arion merasa lebih nyaman karena sekalian melihat bintang di atas atap bus.
"Sasa.. kita akan berangkat besok siang kembali ke kota J dan keluargaku sudah siap bertemu denganmu." Ucap Arion sambil mengelus lembut punggung tangan Tassa dan sesekali menciumnya. Mereka rebahan diatas kasur angin dengan melihat bintang yang sangat banyak di langit malam yang pekat.
"Tapi aku masih merasa tidak pantas bersamamu om.. apakah keluargamu juga bisa menerimaku? Aku sudah di jamah banyak pria dan kehormatanku sudah hancur lebur." Lirih Tassa dengan wajah yang kembali terlihat sedih.
"Jangan berkata seperti itu, kau adalah Sasa ku yang paling terhormat dan paling aku cintai. keluargaku juga sayang padamu Sasa sayang." Ucap Arion lalu menariknya dalam dekapan erat.
"Kau adalah segalanya bagiku, untung saja ada Leon saat kau meninggalkanku waktu itu kalau tidak mungkin aku sudah menjadi pria tak berguna yang hanya akan mencarimu." Ucapnya lagi lalu menciumi puncak kepala Tassa yang bersandar di dadanya.
"Maafkan kebodohanku.. Om Arion.. aku juga cinta sama om." Sasa juga mengeratkan pelukannya.
"Dan.. ubah panggilanmu itu, aku bukan om mu Sa.. sebentar lagi kita menikah." Tukas Arion dengan sedikit kesal. Kini entah kenapa dia tidak suka Sasa memanggilnya begitu.
"Panggil Papi saja seperti Leon ya?" Tanya Tassa sambil menengadahkan wajahnya.
"Boleh tapi aku juga panggil mami." Jawab pria itu dengan senyumnya yang menawan.
.
.
.
"Papi, kita jadi pulang?" Tanya Leon pada Arion yang sedang menunggu sarapannya yang kesiangan kerena dia bangun sudah hampir tengah hari.
"Papi maunya pulang cepat tapi coba tanya mami." Jawab Arion dengan sengaja, biar saja Leon yang membujuk sang mami.
"Mami...kapan kita pulang? Leon sudah rindu sama oma opa, mami Vio, papi Anson dan kakak-kakak." Tanya Leon pada Tassa yang baru selesai memasak makanannya dan Arion.
"Leon maunya kapan?" Tanya Tassa memandang wajah anaknya.
"Maunya hari ini." Jawabnya cepat.
__ADS_1
"Memangnya bisa? Apa sempat?" Tanya Tassa, matanya beralih ke Arion.
"Bisa, kita pakai pesawat pribadi loh.. mami." Jawab Arion dan Tassa mendelik karena terkejut.
"HAH? Pesawat pribadi? memangnya punya?" Tanya Tassa yang tidak percaya dengan ucapan Arion itu.
"Punya mami.. ada punya opa, om Ansel, daddy Anson juga baru beli. Papi punya tapi pakai punya perusahaan, ya kan pi.." Leon yang menjawab.
"Kalian orang kaya? Benarkah itu?" Tassa masih tidak percaya bahkan dia meletakkan sendoknya tidak jadi makan. Arion yang gemas langsung menyendokkan nasi dan lauk ke mulut Tassa agar tidak banyak bertanya lagi.
Selesai makan, Arion memerintahkan Tinto untuk segera menyiapkan kepulangan mereka yang mendadak. Tanpa Tassa ketahui ternyata Izabela sudah duluan di antarkan oleh anak buah Tinto ke rumah Tenggara untuk menyiapkan segala keperluan pernikahan mereka.
"Bagus Leon, kita akhirnya bisa mengajak mami pulang. Anak papi memang pintar." Ucap Leon sedikit berbisik. Sebenarnya Tassa belum ingin ikut Arion pulang, sebab dia malu dengan keadaannya saat ini yang mungkin akan mempermalukan keluarga Arion nantinya.
\= = = = = =
Arion dan Tassa duduk berdampingan dalam jet pribadi milik 'Blake' dan Leon duduk dengan Tinto di bagian depan agar tidak mengganggu orangtuanya bermesraan.
"Em... Om.." Panggil Tassa sedikit ragu.
"Aku takut.." Cicit Tassa.
"Takut apa?" Tanya Arion dengan mengkerutkan keningnya tanda bingung.
"Keluarga om nanti benci Sasa atau tidak suka karena Sasa sudah..."
Arion menghentikan kalimat Tassa dengan mencium bibir mungilnya.
"Jangan bicara macam-macam, keluargaku sudah tau dan mereka bahkan yang mendukungku untuk mencarimu selama ini, buktinya Melly tinggal di rumah kami." Jelas Arion yang tidak suka bila Tassa mengingat kejadian buruk itu lagi.
Akirnya Tassa diam, dia terus-terusan menarik dan menghembuskan nafasnya karena gugup.
2 jam perjalanan berlangsung singkat karena Tassa menjadi bulan-bulanan kejahilan Arion. Entah kenapa Tassa yang dulu jahil sekarang tidak lagi malah Arion yang seakan membalas dendam.
__ADS_1
Dari tiba-tiba menciumnya, mengecupnya, menggelitik, bahkan tangan jahilnya sesekali bermain di area terlarang yang sangat dia rindukan. Meskipun ada sedikit kekhawatiran Tassa tidak ingin di sentuh sebab dia menolak berkali-kali saat tangan jahil Arion ingin menjamahnya.
"Ayo.. kita pulang." Ajak Arion begitu mereka turun dari pesawat. Tampak wajah Tassa yang cemas karena menuju detik-detik bertemu dengan calon mertua.
"Jangan cemas sayang.. mommy dan daddy adalah yang terbaik, mereka akan menyayangimu." Ucap Arion lalu menggenggam tangan Tassa yang terasa dingin.
"Iya mami, oma opa semua sayang sama mami, tenang saja kalau di rumah kita nakal bersama, Leon jamin tidak ada yang marah." Leon juga menggenggam tangan Tassa yang satunya lagi barulah dia merasa sedikit lebih tenang.
"Mami sayang Leon, sangat sayang." Ucap Tassa sambil menggenggam tangan Leon dengan erat.
"Sayang papi tidak?" Tanya Arion yang tidak mau kalah.
"Ehmm.. iya tapi lebih sayang Leon." Jawabnya sambil terkikik kecil melihat wajah Arion yang cemberut.
.
.
.
Akhirnya Arion, Tassa dan Leon sampai di depan gerbang rumah yang begitu besar. Tassa melihatrumah itu hanya bisa menganga tak percaya, padahal itu rumah Arden dan Hanny yang tidak terlalu besar masih jauh lebih kecil dari rumah utama Tenggara.
"Tutup mulutnya.." Arion menaikkan gadu Tassa yang masih terjatuh, karena terkejut. Perlahan gerbang itu terbuka dan mobil masuk ke pekarangan rumah itu. Yang menyambut mereka pertama kali adalah Cody yang sudah duluan pulang bersama Izabela.
"Hai Cody, kau merindukanku?" Tanya Leon begitu turun dari mobil dan Cody sudah menyambutnya dengan gerakan ekor sampai bokongnya ikut bergoyang. Dengan lincah Cody juga sesekali melompat dan menjilati Leon.
"Hahahah stop Cody, geli..." Leon tertawa-tawa karena ulah Cody yang sangat lincah, Cody sudah sangat merindukan sahabatnya itu.
"Ayo Leon, Cody.. kita masuk. Oma dan opa pasti sudah menunggu." Ajak Arion setelah dia dan Tassa turun dari mobil.
Tassa mengenggam erat tangan Arion dan berjalan perlahan, dia masih sangat takut. Tangannya dingin namun berkeringat, bahkan di keningnya juga sudah bercucuran keringat padahal saat itu sudah sore menjelang malam, sama sekali tidak panas dengan angin sepoi-sepoi menerpa kulitnya.
"Santai saja Sasa sayang.. keluargaku sangat baik. Tapi hanya malam ini saja aku membiarkanmu menangis, tapi tangisan bahagia dan haru bukan kesedihan." Ucap Arion sambil mengecup punggung tangan Tassa berkali-kali. Gadis itu masih saja taku apalagi saat kaki mereka melangkah masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Langkah pertama saja sudah sangat membuatnya jantungan. Mungkin suara detak jantungnya bisa terdengar jelas oleh Arion.
TBC~