Menjaga Cinta Season 2

Menjaga Cinta Season 2
BAB 57 - Gadis Manis Bermata Biru


__ADS_3

"Tuan, Leon menangis histeris lagi." Lapor seorang suster yang ditugaskan menjaga Leon.


Arion segera berlari menuju kamar Leon, diikuti Anson dan Melvin. Melly yang penasaran juga ikut setelah mencabut paksa jarum infunya dan menyambar uang yang tergeletak di meja.


"Mami...mami...huaaa mami..." Teriak Leon sambil menangis. Arion memeluknya dan menenangkannya.


"Leon kenapa? Mimpi lagi?" Tanya Arion begitu Leon telah tenang.


"Sakit papi.. Leon mimpi mami sakit.. teriak minta tolong." Ujarnya sambil menangis. Arion begitu sedih, mungkin benar ini ikatan batin yang sering di bilang orang-orang.


"Kenapa Leon tau itu mami?"


"Gak tau, Leon hanya tau itu mami, matanya biru tapi gak keliatan lagi yang lainnya, putih." Jawabnya.


Melly begitu terkejut dengan kondisi anak itu yang dia yakin adalah anak Vinsa, wajah itu adalah wajah Vinsa dan mata kanannya berwarna biru juga.


"Apa mami kesakitan si surga? Kata oma mami sudah di surga kan?" Tanya Leon dan Arion menggeleng.


"Gak, mami Leon masih hidup dan sekarang sedang menunggu kita jemput tapi Leon harus sembuh dulu ya.."


"Kok bisa papi?"


"Itu tante Melly, kakaknya mami baru datang dan bilang mami masih hidup dan menunggu kita untuk jemput."


Leon melihat Melly yang berdiri sedikit jauh dan sedang menangis melihatnya, begitu sakit hatinya, ternyata anak Vinsa juga sedang menderita.


.


.


Besoknya Arion langsung mendatangi perusahaan Angkasa dan kebetulan ada Jeremy disana bersama Jupi. Arion langsung menceritakan dan ingin tau siapa Mr. Liong itu.


Jeremy dan Jupi juga sangat marah dan memerintahkan mencari Mr. Liong sampai dapat dan Arion akan segera mendatanginya.


"Kau tenanglah, kami akan mencarinya demi Leon." ucap Jeremy dan Arion mengangguk.


"Om, aku akan ambil alih dunia bawah, tolong berikan aku pengawal terhebat 'Blake' dan juga beberapa akses." Ucap Arion serius dan Jeremy tersenyum, akhirnya ada dari anak-anak ini yang akan melanjutkan dunia bawah.


"Kalau begitu bawa Jovan." Usul Jupi.


"Gak om, kali ini mungkin aku akan menghilangkan beberapa nyawa." tolak Arion dan dari kilatan matanya Jeremy tau kalau Arion akan berubah menjadi seperti dirinya dulu dan dia tidak mau Arion seperti itu karena ada Leon yang harus dia lindungi.

__ADS_1


"Maka itu sebaiknya bawa Jovan, dia akan melakukan semuanya." Saran Jeremy dan Arion terpaksa menerima karena dia tau kedua om ini tidak akan membiarkan dia yang mengotori tangannya sendiri.


Setelah kembali, Arion segera menemui Leon dan pamit padanya untuk mencari Vinsa dan Leon mengangguk, "Leon akan jadi anak baik papi, jadi bawa mami pulang ya.." ucap Leon dengan mata berbinar dan Arion memberikan pelukan dan ciuman padanya. Ini pertama kalinya dia meninggalkan Leon sendirian.


"Mommy.. Ion titip Leon yah, bilang juga sama Vio mom.." Arion memeluk Hanny yang sedang menjaga Leon hari ini.


"Ion.. ingat jangan gegabah ya, Leon menunggumu. Kami semua menunggumu kembali." Hanny membalas pelukan Arion dan mengelus punggung anak lelaki bungsunya itu.


Arion segera meninggalkan ruangan Leon dan bersama Jovan terbang ke Surabaya, karena dia sudah mendapatkan alamat dimana Dennis berada.


Hanya 1 setengah jam dengan jet pribadi, Arion dan Jovan sampai di sana dan mereka memutuskan akan ke hotel dan memancing sendiri Dennis beserta 7 orang yang telah menggunakan jasa yang di tawarkan Dennis. Arion akan menghancurkan semuanya.


.


.


.


"Dennis.. kau mau kemana?" tanya Tamy melihat Dennis sudah rapi pagi-pagi sekali.


"Mau bertemu Jovan Angkasa, dia lagi mau merambah kota ini untuk buka cabang pabriknya, lumayan kan kalau sparepart nya ambil dari kita." Jawab Denis dengan wajah sumringah.


"Wah bagus itu.. tapi dia gak minta hal aneh-aneh kan nanti?" Tanya Tamy karena tidak ada lagi wanita baik-baik yang bisa mereka jadikan pemuas n*fsu para pria itu.


Dennis telah menghubungi semua rekan bisnisnya untuk ikut dalam pesta undangan terbuka yang di buat oleh perusahaan Angkasa, apalagi dalam bisnis kali ini akan ada campur tangan dari perusahaan lain dalam Grup Tenggara.


"Pak Jovan, perkenalkan saya Dennis dan mereka adalah rekan bisnis saya yang ingin hadir dan ikut dalam proyek besar ini." Dennis memperkenalkan diri dan total ada 9 orang disana termasuk dirinya.


"Wah, saya senang dengan antusiasme kalian semua dan saya sudah melihat data perusahaanmu Tuan Dennis dan saya tertarik." Ucap Jovan dan Dennis tersenyum bangga.


"Baiklah.. asisten saya akan mengantarkan kalian ke ruang meeting lainnya, kita akan serius membicarakan kerjasama ini." Ucap Jovan kemudian memberikan kode pada salah satu pengawalnya untuk menunjukkan jalan.


"Baik Tuan Jovan, terima kasih." Dennis dan ke 9 temannya mengikuti pengawal itu dengan wajah berbinar bahagia.


Sementara Arion sedang mengganti pakaiannya untuk bermain sejenak dengan orang-orang itu untuk membalaskan dendam Sasa.


Dennis telah menunggu hampir setengah jam di selingi dengan mengobrol dan bercanda, sesekali mereka menyebut mantan istri Dennis, Vinsa.


"Harusnya kalau kau ceraikan dia beritahu kami, enak saja Mr. Liong pakai sendiri, kami kan masih mau pakai dia." Ucap salah satu dari ke 8 pria itu.


"Iya benar, dimana lagi ada gadis cantik asia bermata biru, sungguh indah." Lanjut yang lain.

__ADS_1


"Yah meskipun permainannya kurang dan pasrah tapi enak di permainkan kaya boneka s*x." Celetuk yang disampingnya.


Dennis hanya tersenyum dan memang benar kalau Vinsa hanya tipe pasrah saja, bahkan seperti tidak menikmati.


"Dan aku baru tau kalau dia ternyata ada penyakit anorgasmia (kondisi yang terjadi saat seseorang sulit untuk mencapai org*sme) jadi kita apain juga dia tetap begitu saja, benar-benar boneka ahahahaah."


Di ruangan lain, Arion tengah menggeram marah mendengar semua pria disana melecehkan gadis yang dicintainya.


"Ayo kita kesana." Ajak Jovan yang juga sudah tidak tahan mendengar percakapan itu yang sungguh tidak beradab.


Jovan masuk terlebih dulu lalu di ikuti dengan Arion dengan aura dingin luar biasa, para pria hidung belang disana sungguh tak percaya kalau seorang Tuan Muda Tenggara ada di hadapan mereka tapi lebih dari pada itu, Dennis benar-benar susah untuk bernafas kali ini. Mereka secara otomatis berdiri dari duduknya dan menghormat pada pria yang lebih muda dari pada mereka.


Mungkin Arion tidak mengenalnya tapi Adeline langsung terbayang di benaknya, bagaimana dulu dia mengacaukan hubungan Adeline dengan Ansel yang berakhir mereka putus hubungan dan Adeline pergi dari keluarganya. Padahal waktu itu dia hanya menuruti ide dari teman kencannya Rena.


"Selamat pagi tuan-tuan, senang bisa berkumpul disini dan mungkin anda semua sudah kenal siapa yang ada di samping saya." Lalu Jovan mempersilahkan mereka semua untuk duduk setelah Arion duduk lebih dulu.


Aura Arion begitu terasa mencekat, hingga tidak ada 1 pun yang berani bersuara, bahkan bernafas saja sulit. Padahal selama ini Arion dikenal sebagai pria ramah yang jarang ikut bisnis Tenggara karena dia mempunyai bisnis sendiri di bidang start-up dan tidak banyak yang tau tentangnya.


"Ada apa gerangan Tuan Muda Tenggara ikut menghadiri acara kecil seperti ini?" Tanya Dennis ramah meskipun sedikit dengan suara bergetar.


"Bukankah kau adalah kakak kelasku Dennis Pratama, sudah lama tidak bertemu." Jawab Arion datar dan menatap tajam pada Dennis yang mematung.


"Tadi kami mendengar kalian mengobrol tentang wanita cantik, aku sedikit tertarik dengan wanita bermata biru." Ucap Arion dan mengedarkan sorot mata tajamnya ke semua pria disana.


"Oh kalau itu, hm.. hanya main-main Tuan, gadis itu adalah mantan istri Dennis." Jawab salah satunya.


"Mantan istri, berarti Dennis sangat baik mau membagi istrinya dengan kalian. Apakah ini ada komunitasnya? Aku sangat tertarik meskipun belum beristri." Sambung Arion.


"Begitulah Tuan, kami hanya saling berbagi." Jawab Dennis dengan senyum canggungnya.


"Hem, apakah dia begitu cantik sampai kalian semua begitu senang?" Pancing Arion lagi.


"Dia gadis yang unik Tuan, wajah manisnya dengan mata biru kalau tuan mau saya ada foto tapi sedikit vulgar." Ucap salah satu dari mereka dan Arion ingin melihat foto itu.


"Ini tuan, jika anda mau pasti Mr. Liong akan memberikannya." Arion melihat foto itu dan hatinya begitu sakit seperti di remas kuat. Sasa dalam keadaan terikat dengan paha di lebarkan dan mulut di sumpal, airmata dan raut wajah yang terlihat sangat menyedihkan, bahkan dibagian intinya 2 buah alat ** bersarang disana.


Arion memejamkan matanya tidak sanggup melihat foto itu lagi, amarahnya memuncak, gelas yang sedang dia pegang tadi untuk minum pecah begitu saja dalam genggamannya. Untunglah dia sedang menggunakan sarung tangan hitam khas petinggi 'Blake' jika sedang menghadapi musuh.


"Jo.. potong tangannya." perintah Arion dan Jovan memberi kode pada pengawalnya dan benar saja, pria itu di tarik ke ruangan sebelah yang telah berisikan segala jenis alat penyiksaan.


Terdengar suara teriakan yang begitu memilukan dibarengi suara alat pemotong dan semua pria disana memucat dan langsung berdiri dan lari menuju pintu yang telah terkunci rapat. Sedangkan Dennis masih duduk mematung, karena dia tau apapun bisa di lakukan oleh keluarga Tenggara.

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2