
Fane yang berpindah ke halaman samping rumah telah menunjukan keahliannya dalam memasak steak yang begitu menggugah selera semua orang yang hadir.
"Wah Hanny sepertinya sengaja mendatangkan koki khusus untuk kita." Celetuk salah satu dari mereka yang sangat antusias melihat pertunjukan masak di depannya. Hanny sampai memindahkan kompor ke halaman agar semua orang dapat menikmati hidangan dalam keadaan masih panas.
"Tentu saja, Hanny gitu loh..." Jawabnya bangga dan Fane tertawa mendengarnya dan dia sangat suka berada di tengah-tengah keluarga ini.
Setelah selesai dan semua mendapatkan jatah makanannya, akhirnya Kirei berserta anak-anak telah pulang dan sudah kelaparan.
"Hah gimana sih.. malah tuan rumahnya baru muncul." Seru Arden yang sejak tadi menunggu keluarga ini yang ternyata lupa ada acara makan malam dan malah berkunjung ke kampung nelayan tadi pagi.
"Hehehe maaf kak, lupa." Jawab Kirei sambil tertawa kecil dan dia juga sangat ingin mencicipi steak yang sedang di makan semuanya. Dengan senang hati Fane kembali memasaknya dan 3 porsi steak telah jadi dan masih tunggu 3 porsi lagi. Tak lama semuanya telah kebagian.
"Mana Arlen? Kok belum keliatan?" tanya Jupi sambil melahap daging dengan suapan besar.
"Lagi mandi, gerah katanya." Jawab Kirei dan dia juga dengan lahap memakan steak itu dan mengangkat jempolnya tinggi.
"Permisi mau ke toilet dulu." Izin Fane lalu beranjak dari sana.
"Hai Len.. makanlah." Ujar Arden dan dia ingin tau komentar Arlen setelah mencicipi steak itu.
"Wah.. enak sekali, kakak ipar sudah jago masak, biasa nih saingan buka restoran." Puji Arlen dan Hanny hanya tertawa menanggapinya.
"Yang masak bukan aku, tapi Fane temannya Ansel dan Aksa yang dari Inggris, koki muda ganteng dan hebat." Puji Hanny dan langsung mendapat pelototan dari Arden.
"Napa sih sayang dari tadi muji dia trus?"
"Yah emang bener kan.. kan..? dia ganteng, masih muda dan jago masak." Lagi-lagi Hanny sengaja membuat Arden cemburu
"Awas nanti, aku hukum kamu." Tatap Arden tajam dan Hanny hanya tersenyum jahil.
"Mana orangnya? Boleh ini di tarik masuk ke restoranku." Ujar Arlen penasaran dan muncul lah orang yang dibicarakan.
__ADS_1
"Tuh dia.." Anson menunjuk ke Fane yang baru muncul lagi.
"Fane, sini.. om Arlen ingin kenalan." Anson memanggil Fane dan segera mendekat kesana dan menuju arah yang ditunjuk Anson untuk melihat om Arlen.
DEG
"Wajah itu." Fane berhenti dan membeku terpana melihat wajah Arlen.
"Hey! Kenapa kau seperti melihat hantu? Jangan bilang kau berubah haluan menatap om Arlen sampai segitunya." Celetuk Aksa.
"Bukan tapi wajah ini.. mirip gadis itu, iya sangat mirip gadis itu." Berulang kali Fane mengucapkan kalimatnya dan Arden langsung berdiri.
"APA!!" Teriak Arden panik.
"Kau yakin Fane?" Tanya Aksa yang kini menghampiri Fane yang masih menatap lekat ke Arlen.
"Iya aku yakin, wajah gadis itu mirip om ini apakah anak om?" tanya Fane dan Anson segera berlari ke dalam rumah dan membawa salah satu foto Aileen yang tergantung di tangga menuju lantai 2.
"Apa ini orangnya?" tanya Anson begitu dia kembali dengan figura foto yang lumayan besar.
"Tolong jelaskan, ada apa ini?" Tanya Arlen yang bingung begitu juga para istri mereka disana.
"Jadi intinya, Fane ini datang ke sini untuk cari gadis yang telah memperkosanya dulu di Inggris dan ingin minta tanggung jawab dan ternyata gadis itu adalah ini." Anson mengangkat foto Aileen lagi dan Arlen terlihat marah, adik kecilnya memperkosa?
"Jangan sembarangan kau!" Sentak Arlen dan mencengkram kerah baju Fane dan langsung di lerai oleh Ansel dan Aksa.
"Tenang om, di sini Fane gak salah, yang salah gadis itu dan kita sudah selidiki waktu itu tapi gadis itu hilang." Jelas Aksa dan Arlen yang melihat Arden diam saja juga akhirnya bersabar karena dia tau kalau memang Fane yang salah tak mungkin pria ini masih sehat.
"Tapi siapa dia dan kenapa warna matanya beda? Di foto ini hijau." Tanya Fane yang terus menatap foto Aileen.
"Apa dia saudara kalian? Sepupu? Adik?" Tanya Fane lagi.
__ADS_1
"Dia sering pakai kontak lens kalau di luar dan dia bukan sepupu kami, dia autie kami, Aileen adiknya daddy dan om Arlen. Dan saat ini umurnya sudah 31 tahun." Jawab Anson pada Fane yang terlihat bengong.
"KAKAK!!" Teriak suara cempreng khas Aillen menggelegar dan dia telah berjalan dengan wajah kesalnya memasuki halaman samping yang dia tau hari ini ada acara makan malam.
"Kenapa kakak menyeretku kemari? Dua pengawal itu sangat tidak sopan!" teriak Aileen begitu dia menemukan Arden disana. Sedangkan Arden yang masih syok hanya melihatnya tanpa menjawab.
"Auntie... sini deh, apakah auntie kenal dengan dia?" Tanya Anson lalu mendorong Fane yang tengah bengong melihat kehadiran gadis cantiknya itu.
"Siapa dia?" Tanya Aileen dengan nada kesal. Tak berapa lama barulah dia memekik kuat, "KAU??!!" Sambil menunjuk wajah Fane yang berada jauh diatasnya, dia mendongak keatas melihat sekali lagi wajah tampan itu dan dia benar-benar takut sekarang.
Aileen yang begitu terkejut langsung sembunyi dibelakang Anson dan menghilang dibaliknya karena tubuh Anson jauh lebih besar.
"Aduh.. kenapa bisa disini? Gawat ini kalau kakak tau, bisa mati." Gumamnya pelan dan Anson sudah kecicikan geli mendengarnya.
"Auntieku yang cantik, daddy dan om sudah tau dan sekarang, ini orang datang kesini untuk minta tanggung jawab." Ucap Anson yang bergeser 2 langkah tapi Aileen masih mengikutinya dan sembunyi di balik punggung Anson.
Ansel dan Aksa juga menghampiri mereka, "Auntie, uruslah masalah kalian dan dia minta tanggung jawab, kasian dia." Ujar Ansel dan Aileen malah heran para keponakannya malah membela pria ini.
"Kenapa kalian justru membelanya, kan yang rugi tetap aku, emangnya siapa dia?" Tanya Aileen tanpa rasa takut karena begitu kesal.
"Dia teman kuliah kami Auntie.. jadi dia sudah 3 tahun ini cari gadis yang memperkosanya dulu dan kami juga bantu cari ternyata itu Auntie cantik kami." Jelas Aksa sedikit menahan senyumnya.
"Emangnya kau mau aku tanggung jawab apa?" Tanya Aileen begitu marah pada pria didepannya.
"Aku mau kau menikahiku." Ucap Fane lantang dan Aileen membelalakkan matanya tak percaya.
"APA? Jangan sembarangan!" Tunjuk Aileen pada Fane yang berdiri lagi di depannya.
"AY!" Tegur Arden yang kini mendekat padanya.
"Kalian berdua ikut aku, Len ayo.." Titah Arden dengan mata tajamnya dan tegas. Arlen mengkuti Arden dan Aileen serta Fane mengekori mereka dari belakang.
__ADS_1
"Son jelaskan pada kami? Kami semua menunggu." Ujar Hanny dan yang lain mengangguk. Akhirnya Anson lah yang menceritakan semuanya pada keluarga besar itu, jangan mengira mereka mengumbar aib Aileen, tidak, tapi memang tidak ada yang bisa di tutupi dari seluruh keluarga ini untuk mencari solusi terbaik bersama-sama.
TBC~