
Mereka sampai di salah satu mall milik Arlen. Arion dan Tassa menggandeng Leon di tengah-tengah mereka. Semua orang memandang keluarga kecil itu dengan kagum. Arion dan Leon memang menggunakan kacamata hitam jika di tempat umum karena tidak ingin terlalu banyak yang mengenali, beruntung Arion memang jarang di kenal public dan hanya beberapa kolega bisnis Arden yang kenal dengannya, selain temannya sewaktu kuliah. Jika orang awam sudah pasti tidak mengenalnya.
"Sa.. kita pilih cincin dulu ya.." Ucap Arion dan Tassa hanya menurut mengikutinya. Setelah sampai di salah satu toko perhiasan terbaik mereka langsung disambut langsung oleh pemilik tempat itu karena Tinto sudah memberitahu mereka kalau Arion akan datang.
"Selamat siang Tuan Muda Arion dan Nyona juga Tuan kecil." Sapa pemilik tempat itu.
"Aku mau beli cincin pernikahan, yang terbaik dan kalau bisa yang limited edition." Ujar Arion dan pria paruh baya itu langsung memerintahkan karyawanya untuk mengambil cincin dari dalam.
"Ini ada 4 pasang cincin yang baru datang tadi malam dan belum dipasarkan Tuan, yang 2 ini hanya di rancang 1 saja, yang 2 lagi hanya di produksi 3 khusus untuk toko ini saja."
"Ehm.. yang 2 ini saja, coba pilih sayang.." Ucap Arion dan Tassa bingung memilihnya karena keduanya bagus, tidak mencolok, terlihat simple tapi sangat indah dan mewah.
"Bingung?" Tanya Arion dan Tassa mengangguk.
"Kalau begitu ambil dua-duanya dan tolong ukir nama kami disana. Dua hari lagi kirim ke rumah." Perintah Arion dan mereka mengangguk. Setelah cincin selesai mereka ke sebuah restoran mewah disana dan makan siang bersama.
"Om Arion, terima kasih." Ucap Tassa lalu mengecup pipi Arion sekilas, Arion yang senang hanya tersenyum begitu juga Leon yang senang papi dan maminya akan menikah minggu depan
"Habis ini Leon mau kemana lagi?" Tanya Arion setelah melihat jam tangannya, masih jam 3 sore dan dia tidak ada kesibukan lagi hari ini.
"Mau beli buku, terus kita main yuk mami?" Jawab Leon dan bertanya ke Tassa yang juga terlihat sudah bosan.
"Buku lagi? Kan masih ada banyak yang belum dibaca." Tanya Arion karena 2 hari lalu mereka baru beli buku baru dan belum sempat dibaca.
"Bukan untuk Leon papi tapi tante Melly. Si kembar titip buku baca yang harus di pakai tante Melly." Ujar Leon, lalu Arion mengangguk. Melly memang mengikuti si kembar belajar membaca, bahkan Jean dengan antusias mengajari Melly yang telah membantu mengasuh adik-adiknya.
"Ohhh mba Melly sudah belajar membaca?" Tanya Tassa yang memang belum tau.
"Iya mami, tante Melly sudah bisa membaca, setara anak kelas 2 SD tapi berhitung tante Melly sudah jago, katanya mami Vio yang ajarin si kembar." Jawab Leon dan akhirnya Tassa tersenyum lagi, dia senang mendengar Melly yang memang pintar itu sudah bisa membaca.
Setekah membeli buku, Arion malah mengajak Tassa dan Leon nonton film karena Tassa sama sekali belum pernah ke bioskop. Arion ingin membeli semua 1 ruangan tapi Tassa menolak dan tetap ingin seperti yang lainnya biar ramai dan bisa merasakan kencan seperti orang lain.
"Yakin?" Tanya Arion lagi dan Tassa mengangguk sambil tersenyum, jadinya mereka hanya beli 3 tiket dan untungnya memang siang menjelang sore itu tidak ramai.
.
.
.
__ADS_1
Malam harinya, seluruh keluarga telah berkumpul di rumah besar Tenggara sedang menunggu calon pengantin yang belum tiba padahal sudah jam 7 malam. Arion, Tassa dan Leon masih ada di salon karena Arion memaksa Tassa untuk mengganti penampilannya agar semua orang terkejut dengan kecantikan calon istrinya yang masih tersembunyi.
"Om.." Panggil Tassa setelah selesai, dia sudah dipoles, rambut panjangnya dibuat sedikit bergelombang, makeup natural dan gaunnya diganti ke blouse dan celaa panjang yang terihat lebih dewasa.
"Cantik..." Puji Arion yang sedari tadi terus tersenyum.
"Mami cantik!" Pekik Leon juga tersenyum, dua jagoannya itu berhasil membuatnya malu dengan wajah memanas dan merah.
"Ayo kita pulang.." Arion mengganeng tangan kanannya dan Leon di tangan kirinya, dua jagoan yang setiap saat siap menjaganya. Mereka berjalan beriringan sampai ke parkiran mobil dan menuju ke rumah besar Tenggara.
"Haduh.. akhirnya yang ditunggu datang juga." Ucap Adel dan Anson juga tersenyum saat mereka keluar rumah untuk melihat keadaan.
"Hehehe tadi ke salon dulu kak." Jawab Arion sambil tertawa kecil, dia tidak menyangka akan di tunggu begini. Sementara Tassa masih diam melihat rumah yang lebih mirip istana kerajaan, rumah mertuanya sangat besar menurutnya dan rumah ini berkali-kali lipat lebih besar. Mungkin 5 kali lebih besar?
"Jangan diam saja, ayo.." Arion kembali merangkul Tassa dan berjalan bersama memasuki rumah besar itu.
"Ini rumah utama keluarga Tenggara, sekarang yang tinggal di rumah ini ada auntie Aileen panggil saja autine Ay dan uncle Fane dengan 5 anak mereka." Ucap Arion setelah mereka sampai di ruang keluarga yang besar itu. Tassa menyapa semuanya dan dia kaget waktu melihat Fane yang tersenyum ramah dan hangat padanya.
"OM! Itu kan koki artis yang sering aku tonton di rumah!" Pekiknya membuat semua orang tertawa.
"Iya uncle Fane.. sana kalau mau peluk, tapii izin auntie dulu." Jawab Arion dan Tassa menggeleng karena takut.
"Sudah?" Tanya Arion dan Tassa mengangguk senang, hanya pelukan sekilas. Tassa memang suka melihat acara masak apalagi Fane yang tampan membuatnya langsung terpesona.
Acara makan malam berlangsung hangat dan penuh tawa dan canda. Tassa tidak begitu canggung lagi bersama keluarga besar itu karena keramahan yang luar biasa serta hangatnya keluarga dapat dia rasakan. Betapa bodohnya dulu dia meninggalkan Arion karena berpikiran sempit.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Beberapa hari berlalu, sekarang Tassa sedang dibawa oleh Vio dan Ana ke salon untuk perawatan, pijat dan menenangkan tubuh mereka yang beberapa hari ini lelah karena bolak-balik mengurus acara. Sebenarnya Tassa tidak terlalu capek karena dia hanya menunggu, bermain dengan anak-anak dan tiduran. bahkan memasak saja dilarang sama calon mertua. Izabela juga melarangnya berbuat apapun agar tidak terlalu lelah.
"Mba Mel.. nanti setelah acara nikahnya Sasa, mba Mel ikut mama ke rumah sakit ya.. nanti wajah mba Mel di benerin seperti wajahku yang waktu itu juga rusak setengah, lalu kaki juga." Ucap Tassa saat Melly ada di kamarnya. Anak-anak sedang pergi ke les bahasa dan tinggal lah mereka yang bosan makanya mengobrol.
"Iya Sa.. mba bersyukur kamu bisa berada di keluarga ini, kalau saja dulu tetap sama Tuan Arion pasti kamu..." Melly menangis lagi mengingat bagaimana Tassa yang menderita dulunya.
"Jangan di ingat lagi, nanti om Arion marah mba.." Ujar Tassa lalu menghapus air mata Melly.
"Untung kamu jadi seperti semula, gadis manja dan polos." Sambung Melly tersenyum kecil.
"Ini karna mama dan om Arion yang memanjakanku, huh.. aku ini istrinya atau anaknya sih?" Kesal Tassa karena kadang Arion memperlakukannya mirip Leon bahkan Leon terlihat lebih dewasa.
__ADS_1
"Hahahah nikmati aja Sa.. nikmati hidupmu yang bahagia sekarang ini. Jangan pikirkan yang macam-macam lagi."
"Ya sudah Sasa mau cari cemilan dulu, mba Mel mau ikut?" Tanya Tassa sambil berjalan keluar kamarnya dan leon itu. Melly mengikutinya sampai dapur dan disana sudah ada Hanny yang juga sedang membuka kulkas.
"Calon mantu mommy mau apa ke dapur sore-sore?" tanya Hanny yang masih mencari sesuatu.
"Laper mommy, mau cari cemilan." Jawab Tassa tapi dia bingung dengan ibu mertuanya itu.
"Kok sama, mommy juga laper. Tapi... " Hanny menutup kulkas itu dengan tangan kosong.
"Gak ada apapun yang bisa di cemilin." Lanjut Hanny menghela nafasnya, memang mereka tidak menyetok banyak makanan karena besok hari H pernikahan dan mereka akan bermalam di hotel beberapa malam sampai Arion dan Tassa pergi bulan madu, tentu Tassa tidak tau itu.
Giliran Tassa yang membuka kulkas itu dan mengeluarkan beberapa jenis sayuran.
"Mommy kenapa ada kol dan wortel, ini juga jagung pipil?" Tanya Tassa dan Hanny melihat beberapa bahan itu.
"Oh itu sayurannya Vio kalau sedang diet, tapi sudah seminggu dia gak diet lagi." Jawab Hanny.
"Kita buat bakwan aja yuk.." Ucap Tassa karena dia membuka lemari atas ada semua jenis tepung, bahan lainnya seperti bumbu-bumbu pastinya ada. Hanny mengangguk tanda setuju, jadilah ke tiga perempuan beda usia itu langsung menguasai dapur dan dalam waktu setengah jam sudah jadi bakwan yang siap di santap.
"Akhirnya kita ngemil, ayo bawa ke taman belakang mommy mau buat teh, atau kalian mau yang lain?" Tanya Hanny tapi Melly malah sudah mengambil beberapa buah di kulkas bagian bawah.
"Melly mau buat es buah nyonya, duluan saja nanti Melly nyusul." ucapnya dan Hanny makin sumringah.
"Siap! Ayo Sa.. kita bawa ke taman dulu." Ajak Hanny dan Tassa mengangguk setuju. Tak lama Melly sudah menyusul dengan semangkok besar es buah dan 3 buah gelas untuk mereka santap bersama.
"Kamu belajar dari mana Mel? Ini seger." Tanya Hanny sambil meminum es buah itu.
"Dari Tuan Fane waktu datang, kan Melly sering bantu." Jawabnya dan Hanny menganggat jempolnya karena mulutya sedang mengunyah bakwan.
"kamu makannya jangan banyak-banyak Sa, besok acara nanti batuk." tegur Melly karena Tassa sudah makan 3 bakwan dan 2 gelas es buah.
"Ih mba Mel, Sasa kan bukan anak kecil." Ujar Tassa tak terima dan sedikit merengut. Tapi hal itu malah membuat Melly dan Hanny tertawa.
.
.
.
__ADS_1
TBC~