
BAB 51 - Pria Kesepian
Arion B Tenggara, di kenal sebagai Arion Ben pria 28 tahun yang kesepian. Padahal keluarga besarnya sangat ramai tapi dia selalu kesepian diantara keramaian.
Dia adalah pria kesepian yang mencari cintanya yang tiba-tiba hilang. Pada ulang tahun ke 27 tahun, dia memutuskan untuk berkelana sendirian dan meninggalkan semua kehidupannya yang mewah.
Arion memasuki semua desa di seluruh wilayah negara ini, sesuai dengan cerita dari gadis kecilnya yang sering memberitahunya kalau desanya adalah tempat yang sangat indah, sejuk dan sunrise nya sangat cantik.
"Om Arion! Kau tau di desaku selalu ada acara menyambut matahari pagi yang sangat indah di awal tahun. Semua orang akan ke bukit dan melihat matahari yang sedang terbit. Lalu sorenya kami akan memancing di danau lalu bakar ikan sambil berkumpul menikmati bintang yang sangat cantik."
Arion selalu terngiang ucapan gadis cantik itu, yang memanggilnya dengan sebutan Om Arion. Dia benci di panggil begitu tapi sekarang dia sangat ingin di panggil seperti itu.
"Sudah hampir 1 tahun, kemana dirimu Sasa?" Gumam Arion sambil melihat bintang, dia selalu melihat bintang atau sunrise ketika merindukan Sasa, gadis kecilnya.
"Baru jam 9 malam dan aku sangat mengantuk." Lirih Arion kemudian dia tertidur diatas mobil van nya.
Tertidur beberapa jam Arion di kejutkan dengan dering ponselnya yang menggelegar dan dia melihat ponselnya, "Masih jam 1 dan siapa ini?" Arion melihat nomornya dan tidak dikenal.
"Halo, siapa ini?" Tanyanya dan ternyata Hanny yang sedang meneleponnya.
"Ion, pulang nak.. segera pulang." Ucap Hanny sambil terisak menangis. Arion yang bingung bercampur takut langsung bangkit duduk.
"Mommy kenapa? Apa yang terjadi?" Tanyanya tapi Hanny hanya menangis.
"Nak, segera lah pulang. Kalau bisa sekarang." Terdengar suara Arden yang parau.
"Ada apa ini.." Lirih Arion dan dia segera menyusun perlengkapannya kembali ke mobil dan menuju pulang. Untung saja dia tidak jauh karena sedang ada di Bogor, kemarin dia bertemu salah satu temannya yang kebetulan sedang liburan di sana.
"Langsung ke RS 'Blake' Ion, kami menunggu dan hati-hati menyetir. jangan buru-buru."
Arion membaca pesan yang masuk dari Anson dan dia bertambah cemas, "Sebenarnya apa yang terjadi?"
__ADS_1
.
.
.
Jam 4 pagi Arion masuk ke dalam ruang VVIP yang biasa digunakan keluarganya jika ada di RS ini dan disana sudah ada Hanny dan Arden duduk bersama saling merangkul.
"Mommy daddy ada apa?" Tanya Arion, Hanny langsung memeluknya sambil menangis.
"Duduklah.. kami menemukan bayi tadi di depan gerbang rumah. Tapi bayi itu sekarat sekarang." Ujar Arden dan Arion bertambah bingung.
"Lalu, itu bayi siapa dad?" Tanya Arion.
"Surat ini, bacalah." Arden mengeluarkan sepucuk surat yang dia temukan di dalam keranjang bayi. Arion mengambilnya dan membaca isinya.
"Mom dad, anak siapa bayi ini?" Tanya Arion dan Arden hanya diam.
"Lihat mirip siapa dia. bayi lucu itu begitu lemah karena kehujanan entah berapa lama dan kata dokter dia punya kelainan jantung dan kekurangan gizi." Jelas Arden.
Arion memandang dari luar kaca jendela ke arah bayi itu, keningnya mengerut tiba-tiba rasa sakit dia rasakan di dadanya. Sesak dan jatungnya sesara di remas kuat, Arion memegang dadanya dan air matanya jatuh.
"Sasa... dia mirip Sasa ku gadis kecilku." ucap Arion dengan lirih. Dia menangis dan memukul dadanya sendiri. Arion tidak sanggup melihat bayi lemah itu.
"Nak.. kau harus kuat." Arden merangkul Arion yang jatuh terduduk, air matanya terus mengalir namun tanpa suara. Arion berteriak tanpa suara dan terus memukul dirinya sendiri.
Arden sudah tau begitu melihat bayi ini yang tidak mirip siapapun tetapi jika dia keturunan Tenggara hanya Arion lah yang tersisa dan dia sudah memerintahkan dokter untuk memeriksa DNA -nya dan akan mendapatkan hasilnya besok.
Arion terus berdiri dan memandangi anaknya, meskipun tes DNA belum keluar tapi dia yakin bayi itu anaknya dengan Sasa. Karena 2 tahun ini dia sama sekali tidak menyentuh wanita manapun dan hanya Sasa yang telah 10 bulan ini dia cari keberadaaanya.
Arion berdiri sampai pagi menjelang, tetap pada posisi yang sama, bahkan dia tidak mau bergerak sedikitpun.
__ADS_1
"Tuan Arion, apakah anda mau melihat bayi itu?" Tanya seorang dokter yang menghampirinya.
"Iya aku mau." Jawabnya dan dia mengikuti dokter itu, memakai semua peralatan dan masuk kedalam.
Arion memandangi wajah bayi mungil yang sangat mirip Sasa, bayi laki-laki yang tampan dengan wajah blasteran rambutnya berwarna abu-abu gelap. Arion menyentuh tangan bayi itu dan bayi itu bergerak, gerakan kecil dan Arion tersenyum sambil tetap mengeluarkan air mata sedih campur bahagia. Sasa yang dia cari meninggalkan bayi ini untuknya dan dia berjanji akan menjaga dan merawat anaknya dengan baik.
.
.
.
Sebulan berlalu, bayi mungil itu sudah lebih sehat dan sekarang sedang di beri asi oleh Violet, yang sangat sayang pada bayi itu.
"Kau belum memberinya nama Ion." Ucap Hanny dan Arion berpikir sejenak.
"AH aku akan menamainya Leon, dia akan kuat seperti singa, Lagi pula lihat matanya mommy.. unik kan. Hijau dan biru, anakku dan Sasa." ucap Arion lalu mengecup lembut pipi bayi itu yang tengah tidur setelah minum asi.
Arion yang selalu sedih dan berwajah sendu kini lebih terlihat hidup dan banyak tersenyum sejak adanya Leon. Dia tidak sendirian ataupun kesepian lagi, karena Arion harus menjadi ayah yang kuat untuk anaknya.
"Mana baby kembar lucu kalian kak?" Tanya Arion pada Anson yang sedang duduk dan menyuapi Vio makan, sepeti biasanya.
"Mereka di bawa Ansel dan Adel main, untung gak rewel biar istriku ini bisa santai." Anson mengecup pipi Vio dan berakhir mendapat cubitan.
"Jangan gitu.. disini RS banyak anak-anak lagi." Bisik Vio dan Anson hanya nyengir. Arion yang melihat mereka hanya bisa tersenyum miris karena dia tidak akan pernah bisa begitu dengan Sasa.
Arion terus memandangi wajah anaknya yang sangat mirip dengan Sasa bahkan sorot matanya juga sama, yang berbeda hanya bayi ini masih terlihat lemah dan belum ada tanda-tanda akan sembuh.
"Dokter bilang harus cangkok jantung, tapi gak mudah menemukanya kan.." Ujar Arion mendadak suasana jadi sedih lagi.
"Pasti ada, kita sudah menyebarkan pengumuman dan juga bisnis bawah, jangan khawatir Ion, Leon pasti sembuh." Anson membesarkan hati Arion yang tampak sedih melihat kondisi anaknya. Bahkan dokter selalu memantau perkembangan Leon yang masih belum ada kemajuan yang berarti sampai saat ini.
__ADS_1
Bersambung~