Menjaga Cinta Season 2

Menjaga Cinta Season 2
BAB 7 - Kekacauan Ansel


__ADS_3

Hilangnya Adeline ternyata sangat berdampak pada Ansel yang kini terlihat lebih dingin dan menyeramkan pada seluruh karyawannya. Bahkan dia tak segan-segan memecat karyawannya yang hanya membuat kesalahan kecil. Seperti yang terjadi saat ini, dia memecat seorang OB yang hanya memecahkan cangkir dan itu juga karena terkejut mendengar teriakan Ansel yang tengah memarahi sekretarisnya.


"Kamu kembali saja nanti kita bicarkan." Ujar Aksa pada OB itu yang makin ketakutan.


"Sel.. sadarlah ini sudah keterlaluan, sebulan ini kau sudah memecat 9 orang dan kita belum dapat penggantinya."


Asel menatap tajam pada Aksa yang berdiri di depannya, "Heh.. 9 orang, bahkan 9000 orang tiap hari melamar kerja disini."


"Iya tapi belum tentu yang 9000 itu cocok dengan kualifikasi kita. Stop! Hentikan kegilaanmu sekarang, bukan hanya kau yang sedih atas hilangnya Adel, aku kakaknya, orang tuaku juga lebih hancur lagi tapi kami masih berpikir rasional."


Aksa kemudian berdiri disamping Ansel dan menepuk pundaknya beberapa kali. "Kau kuat Ansel.. bangkitlah dan semangat untuk mencari Adel, kita semua butuh saling mendukung bukan malah marah-marah gak jelas. Aku tau kau merasa bersalah Sel, tapi kami gak benci kamu kan? Aku yakin Adel cuma butuh ketenangan dan dia baik-baik aja."


"Maaf.." Ucap Ansel pelan, Aksa tau Ansel sangat hancur saat ini dan dia juga tapi dia harus kuat untuk keluarganya.


.


.


"Ansel gimana Sa?" tanya Arka begitu Aksa pulang kerumah.


"Kacau pa, dia kacau banget.. sudah 9 orang dia pecat dalam 1 bulan ini." Jawab Aksa kemudian dia duduk bersama dengan Eve yang sedang chating dengan Hanny.


"Ah.. gawat, Rena hamil." Ucap Eve yang baru dapat kabar dari Hanny.


"Wah makin kacau si Ansel kalau begini.." Desah Aksa dan dia segera mengganti pakaiannya dengan yang lebih santai dan pergi ke rumah Ansel agar sahabatnya itu tidak membuat kekacauan.


Dan benar saja, Ansel tengah membanting segala hal yang ada di rumah itu dengan emosi pas sekali Aksa masuk Ansel tengah melempar guci besar milik Hanny.


"Ansel... sabar!!" Teriak Aksa. Arden dan Hanny tidak bisa melarangnya lagi, bahkan Rena begitu terkejut dan berlari bersembunyi di balik pintu bersama ayahnya.


"Nak.. jangan begitu, stop... Ansel dengar mommy.." Lirih Hanny dengan isak tangisnya. Ansel yang tersadar lalu memeluk Hanny yang semakin menangis.


"Maafin Ansel mom.. Ansel bersalah." Ansel mengeratkan pelukannya dan Arden lalu menarik Ansel dan Hanny masuk ke ruang kerja, diikuti Rena dan Fredd juga Aksa.


"Tetap di rencana awal, hanya tunangan. Tidak ada pernikahan sampai anak itu lahir dan kita tes DNA." Tegas Ansel dan Fredd mengangguk setuju karena memang Fredd tau kalau pergaulan Rena sangat bebas apalagi dia kuliah di luar negri.

__ADS_1


"Baiklah.. kami setuju dengan pertunangan itu." Ujar Fredd pasrah.


"Kita akan adakan tanpa konferensi pers hanya acara tunangan." Ujar Ansel dan semuanya setuju.


"Tapi aku minta Rena bisa tinggal disini, agar ada yang menjaganya. Ibunya sudah tiada sejak dia kecil dan aku sering ke luar kota." Pinta Fredd, Ansel ingin menolak tapi Arden menyetujuinya.


"Baik, Rena tinggal disini tapi tolong jaga diri baik-baik, kamu belum menikah dengan Ansel jadi jaga batasan." Ujar Arden dengan tegas dan Rena mengangguk.


"Dua hari lagi acaranya." Sambung Arden lagi.


Dalam hatinya Rena tersenyum menang, dia akan menjadi nona muda Tenggara dan Adel akhirnya ada di bawahnya. Untuk anak dia akan melahirkannya dan membuat tes DNA palsu.


* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *


Hooeekkk...


Hoeekk...


Adel memuntahkan lagi semua makanan yang masuk ke perutnya, sudah hampir seminggu ini dia begitu mual, pusing dan tubuhnya sering lelah padahal dia hanya makan dan tidur seharian tanpa bekerja.


"Selamat nona, anda hamil 5 minggu, saya berikan anda vitamin dan obat mual ya.. tolong jaga pola makan dan banyak minum air putih." Ucap dokter dan Adel begitu terkejut.


"ha ha mil dok? Hamil?" Tanyanya lagi.


"Iya nona.."


Adel terpaku, air matanya jatuh antara senang dan juga sedih, dia senang akan jadi ibu dari anak Ansel pria yang sejak kecil dia cintai tapi dia sedih karena mendapatkan anak dengan cara yang begitu menyakitkan.


Setelah dokter pergi, Kalila langsung memeluk Adel yang terus saja menangis, Jeremy juga tidak tega melihatnya, dia melihat Adel dan anak-anak lainnya tumbuh besar dan sudah seperti anak sendiri.


"Adel.. saatnya kamu pulang." Ujar Jeremy dan Adel mengangguk.


"Baiklah kita beres-beres ya.." Kalila membelai lembut ramput pirang Adel yang indah lalu Adel hendak bangun namun matanya menatap ke arah televisi yang memang menyala sejak tadi, media sedang menyiarkan acara pertunangan Ansel Tenggara dan Rena Federica. Adel syok dan jatuh terduduk lagi di tempat tidur.


"Bocah brengsek.." Geram Jeremy lalu mematikan Tv itu. Adel begitu hancur mendengar kabar pertunangan itu lalu Jeremy segera menelepon Arden tapi tidak diangkat, dia mencoba lagi menelepon Ansel juga sama, akhirnya dia menghubungi Arlen.

__ADS_1


"Arlen.. apa yang terjadi? kenapa Ansel tunangan dengan wanita itu?" Tanya Jeremy dengan amarah.


"Gila.. itu tidak mungkin Arlen.."


"Baiklah.."


Jeremy menutup ponselnya dan menarik napas dalam-dalam.


"Wanita itu hamil.." Ucap Jeremy dan Adel tak bisa berkata-kata, hanya menangis.


"Dia juga ada di kamar bersama Ansel, setelah kamu pergi dan Asel kembali ke kamarnya, wanita itu masuk dan bermalam sampai pagi." Jelas Jeremy lagi. Adel semakin menangis dan memukul dadanya.


"Gak mungkin.. kak Ansel, gak mungkin.." Teriak Adel, Kalila berusaha mendekapnya agar Adel tidak melukai dirinya sendiri.


"Adel sayang.. tenang ya... ada anak kamu jangan melukai dirimu sendiri Adel, kamu harus kuat demi anak kamu." Lirih Kalila tapi Adel masih tetap menangis dan meronta.


"Aku gak mau pulang uncle, aku gak mau ketemu dia.." Ujar Adel begitu dia sudah sedikit tenang. Jeremy mengangguk karena mungkin inilah yang terbaik, toh Ansel sudah tunangan dan mereka akan menjaga Adel disini sampai waktu yang tepat untuk mengembalikan Adel ke keluarganya.


"Baiklah.. tapi janji, jangan terpuruk begini, kau harus kuat dan jaga calon anakmu baik-baik, bagaimanapun itu tanggungjawabku menjaga keturunan 'Blake' cicit dari Ben." Ujar Jeremy dengan tatapan tajam namun tetap lembut pada Adel.


"Iya uncle, aku akan menjaga anakku, kami akan kuat meskipun aku sendirian dan akan berjuang untuknya." Jawab Adel dengan yakin sambil memegang perutnya.


"Kamu gak sendiri sayang.. ada onty ada uncle ada Katrina dan adik-adiknya, kami semua menyayangimu.." Ucap Kalila seraya menusap air mata yang jatuh lagi di pipi cantik Adel.


"Iya onty.. " Adel mengangguk sambil mengelus perutnya.


"Aku jadi lapar.." Lanjut Adel, Kalila langsung menyuruh pelayan memasak segala apa yang Adel mau saat ini. Adel juga begitu dimanjakan yang bahkan sudah tidak dia rasakan sejak umurnya menginjak 10 tahun.


Bukan karena orang tuanya, tapi Adel sendirilah yang tidak mau dimanja dan ingin mandiri agar layak menjadi istri seorang Ansel Tenggara nantinya.


Adel duduk termenung lagi memandang hamparan hijau didepannya, entah mengapa dia sangat damai melihat itu dan berharap suatu hari dia dapat berjalan dengan tenang di sana tanpa takut ditemukan oleh keluarganya dan Ansel. Meskipun Jeremy telah mengatakan kalau dia aman tapi Adel tetap saja takut untuk bertemu mereka.


"Baby A, mama akan menjagamu jadi kita sama-sama berjuang yaa.. jangan nyusahin mama ya, kalau bisa nyusahin aja papamu yang sedang bersama calon istrinya itu hehehe... eh jangan deh, mama mencintaimu juga papa.." Adel mengusap perutnya yang masih rata, dia bahagia saat ini tidak sendiri lagi, ada yang harus dia jaga saat ini.


Meskipun Adel berada jauh dari rumah dan pekerjaannya, dia tetap produktif mengirimkan gambar design pakaian yang telah dia buat selama di tempat persembunyiannya dan Cindy selalu menerima paket itu dengan senang sambil tetap melaporkan segalanya pada Ansel sesuai dengan perintah. Meskipun begitu, Adel selalu mengirimkan hasil kerjanya tanpa alamat yang jelas dan yang mengirimkan selalu orang yang berbeda-beda.

__ADS_1


TBC~


__ADS_2