Menjaga Cinta Season 2

Menjaga Cinta Season 2
BAB 21 - Pagi Panas Setelah Pernikahan


__ADS_3

 Aileen menatap pantulan dirinya di cermin, sebuah gaun putih sederhana melekat di tubuh mungilnya dan makeup tipis yang disapukan ke wajahnya menambah kecantikannya yang alami, rambutnya hanya di gerai dan sedikit di curly agar terkesan lebih anggun, sebuah veil sederhana juga bertengger di kepalanya.


"Baiklah aku siap." Ucapnya memantapkan diri lalu keluar dari kamar, disana sudah ada Arden dan Hanny yang menjemput pengantin wanita.


Fane telah sampai duluan di kediaman Arlen dan dia sedang duduk saja tadi mendengarkan wejangan dari Arlen, dia juga mantap akan membahagiakan Aileen. Tanpa sanak saudara hanya sahabatnya yang juga akan menjadi keponakannya secara hukum sebentar lagi yang menemani.


"Aku siap!" Ucap Fane dengan yakin dan Arden menepuk pundaknya dengan sedikit kencang tapi Fane tetap kokoh menerimanya.


*****   *****


Fane menatap penuh kagum pada sosok cantik yang berjalan dengan anggun di depannya, Aileen berjalan perlahan menghampiri calon suaminya. Senyum tipis menghiasi bibir cantiknya dan Fane tersenyum lebar melihat Aileen yang beberapa menit ke depan akan menjadi istrinya di pernikahan sederhana ini.


Setelah mengucapkan janji suci, mereka resmi menjadi suami istri, menandatangani surat nikah dan mereka akhirnya sah di mata hukum dan agama.


Fane terus tersenyum, akhirnya gadis yang membuatnya trauma kini menjadi miliknya dan juga hanya istrinya inilah yang bisa menyembuhkan penyakitnya.


Setelah pernikahan, tidak ada pesta dan hanya makan siang sederhana dan kekeluargaan di rumah besar yang di tempati Arlen itu. Yang membuat acara ini meriah hanyalah banyaknya pengawal yang ada disana bukan tamu undangan. Fane tetap bahagia, setidaknya dia tidak sendiri, keluarga Aileen begitu hangat dan dia bahagia menjadi bagian dari keluarga ini.


Fane dan Aileen kembali ke apartmen dan mereka terkejut karena kamar Fane sudah tidak bisa dibuka, barang-barangnya semua telah berpindah ke kamar Aileen dan kasurnya juga berganti menjadi kasur kingsize yang besar dan mewah.


"Huh.. ya sudahlah memang kita suami istri kan, tidur bersama juga sudah." Gumam Aileen dan Fane tersenyum mendengar ucapan itu.


"Apa kamu lelah Ay?" Tanya Fane dan Aileen mengangguk.


"Sejak tadi malam aku belum tidur." Jawab Aileen lalu dia dengan santainya melepaskan gaun dan berjalan ke kamar mandi.  Setelah itu dia keluar hanya menggunakan handuk lalu kembali lagi memakai bajunya. Fane hanya diam melihat kelakuan Aileen yang begitu cuek.


Aileen merebahkan dirinya di kasur itu dan berguling kesana kemari menikmati empuknya kasur baru dan mewah itu. Tak lama dia ketiduran dengan piyama bergambar bebek seperti anak remaja.


Fane yang kembali dari kamar mandi hampir tertawa melihat cara tidur Aileen yang sedikit aneh, dengan kedua tangannya di lipat ke atas dan kakinya dibuka lebar.

__ADS_1


"Dasar wanita ini seperti gadis remaja saja." Gumam Fane yang memperbaiki cara tidur istrinya lalu dia juga merebahkan dirinya di samping Aileen, baru 10 menit Aileen bergerak dan berguling tepat di sampingnya, memeluk tubuh Fane karena Aileen menganggap itu bantal.


Tengah malam Fane terbangun karena rasa hangat yang menjadi panas di tubuhnya, dia baru sadar sekarang Aileen telah tidur di atas tubuhnya, IYA DI ATAS tubuhnya. Aileen memang mungil dibandingkan Fane yang mempunyai tinggi 190cm jadi sangat mungkin Aileen nyaman di tubuh besar Fane.


"Ah... dasar wanita ini." Erang Fane tertahan karena benda besar miliknya jadi tegang sempurna tapi dia akan menahannya, menunggu sampai istrinya sadar baru akan melakukan serangan.


.


.


Pagi menjelang dan Aileen perlahan bangun dari tidur nyenyaknya untuk pertama kali sejak orang tuanya tiada.


"Ahh Fane! Kenapa aku.. eh..." Pekik Aileen lalu dia tersadar kalau dirinya lah yang ada diatas Fane.


"Jadi bagaimana? Tidurmu nyenyak istriku?" Tanya Fane yang tidak bisa tidur semalaman.


"Hm.. mm.." Aileen mengangguk malu lalu menutupi dirinya dengan selimut.


Fane menarik selimutnya dan mendekat, "kau harus tanggungjawab, dia sudah bangun sejak tadi malam." bisik Fane tepat di telinga istrinya itu dan seketika bulu di sekujur tubuh Aileen meremang dan darahnya berdesir.


"Tanggung jawab apa?" Tanya Aileen pura-pura polos.


"Ini.." Fane menggerakkan miliknya yang telah berdiri sempurna dan mengeluskan ke paha Aileen yang sedikit terbuka.


"Aku gak mau, gak mood." Jawab Aileen lalu bergerak miring tidur membelakangi Fane.


"Kalau begitu giliran aku yang bergerak." Desah Fane lalu dia melingkarkan lengan kokohnya di perut Aileen lalu mengelusnya dan menjalar keatas, bermain nakal di gundukan empuk masih di luar bajunya.


Perlahan Fane menarik piyama itu dan menyusupkan tangannya bermain semakin nakal di puncak gunung kembar.

__ADS_1


Er*angan dan des ahan tertahan keluar dari bibir Aileen yang masih berusaha menahan gejolak na*sunya.


Fane dengan lihai menurunkan celana beserta dalaman Aileen dan mengelus bok*ng indah itu dengan miliknya perlahan Aileen melunak dan des ahan merdu meluncur keluar dari bibirnya.


"Ahh.. Fane.... "


Fane terenyum puas saat mendengar des*han namanya yang keluar dari bibir indah itu, Fane menyusupkan wajahnya di ceruk leher Aileen dari belakang dan menggigit dan menghisap kuat memberikan beberapa tanda di sana.


Lalu perlahan dia membuka kaki Aileen dan jarinya masuk ke goa hangat itu, bermain-main sampai Aileen beberapa kali menegang dan melenguh.


"Aku mulai baby..." Bisik Fane lalu dengan sekali hentakan, miliknya mencoba masuk tapi masih tertahan lalu dia mencoba lagi dan berhasil. Ditariknya pinggul Aileen dan di hentakkan kuat dari belakang sampai pencapaian yang pertama mereka.


Fane menarik tubuh Aileen yang kini polos dan menindihnya, sekali lagi dia masuk dan dengan gerakan cepat dan sedikit kasar dia bermain di atas dan terus memompa tubuh istrinya. Fane tau kalau Aileen lebih suka dengan permainan kasar karena er*ngannya terdengar lebih syahdu dan wajahnya semakin sexy.


Entah sudah berapa lama mereka merengkuh kenikmatan, Fane seakan tak pernah puas ataupun lelah dan Aileen meskipun tubuhnya mungil tapi dia bisa mengimbangi bahkan sekarang dia sedang bergerak lincah di atas Fane, gerakan memutar dan naik turun dia kombinasikan sampai akhirnya dia lunglai dengan Fane yang masih bergerak naik turun menghantam kuat.


"Kau hebat baby, sangat hebat." Desah Fane untuk semb*ran terakhirnya didalam rahim dan dia berdoa agar salah satu benihnya dapat tumbuh segera.


"Hei kenapa belum mengeluarkannya?" tanya Aileen karena Fane belum mau mengeluarkan miliknya.


"Aku menyumbatnya agar benihku yang terbuang sia-sia dan aku suka ini, hangat." Jawab Fane yang masih betah mendekap Aileen.


"Kau tidak penasaran kenapa aku begitu liar? Berapa banyak pria yang sudah aku nikmati setelah kau?" Tanya Aileen lagi dan Fane langsung menatapnya.


"Aku tidak peduli, yang penting sekarang kau milikku hanya milikku." Ucap Fane lalu mencium Aileen dan melum*at habis bibirnya hingga meninggalkan bekas kemerahan disana.


"Hhh... cepat keluarkan, aku lapar." Desak Aileen lalu berusaha melepaskan dirinya tapi Fane malah mengangkatnya dan belum mengeluarkan miliknya. Sampai di kamar mandi barulah Fane mengeluarkannya dan begitu banyak sisa benih terbuang.


"Kau ini.. aahh..." Pekik Aileen karena Fane menyentuhkan jarinya disana membasuh bagian bawah Aileen sambil menyiraminya dengan air hangat.

__ADS_1


"Sudah aku bisa sendiri." Aileen berusaha melepaskan diri tapi Fane tetap memaksa dan Aileen pasrah, dirinya dimandikan oleh suaminya seperti anak kecil.


TBC~


__ADS_2