
Tassa dan Arion tertidur di sofa ruang kerja yang masih berantakan, paginya Izabela menemukan mereka tidur berpelukan di sofa, tentu membuat dia heran dengan anak dan calon menantunya itu.
Jam 7 pagi itu terlalu pagi untuk sepasang kekasih itu untuk bangun karena mereka baru tidur jam 3 pagi. Izabela yang tidak berani membersihkan kertas yang berserakan pun meminta Tinto yang melakukannya tapi nanti setelah mereka bangun.
Leon juga telah bangun dan kini sedang menunggu sarapannya yang sedang di masak oleh grandma-nya itu.
Hari semakin siang tapi Arion dan Tassa masih lelap saja bahkan Leon sejak 10 menit lalu memanggil mereka hanya bisa menghela nafas pelan dan keluar lagi. Jam sudah menunjukkan pukul 10 dan cuaca sedang terik. Dengan jahilnya bocah itu masuk lagi dan mematikan AC lalu membuka semua jendela agar udara panas di tepi pantai itu masuk ke ruangan.
"Biar aja papi dan mami berkeringat hihihi.." Leon keluar dengan perlahan dan menutup pintu itu juga dengan perlahan.
Setengah jam kemudian, Tassa terbangun duluan karena panas. Keringatnya mengucur deras, apalagi dengan di dekap oleh Arion makin panas lah tubuhnya.
"Om.. bangun." Tassa menggoncang tubuhnya dan Arion menggeliat, sama dengan Tassa dia juga kepanasan.
"Kok panas ya.." Gumamnya lalu melepaskan pelukannya dan duduk menyeka keringat sambil melirik ke AC dan juga jendela.
"Om mandi dulu aku juga mau mandi." Ucap Tassa lalu keluar dari ruangan itu dengan kepala sedikit pusing karena terlalu banyak menangis, bahkan matanya terlihat bengkak.
Setelah mandi dan kembali segar, dia menuju dapur dan terkejut melihat Izabela.
DEG
Tassa lupa kalau Izabela adalah ibunya dan kok bisa? Tassa berlari kembali ke kamar dan mencari Arion, karena setelah dia mandi gantian Arion yang masuk. Tassa duduk di tepi kasur dan menunggu.
"OM.. Kenapa dokter Izabela bisa jadi mamaku?" Tanya Tassa begitu Arion keluar dari kamar mandi hanya dengan memakai boksernya.
"Gak ada ingatan apapun tentangnya karena yang aku tau ayah Agus dan Ibu Melati orang tuaku." Ujar Tassa lagi.
"Haaa... " Arion menghela pelan lalu memakai bajunya, ada lagi yang harus dia jelaskan pada gadis ini.
"Ayo sini.." Ajak Arion bertemu dengan Izabela untuk menjelaskan semuanya.
Izabel begitu terkejut saat tau kalau Tassa sudah ingat semuanya bahkan Leon juga berlari menghampiri Tassa yang masih bingung menatap Izabela.
"Mami ingat Leon?" Tanya Leon yang telah ada di depannya. Tassa berjongkok lalu memeluk Leon.
"Iya, Leon, maafin mami ya.. mami bukan orang tua yang baik." Ujar Tassa mulai sedih lagi.
"Jangan gitu mami, Leon senang mami sudah ingat karena tante Melly bilang mami gak tau kalau Leon masih hidup." ucap Leon lalu mengusap pipi Tassa yang sudah dialiri air matanya.
"Mulai sekarang mami akan bersama Leon selamanya." Lanjut Tassa dan kembali memeluk anaknya.
"Tapi.. " Lanjut Tassa dengan melirik sekilas ke Izabela.
__ADS_1
"Dokter.. Sasa masih bingung karena dokter Izabela tidak ada dalam ingatannya. Jelaskan semuanya pada Sasa agar dia mengerti."
Mendengar perkataan Arion membuat Izabela mengerti dan dia kembali ke kamarnya untuk mengambil semua informasi yang dibutuhkan.
zabela kembali ke ruang tamu dan memberikan semua foto keluarga mereka saat Tassa masih kecil lalu menceritakan penculikan yang di alami oleh Tassa waktu itu.
"Pantas saja, di rumah gak ada 1 pun fotoku waktu kecil. Kata ayah semua sudah habis terbakar." ucap Tassa yang masih melihat foto keluarganya dan dirinya yang masih kecil.
"Stop!.. oh please sayang jangan nangis lagi.." Pekik Arion saat melihat mata Tassa sudah berkaca-kaca dan terlambat, dia sudah menangis.
Kini Tassa memeluk Izabela yang telah dia ketahui memang benar adalah ibu kandungnya. Dia bersyukur masih ada keluarga yang sayang padanya selain mba Melly yang ternaya bukan saudara tapi Tassa tetap sayang pada Melly.
"Lalu kalian kapan akan menikah?" Tanya Izabela begitu Tassa meleaskan pelukannya.
"Menikah? tapi..."
"Minggu depan." Jawab Arion sebelum Tassa menyelesaikan kalimatnya.
"Om!"
"Jangan membantah.. kita akan menikah minggu depan di rumah keluargaku." Sambung Arion lagi dan Tassa menatapnya dengan tajam.
"Mami kenapa? Gak mau nikah sama papi? Tapi mami kan bilang akan sama Leon selamanya." Protes Leon saat mendapat kode dari Arion.
"Gak ada tapi-tapian, lagian Dokter Izabela akan pergi lagi dan aku tidak mungkin meninggalkanmu sendirian disini karena kami akan kembali."
"Tapi jangan minggu depan om.."
"Ya sudah 2 minggu lagi."
"Sama saja!"
"Tapi bagaimana dengan surat-surat, belum di urus kan. Menikah bukannya butuh KTP?" Tanya Tassa bingung karena dia sama sekali tidak tau lagi tentang surat-surat pentingnya.
"Sudah mama urus, ini." Izabela memberikan semuah amplop berisi semua surat pentingnya yang sudah dibuat sesuai dengan aslinya.
"Loh.. Sasa kan sudah 25 tahun kok disini 21?" Tanya nya lagi lalu Arion tersenyum.
"Umurmu memang masih 21 Sa.. itu yang sebenarnya dan akta lahirmu juga ini yang asli." Jawab Izabela sambil membuka sebuah map lagi. Tassa melihatnya dan benar namanya adalah Tassa Wardana.
"Jadi.." Tassa berhenti, dia melihat ke arah Arion dan Leon yang masih duduk di depannya.
"Yah.. saat bertemu dulu kau masih 15 tahun ya?" Timpal Arion.
__ADS_1
"Berarti... om mesum! Pacaran sama anak kecil!" Pekik Tassa yang di balas tawa oleh Arion.
"Kan waktu itu kau sendiri yang bilang kalau sudah 18 tahun, mungkin kau lupa." Ujar Arion yang tentu tidak mau di salahkan.
"Iya juga yah.. tapi aku mau ketemu ayah Agus nanti, aku mau bertanya padanya." Ujar Tassa akhirnya dan Arion menggeleng.
"Gak perlu, aku sudah menyuruh seseorang untuk menemuinya dan dia tidak tau umurmu yang sebenarnya dan hanya menebak. Dia menemukanmu di jalan sepi tidak sadarkan diri." Jelas Arion.
"Dan kau tidak boleh bertemu siapapun yang bisa membuatmu sedih." Lanjut Arion lagi dengan tegas. Tassa hanya menghela pelan karena dia tau pria di depannya ini pemaksa yang tidak bisa dibantah. seperti dulu.
"Ya sudah terserah.. aku capek mau tidur." Ucap Tassa lalu berdiri tapi dia berhenti saat melihat Leon.
"Leon.. ikut mami yuk. Jadi lapar, gak jadi tidur." Ajak Tassa dan tentu saja Leon mau.
"Yuk mami.." Mereka bergandengan tangan menuju dapur dan ternyata sudah tersedia 2 lauk dan nasi yang telah matang. Tassa menyantapnya dengan lahap karena sudah siang dan dia belum makan apapun sejak pagi. Begitu juga dengan Arion yang juga ikut makan.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
"Halo oma..." Sapa Leon sore itu setelah dia bangun dari tidur siangnya.
"Oma, panggil tante Melly mami mau ketemu." Ujar Leon.
"Loh kenapa Leon, mami kan masih lupa." Tanya Hanny disana.
"Gak oma, mami sudah sembuh dan ingin bicara sama tante Melly." Hanny sangat terkejut, mendengar itu dia langsung berlari ke kamar cucunya dan menemui Melly yang sedang terlihat merapikan tempat tidur si kembar.
"Melly.. Sasa, dia mau bicara, dia sudah sembuh!" Pekik Hanny yang terdengar di telinga Leon dan Tassa.
"Iya nyonya.. benarkah." Terdengar suara Melly, lalu Leon memberikan tabletnya ke Tassa. begitu wajah Melly terlihat mereka menangis bersama.
"Mba Melly..." Isak tangis Tassa terdengar bersamaan dengan Melly.
"Sa.. kamu baik-baik saja kan?" Tanya Melly dan Tassa mengangguk.
"Mba juga kan? Mba kena tembak waktu itu."
"Gak apa-apa cuma kena tangan dan dikit saja lukanya."
"Mba, Sasa akan pulang, kita bersama lagi ya.."
Mereka berbicara lama melepas rindu, tentu Hanny dan Vio juga berada di samping Melly tanpa sepengetahuan Tassa untuk mendengarkan semua cerita Tassa ke Melly tentang hidupnya setelah mereka berpisah. Tassa yang memang tidak pernah menutupi apapun dari Melly menceritakan secra detail dan itu membuat mereka sangat syok atas penderitaan Tassa.
Sedangkan Tassa yang memang hanya sendirian di kamar kembali terisak, Leon sudah keluar dari kamar sejak tadi karena ikut Arion pergi ke bus mereka.
__ADS_1
TBC~