
Di gedung yang menjulang tinggi, sorang pria bule tampan dan gagah masuk kesana dan mengedarkan seluruh pandangannya melihat sekeliling.
"Wow amazing! Ansel memang yang terkaya disini dan bahkan punya gedung kantor semewah ini." Ucapnya saat memasuki lobi dan menuju meja informasi.
"Hai.. saya mau ketemu sama Ansel dan Aksa, ada di lantai berapa?" Tanyanya pada wanita disana yang sedang bertugas.
"Maaf, apakah sudah ada janji sebelumnya dan siapa nama anda Tuan?" Tanya wanita itu dan dia sedikit terpesona dengan pria itu yang begitu tampan dan gagah.
"Oh tidak, saya baru datang dan mereka tidak tau." Jawabnya dan memberikan passportnya agar petugas wanita itu dapat konfirmasi ke atasannya langsung.
"Maaf tapi, jika belum ada janji tidak bisa menemui Tuan Ansel dan Aksa." Jawab wanita itu dengan sopan.
"Ah ternyata sulit bertemu mereka." Gumam pria itu lalu berbalik dan dia terkejut melihat Ansel disana.
"Ansel.. hei.." Teriaknya dan langsung memeluk temannya itu.
"Maaf tapi saya bukan Ansel, anda siapa?" Tanya pria itu yang ternyata adalah Anson yang datang berkunjung.
"Ah.. sorry, apakah kamu Anson kembarannya Ansel?" Tanyanya menebak dan Anson mengangguk.
"Hoo.. syukurlah, aku Fane, Fane Walden bisa kah bilang ke Ansel atau Aksa untuk membiarkanku naik? Wanita disana bilang belum ada janji tidak boleh bertemu mereka."
"Ohh Kau Fane yang itu...? hahahahah kasian sekali kau ini, padahal sangat tampan dan gagah tapi kenapa hidupmu sangat menyedihkan." Anson menertawakan Fane yang langsung memijat tengkuknya.
Komentar dari Anson pasti telah membuat Fane paham bahwa kembaran dari sahabatnya ini sudah tau kondisi tubuhnya.
"Sudahlah maaf, ikut aku saja." Ajak Anson lalu mereka bersama naik ke lantai 25 dan ternyata disana juga ada Arden, Vino dan Arka yang tengah berdiskusi.
"Wah Fane!" Aksa mendekati Fane yang baru masuk ke ruangan itu. Mereka bertiga adalah sahabat baik sewaktu kuliah di Cambridge dan kini Fane datang menemui 2 sahabatnya.
__ADS_1
"Siapa dia Son?" tanya Arden pada Anson yang menghampirinya, sedangkan Ansel dan Aksa bertemu kangen dengan Fane.
"Dia teman baik mereka waktu kuliah di Inggris dad yang namanya Fane Walden. Yang itu loh..." Bisik Anson pada Arden dan dia mengangguk.
"Kasihan dad, padahal dia sangat gagah, lihat ototnya begitu sempurna, kami saja kalah.. aku harus olahraga lagi tampaknya." Sambung Anson, padahal tubuhnya juga sudah berotot namum memang masih kalah dengan Fane yang juga bekerja kasar dan sering mengangkat yang berat, bisa di bilang jika Tuan Muda Tenggara melatih tubuh melalui olahraga dan gym, maka Fane melalui kehidupan kerasnya sewaktu kuliah bahkan sampai saat ini.
"Selamat siang uncle, saya Fane." Sapa Fane ramah dan dia juga menyapa semua orang disana.
Setelah berbincang akhirnya mereka sampai pada diskusi serius yang baru saja di ketahui oleh Ansel dan Anson.
"Auntie kalian pergi dan dia sepertinya menikmati waktunya jadi daddy biarkan saja." ucap Arden dan Ansel hanya menarik napas dalam-dalam. Dia tidak mau berpikir tentang hal lain dan hanya fokus pada masalahnya saja.
"Auntie marah sama daddy jadi dia pergi." Ucap Anson yang dibenarkan oleh Arka.
"Tapi dia aman kok, om selalu kawal dan pantau jadi jangan khawatir." Lanjut Vino yang yang lain mengangguk.
"Iya, dan aku sudah dapat kerjaan disini, ada restoran yang akan menggajiku cukup tinggi asal aku bisa menciptakan resep sesuai dengan yang mereka mau. Besok aku akan coba." Jelas Fane.
"Ceritakan, mungkin aku bisa bantu." Ucap Vino yang sedikit menyukai Fane karena dirinya yang terlihat rajin dan pantang menyerah, cocok jika menjadi anggotanya Vino.
"Aku yang cerita saja..." Ujar Aksa lalu dia ceritakan kejadian hari itu yang membuat hidup Fane menjadi kacau.
"Jadi, 3 setengah tahun lalu saat kami lulus kalian semua kan datang yah.. nah dia lagi sedih karena orang tuanya dan akhirnya pergi sendirian ke bar untuk minum, tapi sebelum dia mabuk sudah ada gadis cantik yang memeluknya dan menangis sedih sambil memakinya tapi setelah itu, gadis itu malah memujinya tampan dan sexy lalu muntah. Memang pada dasarnya dia itu baik hati, di bawalah gadis itu ke hotel terdekat karena gadis itu tidak membawa apapun dan ponselnya mati. Setelah menyuruh pelayan membersihkan semuanya dia hendak keluar tapi gadis itu bangun dan memeluknya lagi dalam keadaan bugil. Hahahaha.." Penjelasan Aksa terhenti karena tidak bisa menahan tawanya.
"Lalu kau..." Arden bersuara.
"Oh no uncle, aku berusaha melepaskan diri tapi aku malah di tarik dan di tindih, dia naik ke perutku dan memukulku sampai wajahku babak belur. Setelah itu aku dipaksa untuk melakukannya, awalnya aku menolak tapi dia mengancamku dengan memecahlan botol wine yang ada disana lalu mengarahkannya padaku. Yah wanita itu sangat liar tapi yang bikin aku merasa bersalah adalah dia melakukannya sambil menangis, tidak tau sedih atau sakit karena ternyata dia masih virgin, dan dia melakukan semuanya sendiri. Aku sama sekali tidak menyentuhnya kecuali si dragon yang bermain karena selalu di goda." Jelas Fane menyelesaikan ceritanya.
"Sejak itu dia mengalami disfungsi er**si dad." Lanjut Ansel dan Arden, Arka juga Vino melotot padanya karena terkejut.
__ADS_1
"Kau sudah ke dokter atau psikolog?" tanya Arden yang merasa kasihan padanya.
"Sudah uncle, bahkan sudah 5 dokter tapi ada yang bilang kalau aku merasa bersalah, ada yang bilang aku karena aku mencintai gadis itu makanya aku mau buktikan dan akan cari dia sampai ketemu." Jelas Fane lagi dan Arden mengangguk.
"Kalau bertemu kau mau apa dari gadis itu?" tanya Arka dan yang lain juga penasaran.
"Aku mau minta tanggungjawabnya dan menikahiku, itu saja. Karena jika bukan dengan dia si dragon tidak bisa bangun. Dan gadis itu sangat cantik." Ucapnya sambil tersenyum membayangkan betapa cantiknya gadis yang memperkosanya.
"Jadi intinya kau di perkosa seorang gadis cantik dan ingin dia bertanggungjawab?" Tanya Arden sambil terkekeh geli.
"Ya begitulah, hehehe tapi dia memang cantik dan aku tidak bisa melupakannya uncle." Jawabnya lagi.
"Kenapa bisa begini deh? Dia konyol dan kebalikan dari Adel yang tidak mau Ansel tanggungjawab hahahah.." Tawa Vino menggelegar dan langsung ditatap tajam oleh Arden karena Ansel berubah lagi setelah tadi lebih baik karena ada Fane.
"Aku rasa, kau telah jatuh cinta dengan gadis itu anak muda, sama sepertiku yang tidak selera dengan wanita lain selain istriku dan si jumbo pasti tidak bangun kalau bukan Hanny ku tercinta." Ucap Arden bangga pada dirinya sendiri.
"Nah, untuk itulah aku ingin cari gadis itu uncle untuk membuktikannya."
"Baiklah.. apa yang kau ingat dari gadis itu?"
"Dia sangat mungil jika dibandingkan denganku, mungkin kepalanya hanya sampai dadaku dan rambutnya hitam panjang bergelombang, wajahnya blasteran dan sangat manis dan cantik padahal dia sedang menangis saat itu, matanya begitu cantik meskipun terlihat sedih, mata coklatnya itu ahhh....." Fane mengacak rambutnya frustasi mengingat gadis itu.
"Kau itu.. kalau cuma itu mana bisa kami bantu cari..."
"Yah bagaimana, dia pergi begitu saja sebelum aku bangun dan meninggalkan 1000 pounds di meja, mungkin dia menganggap aku ini pria bayaran."
"Hahahaha.." Gelak tawa terdengar riuh menertawakan Fane yang begitu sial. Yang ditertawakan hanya mendengus kesal tidak bisa berbuat apa-apa.
TBC~
__ADS_1