
Pagi ini Anson terlambat masuk ke kantornya dan saat siang dia sampai sudah ada seorang wanita yang terlihat culun, pendek dan berbadan sedikit gemuk yang duduk di ruangan sekretaris.
"Kamu siapa?" Tanya Anson tapi wanita pendek berkacamata itu tidak menyahut, malah terpana dengan ketampanan Anson yang berdiri menjulang tinggi di depannya.
"Hei.. aku tanya kamu siapa?" Tanya Anson lagi sambil menepuk tangannya di depan wajah wanita itu.
"Ah maaf Tuan saya Violet sekrestaris Tuan Anson Tenggara dan mulai bekerja hari ini." Jawab Vio begitu dia tersadar. Anson tampak bingung, kenapa sedikit berbeda dengan data yang kemarin dia dapat dari Melvin?
"Baiklah.. kau sudah tau apa tugasmu kan?" Tanya Anson tegas namun tetap ramah.
"Sudah tau Tuan." Jawab Vio dengan sopan.
"Jangan panggil tuan, aku gak suka." Wajah Anson terlihat kesal karena panggilan Tuan sangat menyebalkan baginya.
"Maaf, jadi saya harus panggil apa?" Vio tampak bingung dan masih sesekali menatap ragu pada Anson.
"Terserah, kamu cari sendiri." Ujar Anson lalu segera masuk ke ruangannya tetapi Vio langsung bergerak mengekorinya.
"Baik, Bapak." Jawab Vio setelah dia berdiri di depan meja Anson.
"Loh kok bapak? aku bukan bapak-bapak." Anson kesal lagi dan Vio makin bingung dengan panggilan yang cocok untuknya.
"Kau masih 21 tahun kan? Panggil aku kak Anson." Perintahnya dan Vio terbengong kemudian dia menggeleng.
"Maaf pak itu tidak sopan, anda adalah direktur disini." Tolak Vio dan Ansol mencebik sebal.
__ADS_1
"Terserah lah.. mana jadwalku hari ini Vio?" Tanya Anson dan Vio memberitahukan semua jadwal Anson tanpa membaca, dia mengatakannya seakan itu keluar langsung dari otaknya.
"Hem.. bole juga daya ingatmu, baiklah mulai sekarang kau jadi sekretaris pribadiku dan segala keperluanku kau yang urus." Perintah Anson lagi.
"Maaf pak tapi kenapa harus saya?" Tanya Vio bingung karena setaunya Anson adalah seorang palyboy dan dikelilingi banyak wanita cantik, sedangkan dia adalah wanita yang biasa saja bahkan banyak yang mengatakan kalau dia jelek, pendek dan gendut.
"Ohh biar pacarku nanti gak cemburu padamu, soalnya terakhir kali mantan pacarku dan mantan sekretarisku beratem karena mengira aku selingkuh, dua-duanya cantik dan seksi." Jelas Anson dan Vio mengangguk tanda mengerti.
"Baiklah sekarang kau ikut aku untuk meeting, bawa laptop dan catat semua inti dari meeting nanti." Anson berdiri dan Vio segera ikut kemanapun Anson pergi sambil menenteng laptopnya.
Semua mata tertuju pada Vio yang berdiri disisi Anson selangkah di belakangnya dan banyak juga mata yang iri melihat wanita itu. Padahal dari penampilan Vio terlihat sangat tidak cocok berdiri berdampingan dengan Anson tapi dia tidak peduli, disini dia hanya ingin fokus bekerja mencari uang untuk kembali menata hidupnya.
Mengenai penampilan, memang Violet terlihat kampungan? Rambut hitam lurus panjang sedada di gerai dengan poni samping dan di jepit dengan jepitan hitam, lalu kacamata tebalnya karena matanya memang bermasalah karena terlalu banyak belajar dan membaca, kemeja putih dengan celana panjang hitam dipadukan dengan blazer kedodoran. Tampak sangat kampungan, apalagi tubuhnya yang pendek hanya 153cm dan terlihat gemuk dengan pakaian yang kebesaran itu.
Semua mata memandang sebal pada Vio yang begitu beruntung karena bisa jadi sekretaris pribadi Anson saat ini.
"Ok bagus, sekarang ikut aku ke butik." Anson langsung berjalan keluar dan Vio mengekori dengan sedikit berlari karena tidak bisa menyamai langkah besar Anson.
"Loh Son.. tumben bawa wanita imut begini?" Tanya Ansel yang ada di butik Line lebih dulu.
"Oh ini sekretaris baru dan dia yang akan mengurus semua kebutuhanku hehehe.. sekalian kalau punya pacar baru gak bakal berantem lagi." Jawab Anson terkekeh mengingat beberapa bulan lalu. Ansel hanya mengangguk dan tidak ingin tau lebih lanjut.
"Hai siapa namamu?" Tanya Adel ramah.
"Saya Violet Nona Adeline." Jawab Vio pelan karena dia sangat kagum dengan semua keluarga Tenggara yang ada di depannya, dia sedang berada di 1 ruangan dengan keluarga terhebat itu.
__ADS_1
"Ohh aku carikan gaun juga untukmu ya, ayo ikut" Adel menarik tangan Vio ke salah satu sudut butik itu tapi Vio yang merasa tidak enak langsung menolaknya.
"Maaf tapi untuk apa ya nona?" Tanya Vio dan Adel tersenyum melihatnya.
"Kan kau sekretaris pribadi kak Anson jadi pasti ikut ke pesta nikahan Ana nanti." Jelas Adel dan Vio menggaruk pipinya karena bingung, juga karena tinggi badannya yang cuma 1 setengah meter jadi dia ragu kalau ada gaun yang cocok untuknya.
"Tapi aku pendek..."
"Jangan cemas, disini ada semua, kau tau Ana juga cuma 155cm, sangat mungil sepertimu."
Adel mencari 1 gaun berwarna soft pink dengan rok mengembang selutut.
"Cepat ganti, tapi di ruang atas saja karena yang dibawah penuh." Adel menyuruhnya naik ke lantai 2 dan disana sedang kosong. Vio naik perlahan dan dia mengintp sejenak dan memang benar tidak ada orang lalu dia masuk ke salah satu ruangan di lantai 2 itu yang terlihat sedikit gelap.
Vio perlahan membuka blazernya dan menggatungnya di sandaran kursi disana, lalu celana dan kemejanya, hanya bersisa pakaian dalamnya tapi Vio tidak menyadari kalau di ruangan itu ada orang lain juga yang sedang menatapnya.
Anson lah yang ada di ruangan itu, karena dia sedang mencari dasi yang cocok dan salah satu karyawan Adel mengatakan kalau kumpulan dasi ada di ruangan atas. Anson terkejut saat melihat Vio yang masuk dan langsung membuka blazer dan celananya, dia terdiam karena kaget melihat tubuh Vio yang ternyata tidak gemuk, malah mempunyai payudara yang montok, pinggang ramping dengan pinggul melebar indah.
"Sial.. tubuhnya mengodaku, deg deg deg." Detak jantung Anson bertalu cepat melihat pemandangan di depannya karena tempat dia berdiri lebih gelap dan Vio membuka kacamatanya hingga dia tidak tau ada orang yang berdiri disana.
Anson tidak berani bergerak bahkan bersuara, dia hanya diam memandangi lekuk tubuh indah itu, meskipun mungil tapi Vio sangat rajin merawat tubuhnya yang halus dan terlihat putih merona, dia juga rajin olahraga karena sadar kalau gemuk sedikit saja dia akan seperti bola.
"Ahh dia ternyata sangat cantik." Ucap Anson dalam hati saat Vio telah memakai gaun pink itu. Dadanya membusung indah memperlihatkan belahan dadanya dan kaki mulusnya juga terlihat indah. "Gadis mungil yang cantik." Kata Anson lagi di dalam hati.
Lalu dia tersenyum melihat Vio yang kembali membuka gaunnya dan tubuh hampir polos itu benar-benar menggodanya, dia ingin sekali memeluk wanita di depannya tapi masih dia tahan. Sampai akhirnya Vio kembali menjadi dirinya yang culun berkacamata dan keluar dari ruangan, Anson baru berani bergerak.
__ADS_1
"Sudah aku temukan, wanita yang bisa membuat jantungku berdetak cepat." Anson tersenyum sambil memegang dadanya yang masih bergemuruh dan tubuhnya juga panas saat ini.
TBC~