
*
*
*
Mentari semakin terik, hembusan angin di tengah hutan tersebut cukup menyejukkan suara kicauan burung menambah kesan bahwa hutan tersebut sangat lah terjaga.
Para anak Jungle Kingdom melakukan kegiatan rutin yaitu berolahraga di setiap pagi sambil menikmati udara yang sangat segar di tengah hutan tersebut, itulah sebab nya dulu Reza tak mau membuat mansion ataupun markas jauh dari hutan ia suka dengan suasana yang luas serta banyak pepohonan.
Reza juga telah memiliki markas di sekitar sana,namun markas tersebut diisi dengan berbagai macam senjata. Dan bukan hanya di mansion ini saja tempat ia menyimpan senjata namun di markas itu pula khusus tempat perkumpulan bila ada hal yang mendesak ataupun penting karena disana lebih lengkap senjata nya di bandingkan dengan mansion.
Tettt!! Tettt!!
Suara bel berbunyi menandakan mereka harus cepat untuk kembali.
Itu suara bel sudah bunyi ayoklah balik, " ucap tim satu.
"Iya ayok cepat, " ucap yang lainnya.
Mereka bergerak cepat menuju mansion, saat sudah sampai sudah banyak teman mereka yang sudah berkumpul di halaman yang cukup luas.
"Wihh tumben rame, " timpal Rio.
"Iya kayak nya ada makanan enak nih, " ucap yang lainnya.
Mereka cukup bersemangat untuk hari ini, setelah kejadian menegangkan tadi malam namun mereka menganggap itu hal yang biasa karena itulah yang menjadi kegiatan mereka sehari - hari.
Bima dan Ethan yang baru balik setelah joging mereka terkejut dengan suasana yang tak seperti biasanya.
"Rame bener nih ada apa? " tanya Bima.
"Nggak tau, udah ayok masuk kedalam, " ajak yang lain.
"Yaudah yuk. "
Setelah masuk kedalam,keadaan cukup rame dengan banyak nya anggota kemudian Nara menemui Sherly di dapur.
"Ly rame banget, kita di halaman aja yuk biar suasana nya lebih enak gitu daripada di dalam, " ucap Nara mengusul kan.
"Hmm bener juga Nar, yaudah suruh yang lain bawa makanan nya keluar dan jangan lupa bawa alas untuk duduk. "
"Oke deh. "
Setelah Nara keluar ia melihat Ethan yang sedang berdiri mengatur tempat untuk sarapan.
"Kak Ethan!! " panggil Nara sedikit teriak.
Ethan langsung menoleh kearah suara. "Ada apa? " tanya nya.
"Sarapannya di luar aja, Kak, kalok di dalam terlalu rame kan cari suasana yang enak aja apalagi di luar pasti lebih bagus tuh, " ujar Nara.
"Yasudah kalok gitu ayok ajak mereka. "
"Minta waktu sebentar,,, " ucap Nara semua terdiam mendengar ucapan Nara.
"Kita sarapan nya di luar aja gimana ? Selain menikmati suasana pagi hari kan cukup segar tuh, baik untuk pernafasan apalagi di tengah hutan banyak tumbuh - tumbuhan, " ucap Nara membuat para laki - laki mengangguk setuju.
"Boleh juga usul nya Queen, " ujar yang lainnya.
"Iya bagus tuh, yasudah yuk. "
"Bener ayok semuanya pindah kehalaman depan. "
Mereka semua membawa berbagai macam alat makan serta nasi dan yang lainnya , setelah siap mereka duduk rapi sambil menunggu untuk di siapkan.
"Hmm boleh juga sih kamu, Nar, " ucap Sherly yang keluar dari dapur.
"Heheh biar suasana lebih meriah nggak kaku - kaku kayak es, " canda Nara.
"Hahaha bisa aja kamu, pandai buat mencairkan suasana, " ujar Ethan.
"Udahlah ayok kita keluar , oh ya Aldo sama Reza kok nggak keliatan dari tadi? " tanya Bima mengingat kedua sahabatnya.
"Entah lah, Kak, tadi juga kami masuk sepi aja, " jawab Nara.
"Tadi Reza sempat cari kamu, Nar , yakan kita nggak tau kamu kemana, " ucap Ethan.
"Oh iya , tadi kami pergi joging sambil liat suasananya di hutan, " jawab Nara.
"Eh,Nar, tapi bener nggak sih kita joging setau aku kita hanya jalan - jalan aja, " bisik Sherly.
"Udah diem daripada mereka banyak tanya. "
"Ekhem kalian bisik apa ? " tanya Bima.
"Ehehe nggak ada, Kak, udah lah ayok nanti biar aku cari Kak Reza sama Kak Aldo, " ajak Nara.
"Hm, tumben kalian akrab dari kemarin juga kalian berselisih, " tanya Ethan lagi.
"Yakan kita suka perdamaian ya kan, Ly? "
"Hm bener tuh, " mereka berdua pun tos ala persahabatan.
"Yasudah deh bagus kalok gitu. "
Setelah mengobrol Ethan , Sherly dan Bima keluar untuk menyiapkan sarapan sedangkan Nara memilih untuk kekamar Kakak nya memastikan apakah Reza ada disana.
__ADS_1
Ia pun masuk kedalam setelah sampai didepan pintu kamar Kakak nya , dan benar saja Reza masih tertidur dengan nyenyak.
"Hmm sudah ku duga , pindah kamar untuk tidur nyenyak " guman Nara.
Ia menghampiri Reza. " Kak ayok bangun... di luar ramai nih ayok sarapan. "
"Hmmmm, " hanya suara itu yang keluar dari mulut nya.
"Ish Kak bangun nggak...!! " ia mengambil bantal dan memukul Kakak nya.
"Ssstt awhhh sakit!! " ringis Reza sedikit teriak.
Nara yang sadar dengan luka goresan milik kakak nya segera membuang bantal yang ia pegang.
"Ya ampun Kak,, i'm sorry nggak sengaja... " ia segera memeluk tubuh sang kakak.
"Aduhhh sakit.. " ringis nya.
"I-iya, Kak, maaf, " ujar Nara.
"Udah bantuin bangun, " ujar Reza , Nara segera membantu kakak nya untuk bangun dari tempat tidur.
"Masih sakit ya? " tanya Nara.
"Ya masih lah, kamu sih dek mukul segala kan pundak kakak jadi sakit. "
"Heheh iya maaf. "
"Hm ada apa tuh rame di luar? " tanya Reza.
"Lagi sarapan Kak, Kakak sih nggak bangun dari tadi sama kak aldo entah kemana. "
"Mungkin Aldo di kamar nya, yasudah aku siap- siap dulu nanti aku nyusul kamu cari aldo di kamar nya, " ujar Reza.
"Hmm oke deh jangan lama - lama. "
"Iya adek ku yang cantik!!! " kesal Reza.
"Heheh yaudah bye. "
Nara segera keluar dari kamar Reza, ia berjalan untuk mencari kamar Aldo yang ada di sana.
"Kamar Kak Aldo mana ya?? " tanya nya pada diri sendiri, namun baru saja ia mencari Aldo keluar dengan pakaian rapi.
"Nah ini dia Kak Aldo yang tadi di cari, "
"Loh Nara kok kamu disini? " tanya Aldo.
"Iya Kak, mau manggil Kak Aldo sama Kak Reza buat sarapan bareng, " jawab Nara.
"Tapi kan ini sepi, " ucap Aldo melihat ruang makan sepi.
"Owh yasudah yuk keluar, " ajak Aldo.
"Kakak duluan aja , aku mau nunggu Kak Reza, " ucap Nara.
"Yasudah aku duluan ya. "
Selang beberapa menit, Reza yang sudah lama di tunggu oleh Nara pun keluar dengan wajah yang terlihat segar dan sumringah.
"Ish lama banget sih kak, tuh mereka sudah pada selesai makan, " protes Nara.
"Hehe iya deh maaf ,yaudah yuk keluar. "
Mereka berdua keluar beriringan , semua mata tertuju padanya terlihat jelas wajah Nara dan Reza cukup mirip hidung yang mancung dengan alis tipis dan bulu mata yang lentik serta mata bulat yang ia miliki ,bahkan wajah sama - sama berbentuk oval dan Reza dengan rahang tegas nya.
"Tuan muda Reza kita sudah datang, " seru yang lainnya.
Mereka menunduk saat Reza berjalan kearah mereka termasuk Sherly yang sedang membereskan separuh piring kotor.
"Sudahlah kalian lanjut saja sarapannya, aku juga belum sarapan ayok sarapan sama - sama bagi yang belum, " ajak Reza ramah, inilah hal yang di sukai oleh mereka semua, pemimpin mereka yang sangat ramah tidak pernah berlaku semena-mena terhadap mereka bahkan Reza lebih menganggap mereka teman di bandingkan dengan anak buah sebab itu Reza tidak mau di panggil 'Tuan' dan Reza hanya ingin di panggil dengan namanya.
Namun terkadang mereka sering memanggil Reza dengan sebutan itu walaupun Reza sudah melarang nya dan juga Reza tidak keberatan yang hanya di inginkan hanyalah kenyamanan mereka bersamaan nya.
"Enak banget masakan hari ini. " tutur Reza yang mencipipi makanan tersebut.
"Iya kah Kak,, itu artinya masakan kita berhasil Ly, " teriak Nara girang.
" Emang kalian berdua yang masak? " tanya Aldo.
"Yaiyalah siapa lagi kalok bukan kita ya kan, Ly? " ujar Nara di balas anggukan oleh Sherly.
"Queen hebat deh pokok nya sempurna, " ucap salah satu dari mereka.
"Makasih semuanya , ini semua berkat Lily juga yang bantu kalok bukan dia yang bantu nggak bakal jadi, " ucap Nara tidak mau terlalu di anggap berlebihan.
"Pokok nya kalian berdua sama - sama hebat, " timpal Rio
Reza hanya tersenyum sambil kembali melahap makanan yang sudah di sajikan oleh Nara.
"Kok di beresin sih? " melihat Sherly yang mengumpulkan piring kotor.
"Iya sedikit biar nanti kita tidak capek, " jawab Sherly.
"Yasudah,, ini juga cukup banyak nanti kita suruh mereka bantu untuk beresin piring - piring kotor, " ujar Nara.
"Baiklah. "
__ADS_1
Suasana yang cukup ramai layak nya menghadiri acara yang cukup mewah saling membagikan makanan, berbagi kebahagiaan serta memberikan canda dan tawa bagi setiap anggota.
Menit berikut nya semua telah selesai makan dan mereka segera membantu Sherly dan Nara untuk membereskan bekas sarapan mereka setelah selesai mereka menghabiskan waktu untuk mengorbrol di lesehan yang cukup besar yang ada di halaman markas tersebut, terkecuali Sherly yang memilih masuk kedalam kamar nya membuat Nara terheran melihatnya ia mau bertanya namun ia urungkan karena memilih membiarkan Sherly untuk beristirahat , setelah sampai di lesehan ia ikut bergabung bersama Reza dan sahabat Reza yang sudah di anggap sebagai kakak nya.
"Kak disini ada senjata ya? " tanya Nara sama Reza yang sedang duduk di lesehan.
"Hm memangnya mau apa? " tanya Reza.
"Aku boleh latihan disini nggak kak? sudah lama aku tidak mengembangkan seni bela diri yang ku miliki, " ujar Nara karena semalam ketika menyerang ia belum bisa mengendalikan musuh sepenuh nya.
"Boleh, silahkan saja, " ucap Reza mengizinkan.
"Makasih Kak, dimana tempat nya? "
"Ajak Rio untuk buka kunci ruangan belakang, " ucap Reza.
"Loh kunci nya mana? "
"Ada sama Rio. "
"Oke. "
Nara segera berlari menemui laki - laki yang bernama Rio sedangkan Bima memperhatikan mereka sejak tadi.
"Kembangkan terus kemampuan Nara, Za, jangan buat dia lupa akan kemampuannya karena kita tidak bisa melihat masa depan apa yang akan menimpa dirinya, " ujar Bima.
"Betul apa yang di katakan oleh Bima, tapi kami berharap dimasa depan nanti tidak terjadi apa - apa dengan kita semua namun kita harus tetap waspada, " sambung Ethan.
"Iya aku mengerti maksud kalian , aku tidak akan membiarkan apapun terjadi pada nya, " ucap Bima.
"Luka di bahu kamu sudah mendingan, Za? " tanya Aldo.
"Lumayan , tapi aku belum tau luka di pergelangan tangan nya Nara dia kelihatan baik - baik saja tidak merasakan sakit padahal baru kemarin dia keluar, " ucap Reza.
"Nara benar - benar perempuan yang kuat, " ucap Aldo kagum.
Disisi lain Rio beserta sahabat satu - satunya yaitu Vito dia mengikuti keinginan Nara untuk membuka tempat penyimpanan senjata , setelah sampai diruangan belakang mansion nampak ruangan tersebut terlihat sepi hanya ruangan itu saja yang di tutup rapat.
"Sepi banget disini, " ujar Nara.
"Iya disini hanya biasa dia atau tiga orang yang berjaga untuk ruangan ini, " jawab Vito.
"Emang harus di jaga ? "
Tak lama pintu tersebut berhasil dibuka dan mereka segera masuk kedalam.
"Ya harus kalau tidak dijaga senjata kita akan di curi oleh musuh dan akan menjadi berbahaya, " sambung Rio.
"Yang benar saja, berapa banyak musuh yang kalian punya? " tanya Nara sambil berjalan mengikuti arah mereka menyusuri ruangan itu.
"Tidak terhitung, tapi tugas kami hanyalah melindungi bisnis ketua 'Bos Reza sama mansion ini, " jawab Vito.
"Kok aku tidak tau ya Kak Reza punya bisnis. "
"Nanti kamu tanya aja sama si bos mungkin ada alasannya, " ucap Rio.
"Oke. "
Nara melihat berbagai macam senjata yang ada di sana mulai dari panahan, pedang, serta pistol kecil dan senjata laras panjang.
"Dimana kalian taruh peluru nya? " tanya Nara setelah mengambil pistol Glock 17.
Kemudian Vito menuju arah lemari yang tidak jauh dari nya dan membuka lemari itu.
"Disini kami hanya menyimpan beberapa macam senjata dan yang lebih lengkap nya masih ada di markas. Tapi di markas lebih ketat lagi penjagaan nya dan kami mengerahkan beberapa tim atau pengawal di sana sebab itu bila keduanya hancur maka kami juga akan hancur karena tidak ada senjata yang kami punya selain ini dan di markas itu, " ujar Vito sambil memberikan beberapa butir peluru kepada Nara.
"Hebat juga, tapi markas kalian jauh tidak dari sini? " tanya Nara sambil memasukkan beberapa peluru ke dalam pistol.
"Hmm tidak terlalu jauh,bisa jalan kaki nanti kamu juga akan lihat kok, " jawab Vito.
Nara hanya mengangguk kemudian mulai mengarahkan pistol ke arah sasarannya yang sudah terpasang khusus di tempat tersebut.
Dor!!
Satu tembakan melesat kearah papan sasaran membuat Vito dan Rio terkejut.
Prok!
Prok!
Prok!
"Dengan satu penglihatan tepat sasaran tajam banget mata kamu Nar, " ujar Rio kagum.
Nara menyunggingkan senyumnya. "Dulu aku pernah kena penyakit Retinopathy Of prematurity ( ROP ) stadium V , namun karena kegigihan mendiang nenek ku yang merawat ku bersama kak reza aku bisa melihat seperti sekarang dan aku bersyukur karena pada saat aku Operasi mata aku diberikan kelebihan oleh semesta dengan penglihatan tajam, " jawab Nara ia mengingat saat ia berusia 12 tahun sebelum nenek nya meninggal nenek nya menceritakan semua yang di derita saat baru lahir.
"Mungkin dulu juga alasan si bos buat terus lomba balap liar untuk mendapatkan uang demi Operasi kamu Nar, hingga saat ini terbangun lah Pasukan yang di beri nama Jungle Kingdom, " ucap Rio.
"Entahlah , aku tidak tau soal itu Kak Reza tidak pernah bercerita namun aku hanya mendukung apapun yang dia lakukan, " ucap Nara.
"Salut sama ikatan persaudaraan kalian, " ucap Vito.
"He yasudah yuk keluar latihannya di luar aja, " ucap Nara.
"Kamu sendirian latihannya? " tanya Rio.
"Yah sama siapa lagi, aku harus mengembangkan kemampuan bela diri ku yang sudah lama aku tidak kembangkan, " ujar Nara.
__ADS_1
"Yasudah yuk. "
Mereka bertiga keluar dan Rio kembali mengunci rapat pintu ruangan tersebut setelah itu mereka kembali ke halaman depan di mana semua anak Jungle Kingdom berkumpul.