
*
*
*
☁️☁️☁️
Awan mendung mulai menutup langit biru di pagi hari, namun suara kicauan burung serta ayam berkokok tidak akan pernah lepas untuk menambah kesan waktu pada waktu itu.
Semua orang tengah bersiap untuk menjalankan rutinitas setiap hari, padahal hari masih telihat sangat pagi namun ya gitu lah yang di lihat ialah waktu tak peduli seberapa gelap nya di pagi hari yang di lihat ialah waktu supaya tau bahwa waktu itu penentu segalanya.
Reza telah siap dengan stelan kerja nya, tak lupa selalu memakai blazeer karena memang cuaca di kota itu sudah memasuki musim dingin, bukan hanya itu ia juga menggunakan nya supaya ia terlihat tidak pergi ke kantor melainkan pergi mengurus hal lain.
"Kakak kenapa pakek itu mau kuliah? " tanya Nara yang sudah siap dengan style nya karena pagi ini juga akan berangkat kuliah.
"Hanya ingin, " jawab nya singkat.
"Hm terserah, di tanya malah jawab nya singkat. "
"Musim dingin dek, " ucap Reza.
"Hmm hehe ya lupa. "
"Udah lah ayok turun kita sudah terlambat, " ucap Reza.
"Kita kan belum sarapan, " ujar Nara.
"Nih, Kakak udah siapin bekal buat kamu, tidak usah lagi debat nanti di bawah ngulur waktu. " ucap Reza menyerahkan kotak makanan yang isinya roti selai cokelat kesukaan adik nya.
"Heheh makasih Kak pengertian banget sih jadi Kakak, " sambil meraih makanan tersebut.
"Udah ah ayok kelamaan. "
Itulah drama pagi adik dan kakak tersebut, meskipun begitu mereka tetap menghargai waktu. Bahkan Reza pernah berpesan kepada Nara.
Hargailah waktu, jika terlambat sedetik saja maka akan membuat mu menyesal
Kata itulah yang di ingat selalu oleh Nara, mereka menghargai waktu layak nya menolong seseorang yang sedang dalam masalah jika terlambat sedikit saja maka akan membuat nya kehilangan nyawa atau kehilangan sesuatu yang sangat di cintanya.
Mereka turun secara bersamaan, keadaan dibawa terlihat sepi biasanya mereka akan melihat saudaranya yang lain sedang sarapan namun nihil tak ada siapapun.
"Mungkin mereka sudah berangkat, " guman Reza.
Ia tetap turun sampai suara seorang perempuan menghentikan langkahnya.
"Kak Reza aku ikut, " ucap nya , karena mereka berempat termasuk Galen kuliah di kampus yang sama hanya Galen dan juga Reza lebih senior di banding mereka.
"Hm. " Reza terlalu malas menanggapi karena Reza tau akal nya Jennifer ia sengaja tidak mengikuti Arzan dan juga Galen alasannya ia akan berangkat dengan temannya.
Nara tetap berjalan beriringan dengan Reza hanya Jennifer yang ada di belakangnya.
"Anak tidak berguna, ngapain sih nempel mulu sama Kak Reza, " protes nya dari arah belakang.
"Jika kamu mau ikut dengan saya jaga bicaramu, " suara tegas Reza membuat nya terdiam, Nara hanya menyunggingkan senyum nya.
Reza dengan cepat mengeluarkan mobil merah nya yang ada di garasi mobil, setelah itu mereka bertiga masuk namun saat Nara ingin duduk di samping Reza yang menyetir ia sengaja di dorong oleh Jennifer.
"Kalau mau duduk ya duduk aja tidak usah dorong juga mikir pakek otak! " ucap Nara , ingin sekali rasanya menonjok Jennifer habis - habisan.
"Kamu nya aja yang kegeeran, aku cuman mau duduk disini dekat Kak Reza udah lah sana kamu duduk di belakang, " elak nya.
Reza yang melihat itu hanya menganggukkan kepalanya menyuruh nya untuk mengalah supaya mereka tetap berangkat dengan cepat , Nara hanya mengangguk dengan perasaan yang tidak karuan , setelah itu mobil pun berjalan menempuh jalan yang cukup ramai.
Selama perjalanan Nara hanya diam tidak banyak bicara membuat Reza bingung, biasanya Nara akan paling cerewet saat ia bersamanya namun tidak untuk hari ini.
Nara terus melamun sambil menatap ke arah luar jendela, menikmati keramaian sampai suara perut nya menghentikan lamunan nya, dengan cepat ia mengambil kotak makanan yang dikasih oleh Reza sebelum berangkat.
Ia dengan cepat memasukkan roti tersebut kedalam mulut nya tanpa memperdulikan siapapun, setelah di rasa kenyang ia kembali memasukkan kotak tersebut kedalam tas nya dan mengambil air minum.
Sedangkan Jennifer sengaja bersandar di pundak Reza supaya Nara cemburu melihat kedekatan mereka. Nara sebenarnya berpikir buat apa dia cemburu toh dia juga kakak nya , kayak pasangan yang sedang pacaran saja.
Cukup lama perjalanan kini mereka sampai di sebuah kampus besar yang ada di kota itu, Jennifer keluar dengan penuh pesonanya menarik perhatian kaum pria yang sedang menatap dirinya sampai suara teriakan teman - temannya mengagetkan nya.
"Morning Jennie, " sapa keempat teman nya.
"Morning too Chelsea " balas nya merekapun berpelukan.
"Kamu berangkat sama siapa? Ku pikir kamu berangkat sama Galen tadi, " tanya temannya yang bernama Abigail.
"Sorry ya aku tadi berangkat sama Kak Reza, " ucap nya percaya diri.
Keempat teman nya melihat ke arah mobil dan benar saja mereka terhipnotis dengan ketampanan seorang Reza William membuat Reza mendengus.
"Oh no! hari ini dia tampan sekali, dan yang ada di dalam siapa ya? " ucap Mona.
__ADS_1
"Hm kalian pasti tau siapa dia kalau bukan anak pungut, " cibir Jennifer membuat Nara di dalam mengepalkan erat tangannya.
"Sudah lah yuk masuk bentar lagi dosen datang, " ucap Caca merangkul teman - temannya, memang Caca agak berbeda ia tipe orang yang tidak suka mengulur waktu hanya untuk mencibir orang lain meski ia berteman dengan Jennifer seorang perempuan yang menjadi sorotan di kampus nya dan banyak yang iri dengan kekayaan nya
"Dek kamu tidak turun? " tanya Reza menatap ke arah adik nya.
"Males, " jawab nya singkat.
"Kamu marah? "
"Tidak. "
"Hmmm nih hp Kakak kamu pakek headphone nya ya, " ucap Reza memberikan HP nya , karena HP milik Nara terjatuh saat ia belajar balap saat di Mansion Jungle Kingdom.
"Buat apa? "
"Dengerin musik kesukaan kamu lah, kan biasanya kalau begini kamu sering pakek headphone di atas kepala kamu, " ujar Reza.
"Hmmm oke thank you, " Nara meraih HP dan juga Headphone yang sering dia pakek dan segera keluar dari mobil.
"Kakak nggak turun? "
"Nanti belakangan. "
"Yasudah duluan ya. "
Nara berjalan dengan santainya dengan Headphone yang di bandul kan di atas kepalanya, ya saat ini ia memakai style kaos pendek putih di baluti dengan jaket kulit tidak lupa celana hitam yang tidak terlalu ketat dan longgar dengan sneaker andalannya, rambut bergelombang yang di gerai asal membuat nya semakin terlihat keren.
Ia tetap melangkah tak peduli ia menjadi bahan tatapan saat itu, namun tak sengaja ia melihat suara keributan di lapangan kampus nya ia pun segera melihat nya.
"Dasar perempuan murahan tidak tau malu, " ucap seorang laki - laki yang terlihat arogan sambil terus menendang perempuan itu.
"A- aku bukan murahan hiks... aku ti-tidak tau apa - apa, " lirih nya ia terus memohon ampun kepada beberapa laki - laki itu.
"Kalau begitu serahkan nomer HP kamu, atau tidak adik mu yang jadi sasaran nya, " ancam laki - laki itu.
Nara mengerutkan kening. " What! Hanya nomer HP sampai dia seperti itu? " gumannya Nara tidak suka melihat hal tersebut semena - mena terhadap perempuan apalagi perempuan itu terduduk dengan baju yang sudah terbuka kancing bagian atas nya menampil kan sedikit tubuh bagian dalam nya.
"Minggir kalian..! " ucap Nara dingin membuat kerumunan itu memberi jalan.
"Eh siapa dia? " bisik - bisik mereka terdengar.
"Kayak nya murid baru. "
"Bukankah itu di cupu. "
"Eh tapi itu beneran si cupu. "
"Gila!! penampilan nya modis banget kayak cewek tomboy. "
"Pencintraan aja kali. "
"Mau jadi jagoan kesiangan kayak nya. "
"Sok - sok an berani nanti nangis. "
Cibiran tersebut terdengar sampai ke telinga Nara namun ia tetap pokus ke arah depan.
"Jadi laki - laki kok brengs*k " ucapan itu mengalihkan perhatian semua orang.
"Siapa kamu? Jangan sok jadi jagoan disini, " balas nya.
"Siapa yang jadi jagoan, jangan kegeeran kamu, " jawab Nara datar.
"Bos kayak nya dia minta di hajar, selain itu lihatlah dia cantik bisa di mainin, " ucap temannya.
"Lakukan saja apa yang kalian mau. "
Mereka ingin mendorong Nara namun dengan cepat Nara menendang nya.
Dugh!
Salah satu dari mereka tersungkur. "
Maju kalian semua!!!! " bentak Nara dingin.
"Sok jago kamu. "
"Jangan hanya bac*t kamu, maju ya maju aja! "
Mereka segera melawan Nara namun dengan gesit nya Nara melayangkan beberapa pukulan bahkan menyikuti mereka.
Bugh!
Bugh!
__ADS_1
Kreek!!
"Akkkhh sa- sakit " ringis nya saat Nara memutar pergelangan tangan lawan nya.
"Bilang nyerah atau saya patahin tangan kamu sekarang! " gertak Nara.
"I- iya kami menyerah. " Nara langsung mendorong laki - laki yang sudah penuh dengan babak belur tersebut sehingga mereka semua lari meninggalkan area lapangan.
Semua menatap Nara terkejut, kapan ia bisa berkelahi? Tapi mereka lebih terkejut lagi saat Nara membentak mereka tajam.
"Apa liat - liat!?? Kalian ya liat teman kalian seperti ini kalian diam dasar tidak berguna!!!!! BUBAR NGGAK ATAU SAYA HAJAR KALIAN SEMUA!!!! " bentak nya, mereka hening dan berlalu takut.
Nara menghampiri perempuan yang tadi menangis dan membuka jaket nya, untung saja ia memakai kaos putih yang sedikit kebesaran sehingga lekuk tubuh Nara tidak terlalu kelihatan, ia kemudian memakaikan jaket tersebut kearah perempuan itu.
"Kamu si- siapa? " tanya nya gugup.
"Nara, " jawab nya singkat.
"
Terimakasih sudah menolong ku. " ucap nya.
"Namamu siapa? " kini Nara yang bertanya.
"Wulan. "
"Ikut saya, " ucap Nara datar.
Wulan hanya mengangguk menuruti ia pun mengekori Nara yang berjalan di depannya dan duduk di sebuah bangku panjang.
"Duduk lah, " tegas Nara sangat dingin.
Lagi - lagi ia menurut, kemudian Nara mengambil sebuah tisu di dalam tas nya dan membersihkan sisa - sisa air mata yang membuat Wulan terlihat belepotan , kemudian merapikan rambut milik Wulan.
"Jangan menangis di depan saya,saya benci orang menangis, " ucap Nara tidak ada senyuman pun yang tampak di wajah nya ,yang ada hanya muka datar setelah membersihkan wajah Wulan.
"Sekali lagi terimakasih, " ucap nya.
"Hm. " deheman singkat.
"A-apa kamu mau jadi teman ku? " tanya nya percaya diri.
"Ya. "
'Dingin sekali,' batin Wulan.
"Masuk kelas, bentar lagi bel, " ujar Nara berlalu duluan.
Saat Nara mulai memasuki kelas nya ia sadar bahwa Wulan sedari tadi ada di belakang nya. "Kamu mengikuti saya? " tanya Nara menaikkan satu alisnya.
"I-ini kelas ku siapa yang mengikuti mu? " kini Wulan yang bingung.
"Oh kita satu kelas, " ucap Nara.
"Wah aku tidak percaya ini ku kira kamu kelas sebelah. "
"Hm. " hanya deheman itu yang keluar dari Nara membuat Wulan hanya menghela nafas atas sikap dingin Nara.
Ya ! Semua ini mungkin ajaran dari Reza karena Reza juga disini terkenal sangat dingin apalagi banyak para perempuan yang banyak mendekati Reza namun Nara hanya tetap diam tidak banyak bicara bahwa ia adalah adik nya Reza. Banyak mahasiswa/i bertanya - tanya mengapa wajah mereka berdua sangat lah mirip namun Nara tidak menghiraukan kannya.
Di sini Nara mengambil sebuah jurusan Teknik Informatika, karena dulu ia pernah sekolah di Sekolah Menengah Kejuruan ( SMK ) dan tentu ia sangat menyukai materi yang membahas berbagai macam jaringan ,ia memang sering di panggil cupu oleh teman kampus nya namun tidak dengan dosen nya karena mereka tau kemampuan Nara melebihi mereka bahkan Nara memiliki IQ di atas rata - rata, banyak dosen yang menganggumi kemampuan nya sehingga tak ada dosen satupun yang pernah memarahinya.
Ia bukanlah gadis bodoh seperti yang di pikirkan oleh orang lain, bahkan kecerdasan nya itu membuatnya banyak mendapatkan prestasi yang tidak di ketahui banyak orang.
Bahkan salah satu dosen pernah mengatakan bahwa dirinya adalah kepingan dari Reza William, meski Reza mengambil jurusan yang berbeda tak ada perbedaan sedikit pun sehingga membuat Reza sebagai kakak bangga memiliki seorang adik seperti Nara, tidak bersikap arogan , sombong dan selalu menyembunyikan kemampuannya atau bisa di sebut ia tidak suka pamer seperti yang lainnya.
Ibu Anggie atau mendiang nenek nya sengaja memasukkan Nara ke jurusan Teknik Informatika karena ia tau Nara adalah anak yang berprestasi yang sangat menyukai hal yang berkaitan dengan jaringan dan tidak mungkin membuat nya kecewa, dulu sempat saja kedua orang tuanya menolak tapi nenek nya tetap bersikeras untuk memasukkan Nara ke jurusan tersebut supaya ia berada di jurusan yang berbeda dengan para saudara nya.
Dengan kemampuan yang di atas rata - rata mudah bagi Nara untuk memasuki Class Internasional atau lebih tepat nya kelas untuk siswa pintar. Bahkan dosennya bisa dikatakan killer semua, namun mudah bagi Nara untuk menghadapi nya karena ia tau dosen manapun tidak pernah meremehkan nya biarlah yang lain menganggap nya remeh asal kan jangan dosen nya.
Seorang dosen mulai memasuki kelas. "Pagi semua... " Pak Reno dosen berumur sekitar 30 tahunan yang mengajar pemrograman.
"Pagi Pak..." jawab mahasiswa/i serentak.
"Kalian tidak lupa hari ini kita UTS, "tanya nya.
"Inget pak .. " jawab mereka serentak.
Kemudian Pak Reno mulai membagikan soal UTS, saat ia memberikan lembaran dimeja Nara ia menatap Nara sekilas. " Ada apa pak?? " tanya Nara menatap Pak Reno.
"Kamu murid baru? " tanya Pak Reno , ia tidak mengenali Nara karena penampilan nya sudah sangat jauh berbeda.
"Dia Nara , Pak, " Wulan yang tidak jauh dari tempat duduk Nara yang menjawab nya.
"Oh maaf penampilan kamu berbeda dari sebelumnya, " ujar Pak Reno.
__ADS_1
Nara hanya diam tak banyak bicara kemudian mengambil lembaran soal yang di berikan kepadanya ,Nara mulai menatap lembar jawaban nya dan hanya tersenyum simpul , bukan sombong namun ia sudah terbiasa dengan soal nya.
Waktu terus berjalan, para mahasiswa/i mulai mengerjakan soal dengan serius, nampak kerutan di wajah mereka menandakan soal UTS lumayan sulit, namun tidak dengan Nara yang tetap tenang mengerjakan nya meski sedikit ada kesulitan karena selama dua minggu ia telah meninggalkan beberapa mata kuliah tapi bukan Nara namanya jika ia tidak bisa menyelesaikan nya.