
Bismillah π€²
Happy Reading πππππ
*
*
*
Jalan raya terlihat sangat ramai, mobil berwarna merah khas milik Reza melaju dengan kecepatan yang belakang nya ada tiga sekawan.
Sedangkan Nara sudah merasakan perasaan yang tidak tenang, keringat mulai bercucuran di pelipis nya.
"Dek kamu kenapa ? " tanya Reza yang pokus menyetir.
Nara menoleh. "Perasaan aku_ " Nara berhenti berbicara, tiba - tiba ia diam membeku dengan tatapan mata yang kosong
Reza menatap bingung kepada Nara yang tengah membeku, ia menghentikan mobilnya di tepi jalan dan mengguncang tubuh Nara kuat, namun nihil Nara tidak bergerak sedikit pun membuat yang lain panik.
"Nara, kamu kenapa,dek? Nara sadar!! " bahkan Reza menepuk pipi Nara.
Bima, Aldo dan Ethan terus mengguncang tubuh Nara, tetapi sama saja itu tidak berguna.
Sedangkan di sebuah alam lain saat ini Nara, ia tiba - tiba berada di sebuah danau dengan taman yang begitu indah, ia tersenyum bahagia melihat semuanya.
Saat sedang asyik nya melihat danau luas itu, ia di kejutkan oleh suara seorang perempuan yang tak asing baginya.
"Nara,,, " serunya sambil berlari memeluk Nara.
"Lily? " Nara membalas pelukan itu.
"Indah kan tempatnya? Aku suka sekali, " ucap Sherly dengan riangnya.
"Tentu saja, suasanya indah, " ucap Nara.
Mereka terus asyik menikmati pemandangan itu, hingga suara letusan timah panas mengagetkan mereka berdua.
"Siapa itu? " tanya Nara kepada Sherly.
"Nara, kamu harus waspada, mereka akan datang menyerang kita! " ucap Sherly panik.
"Siapa yang menyerang kita? " tanya Nara, kini perasaan nya mulai kacau.
Sherly segera menarik Nara untuk berlari, ia tidak peduli dengan pertanyaan Nara, namun tiba-tiba saat berlari segerombolan pria membidik ke arah Nara. Sherly yang sadar akan hal itu segera mendorong Nara ke arah kanan hingga peluru itu mengenai Kaki Sherly.
"Akkkhhh, " Sherly meringis, kita pijakannya sedikit licin di atas rumput membuatnya terjatuh ke arah danau.
"Lily! Tidak mungkin, Lily!!! " teriak Nara sekencang - kencangnya.
Segerombolan pria dengan senjata lengkap langsung menyeret Nara tanpa gadis itu sadari. "Tidak! Lepaskan aku!! " teriak nya begitu kencang, namun tiba - tiba suaranya hilang begitu saja, tenggorokan nya sakit dengan nafas yang tidak beraturan.
Kembali di dunia nyata, Reza terus mengguncang tubuh Nara, sungguh panik luar biasa membuat Reza memerah menahan tangis.
"Dek, ada apa?!! " kini Bima terus menggucang Nara.
"Coba bisikan saja, Za, mungkin bisa, " Aldo ikut panik melihat Nara seperti orang kerasukan.
Tanpa pikir panjang, Reza mengikuti arahan dari Aldo , ia mendekat kan bibir nya ke arah telinga Nara.
"Dek, kembalilah pada Kakak, " bisik nya lembut.
Disisi lain, Nara yang terus meronta untuk di lepaskan, menahan rasa sakit yang ia alami saat ini, perlahan hatinya tenang mendengar bisikan lembut di telinganya.
"Dek,kembalilah pada Kakak. "
"Kak Reza. " Nara memejamkan mata perlahan hingga sadar tubuh nya terus berguncang hebat.
"Hah...hah... " Nara tersentak kaget, kini ia tidak lagi di sungai dan di seret melainkan ia di dalam mobil dengan Kakak nya yang terlihat begitu khawatir.
"Dek? Kamu sadar? " tanya Reza langsung memeluk adiknya erat.
"Akhirnya... " ucap Bima, Aldo dan Ethan serempak menghela nafas lega.
__ADS_1
"Kak, a-aku, aku melihat banyak orang membawa senjata, di-dia menembak Sherly di kakinya, " ujar Nara gemetar.
"Minum dulu dek, " ucap Aldo menyerah kan sebotol air minum.
Dengan tangan gemetar nya, Nara meneguk air minum tersebut hingga tersisa setengah. Ia kembali menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan.
"Udah mendingan? " tanya Ethan.
Nara mengangguk. "Iya,Kak. "
"Kamu tadi kenapa,dek? Kita sampai panik loh, " ujar Bima mengelus puncak kepala Nara.
"Kak Reza, " Nara memandangnya dengan sedikit mata berkaca-kaca.
"Kenapa? " tanya Reza, ia menggenggam tangan lembut adiknya.
"Aku juga tidak tau,Kak. Tadi aku seperti bermimpi, melihat Sherly kena tembak dan terjatuh ke danau, " jelas Nara.
"Apa? Bermimpi? Kamu tadi masih bangun loh dek, masak iya bermimpi? " kening Reza berkerut, bingung entah apa yang terjadi dengan adiknya.
"Gini aja, jelaskan sama kita dari awal apa yang terjadi dan apa yang kamu lihat, jangan takut, kita semua ada disini, " ujar Bima menenangkan.
Nara hanya tersenyum tipis, kemudian ia menghela nafas dan mulai menceritakan apa yang ia lihat.
Sepanjang bercerita,semua hanya bisa terdiam menahan nafas, sungguh cerita itu membuat mereka merasa akan terjadi sebuah kenyataan. Pasal nya, Aldo telah menelpon Sherly untuk ikut dengan mereka.
"Ini tidak akan terjadi kan, Kak? Sungguh aku takut semuanya menjadi nyata, " ucap Nara dengan mata berkaca-kaca.
"Sssttt, sudah tenanglah. Kita akan saling melindungi, belum tentu juga itu menjadi kenyataan, " tukas Reza.
"Benar, mungkin hanya sekedar peringatan supaya kita tetap berhati-hati, " timpal Ethan.
"Baiklah, sekarang kita lanjut perjalanan ya, jangan pikirkan apapun. " Reza mengecup kening Nara kemudian mulai menjalankan mobilnya.
***
Lama dalam perjalanan kini mereka telah sampai, suasana begitu terlihat ramai, Nara hanya termangu menatap sekeliling nya. Teringat akan apa yang ia lihat saat di dalam mobil, ia sungguh heran kenapa ia bisa bermimpi sedemikan mengerikan. Bahkan ia akui baru pertama kali merasakan mimpi yang seolah-olah akan terjadi kenyataan.
"Hey!! Kalian! " teriak nya yang tidak lain ialah Sherly, ia memarkirkan segera memarkir kan motor nya setelah itu menghampiri mereka.
Nara sedikit terkejut. "Lily?! "
Semua menoleh ke arah Sherly, kini satu dalam mimpinya Nara seperti menjadi sebuah kenyataan, bahkan kini mereka ada di taman, namun entah apakah danau juga di sekitar sini, tetapi mereka sangat berharap bahwa tidak ada danau sekalipun.
"Hey, kenapa? Kamu nampak terkejut? " tanya Sherly menatap Nara bingung.
'Tentu saja adik ku terkejut, dia memimpikan mu tertembak, ' batin Reza.
"Oh tidak, heheheh aku tidak tau kamu ikut, " jawab Nara santai, menyimpan perasaan yang tidak karuan.
"Yah kamu, tentu saja aku harus ikut, Aldo yang ngajak, " jawab Sherly menatap Aldo, yang di tatap hanya tersenyum tipis.
"Yasudah yuk kita cari tempat duduk, " ajak Bima mengakhiri obrolan mereka.
"Yasudah, " jawab yang lain.
"Eh tunggu, aku pernah kesini sebelumnya, aku tau tempat paling nyaman, ayok ikut aku," ujar Sherly kemudian berjalan mendahului mereka , yang lain hanya bisa mengikuti dari arah belakang.
Kini tibalah saat nya mereka di tepi danau yang begitu luas, pohon rindang dan begitu terlihat sejuk dengan tikar yang sudah di gelar, Sherly menikmati suasannya, namun tidak dengan yang lain.
"Kak, " bisik Nara mulai menunduk, tentu saja yang lain faham kecuali Sherly yang tidak mendengar nya karena berada di paling depan dan berjarak sedikit jauh.
"Aku akan berbicara dengan Sherly supaya kita pindah dari sini, " ujar Bima dan di angguki oleh yang lain.
Bima melangkah mendekati Sherly sedangkan Nara masih memeluk erat lengan Kakaknya. Aldo dan Ethan merasa prihatin melihat wajah sedih Nara, ia tak menyangka Nara mendapatkan mimpi yang sangat mengejutkan bagi mereka.
"Dek, jangan di pikirin semuanya akan baik - baik saja, " ucap Ethan mengusap kepala Nara.
"Makasih, Kak, " ujar Nara tersenyum.
"Sher, " ucap Bima mendekati Sherly.
"Ada apa? " tanya Sherly menoleh.
__ADS_1
"Kita pindah saja bagaimana? Kita cari tempat yang bagus, " ujar Bima.
"Tidak ada tempat yang lain, Bim, semuanya sudah penuh oleh pengunjung, lihat saja cuman tempat ini yang tersisa, " jawab Sherly.
Bima hanya terdiam sembari menoleh ke arah sahabat nya yang ada di belakang, ia menggelengkan kepala menandakan tidak bisa, kembali wajah murung Nara kini tertunduk, ada perasaan yang tidak enak dalam dirinya.
"Ayok duduk, jangan terusan berdiri, kalian pesan makanan kita yang tunggu disini, " ujar Sherly mendekat Nara dan menarik tangannya.
"Aku disini saja sama mereka, " ujar Reza.
"Eh jangan, biar kami disini saja, ya kan, Nar? Kalian pergi saja mungkin keliling atau gimana, suasananya sangat indah apalagi sore, " ujar Sherly.
Reza dan yang lain hanya saling lirik. "Tidak ah , aku capek, lebih baik diem disini, " ujar Aldo.
"Ck, kami mau ngobrol berdua, pergi sana cari makanan yang banyak, kami sudah lapar," tegas Sherly tidak mau di bantah.
Akhir nya, Ethan dan Aldo mereka memilih pergi berdua, sedangkan Bima dan juga Reza masih berdiam diri di tempatnya. Namun tiba - tiba perut Bima mendadak mules dan segera menarik Reza mencari toilet umum. Tanpa pikir panjang Reza hanya mengikuti ia berpikir hanya sebentar berada disana.
Tak lama mereka pergi kini dua sahabatnya yang tak membeli makanan untuk mereka telah kembali dengan berbagai macam menu makanan dari arah pinggir taman.
"Wah banyak sekali, " ucap Nara sumringah.
"Ayok makan, " ujar Ethan menyodorkan beberapa piring sate ayam.
"Bisa kenyang kita ini, " timpal Sherly.
"Eh, Bima sama Reza mana? " tanya Aldo.
"Lagi bantu Bima cari toilet umum, sudah ayok kita makan nanti sisain buat mereka, " ujar Sherly.
Akhirnya mereka berempat makan dengan lahap, Sherly menyisihkan sebagian makanan itu untuk Bima dan Reza, kemudian yang lain sudah habis di makan lahap oleh mereka.
"Kok mereka belum balik ya? " tanya Ethan heran.
"Kak, temuin mereka, perasaan aku tidak enak, " ucap Nara memandang ketiga nya.
"But, Nar, Kakak aja disini kita bertiga sama Sherly ya, " ujar Ethan.
"Kalian pergi saja, lagian kalau ada sesuatu kalian bisa bantu mereka, kalau tiba-tiba Aldo hilang gimana? " ujar Sherly.
Sudah, mereka tidak ada alasan lagi, ia berpikir kembali hanya sebentar dan akan kembali dengan cepat.
"Baiklah kami akan segera kembali ya, kalian jangan ilang, " ujar Aldo.
"Ya ampun, Al, udah sana nanti ada sesuatu yang terjadi sama mereka, " ucap Sherly.
"Oke deh. " Aldo kemudian melangkah menyusul sahabatnya tak lupa Ethan yang berjalan dari arah belakang, sebenarnya ada perasaan enggan dengan Ethan meninggalkan mereka berdua, tetapi ia juga khawatir dengan Aldo kalau di biarkan sendirian.
***
Matahari sore sudah terlihat akan tenggelam, tak di sangka sudah berapa lama mereka duduk di tempat wisata tersebut namun mereka tidak peduli yang sekarang ialah mereka sangat bahagia.
Terlebih lagi Nara , ia yang sedari tadi merasakan perasaan yang tidak enak kini hatinya sudah terasa tenang karena Sherly yang sedari tadi mengajak nya mengobrol tentu saja obrolan mereka tidak terlalu penting hanya sebagai hiburan bagi mereka.
Sedangkan keempat laki- laki belum juga kembali setelah Aldo dan Ethan menyusul Reza, hal itu kembali membuat Nara semakin merasa cemas.
"Kak Reza sama yang lain kemana ya kok nggak balik - balik? " cemas Nara.
"Kamu tenang saja,Nar, mungkin mereka jalan - jalan di sekitar sini, " ujar Sherly.
Nara hanya mengangguk sesekali melihat ke arah danau yang sangat luas,, orang - orang sudah terlihat cukup sepi karena hari sudah akan berganti malam.
Saat sedang asyik nya menikmati hembusan angin di danau tersebut, beberapa sekelompok orang mengepung Nara dan Sherly.
Dor!
Nara begitu terkejut dengan hal ini, mimpi nya benar sudah terjadi, lalu apakah benar pula Sherly akan tertembak? Ia harus melakukan apa?.
*
*
Vote like and komenβ€οΈβ€οΈ
__ADS_1