Misteri Cinta Gadis Mafia

Misteri Cinta Gadis Mafia
Tahap membuat rencana


__ADS_3

Bismillah 🤲


Happy Reading 🥳💜


*


*


Di sebuah markas persembunyian, kini terlihat seorang Pria bersenjata lengkap sedang duduk di sebuah kursi, tepat di hadapan seorang Pria yang tidak lain ialah atasnya menunggu sebuah kabar dari anak buah nya yang bertugas sebagai mata-mata untuk mengawasi musuh.


"Dimana anak buah mu? " tanya seorang Pria yang berwajah dingin di hadapannya.


"Sebentar lagi dia akan datang,Arres, kamu tunggu saja, " jawab nya.


"Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi,Furio, kamu adalah komandan mereka! " tegas nya.


"Apakah sebelumnya kamu sudah mendapatkan kabar? " tanya Pria yang bernama Furio.


"Kemarin malam, aku menyuruh nya untuk mengikuti arah mobil Reza, " jawab Arres.


"Baiklah, lima menit lagi dia akan segera sampai, " ujar Furio.


Furio adalah salah satu orang kepercayaan Arres Arlington, dialah yang membantu Arres untuk membangun sebuah Organisasi untuk menguasai dunia, bahkan kerjasama yang begitu besar telah mereka dapatkan, sehingga orang-orang yang bernaung di bawah kekuasaan Arres bukanlah sembarang orang yang mudah untuk di lawan.


Mereka bergerak begitu licik, hingga banyak orang yang tak bersalah ikut terserang karena perlakuan semena-mena nya.


Tok...Tok...Tok...


"Masuk! " ucap Furio.


"Maaf saya terlambat,Tuan, " ucap nya menunduk bersamaan dengan temannya.


"Katakan apakah kamu sudah menemukan tempat tinggal nya? " tanya Arres to the point.


"Benar, Tuan, saya sudah mencatat alamatnya, dan ini adalah gambar keluarga nya, Tuan pasti sangat terkejut setelah melihat siapa yang ikut andil dalam foto itu, " ujar nya sembari memberikan beberapa lembar foto dan kertas alamat.


Arres mengambil beberapa lembar foto tersebut dan mengamatinya bersama Furio. "F*ck! Rain ada disini? " ucap Furio tertahan.


"Benar, kami semalama melihat nya, saat terjadi perdebatan antara Reza dengan Keluarganya, " jawab Keno.


"Hm, aku tidak menyangka dia berkhianat! " tukas Arres.


Sekali lagi Arres melihat beberapa perlakuan kasar yang tertangkap oleh kamera milik anak buah nya itu, namun kini, pandangannya terfokus kepada dua perempuan yang terlihat bermusuhan.

__ADS_1


"Siapa wanita ini? " Arres menunjukkan foto Jennie yang mendekat ke arah Nara.


"Yang memegang pisau adalah adiknya, dan mungkin saja yang satunya lagi adik nya juga, Tuan, " jawab Lue ragu.


"Kalau mereka kakak beradik kenapa ingin saling bunuh? " Furio mengerutkan keningnya.


"Saya tidak tau,Tuan, kalau bisa kami akan mencari informasi lebih lengkap lagi, " ujar Keno.


"Hm, suruh yang lain untuk terus mengawasi dua wanita ini, kalau sudah jelas informasi nya baru kalian bawa mereka berdua kehadapan ku! " tegas Arres. "Jangan lupa, si br*ngs*k penghianat itu, aku akan mencincang tubuh nya setelah bertemu! Berani-beraninya dia bermain dengan seorang Arres Arlington! " geramnya.


"Siap,Tuan, informasi lengkap akan kami temukan! " jawab mereka kompak, setelah itu mereka segera pamit untuk keluar dari ruangan tersebut.


Furio menatap atasannya sekaligus orang yang sudah ia anggap sebagai Kakak nya. "Apa rencana mu sebenarnya, Arres? " tanya Furio.


"Kelemahan adalah salah satu cara untuk mengalahkan Reza, kalau salah satu dari wanita itu yang membuatnya keluar baru kita akan buat kejutan untuk nya, " jawab Arres menyeringai.


"Dendam adikmu harus terbalas tuntas,Arres, kalau bisa kamu harus rebut kekuasaan nya, " tukas Furio.


"Tentu saja, aku tidak akan membiarkan Reza hidup tenang, kalau bisa aku akan membalas kepada adik - adiknya apa yang telah adik ku rasakan! "


"Aku mendukungmu! "


Demikianlah sebuah kesalahpahaman yang tidak di gali hingga akarnya, semuanya gelap akan dendam, penuh ambisi. Entah apakah hidup Reza akan terus berlanjut ataukah akan ada peperangan terbuka?


Terjadi sebuah aksi kejar-kejaran berkahir dengan Nara yang tiba-tiba masuk ke alam bawah sadarnya membuat yang lain resah namun tetap meningkatkan kewaspadaan nya terhadap sekitar.


Seluruh anak buah kini telah berada di ruangan masing-masing setelah Reza menyuruh nya untuk bubar.


"Apa yang kamu lihat? " tanya Reza sekali lagi.


Nara mencoba menenangkan pikiran serta perasaan nya, ia tidak boleh terlihat takut ataupun lemah, ia harus kuat dan melindungi seluruh keluarganya.


"Mimpi yang sama dengan semalam, " jawab Nara menggigit bibir bawah nya.


Reza terlihat menghela nafas bersamaan dengan Ethan, sedangkan Rain hanya duduk diam sesekali memperhatikan mereka.


"Apa yang terjadi sebelumnya, Reza? " tanya Bima belum mengetahui.


"Semalam Nara bermimpi kalau dia dan Jennie berada di ruangan musuh, dan musuh itu menembak Nara bersamaan dengan Jennie, lebih tepatnya seperti yang di katakan Nara sebelumnya, dia ingin balas dendam dengan keluarga ku, " jelas Reza terlihat resah, ia mengusap wajahnya kasar.


"Maaf sebelumnya, Tuan, apakah adik anda bisa melihat masa depan? " kini Rain bertanya dengan sedikit takut.


Semua mata menatap ke arah Rain, termasuk Nara. "Benar, dan itu hanya sedikit penggalan untuk peringatan kedepannya, " jawab Reza.

__ADS_1


"Sejak kapan Nara bisa bermimpi seperti itu? " kini Sherly melontarkan pertanyaanya.


"Kamu masih ingat tragedi penyerangan di danau? Nara sempat bermimpi melihat mu tertembak dan persisi di tempat itu, itu sebab nya Bima mengajakmu untuk pindah tempat sebelumnya, tapi namanya juga yang akan terjadi tetap terjadi, awalnya kami tidak percaya tapi ternyata benar, " ujar Ethan membuat Sherly terkejut.


"Kenapa tidak langsung memberitahu ku? " tanya Sherly.


"Awalnya kami hanya bisa bersikap hati-hati saja, mungkin itu peringatan untuk kita menghindar, " tukas Bima.


Nara terdiam, ia mencoba merenungi apa yang ia mimpikan sejak semalam, tekadnya semakin kuat untuk terus berlatih dan mengalahkan musuh-musuh Kakaknya itu.


Saat dalam masa pembahasan serius,kini Rio datang sambil memberi salam hormat. "Permisi, " ucapnya sopan.


"Kamu sudah menyiapkan semuanya? " tanya Reza.


"Sudah,Za, kita tinggal mengantarnya saja, " jawab Rio.


"Bagaimana dengan Ibu ku? " tanya Rain, karena pagi ini ia bersiap untuk pindah.


"Anak buah ku sedang mengurusnya, sebentar lagi akan di bawa kemari, " jawab Rio.


"Baiklah, semuanya pembicaraan cukup sampai disini, nanti kita lanjutkan, " ujar Reza membubarkan acara diskusi kecil-kecilan nya.


Semua bubar saat itu, mereka keluar menuju halaman bersiap mengantar Rain untuk pergi kesebuah tempat yang lebih aman dari jangkauan siapapun.


"Apa yang kamu rasakan ketika bermimpi? " tiba - tiba Sherly mendekatinya.


Nara hanya tersenyum tipis. "Gelisah, dan sedikit tidak tenang, " jawab Nara jujur.


"Kenapa kamu merahasiakan nya dariku? " mata Sherly sedikit memicing.


Nara mengerutkan keningnya. "Buat apa semua orang tau? Itu hanya sebuah kelebihan yang hanya aku sendiri yang tau. "


Sherly hanya bisa terdiam. Ia bungkam tidak tau harus menjawab apa, hingga kini mereka sampai di halaman dan terlihat sebuah mobil mendekat dari arah gerbang.


Tiga anak buah Jungle Kingdom keluar dari mobil tersebut dan tak lupa membawa seorang Wanita paruh baya yang duduk di belakang. Mata Rain seketika berbinar melihat siapa yang datang.


"Ibu! " Rain bergegas berlari menghampiri Ibunya.


Wanita paruh baya itu terkejut mendengar suara yang familiar untuk nya, mata nya seketika terbelalak dan ikut berseru.


"Rain! Anak ku! " kini Anak dan Ibu itu berpelukan, rasa rindu dalam hati Wanita paruh baya tersebut kini mulai berangsur-angsur hilang, ia bersyukur bisa menemui Putra semata wayangnya itu.


Awalnya ia takut ketika di bawa kesini, ia curiga semenjak anak nya di bawa oleh seseorang pada waktu itu dan dirinya dibawa kerumah sakit dengan di awasi oleh beberapa Pria yang tidak lain ialah anak buah Jungle Kingdom.

__ADS_1


__ADS_2