Misteri Cinta Gadis Mafia

Misteri Cinta Gadis Mafia
Musuh di belakang


__ADS_3

Bismillah 🤲


Happy Reading 🥳💜


*


*


Gemuruh tepuk tangan kian menjadi di restoran mewah tersebut, beberapa orang meneriaki nama Nara untuk menyuruh nya kembali bernyanyi namun Nara hanya memberikan senyum tipis untuk mereka.


Ia berjalan menuruni panggung setelah pamitan kepada Lian dan personil lainnya. Dengan langkah tegas nya, ia hanya menatap lurus ke arah meja tempat tiga orang Pria yang masih duduk menatap nya takjub.


"Yeah! Anak Papi the best! " seru Pratama mengacak rambut Nara.


"Thanks,Papi. " Nara tersenyum kemudian duduk di tempatnya.


"Sejak kapan kamu pandai bernyanyi? " tanya Reza menatap Nara.


"Sedikit lama, " balas Nara singkat.


"Lihat tuh para laki-laki mandangin kamu terus, kenapa tidak protes? " ucap Reza lagi.


"Terserah! " Nara kemudian mengambil gelas yang berisi jus kesukaan nya.


JDarr!!!


Kilatan petir menyambar pada dinding kaca di ikuti dengan suara yang begitu mengerikan, para pengunjung mulai meninggalkan tempat tersebut karena hujan akan segera turun.


Tepat saat separuh pengunjung sudah pergi saat itu pula hujan turun begitu lebat, Nara menutup telinganya kuat-kuat.


"Kenapa,dek? " tanya Ethan memegang bahu Nara.


"Nara takut petir, " jawab Reza merangkul punggung adiknya.


"Kita bisa belajar dari petir, ia sendiri namun sangat mematikan, ia tidak memiliki teman, kamu juga harus bisa seperti itu, meskipun kamu tidak memiliki siapapun di hidup mu jadilah seperti petir, buat mereka takut dengan ketegasan kita, " ucap Pratama mengelus kepala Nara.


"Aku ke kamar mandi, " ucap Nara segera bangun dari kursinya.


"Kakak temenin, " tawar Reza.


"Tidak,Kak, aku bisa sendiri, lagipula itu cuman sebentar, " balas Nara segera berlalu tanpa mendengar jawaban Reza selanjutnya.


Reza hanya menggeleng kemudian menatap Ethan dan memberi kode. "Ikuti dari belakang, aku takut ada musuh mengintai, " ucap Reza.


"Iya,Za. " Ethan bergegas mengikuti Nara dengan langkah sunyi nya dari arah belakang.


Sedangkan kini di meja tersebut hanya tersisa Pratama dan Reza. "Sebenarnya apa yang terjadi di kehidupan kalian? Maaf sebelumnya Papi lancang, tetapi bukan kah kalian sudah menganggap ku sebagai Papi kalian? Jadi tidak ada salahnya untuk bercerita, " ucap Pratama.


Reza berdehem sesaat. "Kehidupan kami tidak seperti orang lain yang begitu indah,Pi, kami sangat di benci oleh orang tua kami bahkan saudara kami. "


"Kenapa begitu? " jawab Pratama.


Reza mulai menceritakan perjalanan kisah hidupnya bersama dengan Nara bahkan sama mendiang Nenek nya, tak ada satupun yang terlewat dan ia lebihkan.


***


Disisi lain, Nara yang baru selesai buang air kini segera keluar dari kamar mandi hingga tiba - tiba tangan seseorang menariknya dari arah belakang.


"Lepas! " ucap Nara memberontak.

__ADS_1


"Sssttt, diam, ini Kakak, " bisik Ethan dan membawa Nara ke sebuah lorong yang sedikit sepi.


"Eh, mau kemana? " tanya Nara mengikuti langkah kaki Ethan yang tergesa-gesa.


Setelah di rasa aman, Ethan menghentikan langkahnya. "Lihat ke Pria itu, " tunjuk Ethan menatap seorang Pria menggunakan topi pet serta jaket berwarna hitam.


"Kenapa? " tanya Nara bingung.


"Tangannya. " Nara kemudian fokus menatap tangan Pria tersebut. Ya, disana ada tato mata elang.


"Sialan! Musuh disini! " pekik Nara tertahan.


"Kamu bawa masker? " tanya Ethan.


"Tidak, mana mungkin aku tau kalau ada musuh mengikuti kita, " jawab Nara.


"Baiklah, sekarang kita berjalan di keramaian itu, jangan membuat curiga, tetap jalan santai saja seolah-olah tidak melihat apapun, tetap waspada, " jelas Ethan memegang erat tangan Nara.


"Iya, " jawab nya mengangguk kemudian mulai melangkah santai, ia sesekali melirik ke arah dua orang itu, ketika di tatap balik Nara segera memalingkan wajahnya dan segera menjauh dari tempat itu.


***


Reza telah selesai menceritakan kisah hidup yang sebenarnya, hanya saja ia tidak menceritakan apa pekerjaan Reza selain menjadi seorang pemilik Cafe, karena bagi Reza itu adalah hal yang bersifat pribadi dan orang lain tidak berhak tau.


"Mereka bukanlah orang pandai bersyukur, Papi berharap kalian menjadi lebih sukses dari mereka supaya mereka merasa menyesal, " ucap Pratama.


"Hm, Reza juga berpikir bergitu,Pi, itu sebab nya saat ini Reza sangat menjaga Nara, " jawab nya, kini gadis yang ia sebut pun akhirnya muncul.


"Panjang umur, dia sudah datang, " kikik Pratama menatap putri angkatnya.


Reza mengerutkan kening melihat wajah Nara yang terus menoleh ke belakang seakan-akan ada yang mengejarnya, sedangkan Ethan semakin mengeratkan pegangan.


"Kak Reza! " ucap mereka secara bersamaan.


"Ada apa? " tanya Reza, kemudian Ethan segera berbisik ke arahnya.


Reza mengepalkan tangannya. "Ada senjata? " balas Reza kecil.


"Di balik jaket ku, hanya satu, kamu bagaimana? " tanya Reza.


"Di balik pinggang, cukup buat melumpuhkan saja, " balas Reza.


"Kita pulang sekarang? " tanya Ethan.


"Lebih baik, aku tidak melihat sesuatu yang curiga terhadap Rain, dia sepertinya memang benar-benar dapat kita percaya, " ucap Reza.


"Baiklah, bagus kalau begitu, " ucap Ethan.


"Kenapa kalian bisik-bisik? " tanya Pratama.


"Eh, tidak,Pi, katanya Ethan ada urusan jadi kita pulang sekarang ya, " ucap Reza sedikit berbohong karena tidak ingin menimbulkan kecurigaan.


"Baiklah, hari juga sudah malah dan hujan sedikit reda, " ucap Pratama menyetujui.


Akhirnya mereka memutuskan untuk keluar dari restoran tersebut, Reza terus mengapit adik nya bersama dengan Ethan, ia takut adiknya akan terluka.


"Jangan panik, " ucap Reza.


"No! Justru yang membuatku panik adalah Papi, " jawab Nara melihat Ayah angkat nya sedikit menjauh di depan.

__ADS_1


"Kenapa? "


"Aku takut Papi yang kena, " jawab Nara kemudian melangkah kan kakinya secepat mungkin supaya segera masuk kedalam mobil.


Begitu pula kedua Kakaknya itu, dengan tergesa-gesa mereka mereka melangkah cepat menuju ke arah mobil. Seperti sebelumnya Pratama duduk didepan dan Nara selaludi tengah antara Ethan dan Reza.


Mobil berjalan meninggalkan tempat restoran, namun dari kejauhan dua Pria yang sejak tadi mengawasinya segera menelpon seseorang.


"Kami tidak melihat Rain ikut bersamanya,Tuan, hanya saja ada seorang Pria paruh baya apakah menurut anda itu Ayah nya? " ucap nya.


"....."


"Baik,Tuan, saya akan mencari tau, " jawab nya lagi, setelah itu telpon pun terputus.


"Tuan Arres menyuruh kita untuk mencari tau rumahnya, kita bergegas sekarang, " ujar Pria itu menatap temannya.


"Bagaimana kalau kita ketahuan? "


"Kita tunggu saja mobilnya sedikit menjauh, setelah itu kita ikuti dari belakang, bergerak dengan santai supaya tidak curiga, " balasnya.


"Baiklah. " mereka segera berlari ke arah mobil mereka dan mengejar mobil yang sedang di tumpangi oleh Reza saat ini.


***


"Aman,Za, tidak ada pergerakan, " ucap Ethan perlahan ketika mobilnya sedikit menjauh.


"Syukurlah, " ucap Reza.


Sedangkan Nara kini ia merasakan tubuhnya gemetar dan sedikit berkeringat, ia menahan gejolak itu, ia tau apa yang akan terjadi dengan dirinya.


'Tidak, aku tidak boleh merasakan apapun sekarang, Papi Pratama tidak boleh tau, ' batinnya, ia terus mencengkeram kuat ujung jaketnya hingga terdengar suara bisikan lembut.


"Jangan panik,Nara, Nenek akan melindungi kalian, " sosok itu ialah yang tak lain Nenek Anggie.


"Terimakasih,Nenek, " ucap Nara tanpa sadar membuat ketiga Pria terbengong-bengong.


"Kamu ngomong sama siapa,dek? " tanya Reza.


Nara terkejut karena tanpa sadar mengucapkan hal yang tidak dapat di mengerti oleh Kakanya.


"Iya, kamu bilang Nenek? Disini tidak ada Nenek, " tambah Ethan.


"Ah...ehm tidak ada, hanya berterimakasih kepada mendiang Nenek karena dulu menyelamatkan hidup ku, " kilah Nara berusaha memaksakan senyumnya.


"Nenek sudah tenang di alam sana,dek, jangan sedih, " ucap Reza mengelus kepala adiknya.


"Iya. "


Perjalanan pun terus berlanjut, malam itu terlihat sedikit sepi karena hari sudah sedikit larut dan menjadikan para pengendara mungkin saja sudah pulang ke rumah masing-masing.


*


*


Vote


Like


Komen🥰❤️

__ADS_1


__ADS_2