
*
*
*
Di tengah malam dengan di temani sinar rembulan, Sherly dan anggota lainnya masih tetap berjaga bila ada sesuatu yang mendesak, mereka bersembunyi lewat semak - semak di sekitar sana.
"Vito apakah microphone nya hidup ? " tanya Sherly yang ada disana.
"Iya, " jawab laki - laki yang bernama Vito.
"Apakah kita masuk kedalam saja? Disini kita hanya berdiam diri, " ujar Sherly.
"Tunggu instruksi dari mereka didalam ,baru kita masuk, " jawab Vito tidak mau melanggar peraturan.
Sherly menghembuskan nafas kesal , ia tidak betah hanya berdiam diri di tempat dan tidak melakukan apa - apa namun ia hanya bisa menuruti karena tidak ingin nantinya Reza kesal terhadap nya.
Sedangkan didalam dengan mata elangnya , Nara tidak segan - segan mendorong Reza dan terpental kearah ketiga temannya.
Dor!!
"Br*ngs*k !!" umpat Nara.
Reza terkejut karena dorongan Nara yang cukup keras.
Brak!!
Nara menendang meja yang ada di sana dan mengepal kan tangan nya kuat menahan amarah , ia tidak peduli merakan nyeri yang ada di bagian tangannya.
"Wow ternyata perempuan yang kamu bawa bukan perempuan sembarangan bagaimana kalok aku membelinya saja ? " tawar klien dengan seringai licik nya.
Bugh!
Dengan amarah yang sudah berada di puncak Nara menendang tubuh kekar tersebut dan mundur ke belakang.
"Nara awas!! " teriak Reza yang melihat adik nya hampir terkena peluru.
Sedangkan ketiga temannya sudah beraksi untuk menyerang musuh yang ada disana namun sayang nya mereka kalah jumlah dan akhir nya Ethan segera menghubungi anggota yang berjaga di luar untuk segera masuk.
"Keadaan darurat, disini kami kalah jumlah! " setelah memberi informasi ia membantu temannya yang lain.
"Perhatikan!! Ethan menyuruh kita untuk masuk kedalam, mereka kalah jumlah namun aku harap ada yang berjaga disini juga supaya nanti musuh tidak bisa kabur, dan ingat gunakan senjata seperlunya jangan menggunakan jika tidak penting, " ucap Vito , semua anggota mengangguk menyetujui dan segera membagi diri mereka.
"Aku ikut kedalam, " ucap Sherly dan di angguki oleh Vito , 10 orang masuk kedalam menemani Vito sedangkan sisanya tetap berada di luar.
Bugh!
Bugh!
Nara dengan gerakan lincah menyerang para musuh dan di bantu oleh Reza.
Dor!
Akkkhh!!
Reza sedikit lengah saat salah satu musuh berada pada jarak lima meter darinya dan menyebab kan bahu nya sedikit tergores oleh peluru . Nara yang melihat kakak nya tergores emosinya mulai terbakar karena melihat darah sang kakak mulai mengalir cukup banyak.
Ia dengan cepat berlari mengejar musuh yang melesakkan peluru tersebut dan melayangkan tendangan serta pukulan yang cukup keras sehingga membuat orang tersebut ambruk sehingga Nara merampas senjata yang di pegangnya.
Dor!
__ADS_1
Satu tembakan mengenai dada salah satu musuh dan ambruk bersimbah darah, saat itu pula Vito dan yang lainnya datang dan mulai membantu nya.
Keadaan benar - benar kacau malam itu di sebabkan oleh seseorang yang berkhianat kepada ketua Jungle Kingdom, anak Jungle Kingdom sangat benci dengan seorang penghianat maka bila salah satu dari mereka yang di sergap oleh musuh ia lebih baik mati di banding menjadi pengikut musuh nya karena dalam jiwa Anggota Jungle kingdom tidak di peruntukkan bagi orang - orang yang suka berkhianat.
Nara tetap menyerang begitu pula yang lainnya , sedangkan Reza sudah terlihat sangat pucat karena darah yang terus mengalir di bahu nya. Nara yang melihat kakak nya begitu pucat ia dengan cepat merobek ujung tangtop nya sehingga memperlihatkan sedikit perut mulus nya.
"Kenapa kamu melakukan itu dek? " tegas Reza.
"Bagaimana aku merobek baju kulit ini untung saja aku menggunakan tangtop di dalam, sudah diamlah Kakak mau kehabisan darah dan mati konyol di tempat seperti ini? " tanya Nara garang Reza yang mendengar penuturan adik nya hanya diam.
"Kakak tunggu di sini, musuh sudah berkurang aku yakin setelah ini mereka menyerah, " tebak Nara.
"Hm, hati - hati, " ucap Reza dan di balas anggukan.
Nara mengingat saat dulu ya belajar bela diri bahwa taktik penyerangan harus mengurangi jumlah pengawal musuh supaya jumlah mereka seimbang, kemudian ia dengan gerakan cepat mengambil senjata yang ia rampas dari musuh sebelum nya yang sudah terkapar dan dengan tatapan tajam nya ia mulai melesakkan timah panas tersebut dan berhasil mengenai beberapa musuh.
"Sekarang kita sudah seimbang, apakah kalian masih sanggup atau ingin menyerah? " tanya Nara sambil melengkungkan sudut bibir nya.
"Kamu berani juga mengancam, " jawab Klien yang sudah babak belur karena di hajar habis - habisan oleh Bima.
"Tutup mulut mu itu dasar penghianat !!! " geram Nara.
"Jika di lihat kamu memang sangat berbakat, dan... " ia melirik perut mulus dan putih Nara yang terbuka, "maukah kamu menjadi wanita malam ku? "
Amarah Nara semakin terpancing tidak bisa di tahan. " Bangs***!! " teriak nya.
Dor!!
Semua melongo melihat Nara yang tidak segan - segan menembak pria tersebut hingga ia kehilangan nyawa nya ,termasuk para kakak nya.
"Jika kalian tidak menyerah sekarang juga nasih kalian akan sama dengan bos kalian!! " tekan Nara dengan emosi yang memuncak.
Para musuh yang masih tersisa melepas senjata nya dan menunduk menyerah.
"Bagus... kali ini kalian selamat, tapi satu hal yang harus kalian ingat seandainya kalian kembali mengusik orang terdekat saya bersiaplah organ tubuh serta nyawa kalian akan saya renggut, " ucap Nara kejam ia kembali menatap ke arah Pria yang sudah terkapar tak memiliki nyawa.
Dor!
Dor!
Dor!
Ia melihat ada pisau kecil yang di selipkan di saku celana pria tersebut kemudian Nara mengambil nya dan..
Srekk!!
Srekk!!
Seketika tubuh Klien tersebut layak nya daging yang di iris - iris , ya Nara melakukan itu karena emosi yang sudah tidak bisa ia tahan , ia sangat kejam hati lembut nya berubah menjadi hitam.
"Nara!! " ucap Bima sedikit gemetar.
"Lempar mereka ke tengah laut, supaya mereka menjadi santapan para hiu di sana cepat!!! " teriak nya.
Para anggota bergerak dengan cepat, dan membawa musuh jauh dari sana, Sherly yang melihat Nara yang sebenar nya merasa terkejut karena kemampuan Nara melebihi dirinya.
"Nara!! " Reza datang memeluk tubuh ringkih Nara sambil menepuk punggung nya.
Semua mengerubungi Nara termasuk tiga laki - laki yang sudah menjadi kakak nya , Ethan membuka jaket hitamnya dan mengikatnya ke pinggang Nara menutupi perut nya yang terekspos lalu mereka memeluk Nara dan memberikan ketenangan.
Nara menikmati suasana tersebut, ia memang sadar ketika melakukan hal kejam tersebut namun ketika ia sedang emosi inilah yang ia butuhkan ketenangan dari orang - orang yang menyayanginya.
__ADS_1
"Bagaimana bisa kamu melakukan hal itu dek? " tanya Reza yang sedari tadi tidak berani menganggu apa yang di lakukan oleh adik nya.
"Aku akan melakukannya jika salah satu dari kalian terluka oleh orang yang membenci kalian, " jawab Nara.
"Sungguh luar biasa, " kagum Aldo bahkan ia sempat merinding melihat nya.
"Nara yang ku kira hanya perempuan manja ternyata sesadis ini ya, " ujar Ethan.
"Hahahah kamu memang benar - benar singa yang sedang tidur dek, " canda Bima.
" sh sudah lah, ayok pulang kak Reza sudah pucat kayak gini, " ajak Nara ia juga merasa sangat capek dari tadi berkelahi.
Nara sempat menatap Sherly yang hanya terdiam melihat nya ia pun menghampiri.
"Apakah cuman segitu kemampuan mu, jika kamu benar - benar mencintai kakak ku kamu akan berusaha untuk menolong nya bukan malah mementingkan diri sendiri, " ujar Nara, dia tau bahwa Sherly mempunyai rasa pada Reza karena tingkah laku nya yang begitu arogan dan terlihat sombong, bahkan Nara sempat melihat ketika dirinya di dekati oleh Reza Sherly terlihat cemburu kepadanya.
"Aku... aku ti-tidak_ "
"Aku mengetahui semuanya, jangan berbohong lagi, " ia memotong ucapan Sherly.
"Baiklah sekarang kita pulang dan beristirahat di rumah. "
Para laki - laki yang sedang menunggu di luar mereka lah yang membereskan kekacauan tersebut sedangkan yang lainnya kembali ke Mansion termasuk Reza , Nara dan ketiga sahabat nya.
Mereka sampai di Mansion jam setengah 3 pagi, dengan segera Nara masuk kekamar dan membersihkan tubuh nya setelah itu ia kembali keluar dan menuju kamar Reza , terlihat Reza yang sedang duduk berusaha mengobati lengannya yang terluka setelah ia membersihkan diri.
Nara datang dengan baju piyama nya. " Sini aku obatin, " Nara maraih kotak P3k yang di pegang oleh Reza.
"Kenapa tidak tidur? " tanya Reza.
"Aku mengkhawatirkan Kakak, sudah diamlah jika sakit bilang ya, " ucap Nara ia dengan telaten mengobati luka nya.
"Bagaimana dengan luka di tangan mu? apakah tadi pas menyerang terasa sakit? " tanya Reza melihat tangan Nara dengan perban yang masih utuh.
"Hanya sakit sedikit, kalok tidak di gerakkan akan terasa kaku, " jawab Nara.
Reza hanya diam meluruskan pandangan ke depan meraskan perih di bahunya , pemuda tampan itu masih saja tidak melupakan kejadian tadi mulai dari penghianatan dan kekejam Nara yang sudah muncul.
Ia tau dari dulu Nara adalah perempuan yang ahli dalam bela diri, namun baru kali ini ia melihat bahwa Nara sekejam itu jika dulu Nara hanya marah seperti perempuan biasanya lalu kenapa sekarang menjadi sangat kejam ? Apakah karena tindakan kekerasan yang di lakukan oleh ayah nya membuat Nara seperti ini? Reza berpikir keras namun pikiran nya itu ia abaikan ketika Nara sudah selesai mengobati nya.
"Sekarang Kakak istirahat saja ,aku akan kembali ke kamar, " ucap Nara membereskan kotak obat tersebut.
"Baiklah. "
Setelah selesai Nara keluar dari kamar Reza dan kembali ke kamar nya untuk mengistirahatkan tubuh nya yang terasa sudah sangat lelah.
Baru saja ia memejam kan matanya, memory tentang kejadian tadi masih sangat melekat di kepalanya , seketika tubuh nya bergetar ketika ia mengingat bahwa ia melakukan semua itu dengan sangat kejam air mata seketika mengalir namun matanya masih tertutup rapat ia tak sanggup berbicara ia tak sanggup untuk berteriak keringat sudah mulai membasahi kening nya bahkan baju piyama milik nya.
Sedangkan disisi lain Reza yang masih belum memejamkan matanya ia merasa tidak tenang dengan keadaan Nara, ia dengan segera menuju ke arah kamar adik nya.
Ketika Reza membuka pintu kamar Nara betapa terkejutnya melihat keadaan Nara yang menangis dengan tubuh gemetar.
"Dek.... " Reza mengelus rambut Nara dengan lembut sambil menepuk pipi adik nya.
"Dek... sudah tenang.. jangan menangis lagi jangan takut Kakak disini akan melindungi mu, " bisik Reza lembut , ia membawa Nara kedalam pelukannya sambil mengelus punggung sang adik.
"Aku... ta-takut, " jawab Nara dengan suara terisak.
"Kakak disini melindungi mu jangan takut lagi. "
Reza terus mendekap tubuh Nara tak lama Nara pun merasa tenang dan terlelap dalam pelukan kakak nya pada saat itu pula Reza merasakan hal yang sama dan ikut terlelap di samping adik nya.
__ADS_1