Misteri Cinta Gadis Mafia

Misteri Cinta Gadis Mafia
War pt. 1


__ADS_3

Bismillah 🤲


Happy Reading 🥳💜


*


*


Dalam posisi yang berbeda, beberapa anak buah telah di sebarkan untuk menyelidiki lokasi awal tempat anggota Scale Bones menghubungi pemimpin Jungle Kingdom. Kini Chen dan Eren terlihat terus kesana-kemari memeriksa pondok kecil tersebut. Dengan arus sungai yang ada di sekitar sana cukup terlihat deras dan sangat dalam.


"Tempat ini benar - benar kosong! " Chen yang baru keluar dari sebuah ruangan menggeram.


"Kamu menemukan sesuatu? " tanya Eren.


"Tidak, ini benar - benar kosong, " jawab Chen.


"Kalau begitu ayok keluar, kita kembali saja, " ucap Eren yang sudah merasakan firasat yang tidak enak.


"Mn. "


Keduanya keluar secara bersamaan, namun baru saja ia akan menginjak ke pintu keluar, Chen tidak sengaja menginjak sebuah tombol yang sedikit membuatnya penasaran.


"Apa ini? Perasaan ketika kita masuk benda ini tidak ada, " ucap nya bingung.


Baru saja Eren hendak bicara, tiba - tiba ada tiga orang yang tidak lain anak buah Rain berteriak menyuruh keduanya untuk keluar.


"CEPAT KELUAR DIDALAM ADA JEBAKAN! " teriak anak buah Rain.


Sontak kedua lelaki berumur 20 an itu dengan cepat menjejak lantai dan melompat keluar, tepat ketika mereka melompat suara ledakan serta dorongan yang begitu kuat membuat mereka melayang di udara hingga terjatuh dengan begitu miris.


DUARR!!


Serpihan pada bangunan kecil itu melayang ke berbagai arah, api membumbung begitu tinggi di udara. Sedangkan Eren ia terbatuk mengeluarkan darah berkali - kali, sedikit terasa nyeri pada bagian dada, namun ia segera bangkit.


"Chen! " teriak nya.


"Eren, Chen ada di bawah tumpukan bangunan! " teriak Xichen.


"F*CK! Bocah tengik! Selalu menyusahkan! " Eren segera berlari ke arah sahabatnya.


Xichen membantu kedua sahabatnya pula, setelah di pastikan kedua sahabatnya baik - baik saja, mereka segera menyusul Eren membantu mencari Chen.


"Suzhi, bantu aku mengangkat kayu ini, " teriak Eren tergesa-gesa.


Suzhi yang masih sempoyongan segera berlari ke arah Eren bersama yang lainnya. Chen terlihat begitu menyedihkan di bawah kayu yang sedikit terlihat mengandung bara api yang masih menyala, matanya terpejam apakah ia masih hidup ataukah tidak.


Eren merasa sesak melihat sahabatnya yang tak sadarkan diri, meski Chen sering membuat ulah kepadanya tetapi sungguh ia sudah menganggap Chen sebagai adiknya sendiri.


Setelah berusaha mengangkat potongan serpihan kayu dari bangunan tersebut, Eren segera mengangkat tubuh lemah Chen ke tempat yang lebih aman.


"Ai Jia, hubungi Komandan Rain, kita telah dijebak di sini, " ucap Suzhi kepada temannya.


"Baiklah. " lelaki itu segera menyalakan alat komunikasi nya dan segera menghubungi Rain.


"Komandan Rain, dugaan kita benar, disini mereka telah memasang alat peledak secara tersembunyi, " ucapnya memberi informasi.


"Dimana kalian? Apakah Eren dan Chen baik - baik saja? Bagaimana yang lainnya juga? " tanya Rain yang di dengar oleh Reza beserta yang lainnya.


"Chen terkena serpihan kayu dari bangunan, dia tidak sadarkan diri, dan kami baik - baik saja, hanya Chen yang terluka, " balas Ai Jia.


Rain menatap ke arah Reza apakah mereka boleh di suruh kembali ataukah lanjut mencari yang lainnya, setelah Reza mengangguk Rain kembali bersuara.


"Kembalilah ke markas, " ucap Rain.


"Siap, Komandan. "


Setelah alat tersebut tidak tersambung lagi, Ai Jia kembali ke tempat Chen di letakkan.


"Komandan Rain menyuruh kita untuk kembali, " ujar nya.


"Apa kalian membawa kendaraan? " tanya Eren.


"Iya, aku dan Suzhi berkendara bersama, kamu boleh pakai kendaraan satunya, dan satunya lagi Ai Jia yang pakai, " ucap Xichen.


Setelah semuanya di sepakati, Eren bersiap mengangkat tubuh Chen namun suara erangan begitu terdengar keras.


"Akkkhh.. " Chen kemudian terduduk di atas tanah.

__ADS_1


"Chen, kamu baik - baik saja? " tanya Eren panik.


"Sial! Scale Bones f*ck.. mereka menjebak kita! " umpatnya memegang kepala yang sedikit berdenyut.


"Benar, sudah lah, beruntung kamu cepat bangun, jadi aku tidak susah - susah mengangkat tubuh sialan mu! " ketua Eren.


"Dasar Pak Tua! " kesal Chen menatap sinis.


Eren hanya menulikan pendengaran nya, kemudian bergegas menuju motor yang telah terparkir di sekitar sana.


"Chen, apakah Eren selalu seperti itu? " tanya Ai Jia yang membantu Chen.


"Tentu saja, dia seperti bapak - bapak selalu marah, " dengus Chen.


"Apakah dia memiliki istri? " tanya Suzhi ikutan.


"Hahah, bagaimana mungkin dia memiliki istri? Lihatlah wajah nya sudah cukup membuat wanita manapun ketakutan, " cibir Chen dengan seringai di wajah nya.


Kedua anak buah Rain mengangguk. "Sampai kapan kalian bergosip di belakang?! " suara Xichen mengagetkan ketiganya.


"Cih... kamu selalu merusak suasana! " kesal Suzhi.


"Jangan membuat ulah! Disini bahaya! " suara tegas Xichen membuat mereka hanya menurut.


Mereka kini menaiki motor yang sudah di tentukan oleh Xichen, seperti yang Xichen bilang kalau ia akan bersama Suzhi sedangkan Ai Jia berkendara sendiri dan Eren bersama dengan Chen. Mereka meninggalkan tempat tersebut tanpa mereka sadari sedari tadi ada salah satu orang yang sedang memantau mereka.


"Tuan, mereka telah pergi, tidak ada satupun yang terluka, " lapornya kepada Arres.


***


Sesampainya di markas kelima lelaki yang tadi tekena ledakan pada bangunan kecil tersebut kini di cecari berbagai macam pertanyaan oleh Reza, sedangkan Rain hanya diam menyaksikan dan mendengarkan seluruh jawabannya.


"Kami tidak menemukan apapun, sepertinya mereka telah pindah lokasi, " ucap Eren.


"Baiklah, semuanya sudah tentu sekarang kita tinggal menyalakan alat pelacak yang ada di sepatu Nara, " ucap Aldo bergegas ke depan layar komputer.


Semua ikut melihat ke arah layar, sedangkan Ethan hanya duduk diam tanpa berkata apapun. Sherly yang melihat hal itupun mendekat.


"Semua khawatir Ethan, jangan terlalu lemah seperti ini, " ucap Sherly.


"Sejujurnya aku tidak tau harus bersikap seperti apa kepada Nara, Sher, " ucap Ethan lesu.


Ethan menatap Sherly lekat. "Nara tidak terlalu berharap kepada ku, hanya saja kami telah membuat janji setelah urusan ini selesai aku akan pulang ke negara asal, dan disana apakah dia bisa menunggu ku atau tidak, " jawab Ethan.


"Aku pikir biarkan semuanya mengalir sampai mana hubungan kalian berdua akan pasti, " ucap Sherly menepuk pundak Ethan.


"Tentu saja. " Ethan menghela nafas panjang lalu membuangnya perlahan.


Sama hal nya dengan Ethan dan Sherly, Galen dan juha Arzan yang kini terlihat tak berdaya begitu banyak beban yang keduanya tanggung. Perusahaan yang begitu besar apakah akan bangkrut karena insiden kebakaran itu? Bagaimana mereka akan bisa mengembalikan nya? Dan adik mereka keduanya kini tertangkap sedangkan Hanna ibu mereka mengalami demam yang cukup serius karena tidak bisa untuk beristirahat.


Aldo baru saja akan memulai titik pencarian lokasi yang di tempati oleh Nara, namun sebuah notice muncul di layar, dengan cepat Aldo mengkliknya.


"Ada sesuatu yang di kirim oleh mereka, " ucap Aldo membuat semuanya mendekat.


"Tunggu apa lagi? Putar videonya, " perintah Bima.


Reza tampak gemetar, sesuatu terasa merambat dalam hatinya, apa yang mereka kirim? Tanpa pikir panjang, Aldo memutar video tersebut.


Begitu video berputar jeritan yang begitu terdengar pilu dan tersiksa kini terdengar oleh semuanya.


"Nara!! " teriak Reza, ia mendekat ke layar melihat bagaimana sang adik di siram begitu kejam dengan Alkohol pada luka yang ada di punggung nya.


Sherly mendekat. "No,no.. Nara hiks... Nara..!! " Sherly tiba - tiba saja terjatuh dan lemas setelah melihat Video mengerikan itu.


"F*CK*Ng Scale Bones! Arres! Kamu bukan manusia!! " umpat Rain.


Dengan cepat ia menekan nama pada layar HP nya berusaha menghubungi seseorang. Semua nampak begitu syok ketika melihatnya.


"Nara,,,, tidak... " Bima menggeleng sedangkan Ethan begitu terlihat tak berdaya.


"Aku gagal,,, aku gagal.. " jatuh sudah air mata Reza, Aldo menahan tubuh nya.


"Za... tenanglah,, Nara gadis yang kuat, bukan saat nya kita bersedih, ayok cepat kita selamat kan Nara, " ucap Aldo menenangkan.


Arzan melihat layar bersama Galen kemudian tak sengaja melihat Jennie yang terkena rekaman tersebut, ia menangis dengan Galen yang menahannya.


"Aku akan membunuhmu Arres! " ucap Reza tertahan.

__ADS_1


"Reza! Cepat lah bawa Nara keluar dari tempat itu.... hiks... apakah kamu tega membuat semuanya bertele-tele?! " amuk Sherly.


"Sher,, sudah... kita akan bergerak kesana, " ucap Bima.


"Semuanya keterlaluan! " desis Ethan.


Rain telah selesai menghubungi beberapa pasukannya yang masih tersisa di berbagai macam tempat, setelah itu ia bergegas mengambil beberapa alat nya.


"Tidak ada waktu untuk menangisi apapun, jika kita terlambat sedikit saja mereka berdua akan mati disana! " ucap Rain membuat semuanya terkejut.


Reza segera berdiri. "Maksud kamu apa mengatakan hal itu? " tanya Reza dengan tatapan tajam.


"Katakan dengan jelas! " bentak Bima.


"Tuan Aldo langsung saja hidupkan pelacak, sambung ke alat komunikasi masing-masing, saya tau tempat persembunyian mereka, " ucap Rain.


Kembali semuanya hanya menatap tidak faham, Rain menghela nafas sejenak. "Saya baru menghubungi mata - mata saya, ternyata dia berada di tempat yang sama dengan Arres, saya sudah memberitahu bahwa adik Tuan Reza di tangkap, dia akan masuk kedalam penjara bawah tanah mengamankan mereka sebelum Arres datang kembali, " jelas Rain lugas.


"Jadi kamu mempunyai mata - mata? " tanya Ethan.


"Benar, tidak ada pentingnya menjelaskan, cepatlah kita kesana, jangan tunggu waktu apapun, tetapi kita harus bergerak hati-hati, " ucap Rain.


Semuanya mengangguk, Reza meminum seteguk air yang tersedia di ruangan tersebut, memasang rompi anti peluru dan menaruh beberapa senjata di tubuh nya, begitu pula yang lainnya.


"Seperti nya sebentar lagi mereka akan tau pergerakan kita, itu sebab nya kita harus tetap waspada, Tuan bolehkah saya menjadi komando hanya untuk sementara? " ucap Rain memberanikan diri.


Semua mengerutkan kening termasuk Sherly yang kini sudah siap dengan rompinya dan beberapa senjata. "Maksud kamu apa? " tanyanya.


Reza faham apa yang di maksud oleh Rain, ia percaya karena Rain juga pernah menjadi anak buah Arres oleh sebab itu sudah pasti Rain lebih tau segala sesuatunya di banding dirinya yang tidak pernah sama sekali berurusan dengan Organisasi yang begitu licik dalam hal apapun itu.


"Baik lah, aku percaya. "


Jika sudah Reza yang mengatakan hal itu semuanya kini mengangguk setuju. Arzan pula telah siap dengan rompi yang di berikan oleh Reza begitu pula dengan Galen.


"Kalian berdua saudara tertua saya, saya sedikit merasa tidak sopan karena yang mengatur kalian adalah saudara ketiga, " ujar Reza.


"Tidak masalah, kamu berkuasa disini Reza, " ucap Arzan menepuk bahu Reza.


"Ayok semuanya kita bergerak sekarang! " seru Aldo yang sudah menyambung alat komunikasi nya dengan alat pelacak yang telah di hidupkan.


"HIDUP JUNGLE KINGDOM! HUUURRRRAAAAHHHH!! " teriak Chen bersemangat.


"HURRRRAAAHHHH!! " sambut yang lainnya, bahkan anak buah Rain juga ikut - ikutan.


Semuanya kini keluar dari markas dan akan berhenti pada lokasi yang sudah di tentukan oleh Rain, sebelum pergi juga Arzan sempat pamit kepada kedua orang tuanya untuk menyelamatkan adik mereka, Arzan menyuruh Jonathan untuk beristirahat disini, karena tempat ini cukup aman dengan beberapa anak buah Rain yang akan berjaga.


Setelah berpamitan keduanya memasuki mobil yang sama dengan Reza. Mobil melaju cukup kencang menuju lokasi perbatasan tempat perang yang akan sebentar lagi di mulai.


Namun seketika mobil mereka berhenti ketika melihat dua motor terparkir ketika mobil mereka hendak melaju.


"Tuan Rio, Tuan Vito? " Rain segera menyapa.


"Jangan memanggil ku dengan sebutan seperti itu, panggil nama saja, " ujar Rio.


"Benar, itu terlalu formal, " tambah Vito.


"Kalian habis kemana dari tadi? " suara Bima mengejutkan mereka.


Bahkan ketika Reza keluar keduanya terlihat begitu pucat pasi.


"Maaf, Za, kami berdua pergi tanpa memberitahu siapapun, semenjak Queen di tangkap oleh Furio kami berdua langsung bergerak cepat dari kejauhan, " jelas Vito.


Reza mengangguk. "Jelaskan nanti, " ucap nya.


"Kalian selalu menghilang tiba - tiba, cepatlah kita akan pergi ke lokasi Scale Bones, " ucap Aldo.


"Baiklah, kami sudah tau tempatnya, " ucap Vito.


"Rain, kami bertemu mata - mata mu disana, dia sudah mengatakan akan segera membebaskan Nara asalkan kita akan segera bergerak, " kata Rio.


"Aku sudah tau, jadi cepatlah! " Rain begitu langsung terlihat akrab kepada dua orang Jungle Kingdom ini. Reza tak ambil pusing, yang ia inginkan hanyalah kembalinya sang adik.


Kemudian mereka semua bergegas ke arah lokasi tersebut dengan Vito, Rio, dan juga Rain yang menjadi depan.


*


*

__ADS_1


Maaf typo and alur gk nyambung 🙏🙏🙏


__ADS_2