
Bismillah 🤲
Happy Reading 🥳💜
*
*
Menjelang malam, kini anak buah Jungle Kingdom telah membebaskan musuh nya yang bernama Rain atas permintaan sang raja Jungle Kingdom, begitulah salah satu kemurahan hati Reza.
Ia bisa merasakan sebuah ketulusan yang pasti dari laki-laki itu, ia bisa menilai mana yang harus di musnahkan dengan sungguh-sungguh dan mana yang tidak perlu di musnahkan.
Ia juga seorang manusia memiliki hati, faham dengan apa yang telah di bicarakan oleh laki - laki tersebut, jadi ia dapat memastikan bahwa laki - laki itu telah menyesal atas apa yang ia lakukan.
"Hari ini kamu akan ikut pulang dengan ku, " ujar Reza datar.
"Tapi bagaimana dengan orang tua saya, Tuan? " tanya Rain menunduk.
"Apakah kamu tega pulang dengan wajah seperti ini? kalau orang tuamu bertanya kamu jawab apa? " tanya Reza balik.
"Hmmm i-iya. " akhirnya mau tak mau Rain hanya pasrah untuk ikut.
Kini Nara keluar bersama Ethan, mereka bersiap untuk segera kembali ke arah Mansion Jungle Kingdom sebelum pulang ke Mansion William. Mereka bersama meninggal kan tempat itu, hanya saja Yeru dan Qui berdiam untuk menjaganya.
"Yeru, Qui, aku percaya sama kalian untuk menjaganya, sampai Mansion aku akan menyuruh anak buah yang lain menemui kalian disini supaya tidak terlalu sepi, " ujar Reza menepuk pundak sahabat nya itu.
"Terimakasih, Tuan, kami akan menjaganya sebaik mungkin, " jawab Yeru dan Qui kompak.
"Baik-baik disini, kalau ada yang mencurigakan cepat laporkan, " tambah Rio kepada anak buahnya itu.
"Siap,Komandan Rio! " jawab mereka kompak.
***
Sementara Reza menyiapkan segala perpindahan Rain ke tempat yang aman, kini di negara yang sama namun berbeda tempat seorang Pria tengah bertukar pesan dengan seseorang yang jauh dari negara tersebut, ia sesekali menyeringai memikirkan sebuah rencana yang akan mereka buat.
[ Apa yang akan kita lakukan setelah mereka gagal menangkap perempuan itu? ] tanya Pria tersebut.
[ Berikan beberapa serangan yang cantik, bukankah kamu memiliki banyak akal? Buat mereka tidak tenang! ] jawab yang di seberang.
[Kapan kamu akan muncul Arres? ] tanya Pria itu.
Arres [ Kamu tidak perlu bertanya tentang ku,Hirou, aku akan keluar bila sudah waktunya, jika kamu berhasil menjebak mereka atau gadis itu gaji mu akan bertambah tiga kali lipat! ]
Hirou [ Baiklah, aku akan melakukan nya dengan baik! ]
Setelah berkirim pesan yang tidak terlalu panjang, ia hanya menghela nafas memikirkan rencana apa yang akan mereka gunakan untuk mengganggu ketenangan mereka?
***
Kembali ke Reza beserta rombongan nya, kini Reza telah pamit kepada sahabatnya untuk kembali pulang ke Mansion William, tak lupa Ethan dan juga Nara yang akan mengawasi gerak - gerik yang mencurigakan dari Rain.
Mobil merah telah sampai di halaman Mansion keluarga Reza, semua turun dari mobil dan melangkah cepat masuk kedalam, Nara tetap bergelayut manja di lengan Kakak nya layaknya pasangan suami istri yang begitu mesra.
"Apapun yang terjadi di dalam kalian berdua jangan terkejut, " ujar Reza kepada Ethan dan Rain.
__ADS_1
"Iya,Za. "
"Iya,Tuan. "
Reza yakin pasti Keluarga nya sedang berada di ruang tamu, melihat mobil Ayah nya yang terparkir di garasi cukup membuatnya tahu bahwa keluarganya ada di dalam.
Muka Nara berubah dratis, ia melepas tangannya dari lengan kekar sang Kakak, wajahnya berubah begitu dingin sangat dingin dan datar, ia masih terngiang-ngiang dengan ucapan dari saudara perempuan nya itu.
Maka ketika mereka berempat memasuki ruang tengah, seluruh yang ada di ruang tamu menoleh ke arah mereka. Reza menarik Nara ke belakang untuk melindunginya dari tatapan orang tua nya itu.
"Tahu jalan pulang kamu? " suara Jonathan yang sedikit tinggi.
Reza hanya melirik sekilas lalu melangkah tidak memperdulikan ucapan Ayahnya, Ethan dan Rain hanya saling lirik sambil menggidikkan bahu.
"Berani sekali kamu mengacuhkan saya Reza! Anak macam apa kamu ha?! " bentak Jonathan sekali lagi.
Reza menghentikan langkahnya, ia melirik ke arah mata tajam yang menghadap nya. "Tidak perlu ikut campur dengan urusan saya! " balas Reza dingin.
Hanna langsung berdiri bersama yang lainnya, hingga kini Hanna berada di hadapan Reza. "Dasar anak kurang ajar! " jerit Hanna ingin melayangkan tamparan namun seketika tangannya hanya berhenti di udara karena tiba - tiba Nara menahannya.
"Jangan sentuh Kakak ku dengan tangan sialan mu ini! " Nara menghempas kasar tangan Hanna.
"Nara! " teriak Jonathan.
"Jangan berteriak atau kalian semua tidak bisa berteriak seumur hidup! " teriak Nara lebih keras, seketika tidak ada seorang pun yang tau kapan Nara mengambil sebuah pisau kecil nan tajam dari balik jaketnya, ia melayangkan pisau tersebut ke arah samping Jennifer yang sedang terbelalak. Dan dengan gerakan cepat pula Nara berhasil menghentikan pisau itu menancap di mata Jennifer.
"Apa - apaan kamu ha! " teriak Jonathan terkejut.
"Ini adalah salah satu peringatan untuk anak mu! Sekali lagi dia berani menatap dua orang di belakang Kakak saya dengan imajinasi busuknya, saya tidak akan segan - segan menancap kan pisau ini pada mata kurang ajar nya itu! " ancam Nara.
"Sekarang minggir! Atau mata kalian semua tertancap pisau itu satu - satu! " kini Reza menatap pada keluarganya dengan tatapan tajam.
"Nara, ayok! " Reza menarik lengan Nara yang masih terbakar emosi.
"Nara kenapa,Za? " bisik Ethan di telinga Reza.
"Sssttt diam,,, nanti dia ngamuk.. " balas Reza.
Rain mengerutkan kening bingung melihat Reza dengan Ethan berbisik-bisik, tak tahan karena diam terus ia bertanya dengan suara perlahan. "Ada apa? " tanya Rain menyolek bahu Ethan.
"Ssstt diam,, nanti Queen ngamuk, " ujar Ethan menunduk, begitu pula Rain.
"Ajari adik kamu sopan santun, Za, jangan berlaku kurang ajar seperti ini, " ucap Arzan dingin.
Reza tak mengindahkan ucapan Arzan, ia langsung menarik Nara naik ke atas ruangan bersama yang lain, Arzan yang merasa di abaikan mengepalkan tangan nya erat. Begitu pula Jonathan, namun berbeda dengan Jennie ia malah tersenyum tanpa bisa di artikan.
Sampai kamar di kamar milik Reza kini mereka duduk di sebuah sofa yang tersedia disana, Nara baru pertama kali memasuki kamar Kakak nya, selama ini ia tidak pernah sama sekali karena alasannya malu.
"Kita disini? " tanya Ethan.
"Sementara ruang tamu akan di bersihkan oleh pelayan, kalian bisa tunggu disini, Nara kamu boleh masuk kamar, " ujar Reza.
"Iya,Kak, " Nara segera melangkah keluar menuju kamarnya.
Sedangkan ketiga lelaki itu berbincang-bincang mengenai mereka berdua yang tinggal disana.
__ADS_1
"Ibu mu akan di jemput oleh anak buah Rio, kamu disini saja dulu, setelah semuanya siap kamu akan pindah ke tempat yang lebih aman, " ucap Reza datar.
"Sekali lagi terimakasih,Tuan, " ucap nya.
"Jangan sekali-kali kamu berkhianat atas kebaikan Reza, kalau tidak kamu akan merasakan akibatnya, " ucap Ethan dengan tatapan tajam.
"Saya janji tidak akan berkhianat, Tuan, maafkan saya. " Rain menunduk takut.
"Hm. " Reza hanya menanggapi dengan anggukan kepala.
***
Saat ini Nara menyusuri jalan menuju kamar nya, namun ketika ia baru empat langkah ia mendengar suara kedua orang tuanya berbicara, hingga membuat langkah Nara terhenti.
Sebenarnya, di lantai dua ruangan ada tujuh, kamar milik Reza berada di paling ujung, sedangkan kamar milik Jonathan dan istrinya hanya berjarak ruangan kerja Jonathan hingga ketika Nara ingin pergi ke kamar nya ia melewati kamar Ayah dan ibunya termasuk para saudaranya yang lain. Nara juga memilih kamar yang paling pojok dan sebelahnya ialah kamar Arzan.
"Sayang aku mau ngomong sesuatu, " ucap Jonathan.
"Kamu mau ngomong apa,Mas? " tanya nya.
"Ibu tidak memberikan ku memegang harta warisan di rumah ini, " ujar nya jujur, tentu saja Hanna terkejut.
"Apa? Kenapa bisa? " tanya Hanna melotot.
"Aku tidak tau, sepertinya ibu sudah tidak percaya lagi dengan ku, " ujar Jonathan.
"Lalu siapa yang berhak atas harta warisan ini? " tanya Hanna semakin penasaran.
"Reza! " tentu saja nama itu membuat seseorang yang berada di balik pintu terkejut,namun ia semakin penasaran.
"Nggak,Mas, pokonya aku nggak mau tau, lalu dimana surat itu? " tanya Hanna.
"Ada di ruangan kerja ku, kamu tenang saja, aku tidak akan memberikan Reza memegang nya,bisa - bisa dia berkuasa di rumah ini, " ucap Jonathan dengan licik nya.
"Kamu harus menyimpan rapat-rapat, aku tidak mau jadi gelandangan kalau sampai anak tidak berguna itu yang memegangnya, " ucap Hanna berdecih.
****
Nara mengepalkan tangan kuat setelah mendengar kenyataan ini, ia memaki kedua orang tuanya dalam hati. Bisa - bisanya mereka begitu licik terhadap anak sendiri.
"Kalian memang keluarga licik! " desis Nara, ia segera membalikkan badannya, tentu saja menuju ruangan kerja milik Ayahnya.
Dengan langkah perlahan-lahan, ia memasuki ruangan tersebut, mengunci menutup pintu itu namun tidak menguncinya, takut akan Ayah nya yang tiba-tiba masuk dan curiga kalau ia menguncinya.
"Pokonya aku harus menemukan surat-surat itu sebelum Dady datang, " ucap Nara, matanya sudah memerah menahan gejolak amarah.
Seketika ia mengendap-endap menyusuri seluruh lemari tempat berbagai macam berkas milik perusahaan Ayahnya, tiba - tiba suara seorang wanita paruh baya mengagetkan nya.
"Nenek akan membantumu,Nara. " suara lembut itu berada di sebelah lemari tempat nya berdiri sekarang.
"Ne-nenek.. " ucap Nara tergugup. Pasalnya ia tidak pernah melihat hal-hal seperti ini, apakah ini juga termasuk keistimewaan nya? Ah dia sungguh beruntung,tetapi tidak dengan mimpi-mimpi nya, akan kah ia bisa tenang nantinya?
Bayangan Ibu Anggie mengangguk dan tersenyum dengan muka pucat nya, ia menunjuk sebuah map berwarna hijau sambil berucap. "Di bawah nya. "
"Terimakasih,Nenek, " ucap Nara tersenyum, seketika bayangan itu hilang, Nara dengan cepat mengambil map berwarna cokelat yang ada di bawah map berwarna hijau.
__ADS_1
Setelah mengambilnya,Nara memeriksa dengan cepat, apakah itu benar atau tidak. "Kalian memang jahat! Tidak pantas di akui sebagai orang tua! Aku pastikan kalian akan merasakan balasannya! " desis Nara, lalu dengan segera melangkah keluar menuju kamar nya, tidak lupa menutup pintu supaya tidak ada yang terkesan mencurigakan.