
Bab ini khusus tentang Reza dulu ya🙂❤️❤️
Bismillah 🤲
Happy Reading 🥳💜
*
*
Masih berada di sebuah Markas, setelah membicarakan tentang kejanggalan pada penyerangan beberapa hari yang lalu, Reza sebagai pemimpin Jungle Kingdom semakin merasa resah, belum pasti menemukan sebuah jalan keluar yang akan membawanya dalam posisi aman.
Memikirkan keselamatan sang adik, tentu adalah hal yang utama yang selalu ia pikirkan, bagaimana nanti jika Reza tak ada di posisi nya maka Nara akan dalam bahaya? Ya, meskipun Nara sekarang menjadi adik dari para sahabatnya bahkan Ethan yang sudah mengklaim Nara sebagai kekasihnya belum tentu bisa selalu bersamanya jika saja Nara akan berpergian.
Di tambah lagi dengan Ethan yang akan pergi tinggal beberapa hari lagi ke negara asalnya, melaksanakan tugasnya sebagai seorang anak untuk merawat sang Ibu yang tengah sakit- sakitan.
"Apakah masih tidak ingin mengaku? " Reza yang sedari tadi mengamati anak buah nya untuk menginterogasi seorang lelaki yang memiliki nama Arres itu muak dengan kekeras kepalaannya.
Yeru menggeleng. "Belum, Tuan, bahkan dia sudah pingsan sekarang. "
"Baiklah, bagaimana dengan yang disana? " Reza menunjuk ke arah Aldo yang terlihat tangannya berlumuran darah.
Aldo menatap ke arah Reza. "Cih... baj*ngan baj*ngan ini sulit sekali untuk mengaku. " Aldo membuang kasar sapu tangan nya ke arah lantai.
Darah dari kaki Furio terlihat mengucur deras, jelas saja Aldo melakukan hal yang sama dengan Yeru dan Qui, mencabut kuku tahanannya.
"Hmm.. sepertinya dia sudah di ajarkan begitu keras oleh Tuannya, " ujar Reza menatap kedua tahanannya itu.
Aldo mengangguk. "Begitu kerasnya sampai sulit untuk mengaku, bahkan mereka lebih memilih mati daripada mengaku. "
Reza menghela nafas kasar, kemudian menatap Bima yang ada di sampingnya. "Bim, mungkin aku akan kembali ke Mansion William, aku belum menyelidiki perusahaan mereka yang terkena serangan ledakan, " ujar Reza.
Bima dan Aldo terkejut. "Kapan? " tanya Bima.
"Sekarang, dan sendiri. " tentu saja saat ini Reza memilih untuk tidak pernah melibatkan Nara dalam situasi apapun.
"Bagaimana dengan Nara? " tanya Aldo, ia berpikir kalau Reza mengabaikan sang adik.
"Aku mengabaikan nya bukan karena aku tidak suka dia berhubungan dengan Ethan, tetapi aku tau jika saja aku berada di dekatnya musuh akan semakin mudah untuk menargetkan dirinya, aku..... tidak ingin lagi melibatkan nya dalam hal apapun, aku sudah cukup tau kemampuannya, " jawab Reza.
"Aku percaya padamu, " ujar Bima menepuk bahu sahabatnya itu, apapun yang sedang di lalui mereka selalu tetap bersama dan saling mendukung.
Raut wajah kesedihan nampak tercetak jelas di wajah Reza, ia sebenarnya tidak rela untuk melakukan hal ini, mengabaikan sang adik mungkin akan membuat sebuah kesedihan tersendiri untuk Nara nanti, tetapi ia bisa apa? Musuh begitu licik, bahkan hingga sekarang Reza belum menemukan satu jawaban sedikitpun.
"Jangan beritahu Nara tentang apapun itu, jangan lupa beritahu Ethan nanti untuk menjaganya selama aku pergi, " ujar Reza, ia bahkan sudah menyiapkan segalanya sebelum kesini.
"Baiklah, kamu harus berhati-hati, " ucap Bima.
"Mn, aku juga perlu mengunjungi Cafe ku, karena beberapa hari ini aku belum berkunjung kesana, jika nanti Nara bertanya katakan saja aku ada urusan. " Reza telah bersiap untuk pergi sebelum Sherly masuk kedalam.
"Kamu akan pergi? " Sherly yang sedari tadi sudah berada di dekat pintu masuk keruangan tersebut mendengar pembicaraan itu.
"Ya, temani Nara beberapa hari ini, jangan biarkan dia bersedih. "
__ADS_1
Aldo, Bima dan Sherly tau apa yang di maksudkan oleh pemimpin itu, mengabaikan demi kebaikan tetapi bukan berarti Reza terus mengabaikan sang adik, Reza akan tetap memantau dari kejauhan meski ia tidak berada di dekat Nara.
Sherly melihat kesedihan di wajah lelaki itu, hatinya ikut bersedih, bagaimana tidak? Ketika Reza dan Nara sedang bersama-sama tingkah lakunya terlihat begitu menggemaskan, manja bahkan Nara sedikit nakal. Reza tidak mempermasalahkan tingkah Nara yang begitu aktif dan lincah ketika di dekatnya, ia hanya berkata bahwa apapun yang di lakukan sang adik asalkan Nara bahagia jika bersamanya.
"Nara pasti akan bersedih, " ujar Sherly menunduk.
"Aku percaya kepada kalian, kalian sudah menganggap nya adik sendiri, aku yakin apapun yang terjadi dengan Nara kalian akan melakukan hal apapun itu, " ucap Reza, memandang ketiga sahabatnya itu.
Aldo kemudian merangkul Reza. "Aku yakin apapun keputusan mu, Za, tetapi setidaknya bawa salah satu anggota dari kita. " Aldo tidak rela membiarkan Reza sendirian, karena terkadang dialah yang selalu menemani sahabatnya itu.
Reza mengangguk. "Baiklah, aku sudah memikirkan, mungkin aku akan membawa Vito dan juga Rio, apakah kalian tidak keberatan? " tanya nya.
Aldo, Sherly dan juga Bima serentak menggeleng. "Tentu saja tidak, selagi mereka bisa menemani mu, kami setuju, " ucap Bima.
"Baiklah, aku juga percaya pada kalian, " ucap Reza yang langsung di angguki oleh ketiganya.
Tak terasa mata tajam yang sering ia tunjukkan di hadapan musuh, air mata lolos begitu saja. Bima mendekat ke arah Reza begitu juga dengan Sherly. Beruntung mereka sudah jauh dari tahannya itu.
"Aku tau ini sulit, Za, jangan khawatir kami akan selalu bersama mu, bahkan mati pun kami siap untuk mu, " ujar Bima yang langsung mendapat geplakan keras di kepala nya, tentu saja siapa lagi yang berani melakukan hal itu selain Reza?
"Jangan bicara sembarangan! Aku tidak akan membiarkan kalian mati begitu saja! " dengus Reza kesal.
Bima hanya nyengir, kemudian mendapat sikutan dari Sherly. "Kalau saja kamu mati, aku tidak akan pernah mau menggali kuburan untuk mu, biarkan saja mayat mu membusuk! " ketus Sherly.
"Hahahahah, Sherly khawatir sama kamu, Bim, jangan ngomong sembarangan! " celetuk Aldo yang langsung di tatap tajam oleh Sherly.
"Siapa yang khawatir? Jangan kege'eran!! " elak Sherly.
Tentu saja Bima yang menyaksikan hal itu menyeringai. "Apakah kamu mengelak, Lily? " ucapnya dengan begitu lembut.
"Cih... bukan untuk mu, tapi untuk nya, " jawab Bima menatap Sherly yang kini menatap dirinya seolah-olah ingin mencekik dirinya.
"Jangan memanggilku seperti itu! " teriak Sherly kesal, mukanya sudah memerah, bukan karena marah tetapi jelas ia malu, tetapi karena sifat gengsinya yang terlalu tinggi ia akan selalu berusaha mengelak.
Reza dan Aldo sudah tidak bisa menahan tawanya, apakah kedua orang yang ada di hadapannya ini sedang jatuh cinta tetapi malu untuk mengakui?
"Sudahlah, Bim, jangan terus menggodanya, lihatlah wajah nya sudah memerah! " seru Aldo sambil terus tertawa.
"Tutup mulutmu! " bentak Sherly, tentu saja bentakan itu tidak mempan bagi Aldo.
"Hahahah, baiklah... baiklah, aku hanya bercanda. "
"Lily, jangan memarahinya, lihatlah wajah mu, apakah kamu sedang sakit? "
"Cih.. aku tidak akan menjawab mu ! Dasar bodoh! " umpat Sherly, ia memilih untuk keluar saja dari ruangan itu. Lama - lam di dalam ia bisa saja stres dengan hal seperti itu, bayangkan dia sendiri perempuan sedangkan didalam ada tiga lelaki yang siap selalu untuk menggoda nya.
Sedangkan didalam ketiga lelaki itu telah meredakan tawanya.
"Kamu tidak mengejar nya? " tanya Reza menatap Bima yang masih tersenyum, entah senyum apakah itu.
"Menurutmu? " setelah mengatakan hal itu, Bima langsung keluar begitu saja meninggalkan Reza dan juga Aldo yang kini sama - sama menggelengkan kepala.
"Huh... Sherly terlalu gengsi untuk mengakui perasaannya, " kekeh Aldo.
__ADS_1
"Itu urusan mereka, biarkan saja. "
Kemudian Reza memanggil Yeru dan Qui untuk berpamitan, tak lupa untuk tetap berjaga dengan baik, setelah itu ia mengajak Aldo keluar dari sana.
Di luar, Rio dan Vito terlihat sedang mengobrol dengan para anak buah lainnya, bahkan tak lupa dengan bidak catur yang sudah ada di atas meja, mereka tidak menyadari bahwa ketua mereka keluar dari ruangan tersebut.
"Baiklah, aku akan pergi, jangan katakan tentang hal ini pada Nara, cukup katakan kalau aku ada urusan, " ujar Reza mengingatkan Aldo.
"Tentu saja, jaga dirimu baik - baik, kami akan selalu ada untuk mu, " ucap Aldo, tak rela membiarkan Reza sendirian tetapi apa yang bisa ia perbuat?
Reza mengangguk, kemudian berjalan ke arah kerumunan lelaki yang sedang asyik sendiri bermain catur, ketik salah satu menyadari kehadirannya segera menunduk hormat.
"Tuan Muda Reza, " ucap nya kemudian menunduk.
Mereka yang menyadari hal itu langsung melepas permainan nya dan menunduk memberi hormat.
Reza terkekeh. "Lanjutkan saja, tetapi aku harus membawa dua teman kalian apakah tidak keberatan? " tanya Reza sambil menunjuk Vito dan Rio.
"Tentu saja tidak, Tuan, tidak apa, " jawab salah satu dari mereka.
"Baiklah, kalian boleh melanjutkan permainan, " ujar Reza dengan senyuman tipisnya.
"Terimakasih, Tuan, " jawab mereka dan di angguki oleh Reza.
"Vito, Rio, ikutlah, aku akan berbicara sebentar sebelum kita pergi. " Rio dan Vito yang di panggil pun langsung mendekat dan mengikuti arah langkah Reza yang kini memasuki sebuah ruangan yang tidak jauh dari sana.
Setelah masuk keruangan Rio langsung bertanya. "Ada apa? "
Reza menatap kedunya sebelum menjawab. "Aku sudah membuat keputusan kalau kalian akan ikut denganku menyelidiki masalah ini sampai selesai, aku percaya pada kalian, " ucap Reza.
Keduanya terkejut, tumben sekali sahabat sekaligus sahabatnya ini akan membawa nya. "Serius, Za? " tanya Vito.
"Mn, tapi sebelumnya kita ke Mansion William, karena aku sempat lupa tentang ledakan yang di alami oleh perusahaan keluarga ku, " ujar Reza.
"Baiklah, kami siap membantu, " ujar keduanya bersamaan.
"Ya, kita pergi sekarang, " ujar Reza.
"Tetapi bagaimana dengan Queen? " tanya Rio.
"Biarkan saja dia bersama yang lainnya, aku sudah memberitahu Bima dan yang lain agar mengatakan kalau aku ada urusan, " jawab Reza.
"Lalu kamu bawa mobil kesini? " tanya Vito.
"Tentu saja, sudah lah ayok lebih baik kita segera pergi sekarang, " ucap Reza yang langsung di angguki oleh keduanya.
Setelah berpamitan dengan yang lain, Reza, Vito dan juga Rio kini mulai berangkat meninggalkan Markas tersebut, beruntung saja Ethan dan Nara tidak melewati tempat Reza memarkir kan mobilnya. Reza sengaja menaruh mobilnya cukup jauh dari arah Markas supaya tidak menimbulkan kecurigaan karena ia tau pasti sang adik tidak akan berhenti bertanya jika saja ia melihat mobil Reza padahal jarak antara Mansion Jungle dengan Markas tidak terlalu jauh.
*
*
Terimakasih bagi yang sudah mampir, jangan lupa like Vote dan komen ya🙏😁😁
__ADS_1
Maaf atas keterlambatannya update 🙏😁