Misteri Cinta Gadis Mafia

Misteri Cinta Gadis Mafia
Di dalam sebuah hutan


__ADS_3

Bismillah 🤲


Happy Reading 🥳💜


*


*


*


"Kenapa dari tadi kamu diam dek? " tanya Ethan sambil berjalan menyusuri jalan hutan.


Nara memandang lekat ke arah Ethan. " Tak apa, Kak, " jawab nya singkat.


"Kakak tau kamu pasti merasa bersalah soal sherly kan? "


"Darimana Kakak tau? "


"Sedari tadi kamu diam saja kan saat di ruangan nya. " menghadap ke arah depan Nara yang sedang berjalan.


"Ck... Kakak jangan di depan nggak bisa jalan, " ujar Nara mendorong kecil tubuh Ethan.


"Kalau Kakak tidak mau? " menaikkan sebelah alis nya.


"Terserah. " Nara melangkah dan memajukan bibirnya ke depan.


"Kamu gemas sekali, " ucap Ethan mencubit pipi Nara.


"Awh sakit, Kak." Nara memicingkan matanya kesal.


Ethan tak perduli dengan kekesalan Nara, mereka berdua melanjutkan perjalanan menuju kesebuah tempat yang tidak pernah di lihat oleh Nara.


"Kak kita mau kemana dari tadi perasaan kita hanya jalan terus malah sudah jauh dari Mansion lagi? " tanya Nara yang sudah merasakan kakinya yang pegal sambil menepuk - nepuk nya.


"Kaki kamu pegal ya? " bukannya menjawab Nara, Ethan justru menatap Nara yang menepuk kakinya.


"Sedikit."


"Kalau gitu baik ke punggung Kakak yuk." sambil berjongkok di depan Nara.


"Ish Kakak nggak usah,, aku masih bisa jalan, " tolak Nara


"Serius nih nggak mau? "


"Iya, udah sana jalan! " seru Nara.


"Yasudah kalau nggak mau, kasihan loh kaki kamu pegal, " ucap Ethan lagi.


"Ish Kakak bawel deh, ku kira Kakak nggak bisa bawel juga, " kekeh Nara


"Makaknya ayok naik, " tawar Ethan lagi.


"Yasudah deh."


Mau nggak mau Nara memilih menuruti ucapan Ethan, karena kakinya juga sudah terasa sangat pegal.


Hari sudah cukup terlihat gelap, suasana di sekitar hutan cukup gelap namun beruntung saat ini sinar rembulan mulai tampak sehingga menambah sedikit cahaya di tengah hutan itu.


"Kak Ethan tidak takut apa jalan di tengah hutan malam - malam gini? " tanya Nara di atas punggung Ethan.


"Tidak,, buat apa takut? Sudah biasa jalan - jalan seperti ini, " jawab nya.


Semua orang pasti akan merasa takut ketika sudah berada di hutan yang cukup luas, namun tidak bagi Ethan ia justru menganggap malam itu adalah pagi dimana ia terkadang sering berkeliling hanya untuk mengurangi beban pikirannya dan sampai sekarang ia masih melakukan hal itu.

__ADS_1


Setelah cukup lama berjalan tibalah kaki Ethan menapaki sebuah batu yang cukup besar, terlihat rimbunan semak - semak belukar yang sedikit memanjang dan cukup rimbun menghalangi ia pun menyingkap nya dan terlihat lah sebuah Telaga yang begitu indah.


Betapa terkejut nya Nara yang berada di atas punggung Ethan, mata nya seketika membulat tak percaya dengan apa yang ia lihat , ternyata di tengah hutan seperti ini ada pula keindahan yang tersembunyi.


***


Sinar rembulan semakin terlihat terang, bintang - bintang bertaburan memperlihatkan cahaya nya walaupun tak mampu seperti bulan untuk menyinari keseluruhan di muka bumi, namun meski begitu bintang tak pernah ingkar untuk selalu menampakkan keindahannya di setiap mata yang akan memandang nya.


Bintang juga mengajarkan kita bagaimana menerangi kehidupan ini dengan hal yang baik meskipun hanya sedikit cahaya yang mampu merubahnya.


"Akkkhhh...!" terdengar suara teriakan frustasi dari arah kamar yang tertutup rapat.


Tok.. tok.. tok..


Ia pun segera melangkah untuk membuka pintu.


"Ada apa, Bim? " tanya Reza yang terlihat kusut.


"Kamu kenapa teriak - teriak nggak jelas? Sampai luar suara kamu, " ucap Bima sembari melangkah masuk kedalam.


Reza pun menutup pintu dan mengikuti kearah Bima. " Hmm Nara belum balik kan? "


"Memangnya kenapa? Owh aku mengerti gara - gara dia kamu jadi seperti ini? " tanya Bima seketika ia pun tertawa terbahak-bahak membuat Reza mengerutkan keningnya.


"Kamu kenapa tertawa?! " kesal Reza.


"Jelaslah kamu ini lucu sekali, Za,, baru saja Nara dibawa keluar sama Ethan kamu sudah frustasi gini, kayak di tinggal nikah sama pacar saja," cibir Bima.


"Ini sudah malam dan kamu bilang baru saja, kamu ini bagaimana sih kita juga baru selesai di serang dan dia sudah pergi kelayapan, " jelas Reza sedikit emosi.


"Kamu jangan berpikiran buruk, Za, Nara juga butuh ketenangan, kamu tidak melihat saja tadi bagaimana dia begitu merasa bersalah terhadap Sherly sehingga membuatnya terlihat down, " ujar Bima.


"Kan aku sudah bilang kalau dia tidak bersalah."


"Tapi bagaimana kalau terjadi apa - apa di luar dan Ethan tidak menjaga nya dengan baik ? " tanya Reza khawatir.


"Aish sudah lah, kamu percaya sama Ethan tidak mungkin dia membiarkan Nara kenapa - napa, " ucap Bima merasa bahwa reza terlalu overprotective.


"But_" belum sempat Reza meneruskan ucapannya, Bima sudah langsung melengos keluar dari kamar Reza tak perduli apa yang di katakan nya.


"Dasar sahabat nggak ada akhlak... kebiasaan!! " geram Reza.


"Kamu mengumpat ku, Za?!!! " teriak Bima yang belum cukup jauh dari kamar itu.


"No! jangan kegeeran!! " timpal Reza sedikit terkejut.


Bima yang berada di luar hanya tersenyum geli menatap kekesalan Reza dan ia pun menuju ke arah kamar Sherly dimana ada Aldo yang sedang asyik menatap ponsel nya di sofa.


"Kamu habis kemana, Bim? " tanya Aldo menatap Bima yang sudah masuk.


Bima duduk di dekat Aldo. " Huhh habis lihat Reza."


"Ada apa dengannya? " tanya Aldo menutup ponsel nya, ya beginilah kalau ada yang berbicara harus mendengar nya dengan baik atau menghargai apa yang di bicarakan itulah yang di ajarkan oleh Reza, saat jadi pemimpin Jungle Kingdom karena ketika diri kita ingin di hargai maka hargai pula orang lain.


"Tau tuh stres dia, kayak di tinggal nikah aja sama si Nara, " jawab Bima.


"Hahahah jadi dia cemburu? " kekeh Aldo.


"Kayaknya."


"Bisa aja dia, bucin banget sama adek nya sudah kayak pacaran saja, " ujar Aldo.


"Hmm entahlah kisah mereka , oh ya Al, kamu sudah mengetahui siapa yang menyerang kita tadi? " tanya Bima mulai serius.

__ADS_1


"Aku tadi sudah berbicara dengan Reza dan yang lain termasuk Vito sama Rio, aku sempat menemukan tato di tangan Pria yang tidak sadarkan diri dan tato itu berlambang mata elang, menurut mu siapa musuh kita yang mempunyai tato itu? " tanya Aldo.


"Aku seperti pernah mendengar nya, tapi aku juga lupa, " ujar Bima sama persis seperti Rio.


"Nara memberikan arahan supaya nanti kita akan berjaga di setiap jalanan yang kita lewati, dan bahkan dati penyerangan tadi Nara menduga bahwa ada salah satu pasukan kita yang berkhianat, " jelas Aldo serius.


"Mereka menginginkan Nara, sepertinya ini bukan musuh baru, tapi musuh lama, " tambah Aldo lagi.


Setelah mendegar penjelasan itu, Bima hanya mengangguk dan kembali berpikir tentang rencana - rencana yang akan mereka susun selanjutnya.


***


Suara bising hewan malam menambah suasana kesunyian yang mencekam, namun tidak bagi dua insan yang sedang takjub menatap keindahan di tengah hutan yang cukup lebat dan sangat luas.


"Wah... aku tidak menyangka ada tempat indah di hutan ini kak," ujar Nara dengan takjub.


"Hm kakak selalu kesini kalau bosan di mansion," jawab nya tersenyum.


Benar saja Telaga yang penuh di hiasi dengan berbagai macam warna bunga teratai, serta bunga - bunga lainnya yang tertanam di pinggir telaga itu, lampu di setiap masing - masing pohon yang berjejer rapi dan di tata indah dengan sedemikian rupa. Entah harus menjelaskannya seperti apa lagi dengan berbagai keindahan di setiap sisi tempat tersebut.


Nara menghirup udara dalam - dalam dan menghembuskan nafas dengan perlahan, hati nya saat ini berasa sangat lega di tempat tersebut beban pikiran nya seketika lenyap dan yang di rasakan sekarang hanyalah ketenangan sambil menikmati keindahan tempat tersebut di atas hamparan rumput - rumput yang luas.


"Kamu senang kan? " tanya Ethan menatap Nara.


"Of course!!! " jawab Nara antusias.


Ada perasaan aneh yang di rasakan oleh Ethan ketika memandang wajah Nara tepat di sinari oleh sinar rembulan, rambut yang di ikat bawah serta di biarkannya sedikit bergelombang di samping, hidung mancung serta mata bulat dengan bulu mata yang lentik , wajah putih bersih tanpa alat kosmetik sungguh kencantikan yang alami.


"Kenapa memandang ku seperti itu? " sinis Nara ketika melihat Ethan yang terus memandangnya.


"Ha?? ng.. no! .. ish geer ya, tuh ada ulat di kepala kamu, " canda Ethan membuat Nara seketika menjerit dan refleks memeluk tubuh tegap Ethan.


Deg!


"Aaaa!!! mana - mana,, nggak ada,Kak, Kakak bohong kan!! " jerit Nara bahkan kini ia mendusel di tubuh Ethan.


"E.. ee hehe i-iya maaf Kakak bercanda sudah nggak ada ulat " jawab Ethan sedikit terbata.


"Ish apaan sih nggak lucu bercanda nya," kesal Nara dan melepas pegangan nya pada Ethan.


"Heheh ya kamu sih siapa suruh kegeeran, " elak Ethan.


"Aku tidak kegeeran, emang itu kenyataan nya kalau Kakak mandang aku dari tadi, " ujar Nara tak mau kalah.


"Hm terserah," ucap Ethan pasrah.


Seketika mereka hening, Nara berdiri dan mulai melangkah meninggalkan Ethan.


"Hey mau kemana? " tanya Ethan mengikuti arah langkah Nara.


"Hanya melihat sekeliling, " jawab nya.


"Kakak ikut ya, " tawar Ethan.


"Dih nempel terus, " desis Nara.


"Ya terserah, lagian Kakak yang bawa kamu kesinikan? " menautkan kedua alisnya.


"Hm."


Nara tak banyak bicara dan mulai melangkah meninggalkan Ethan yang ada di belakang nya, ia menatap sisi - sisi telaga tersebut sambil sesekali menikmati udara malam yang sedikit menusuk masuk kedalam kulitnya.


*

__ADS_1


*


__ADS_2