
Bismillah 🤲
Happy Reading 🥳💜
Tanpa pikir panjang, Jennie langsung melempar pisau ke arah Nara tepat di tengah dahi, kebencian membuatnya buta sehingga ia nekat melakukan segala macam yang bahkan ia tidak tau apa akibat nya setelah ini.
Pisau yang akan mengenai Nara gagal mengenai tengah dahinya, karena kini sebuah bayangan secepat kilat langsung menendang pisau tersebut membuat semua mata terbelalak.
"Rain! " ucap Ethan dan Reza bersamaan.
"Keluarga macam apa kalian! " teriak nya menggelegar.
"Kamu orang luar tidak berhak ikut campur! " teriak Jonathan mengambil Vas bunga kaca dan ingin melempar kembali.
Prang!
Vas tersebut di tendang kuat oleh Rain ke arah Jennie dan Jonathan, hampir mengenai wajah salah satunya, namun Rain dengan sengaja hanya untuk melesetkan tendangan itu supaya tidak benar-benar melukai keluarga tersebut, sebenarnya ia bisa saja langsung menghantam kan Vas itu ke arah wajah Jonathan, namun ia tau batas nya disini sehingga hanya memberikan sedikit peringatan bahwa ia bisa melawan.
Ethan kini menendang Arzan dan Galen kemudian mengeluarkan pistol di balik jaketnya. "Bergerak sedikit saja kalian akan mati tanpa kepala! " gertak Ethan.
"Reza! Bawa Nara ke kamar! " teriak Ethan.
Reza terus mengarahkan pistol tersebut kearah wajah keluarganya, untuk berjaga-jaga jika sesuatu yang terjadi pada Nara maka peluru sudah siap untuk bersarang di tubuh mereka.
"Ayah baj*ngan! Bahkan mungkin tidak pantas di sebut Ayah, Ibu dengan hati busuk! Saudara dengan hati iblis! " maki Rain, ia membantu Nara untuk berdiri.
"Kalian pikir saya hanya diam ketika melihat tiga orang ini terluka? Jangan harap! Bahkan detik ini juga mungkin saja kalian akan tewas jika saya mau, tapi saya tahan karena saya memang baru disini " ucap Rain penuh dengan rasa emosi, ia menatap satu persatu wajah yang menyiratkan kebencian tersebut.
"Tutup mulut mu laki - laki tidak tau malu! Ibu mu ngajarin apa sehingga kamu berani ikut campur dalam masalah keluarga kami! " teriak Jennie.
"KAMU YANG SEHARUSNYA MENUTUP MULUT MU J*L*NG! " jerit Rain hingga urat di lehernya kian menonjol saking emosinya.
"Jangan pernah sebut Putri saya j*l*ng! " teriak Hanna.
"Dan tolong ajari Putri mu untuk jangan pernah sedikitpun membawa Ibu saya! " balas Rain.
__ADS_1
Ethan dan Reza mengangguk mendekat ke arah Nara yang berada dalam pegangan Rain, kini tiga Pria untuk sang gadis yang begitu terlihat malang.
"Saya tidak menyangka rumah yang begitu megah di isi oleh orang tua yang tidak berprikemanusiaan, bahkan memperlakukan anak nya sendiri layak nya seorang budak yang bisa di injak-injak harga dirinya begitu saja! " desis Ethan, ia berada di hadapan Nara menghalangi pandangan mata yang benci terhadap nya.
"Saya bahkan malu menganggap mereka keluarga, bila perlu saya tidak akan kembali kesini lagi, tetapi kata mendiang Nenek saya, saya masih punya hak disini! " timpal Reza berada disisi kiri adiknya.
"Wah hebat sekali, tiga Pria menjadi pahlawan untuk seorang gadis tak berguna! Heh kalian di bayar apa? Gadis itu cuman beban, dan kalaupun saya anggap dia anak saya apa kata dunia? Dia hanya akan menjadi seonggok sampah dengan sifat culun nya, " kekeh Jonathan, bahkan kini ia tertawa keras.
Nara kini membuka perlahan matanya, ia sedari tadi menenangkan pikiran serta perasaan nya, karena ia teringat guru bela dirinya pernah mengajarkan bahwa ketenangan bisa meredakan rasa sakit dalam tubuh dan bisa menjernihkan pikiran nya.
Nara menghela nafas, mengambil pisau yang ada di bawah kakinya, tanpa pengetahuan siapapun ia melesat layaknya sosok tak kasat mata ke arah belakang Jennie. Ia tidak peduli akan mimpinya yang tadi, ia hanya ingin memberi sedikit peringatan kepada Jennie bahwa ia bukan Nara yang lemah lagi seperti dulu.
"Sepertinya kamu akan kehilangan satu Putri! " desis Nara di telinga Jennie, pisau sudah berada di leher nya membuat yang lainnya terkejut.
"Lepaskan aku! Sialan! Gadis tidak tau di untung! " maki Jennie.
"Maki sekali lagi saya gorok leher kamu! " bentak Nara.
"Jangan sentuh Putri saya! " teriak Hanna ingin mendekat.
"Momy! Jangan mendekat! Dady jaga momy, jangan biarkan dia mendekat! " teriak Jennie.
"Hahahah, hey! Kak Reza, kira -kira ini drama apa ya? " kekeh Nara menatap Kakak nya yang hanya memandang terdiam bersama Ethan dan Rain.
"Drama Broken Home! " timpal Rain terkekeh.
"Hmm.. menarik, sekarang saya minta kamu bertekuk lutut di hadapan saya dan minta maaf! " tegas Nara kepada Jennie.
"Cih, bertekuk lutut di hadapan mu sama saja mencium seonggok sampah! " balas Jennie sinis, harga dirinya di depan semua bisa rusak kalau sampai ia berlutut.
Nara melepas Pisau tersebut dan mencekik kuat leher Jennie. "Tuan Jonathan! Pilih sekarang, bertekuk lutut atau Putri kesayangan mu ini akan mati kehabisan nafas! " ucap Nara.
"Kkkhhhh! " suara Jennie tak bisa keluar saking kencangnya cekikan Nara.
Kali ini Nara sudah kehabisan kesabaran dalam menghadapi keluarganya saat ini, mereka sungguh kelewatan batas sampai ingin membunuh Nara, sudah cukup ia di rendah kan dan di kandung nya sendiri.
__ADS_1
"Kamu dengar apa yang di bilang sama Nara! " bentak Reza pada Jennie.
"Lakukan atau kepala keluarga mu hancur di depan mata mu sendiri! " kini Ethan yang berteriak, ia sekarang menodongkan Pistol ke arah Jonathan, begitu pula Reza, ia menodongkan Pistol ke arah ibunya sendiri, bayangkan saja orang yang telah melahirkan nya kini dengan berani ia akan membunuh menggunakan tangan sendiri? Ah, Reza sudah tidak peduli! Keluarga nya saja tidak mengakui dirinya dan Nara sebagai anak, buat apa ia terus bersikap sabar?
Rain mengambil dua buah pisau dari balik pinggang nya dan mengarahkan pisau tersebut ke arah leher Arzan dan Galen.
"Lepaskan saya! Dasar laki - laki b*j*ngan!! " maki Jonathan kepada Ethan.
"Tutup mulut mu atau saya robek! " bentak Ethan tajam.
"Sekarang pilih,Tuan Jonathan! " teriak Nara, bibir Jennie sudah membiru karena kesulitan bernafas.
"Jennie lakukan! " teriak Jonathan.
"Mas! Apa yang kamu katakan? Kamu mau merusak harga diri kita semua? " jerit Hanna.
"Momy jangan egois! Atau kita semua mati! " teriak Galen.
"Sudah dengar kan? " ucap Nara di telinga Jennie. "Cepat lakukan! " bentak nya.
Nara sedikit melonggarkan cekikikan nya hingga Jennie sedikit lunglai sambil mengangguk. "I-iya. " ucap nya terengah.
Akhirnya mau tak mau Jennie pun pasrah dan berlutut di hadapan Nara setelah Nara melepaskan cekikikan nya. "Ma-maaf! " ucap nya lalu segera berusaha pergi dari sana dan menaiki tangga untuk masuk kedalam kamar.
"Hm, anak mu sudah selesai, lepaskan dia! " ucap Nara kepada tiga Pria yang menodongkan senjata.
"Baik! " jawab mereka bersamaan dan kembali melepaskan senjata tersebut.
Tanpa berkata apapun Jonathan masuk kedalam kamar bersama istrinya, begitu pula Galen dan Arzan. Nara yang melihat itu menyeka sudut bibir nya yang sedikit mengeluarkan darah karena robek akibat tamparan Jonathan.
Sedangkan di balik jendela, Kebo dan Lue telah berhasil mendapatkan berbagai macam kejutan untuk Tuannya, ia menyeringai dan segera keluar dari Mansion tersebut dengan cara mengendap-endap.
*
*
__ADS_1
Tinggalkan jejak 🙏🥰