Misteri Cinta Gadis Mafia

Misteri Cinta Gadis Mafia
Pengutaraan yang gagal


__ADS_3

Bismillah 🤲


Happy Reading 🥳💜


*


*


Hujan semakin deras mengguyur jalan raya, para pengendara sepeda motor terlihat memilih untuk berteduh di sisi jalanan. Angin berhembus semakin kencang, tetapi pada saat itu sebuah mobil melintasi genangan air sehingga membuat orang yang sedang berteduh di sisi jalan terkena cipratan air tersebut.


"Woii! Berhenti!! Kamu harus tanggung jawab!!! " teriak Pria itu.


Seseorang yang berada di dalam mobil tersebut berhenti, ia mengeluarkan payung dan berlari ke arah Pria yang meneriaki nya.


"Maafkan saya, Pak, saya tidak sengaja, " ucapnya sambil menangkupkan kedua tangannya.


"Jika maaf berlaku, maka orang tidak akan pernah masuk penjara! " bentak nya, ia bahkan mendorong kasar Pemuda itu.


Sontak semua orang yang berada di sekitar sana, segera bergegas melerai perdebatan itu.


"Kamu harus ganti rugi! "


"Apa yang harus saya ganti, Pak? " tanya nya.


"Kamu tau harga baju saya ha? Ini keluaran terbaru, limited edition! Dan sekarang kamu dengan sengaja melintas sehingga menyebabkan nya menjadi kotor! " ucapnya mengerang marah.


Pemuda itu ingin sekali tertawa, ia tau model baju di zaman sekarang, ia tau model baju limited edition, ia tahan saja tertawaan nya daripada semakin menambah masalah.


"Baiklah, saya akan ganti rugi, kirimkan nomor rekening mu. " ia memilih untuk mengalah.


"Saya mau cash! Saya tidak menerima uang transfer, bagaimana kalau kamu membohongi saya? " tantang nya.


"Tapi, Pak, saya sedang tidak membawa uang, ayoklah, Pak, saya masih ada kerjaan mendadak, ini kartu nama saya, jika saya berbohong datanglah kerumah saya, " ucap pemuda itu memberikan kartu namanya.


Saat sedang kacaunya suasana hari ini, terlihat mobil merah melihat di sisi jalanan.


"Mohon maaf, ini ada apa? " tanya seseorang yang ada didalam mobil tersebut.


"Tadi, Pemuda itu tidak sengaja melintasi genangan air, mungkin terburu-buru, dan Bapak itu meminta ganti rugi harus di bayar cash, " jelas orang yang ada disana.


"Kenapa masih ramai begini? " tanya salah satunya.


"Pemuda itu tidak membawa uang cash. "


Didalam mobil salah satu dari mereka mengerutkan kening. "Za, kita turun aja liat siapa dia, kasihan, " ucap Vito.


"Mn. " Reza mengangguk, merekapun mengambil payung lalu keluar dari mobil.


Orang - orang yang sedang berkerumunan segera menyingkir ketika melihat tiga lelaki yang berjalan ke arah mereka.


"Ada apa ini? " suara bariton Reza membuat perdebatan itu seketika berhenti.


"Tuan Muda Reza? " kembali mereka melihat ke arah Pemuda tadi.


"Rain? " tak kalah terkejutnya, Reza melihat Rain yang sedang terlihat sangat frustasi dalam keadaan acak-acakan.


Baju sederhana yang ia pakai, terlihat basah akibat payung nya yang tidak di pegang dengan benar.


"Kenapa kamu basah kuyup? Apa yang kamu lakukan? " tanya Reza.


"Eh, maafkan saya, Tuan, saya tidak sopan dengan berpenampilan seperti ini, " jawab Rain kelimpungan.


Pria yang tadi terus meminta ganti rugi sekarang menatap Reza. "Apakah kamu temannya? Baiklah, kalau begitu saya minta ganti rugi cash atas kecerobohan teman kamu! " ucapnya.


Rio yang mendengar hal itu langsung menatap horor. "Pak, ucapan anda di jaga, anda sedang berhadapan dengan orang yang_ "


"Rio! " tegur Vito memotong ucapan sahabatnya itu.


"Saya tidak mau tau, pokoknya kamu yang harus mengganti rugi harga baju saya! " ucapan final.


Rain tidak terima bila Reza yang harus kena imbasnya nya, ia pun mendekat ingin melayangkan pukulan nya tetapi Reza langsung menahan tangannya.


"Baiklah, berapa kerugian yang harus di bayar? " tanya Reza dingin.

__ADS_1


"Tuan Reza! "


Reza menatap Rain dengan tatapan yang sulit di artikan sehingga Rain tidak berani berkutik.


"10 juta dollar! "


"F*ck... Anda sengaja mau memeras Tuan saya ha? Saya tau harga baju anda tidak mencapai harga segitu! " bantah Rain.


"Diam kamu! Apakah kamu bisa membayar kalau kamu tidak ingin Tuan mu ini membayarnya? "


"Pria br*ngs*k!! " amuk Rain.


"Rain! Hentikan! " cegah Vito melarang Rain yang hampir menerjang tubuh Pria itu.


"Lepaskan aku, Vito! Pria ini sudah keterlaluan!! " ucap Rain meronta.


Reza yang melihat keributan itu tidak tahan untuk segera mengeluarkan black card nya, lalu melemparkannya ke arah Pria itu. "Apakah itu cukup? Jika belum maka dengan senang hati aku akan menjual organ mu untuk menambah nya! " ucap Reza datar.


Kerumunan yang mendengar hal itu bergidik ngeri, bahkan Pria itu pula seketika susah untuk menelan salivanya.


"Apakah kalian tidak ada kerjaan selain melihat hal ini? BUBAR KALIAN SEMUA ATAU MATA KALIAN KU COLOK SATU - SATU! " bentak Rio.


Semua orang langsung berlari meninggalkan tempat itu untuk mencari aman, mendengar ancaman Rio yang tidak kalah mengerikan membuat mereka sudah bersumpah untuk tidak akan bertemu dengan nya lagi.


Sementara Rain menatap ke arah Reza. "Tuan, maafkan saya telah merepotkan saya akan menggantinya, " ucap Rain merasa bersalah.


"Tidak perlu mengganti nya, kamu hanya perlu membantuku, " ujar Reza.


"Baiklah, apa yang bisa saya bantu? " tanya Rain.


"Urusan nanti, kamu kembalilah, aku akan menyusul mu ke markas mu nanti, " ucap Reza.


"Baiklah, Tuan, terimakasih untuk hari ini, " ucap Rain.


***


Setelah kejadian yang membuat heboh di sisi jalan, Rain telah kembali ke markasnya, sedangkan Reza pergi menuju cafe untuk menemui sang manager.


Reza menoleh sebentar ke arah sahabatnya. "Mn, bagaimanapun juga, Rain pernah menjadi anak buah dari Arres, " jawab Reza.


Rio yang di belakang nampak berpikir. "Kamu yakin, Rain tidak berkhianat? "


"Aku sudah memperingatkan nya, kalaupun dia berkhianat dia akan tau akibat nya. "


Vito dan Rio hanya menghela nafas, ia tidak bisa mencegah apapun keinginan Reza, keras kepala yang di miliki nya sudah mendarah daging di tubuh Reza.


Selang beberapa menit mereka pun sampai di Cafe tersebut.


Seluruh pegawai di Cafe tersebut menatap ke arah kedatangan sang pemilik Cafe, mereka langsung berbaris memberi salam hormat.


"Selamat datang, Tuan Muda Reza, " ucap salah satu karyawan Cafe itu.


"Mn,dimana manager Ema? " tanya Reza.


Ema yang sedang sibuk menata berbagai macam peralatan yang akan di gunakan untuk hari ini segera menoleh karena merasa terpanggil, setelah melihat bahwa yang datang adalah Bos nya, ia segera berlari menghampiri.


"Selamat datang, Tuan, maaf saya tidak menyambut lebih awal, " ucap nya menunduk.


Reza mengangguk. "Siapkan ruangan! "


"Baik, Tuan. "


"Yang lain kembalilah bekerja, " perintah Reza.


"Baik, Tuan. "


Setelah Ema menyiapkan ruangan, ia mempersilahkan Ketiga pria itu masuk kedalam.


"Apakah ada kendala? " tanya Reza.


"Tidak ada, Tuan, semuanya berjalan dengan lancar, " ujar Ema.


Pembicaraan berlangsung lama, mulai dari Reza menanyakan tentang berapa orang yang ingin berinvestasi dalam usaha perkembangan Cafe nya.

__ADS_1


Cafe yang telah lama di bangun bersama sang nenek, dan kini menjadi miliknya, sudah terkenal dimana-mana. Reza begitu bersyukur, usaha mereka tidak sia - sia selama ini.


***


Disisi lain, terlihat seorang Pria dan perempuan sedang duduk dengan lamunan masing-masing. Menatap sebuah kolam renang, hening, tak ada satupun di antara mereka yang berbicara.


"Sher/ Bim! " ucap keduanya bersamaan.


"Kamu duluan/Kamu duluan! " kembali mereka mengucapkan hal yang sama.


Canggung, itulah yang dirasakan oleh keduanya. Bima menghela nafas panjang, lalu membuangnya perlahan.


"Apa yang sedang kamu pikirkan? " tanya Bima mengawali pembicaraan.


Sherly menoleh. "Tidak ada, hanya menikmati suasananya. " sambil meraih minuman dingin yang telah ia siap kan sebelumnya.


"Sher. " Bima meraih tangan Perempuan yang ada di hadapannya.


"Hm? " tak bisa di pungkiri, Sherly merasa terkejut dan canggung dalam situasi seperti ini.


"Aku sejujurnya.... "


"Sejujurnya apa? " desak Sherly, ia tidak suka jika seseorang berbicara setengah-setengah.


"Aku_ "


"Ekhem!!! " suara deheman keras mengagetkan keduanya , Sherly dan Bima langsung kembali ke posisi masing-masing.


'Anak sialan!!! ' umpat Bima dalam hati.


Seandainya, jika bukan Nara yang ada disana sudah pasti orang yang berani mengganggu suasa tersebut bakalan tidak selamat dari hajaran sang Komandan Jungle Kingdom itu.


"I'm sorry, apakah kami mengganggu? " tanya Nara.


"Sangat!! " jawab Bima pelan namun masih di dengar oleh mereka.


Sherly langsung saja menginjak kaki Bima dengan keras nya membuat sang empu berteriak.


"Akhhhh!! Sakit! Sialan! " teriak Bima menatap Sherly.


"Bicara itu di pikir-pikir! " sembur Sherly.


Nara yang melihat hal itu hanya bisa menahan senyum, lalu mendapat bisikan dari Ethan. "Sepertinya,kita salah mengganggu mereka. "


"Aku tidak tau, apakah kita biarkan saja? " tanya Nara.


"Ayoklah kita pergi, nanti saja kalau ada waktu baru kita berbicara dengan mereka, " ajak Ethan.


"Baiklah. "


"Kalau begitu kalian lanjutkan saja, kami pergi dulu. " tanpa menunggu balasan dari mereka yang sedang asyik berdebat Nara dan Ethan pergi meninggalkan tempat itu.


"Yakan memang benar! Mereka mengganggu! " balas Bima tak mau kalah.


"Tapi itu Nara, Bim. Mungkin ada yang mau di bicarakan, iyakan Nar_ "


Hening!


Keduanya telah pergi.


Bima refleks menoleh. "Keduanya benar-benar! Pergi begitu saja! "


"Ini semua salah mu! " kata Sherly merajuk.


"Loh, kok aku? "


"Terserah! " Sherly pergi meninggalkan Bima sendirian disana.


"Hey! Sher, aku belum selesai ngomong! " teriak Bima menahan Sherly.


"Bodo amat!! Males ah! " Sherly pun tak mempedulikan Bima yang sudah terlihat frustrasi di belakangnya.


Tanpa di sadari oleh Bima, Sherly tersenyum tipis mengingat bahwa betapa kesal nya Bima saat ia akan mengutarakan perasaannya. Sherly tau semuanya, ia juga merasakan hal yang sama, tetapi ia hanya bisa menunggu waktu yang tepat untuk keduanya bisa melakukan hal yang lebih romantis lagi.

__ADS_1


__ADS_2