
*
*
*
🌲🌲🌲
Tak terasa jam berganti hari, hari berganti minggu.
Suasana yang di tinggali oleh seorang gadis cantik namun terlihat tegas kini cukup membuat nya terasa lebih tenang, tidak ada yang menganggu ataupun mengusik nya.
Angin sepoi menerbangkan ujung rambutnya yang bergelombang menatap ke arah jendela menikmati suasana hutan.
Tanpa ia sadari seseorang masuk kedalam kamar nya.
"Kamu sudah siap dek? " tanya Reza.
"Eh Kakak, kapan datang? " tanya nya.
"Baru aja kamu melamun sendiri mikirin apa? " tanya Reza.
"Nggak nyangka aja Kak, kita harus kembali kerumah itu lagi, " ucap Nara dengan perasaan yang tidak bisa di artikan.
Reza memegang kedua bahu adik nya. " Apakah kamu takut dengan mereka? " tanya Reza lagi.
"Tidak, aku sekarang sudah sembuh dan sudah banyak latihan di sini buat apa aku menakuti mereka, " jawab nya.
"Bagus kalau begitu, ingat jangan pernah mau di rendahkan oleh mereka kamu mempunyai harga diri yang tidak pantas mereka injak - injak, " ucap Reza bijak.
"Iya Kak pasti, tapi apakah Kakak akan pergi setelah aku disana ? " tanya Nara balik.
"Tidak! Kakak akan terus menemani kamu tidak akan pernah meninggalkan mu sendirian, " jawab Reza mantap.
"Baiklah. "
Ia memeluk tubuh kakak nya erat mencari kenyamanan untuk perasaan nya yang sedang terasa kacau.
"Yaudah ayok keluar famit sama yang lain, " ajak Reza dan di angguki oleh Nara.
Di luar semua anak Jungle Kingdom sudah berkumpul karena sebelum nya di beritahukan bahwa Reza akan kembali ke rumahnya.
Mereka duduk dengan rapi di ruang tengah termasuk Sherly yang merasa sedih karena Nara harus pulang dan lagi - lagi membuatnya sendirian.
Tak lama kemudian Reza keluar sambil menggandeng tangan sang adik.
"Reza kamu serius mau balik kerumah ? " tanya Bima memastikan.
"Benar Bim, bagaimana pun itu juga tetap rumah kami dan mereka orang tua kami , tapi jika mereka tidak menganggap kami tak apa asalkan kami masih mengingat mereka sebagai orang tua, " jawab Reza , bukan hanya yang lain merasa berat hati karena pemimpin mereka akan pergi namun Reza juga merasakan nya karena ia sudah yakin nanti setelah ia kembali kedua orang tuanya pasti tidak akan peduli.
"Baiklah jika itu keputusan yang kamu buat, tapi jika butuh bantuan jangan segan - segan untuk berbicara, kami semua ini adalah pasukan mu yang sudah siap jiwa dan raga untuk menolong mu dan membela mu, " ucap Bima.
"Aku salut sama kalian, terimakasih sudah menerima Nara dengan baik disini dan memperlakukannya seperti memperlakukan ku, " ujar Reza.
"Kami sudah menganggap nya sebagai adik sendiri , dan ingat kata terimakasih tidak perlu karena kita semua adalah keluarga kedua mu dan disini adalah rumah kedua mu, " ucap Ethan bijak.
"Nara, " ucap Sherly kemudian melangkah dan memeluk Nara seerat mungkin.
"Lily, maafkan aku yang harus kembali kerumah, " ujar Nara membalas pelukannya.
"Tidak apa aku faham, tapi kamu jangan pernah lupa untuk selalu kesini, " ucap Sherly tak terasa air matanya menetes.
"Iya mana mungkin aku lupa, lagian aku akan melanjutkan kuliah ku yang sempat tertunda, " jawab Nara.
"Jaga dirimu disana jika ada yang melukai mu kasih tau aku biar aku yang membalas nya, " ucap Sherly serius membuat Nara tersenyum ia pun melepas pelukannya.
"Kamu tidak usah khawatir ada kak Reza juga yang akan melindungi ku lagian kan aku juga bisa bela diri. "
"Ya baiklah itu terserah mu saja, " ucap Sherly.
"Baiklah semuanya, kami famit untuk pulang lain kali kami akan balik kesini lagi, " ucap Reza.
__ADS_1
"Jaga diri kalian baik - baik, " pesan Aldo.
"Siap."
"Oh ya Bima, selama aku tidak disini aku serahkan kamu yang mengatur semuanya, " ucap Reza
"Baiklah kamu tenang saja, " ucap Bima.
"Yasudah kami pergi dulu jaga markas nya baik - baik dan kalian semua jangan lupa untuk selalu menjaga kesehatan dan tetap latihan, " pesan Reza.
"Siap laksanakan! " jawab mereka serentak.
Setelah berpamitan Reza dan Nara menuju ke arah mobil berwarna merah milik Reza mereka berdua segera naik.
"Kami pergi dulu, " teriak Nara sambil melambaikan tangan dan di balas oleh mereka.
Mobil pun segera melaju meninggalkan hutan yang cukup luas menempuh perjalan yang cukup panjang . Setelah sampai di jalan raya jalanan terlihat sangat ramai membuat para pengendara harus lebih berhati-hati agar tak terjadi kecelakaan.
"Rame banget ya Kak, " ucap Nara melihat sekitar.
"Iya kan namanya mereka akan melakukan aktivitas masing-masing, " jawab Reza.
"Kak sebentar lagi Kakak kan selesei kuliah ya? " tanya Nara.
"Ya memang nya kenapa? "
"Hmm berarti kakak samaan dong sama Kak Galen, " ucap Nara mengingat nama salah satu saudara nya.
"Iya tapi mungkin Galen akan meneruskan perusahaan Dady sama Arzan , kalok Kakak nggak. "
"Loh kenapa? "
"Kakak ada kerjaan sendiri. "
"Kan kerjaan Kakak hanya mafia apakah ada selain itu? " tanya Nara.
"Kamu masih ingatkan cafe milik Nenek dulu? "
"Kakak kelola itu sekarang bersama para managernya, tapi bukan hanya itu, sepertinya Kakak akan mengelola sebuah perusahaan yang di serahkan kepada Kakak, " jawab Reza serius.
"Mengelola perusahaan? Milik siapa? "
"Hmm ya, nanti Kakak akan mengenalkan orang nya, " ucap Reza.
"Apakah Dady sama momy mengetahui nya? "
"Sampai sekarang pun mereka tidak tau dan kamu tau rekening nenek ada sama Kakak, karena dulu nenek berpesan kepada seseorang untuk memberikannya kepada kita berdua. "
"Lalu letak cafe itu masih di tempat nya kan? " tanya Nara mengingat cafe yang sedikit jauh dari Mansion keluarga William.
"Sudah Kakak pindah, nanti kita kesana kalau ada waktu luang. "
"Hmmm nggak nyangka ya, Kak, Nenek pergi secepat itu, " ucap Nara mengingat mendiang nenek nya.
"Ya kematian juga kita tidak tau. "
Hampir beberapa menit mereka dalam perjalanan dan mulai masuk di sekitar jalanan rumah mereka.
"Kak aku gugup, " ucap nya.
"Jangan kayak gitu dek, kamu itu Perempuan harus tegas, " ujar Reza.
Setelah sampai di gerbang terlihat seorang satpam yang sedang berjaga disana memberi hormat kepada Reza dan juga Nara.
"Kayak nya ada acara, " terka Nara melihat cukup ramai.
"Benar juga. "
Mereka terus melajukan mobil nya untuk memasuki halaman rumah yang sudah di kerumuni banyak orang , saat mereka berdua turun semua mata mengalihkan perhatian kepada mereka.
Nara yang selalu setia memakai pakaian kulit berwarna hitam dengan celana panjang kulit senada tak lupa sepatu andalannya yaitu sepatu boots hitam, ia selalu mencocokkan pakaian nya dari atas hingga bawah tak lupa rambut yang di ikat bawah namun terkesan elegan dan tegas.
__ADS_1
Begitu pula Reza, yang keluar degan sweater anemone berwarna hitam di baluti dengan blazer senada, tak lupa celana panjang hitam dan sepatu sneaker berwarna putih membuat ketampanan nya semakin terlihat.
Ia menatap Nara dan menganggukan kepala nya lalu menggandeng tangan sang adik menuju ke arah kerumunan yang sedang menatap mereka.
Jonathan yang melihat orang - orang riuh dengan kedatangan anak yang tidak di anggap nya segera mengambil alih microfon yang sudah di sediakan.
"Mohon untuk para hadirin untuk kembali duduk menikmati acara selanjutnya, " ucap nya dan semua yang mendengar nya pun mengikuti.
Reza tak membawa Nara masuk kedalam ia mengikuti acara yang sedang di langsungkan dan memilih kursi yang sudah tersedia dan duduk bersama.
"Ternyata Dady lagi ulang tahun, " guman Nara yang di dengar oleh Reza.
"Kamu lupa? " tanya Reza.
"Bagaimana aku ingat,, kita kan tidak pernah tau yang ada kalau kita korek tentang Dady lebih dalam bahaya, " ujar Nara membuat Reza terkekeh.
"Benar juga sudahlah nikmati saja semuanya tidak baik juga kita langsung nyelonong masuk kedalam nanti kita pasti bakal bertengkar sama mereka, " terka Reza.
"Ya aku juga berpikir begitu. "
Reza dan Nara mengikuti acara yang sedang berlangsung, mulai dari peniupan lilin dan berpoto bersama namun Reza hanya tersenyum menanggapi bohong jika di bilang ia tidak iri namun apa boleh perbuat?
Begitu pula dengan Nara , sakit di hatinya menggerogoti tubuh nya ia ingin menangis melihat nya namun ia tahan sekuat mungkin, ia tidak ingin di lihat menangis di tempat umum ataupun orang lain selain kakak satu - satu nya yaitu Reza.
"Jangan bersedih Kakak masih ada, " ucap Reza menggenggam tangan sang adik
"Cih buat apa bersedih, ini sudah jalan kita mereka memang tidak mempunyai hati nurani, " ucap Nara.
"Hahaha, baiklah - baiklah sudah ayok makan kamu kan doyan makan, " sambil memberikan makanan yang di hidangkan oleh pelayan nya.
Pelayan tersebut sempat mengenali mereka berdua namun dengan cepat Reza menaruh telunjuk di bibirnya supaya acara berjalan dengan lancar setelah itu pelayan tersebut pergi.
Mereka tetap menikmati makanan tersebut sampai acara pun sudah selesai para tamu sudah kembali kerumah masing - masing dan kini tinggal lah mereka berdua yang duduk di kursi tersebut.
Terlihat Arzan yang sempat melihat mereka menghampiri nya bersama Galen dan juga Jennifer saudara nya.
"Tau juga kamu arah pulang, " ucapan Arzan membuat Reza mengalihkan perhatian nya.
"Ada hal penting, " jawab Reza singkat.
"Ada hal penting apa sehingga kamu tidak memenuhi tanggung jawab mu untuk bekerja? "timpal Galen.
"Kak Reza bukan kah Kakak pergi ke luar negeri untuk melakukan sesuatu kenapa bisa pulang bahkan kami tidak tau kapan kau pulang ? " tanya Jennifer.
Nara hanya diam memandang mereka yah bertanya, dia menatap lurus tidak perduli seolah - olah tak ada siapapun di dekat nya. Tidak adakah yang menanyakan tentang dirinya yang masuk rumah sakit karena perbuatan ayah nya?
'Sudah lah Nara,,, jangan terlalu berharap,' batinnya.
"Kalian sudah pasti tau kepulangan saya untuk siapa, " jawab Reza,kali ini Reza benar - benar bersikap formal terhadap mereka.
"Maksud mu? " tanya Arzan bingung.
"Nara masuk rumah sakit tidak ada yang menjaga nya, " jawab Reza.
"Kenapa kamu memperdulikannya? Bukan kah dari dulu_"
"Dia adik saya dan tetap adik saya selamanya,, jadi kalau kalian tidak ingin mengakuinya tak apa , dia masih punya saya yang peduli dan masih menganggap nya, " jawab Reza memotong pembicaraan Arzan.
"Berani sekali kamu memotong ucapan ku Reza, siapa kamu? Kamu pula bahkan tak pernah di anggap oleh Dady sama Momy karena terlalu membela gadis cupu ini, " geram Arzan.
"Stop Arzan!!! Saya tau kamu lebih tua dari saya tapi sebagai saudara yang paling tua tolong jaga etika mu, " tegas Reza dan menarik tangan Nara untuk segera menjauh namun Jennifer langsung menghentikan mereka.
"Kamu gadis tidak berguna jangan sentuh Kakak ku! " ucap nya sambil memegang tangan mereka dan melepas nya.
"Kenapa? Biarkan saya memegang nya lebih lama saya tidak ingin berpisah darinya, " ucap Nara tersenyum semirik ia menggenggam tangan Reza.
"Berani sekali kamu!!! " ia hampir melayangkan pukulan ke arah Nara namun dengan cepat kilat Nara menahannya.
"Kamu pikir saya akan biarin kamu menyentuh saya lagi? Cih jangan harap, " ucap Nara menatap tajam dan langsung menghempaskan tangan Jennifer.
"Kamu_"
__ADS_1
"Ada apa ini ribut - ribut? " suara yang tak asing di telinga mereka ya itulah Jonathan datang bersama Johanna sang istri...