Misteri Cinta Gadis Mafia

Misteri Cinta Gadis Mafia
Kuatlah Queen


__ADS_3

Bismillah....


Happy Reading..🤗


*


*


*


Suasana di ruangan itu terasa menegangkan, ada rasa yang sakit dan perih di hati masing-masing namun apa yang bisa di perbuatan jika itu adalah takdir mereka?


Ia tidak ingin menangis. Biarlah rasa perih ini ia tanggung, namun rasa rapuh tetaplah rapuh, ia berusaha sekuat mungkin menahan air mata dari pelupuk yang akan keluar.


Pembunuh!!


Tidak pantas memiliki siapapun!!


Anak sampah!!


Tidak berguna!!


Suara dan kata itu terngiang-ngiang dalam benak, Nara menahan semua amarahnya, ia tidak tau harus melampiaskan kepada siapa, sungguh saat ini Nara sudah terbakar emosi, emosi yang begitu meluap dan membara dalam hatinya.


Pundaknya bergetar dengan nafas yang naik turun, Reza memeluk adik nya, sesekali mengelus punggung nya.


"Tenang,dek... " suara lembut dan mendayu sedikit meredakan api yang ada dalam hati Nara.


"Jangan luapkan disini, ayok segera bersiap, kita ke Mansion JK(Jungle Kingdom), " titah Reza, ia menuntun adiknya memasuki kamar mandi.


Nara hanya terdiam namun menurut, saat ini jujur saja ia tidak ingin bicara apapun lagi, ia tidak kuasa mengatakan apapun dalam hati yang begitu sakitnya.


"Jangan tutup pintunya, kamu cuci muka aja, " ujar Reza tidak mau adiknya kenapa - napa di dalam kamar mandi.


Lagi, Nara hanya mengangguk, kemudian dengan cekatan ia membasuh wajahnya. Setelah itu ia segera mengganti pakaian yang telah di siapkan oleh Reza.


Tak lama kemudian ia bersiap, Reza menggenggam tangannya menuju ke arah garasi mobil. Reza segera mengeluarkan mobil tersebut dan membawa Nara masuk kedalam.


"Ayok naik, jangan diam disitu. " Reza membuka kan pintu mobil itu dan dengan perlahan Nara masuk kedalam, setelah menutup pintu mobil Reza pula segera masuk dan mulai menjalan mobil nya menuju ke arah tujuan.


***


Di sebuah ruangan yang kini ada dua orang wanita sedang tertawa dengan raut wajah begitu puas. Seakan-akan mendapatkan sebuah hasil yang ia inginkan selama ini.


"Hahaha, kamu pintar sekali membuatnya merasa tersiksa, " gelak Hanna mendengar cerita putrinya.


"Tentu saja,Mom, pasti setelah ini anak tidak berguna itu tidak akan berani kembali, " kekeh Jennie.


"Biar tau rasa, kalau dia kembali lagi,buat saja dia tidak betah di dunia ini. " tawa kencang dari Hanna menghiasi ruangan itu, begitu pula Jennie ia ikut tertawa tanpa merasa bersalah sedikitpun.


***

__ADS_1


Mobil merah telah sampai di depan gerbang Mansion Jungle Kingdom, sepanjang perjalanan Nara hanya diam tidak ingin bicara, jikalau Reza bertanya Nara hanya mengangguk atau menggeleng semakin membuat Reza pasrah dengan sikap adiknya.


Terlihat Sherly dan yang lainnya menghampiri mereka sedangan anak buah yang lain segera menunduk memberi hormat ketika melihat sang pemimpin datang bersama adiknya.


"Akhirnya kalian datang, " ujar Bima.


Nara tidak berekspresi apapun, ia segera melangkah menuju sebuah ruangan, mereka yang melihat Nara hanya diam tidak seperti biasanya pun mengerutkan kening.


"Nara kenapa? " tanya Sherly.


Reza menghela nafas panjang kemudian menceritakan kejadian yang ada rumahnya. "Saat ini Nara begitu emosi saat mereka mengatakan itu, " ujar Reza.


"F*ck!! Keluarga macam apa.. " geram Sherly.


"Ayok cepat kita susul, " ujar Reza segera mengikuti langkah adiknya yang begitu cepat.


Saat ini Nara telah sampai di ruangan itu, dimana ada banyak peralatan khusus untuk latihan, ia mendekat dan melihat sebuah pistol Desert Eagle disana.


Dengan memakai penutup telinga ia menembakkan isi pistol tersebut ke arah sasaran.


"AKU BENCI KALIAN!! " teriak nya menggelegar, seiring teriakan itu menggema suara peluru bersahut-sahutan di ruangan itu.


Dor!


Dor!


Entah sudah berapa butir peluru yang keluar, Nara melepas pistol tersebut kemudian menuju ke arah sebuah samsak kemudian mengambil handwrap dan mengikat benda tersebut di tangannya.


"Aku benci kalian! Aku bukan anak sampah! Aku bukan pembunuh! " teriak Nara, setiap satu kalimat yang keluar ia terus meninju ke arah samsak tersebut dengan keras.


Reza, ia seketika merasa tak berguna melihat kefrustasian adik nya, bagaimana bisa adik nya seperti ini? Apakah ia terlalu capek menerima keadaan yang seperti ini? Maka jawabannya nya ialah benar. Ia sangat capek,, bertahun - tahun lamanya ia memendam sendirian tanpa pengetahuan sang Kakak hingga kini muncullah semuanya begitu saja.


Nara yang lemah, frustasi, melampiaskan semuanya disini di depan matanya. Jika dulu Nara hanya bisa takut, menangis dan merasakan sedikit trauma tak bisa dan tidak tau melampiaskan nya kesiapa namun kini , ia sudah melihat betapa hancur nya Nara, adik kesayangannya sudah memperlihatkan luka dalam yang telah menganga begitu saja hanya dengan ucapan seperti itu.


Tes..


Air mata Reza seketika menetes mendengar ucapan adik nya.


"Nara... " ucap nya lirih,sangat lirih hingga terdengar begitu sesak di setiap telinga para sahabat nya, para saudaranya disini.


"Sabar, Za... " ucap Bima menepuk pelan pundak Reza.


"Aku tidak menyangka Nara bisa seperti ini, " ucap Reza pilu.


"Biarkan saja seperti ini, Nara akan baik - baik saja setelah melampiaskan semuanya, " tukas Aldo ikut sedih dan hancur melihat gadis yang sudah ia akui sebagai adik angkatnya.


"Kamu tau,Za? Nara hebat, dia melampiaskan nya disini, tidak melampiaskan di tempat sembarangan, " ujar Sherly, tak terasa air matanya pula ikut menetes , begitu pula yang lain, Aldo, Ethan, Bima dan Vito semua menangis melihat Nara.


"Nara memang hebat, kita juga harus berikan dukungan yang luar biasa,dengan adanya kita, Nara bisa kuat, " ucap Bima.


"Terimakasih semuanya. "Reza menghapus air matanya kemudian berjalan perlahan ke arah adiknya yang sudah terlihat kacau.

__ADS_1


"Dek... tenanglah..." Reza berucap lembut mendekati adiknya yang sudah terlihat kelelahan dengan dada kembang kempis.


"Hiks... apakah aku seburuk itu sehingga mereka tidak mau menerima ku? Aku bukan pembunuh,, bukan aku yang melakukannya hiks... " pecah sudah tangis Nara, ia sempoyongan hingga akhir nya Reza segera memeluk adiknya itu.


"Sudah... tenanglah bukan kah Kakak pernah bilang kamu harus menjadi gadis kuat,, tidak boleh lemah.. tapi kenapa baru ucapan ini saja kamu sudah menyerah seperti ini? " ucapan Reza sedikit menenangkan buat Nara.


"Hiks... aku lelah,Kak, " ucap Nara masih terisak di dada bidang Kakak nya. Semua yang ada disana memandang penuh dengan rasa iba, Sherly mengumpat habis - habisan terhadap keluarga Nara.


"Sudah jangan menangis lagi,, ingat nanti kita akan melawan banyak musuh. Coba bayangkan kalau musuh berkata seperti itu apakah kamu akan seperti ini? Bisa saja musuh akan menertawakan mu dan kamu akan mati konyol di tangan mereka, " ucap Reza lembut mengeluh rambut adik nya yang sedikit berantakan.


"Maaf." lirih nya.


"Ini minum dulu, " Ethan menyodorkan sebotol air kepadanya, kemudian Nara mengambil air tersebut.


"Terimakasih, Kak, " ucap Nara menunduk.


"Kuatlah,Queen! " ucap Vito tersenyum.


"Ayok kembali. " Reza memapah tubuh Nara dan membawanya keluar dari ruangan tersebut.


Reza membawa Nara ke arah kamarnya, dengan penuh perhatian ia merebahkan tubuh Nara yang begitu terasa lemah.


"Istirahat ya, jangan mikirin apapun, Sherly sama Kak Ethan akan nemanin kamu disini, Kakak masih ada kerjaan, " ucap Nara mencium kening adiknya hangat.


"Terimakasih, Kak cepat kembali kesini ya, " ujar Nara sendu.


Reza menghapus jejak air mata di wajah adiknya, setelah itu menarik selimut dan mengelus lembut rambut Nara.


"Jangan berterimakasih, ingat ucapan Kakak, apapun yang membuat kamu bahagia, Kakak akan usahakan semampu Kakak, dek,, selama Kakak masih hidup... Kakak janji tidak akan ada yang pernah berani nyakitin kamu, siapapun orang nya yang berani bermain kasar dan berkata kasar seperti tadi mereka akan merasakan akibat nya mulai sekarang." sekali lagi ia mencium kening adiknya, kali ini lebih lama sehingga membuat Nara sedikit tenang dan akhirnya tertidur lelap.


Reza tersenyum kemudian bangkit dari tempat tidur dan menuju ke arah ruang tamu.Disana yang lain sudah menunggunya.


"Bagaimana? " tanya Sherly.


"Dia tertidur, sepertinya kelelahan, Ethan, Sherly, aku titip Nara ya, aku akan ke markas, " ucap Reza.


"Rio sudah menunggu disana, kita sebaiknya segera kesana, " tutut Vito.


"Ayok, Vit, berangkat. " akhirnya di Mansion cuman dua orang yang tersisa untuk menjaga Nara, dan sisanya berangkat ke markas gudang penyiksaan.


*


*


Jangan lupa... 😊


Like...


Vote...


Komen...

__ADS_1


😘🌻❤️❤️❤️


__ADS_2