
Bismillah 🤲
Happy Reading 🥳💜
*
*
Setelah kembalinya dari lokasi tempat pertukaran Nara, Reza segera bergegas kembali ke arah markas milik Rain, memerintahkan Aldo untuk segera mengaktifkan alat pelacak yang ada di sepatu Nara.
Semua merasa gelisah, bahkan lokasi yang telah Aldo lacak tidak ada tanda bahaya apapun yang ia dapat pada titik lokasi tersebut. Chen beserta Eren memilih untuk terjun langsung memeriksa lokasi yang telah di lacak oleh Aldo sebelumnya.
"Pastikan kalau mereka tidak pindah lokasi sebelum aku mengaktifkan alat pelacak di sepatu Nara, " perintah Aldo.
"Siap, Komandan, " jawab keduanya.
Mereka segera bergegas keluar, tentu saja hanya mereka berdua yang pergi. Sedangkan anak buah yang lain tetap berjaga di sekitar tempat tersebut.
Sedangkan Reza, ia berada di ruangan sebelah menyusun rencana bersama yang lain, tentu saja tanpa campur tangan dari siapapun. Jonathan beserta istrinya bahkan di suruh istirahat oleh Galen. Tentu saja dengan sangat baik Rain memberikan pelayanan terhadap mereka.
"Reza, apa rencana mu sekarang? " tanya Bima.
Reza menghela nafas sebentar. "Aku sudah menyuruh Aldo mengaktifkan alat pelacak di sepatu Nara, tapi sebelum itu Aldo menyuruh Chen dan Eren memastikan bahwa lokasi sbelumnya tidak berpindah tempat, " jawab Reza.
Sherly mendengar dengan seksama. "Apakah kita juga tidak akan ikut memastikan? " tanya nya.
"Kita kembali saja ke lokasi pertukaran, siapa tau ada petunjuk juga dari jejak ban mobil. " Ethan yang sedari tadi diam kini ikut memberi usul.
"Apa kamu yakin? " tanya Bima.
"Tentu saja, setelah Chen dan Eren melaporkan situasi di lokasi yang mereka kunjungi, " ucap Ethan.
"Kalau begitu kita tunggu kabar dari keduanya, " ucap Sherly.
Reza dan Ethan mengangguk. "Aku khawatir apa yang terjadi dengan Nara disana, " ujar Reza.
"Bagaimana kalau dia bertemu dengan Arres? " ucap Sherly.
Tiba - tiba Rain masuk kesana. "Maaf menganggu, Tuan, " ucap nya.
Reza mengangguk. "Ada hal apa? "
"Laporan dari anak buah saya, Chen dan Eren tidak menemui apapun di tempat itu, katanya hanya sebuah pondok kecil yang sudah terlihat kosong, " ucap Rain.
"Apakah anak buah mu ikut pergi? " tanya Bima.
"Saya menyuruhnya untuk mengikuti dari belakang saja, tapi Chen dan Eren tidak keberatan, tempat ini cukup berbahaya, saya hanya takut mereka tersesat dan malah masuk jebakan, " ujar Rain.
Semuanya seketika bungkam, jebakan? Apakah Rain tau sesuatu dari rencana Scale Bones?
__ADS_1
"Katakan apa yang kamu maksud jebakan? " tanya Reza memicingkan mata.
"Jadi begini, Tuan, sebelum saya mendengar kabar kalau salah satu saudara anda yang tertangkap saya mencoba mencari informasi dan berusaha memastikan apakah Arres benar disana ataukah masih di kota. Lalu saya mendapatkan kabar dari anak buah saya kalau Arres tidak pernah pulang ke kota itu. " Rain terdiam sejenak melihat ekspresi dari pemimpin Jungle Kingdom.
Ia pun melanjutkan. " Singkat cerita setelah saudara anda di tangkap saya kembali mencari informasi apa rencana mereka. Tapi begitu saya dan anak buah memasuki daerah mereka banyak jebakan yang telah mereka buat, tapi beruntung kami semua tidak celaka dengan jebakan itu, " ucap Rain.
"Apa saja yang anak buah mu temukan saat mengikuti Chen dan Eren? " tanya Bima.
"Waktu Tuan Reza mengintrogasi saya, memang benar pondok kecil itu berada di sekitar arus sungai yang cukup deras, mereka akan masuk kedalam melihat petunjuk, " jelas Rain.
"Kalau begitu apakah kita tidak bersiap juga untuk kesana? " tanya Sherly.
"Tidak, Nona, itu akan berbahaya, lebih baik kita disini saja dulu selama menunggu kabar dari mereka pastikan rencana yang telah di susun sudah di sepakati oleh semuanya, supaya nanti tidak ada jebakan apapun yang akan menghalangi jejak kalian, " ucap Rain mantap.
Semua mengangguk setuju, tentu saja Reza sekarang mempercayai usul dari mantan tangan kanan Scale Bones, cukup hal ini membuat nya menerima keberadaan Rain untuk membantu mereka mengepung lokasi yang di tempati oleh Nara.
***
Jika di markas milik Rain semuanya menyusun rencana, kini di tempat sebuah gudang yang sedikit terlihat gelap kedua gadis yang telah berusaha melepas borgol pada tangannya terlihat meringkuk di sebuah pojok ruangan tersebut.
Namun seketika mereka tenang, kini ketenangan itu buyar ketika melihat seseorang dengan wajah yang begitu tegas dan bengis memasuki ruangan tersebut. Pengawal yang mengikuti nya dari belakang kini seketika berhenti setelah sosok itu masuk kedalam.
"Wah, wah, gadis pintar, benda apa yang kamu pakai hingga terlepas dari borgol yang di lingkarkan oleh anak buah ku?? "seringai yang begitu kejam nampak jelas pada wajah Arres.
Dengan gerakan cepat, Nara menarik Jennie ke belakang nya. "Mau apa kamu datang kesini! " ucap Nara sinis.
"Jangan banyak bertanya gadis sombong! " bentak Arres.
Jennie nampak gemetar. Bahkan Arres lah yang menyiksa nya selama ia terkurung disini. "Tuan, to-tolong lepaskan dia, " ucap Jennie memohon.
"Awasi dia! " perintah Arres melihat anak buah nya di luar, salah satu dari mereka segera masuk kedalam.
"Jangan bergerak atau aku tembak! " ancam anak buah tersebut, seketika Jennie hanya terdiam dengan tubuh gemetar.
Nara tak habis pikir, ia bahkan mulai berani menendang tulang kering pada bagian kaki Arres membuat sang empu meringis.
"Berani - beraninya kamu, j*l*ng!!! " teriak Arres, ia melayangkan pukulan terhadap Nara, namun Nara berhasil mengelak.
"F*CK*Ng SH*ttt!! " umpat Nara, ia menendang berkali - kali ke arah Arres.
Namun Arres tidak memberinya ampun, ia mengambil sebilah pisau di balik jaketnya , mencoba menyebrang Nara yang begitu terlihat lincah.
"Tidak, jangan sakiti dia, Tuan! Aku mohon! " Jennie berteriak histeris.
"Tutup mulut nya!! " teriak Arres di tengah pertarungannya dengan Nara.
"Akan saya pastikan kamu akan mati di tangan saya nanti! " tekan Nara menendang tubuh Arres.
Nara juga mengambil pisau di balik jaketnya, menyerang Arres dengan benda tersebut, namun ia salah menebak teknik serangan Arres, ketika Nara menjulurkan tangannya ingin menusukkan pisau pada tubuh Arres, Arres justru menarik tangan Nara memutarnya ke belakang hingga terdengar suara.
__ADS_1
krak!
"Sh***! " umpat Nara menahan sakit. Tulangnya memang tidak patah tapi serasa tangannya begitu terpelintir menyebabkan mungkin keseleo pada saat itu, hingga pisau kecil yang ia pegang terjatuh ke lantai.
Arres kemudian tak segan - segan menusuk punggung Nara hingga sang empu berteriak histeris.
"Akkhhhh!!! " teriakan yang begitu pilu namun tak ada air mata sedikit pun yang keluar.
Bugh!
Saat itu pula Arres menendang tubuh Nara sehingga Nara terhuyung ke depan dan terjatuh. Nara memegang punggung nya yang kini mengucur darah yang begitu deras.
"Berani sekali kamu melawan ku?! Akan aku pastikan kamu akan mendapatkan balasan atas kematian adik ku! " ancam Arres dengan wajah kejam nya.
"Cih.. benar - benar bodoh! Tidak ada gunanya kamu menjadi seorang pemimpin, tidak bisa menelusuri sesuatu sampai akarnya! " balas Nara sinis, wajahnya begitu datar.
"Jangan coba - coba mengajari ku, gadis sialan!! "
Plak!
Satu tamparan mendarat di pipi Nara hingga saking kerasnya tamparan tersebut darah kini menetes di hidung Nara. Nara mengusap nya kasar dengan jemarinya.
"Hebat! Bisa mengeluarkan darah pada dua bagian! " sinis Nara dengan suara sedikit terkekeh.
Jennie yang melihat hal itu merasa tidak tega, ia terus memberontak dengan suara yang tidak jelas, karena mulutnya di tutup menggunakan sebuah kain.
"Perempuan macam apa kamu ha?! Tidak cukup luka di punggung mu?!" bentak Arres dengan tatapan nyalang.
"Tidak! Sebab, saya bukanlah perempuan lemah! " jawab Nara datar.
"Ambilkan alkohol! " teriak Arres, Nara seketika mendelik mendengar hal itu, tentu saja ia tau apa yang akan di lakukan oleh pemimpin Scale Bones itu terhadap nya.
"Dasar laki - laki iblis!! Bahkan kamu tidak pantas di sebut manusia! " teriak Nara dengan nafas yang tak teratur.
Setelah anak buah nya datang, ia memberikan sebuah alkohol yang di maksud oleh Tuannya, lalu dengan kasar anak buah Arres mengikat kedua tangan Nara.
"Lepaskan, br*ngs*k!! " pekik Nara.
Seakan-akan tuli, Arres mendekat ke arah Nara lalu menyiramkan Alkohol pada luka yang ada di punggung Nara dengan kejamnya.
"AAAAAKKKKHHHHH!! " teriakan menggema di ruangan gelap itu, Jennie yang tak bisa melakukan apa - apa hanya bisa menangis dengan mulut yang tertutup.
"SAYA BERSUMPAH KETIKA SAYA BEBAS DARI SINI AKAN MENCINCANG TUBUH MU DASAR LAKI - LAKI IBLIS!! " teriak Nara, luka di punggung nya terasa terbakar bahkan semakin terasa parah, Arres yang mendengar itu tersenyum sinis.
*
*
Vote
__ADS_1
Like
Komen🥰❤️