Misteri Cinta Gadis Mafia

Misteri Cinta Gadis Mafia
Jangan sakiti adik ku


__ADS_3

Bismillah 🤲


Happy Reading 🥳💜


*


*


Sebuah pertanyaan yang membuat Nara sedikit kacau, jujur saja bahwa perasaan itu pula telah ia rasakan begitu lama semenjak Ethan selalu ada di dekatnya. Hal yang membuatnya nyaman dan merasakan sedikit kenangan masa lalu ketika menjalin sebuah asmara yang berakhir sebuah pengkhianatan, tentu saja masa lalu Nara di rebut oleh yang tidak lain ialah saudaranya sendiri, bahkan secara terang-terangan di depan mata kepala Nara sendiri.


"Aku tau, mungkin aku saja yang merasakan nya, maafkan aku, kalau begitu lupakan saja, " ucap Ethan yang sejak dari tadi menunggu jawaban Nara.


"Kak. " Nara mulai memberanikan diri untuk menatap Ethan.


"Iya? "


"Apakah Kakak memberikan ku harapan? " kini Nara yang bertanya.


"Tidak, aku hanya bertanya, kalaupun jawaban mu iya aku akan berusaha untuk menjaganya, " jawab Ethan yakin.


"Jangan berikan aku harapan,Kak, aku takut semuanya akan sirna ketika Kakak kembali, " ujar Nara menunduk.


"Lalu? "


"Kita jalani saja bagaimana waktu akan membawa kita, dan aku tidak akan berharap terlalu lebih, untuk perasaan ku... " Nara menjeda ucapannya dan memandang Ethan yang sedang menunggu jawabannya.


Nara mengangguk. "Iya, a-aku merasakan apa yang Kakak rasakan untuk ku, " jawab Nara sedikit gugup.


Senang dan bahagia itulah yang di rasakan oleh Ethan, ia mendongakkan wajah Nara, menangkup dengan kedua tangannya dan memandang lekat wajah cantik tersebut.


"Jadi, kamu..? "


"Masih ingat semenjak kita di telaga tengah hutan? Yah saat itu... a-aku.. aku... yah... itu... "


'Sialan! Kenapa mulut ku jadi mumet begini?! ' maki Nara dalam hati.


"Jatuh cinta? " tebak Ethan dengan di iringi suara tawa.


"I-iyah.. gitu.. bisakah kita tidak membahas nya lagi? Oh my God! Aku malu! " pekik Nara tertahan, wajahnya kian bersemu merah.


"Hahahah,,,, benarkah? " Ethan semakin gencar menggoda.


"Cieee....Ciee....Cie...! " terdengar tiga suara yang tidak asing kini muncul di dalam kamar Nara.


Tentu saja, Aldo, Sherly tak lupa Bima menguping pembicaraan mereka sedari tadi dari arah luar.


"Kalian..... " Sungguh bisakah saat ini Nara tenggelam saja? Ia sangat malu!


"Tentu saja kami dengar! " seru Sherly antusias.


"Harus traktir makan nih... " seru Aldo kencang.


"Jangan asal ngomong! " sarkas Ethan memandang tajam.


"Wah.. udah punya pawang nggak usah marah - marah, " tambah Bima kini ikut tertawa.


"Hentikan! Ku mohon hentikan! Oh my God! " pasrah sudah Nara saat ini, baru tiga orang membuat seperti ini lantas apa yang akan di katakan oleh Kakak nya nanti ketika tau?


"Yeah!! Berita baru muncul! " Sherly langsung berlari ke arah luar di ikuti oleh Aldo dan Bima.


"Lily! " Nara hendak mengejar, namun Ethan menahan tangannya.


"Biarkan saja, " ujar Ethan lembut, ia maju mendekatkan wajah nya ke arah Nara.


'Tuhan! Tolong kenapa harus seperti ini! ' pekik Nara. Apakah Ethan akan mencium dan mengambil first kiss nya?


Cup!


Deg!


Benda kenyal dan lembut mendarat di keningnya, Nara salah mengira hal ini, bisakah ia menjedotkan kepala nya ke tembok? Kenapa ia berpikir yang tidak-tidak?


Namun meski kecupan di kening Nara, hal itu membuatnya sedikit gugup dan salah tingkah, dari dekat saja wajah Ethan jauh lebih tampan dari sebelumnya.


Ethan memeluk tubuh ringkih Nara, mendekap nya penuh rasa senang, jika suatu saat ia tidak bisa memiliki maka hal pertama yang akan ia ingat adalah momen ini, dimana ia menyatakan perasaannya dengan sungguh berani di dalam ruangan khusus milik sang gadis.


"Ayok keluar. " Ethan merapikan rambut panjang Nara yang sedikit berantakan.


"Hm. " Nara mengangguk dan keluar dari kamar.


*

__ADS_1


Di sebuah rumah sakit besar di kota tersebut, Galen beserta keluarganya telah kumpul, ia menyusuri lorong rumah sakit hingga ia melihat Saudaranya yang sedang duduk termenung di sebuah kursi tunggu.


"Kak! " panggil Galen segera berlari.


"Arzan! " Hanna langsung memeluk Putra pertamanya.


"Kalian sudah sampai, " ujar Arzan.


"Arzan, hiks.. bagaimana Dady? Apakah semua baik - baik saja? " tanya Hanna sembari menangis di pelukan anaknya.


"Arzan tidak tau, Mom, setidaknya kita berdoa saja supaya Dady baik - baik saja, " jawab Arzan, ia berusaha menenangkan Ibu nya itu.


"Apa yang terjadi sebenarnya? Bagaimana bisa perusahaan terkena ledakan? " tanya Jennie, matanya sedikit sembab karena sedari tadi menangis.


"Kakak juga tidak tau, sepertinya ada orang yang benci dengan keluarga kita sehingga menghancurkan perusahaan milik kita, " jawab Arzan.


"Apakah polisi sudah menangani nya? " tanya Galen.


"Sudah, kita juga tidak bisa tinggal diam, kita harus menemukan siapa pelakunya, " ujar Arzan.


"Kita akan selidiki bersama, " tukas Galen.


"Tentu saja. "


Keluarga tersebut kini duduk di kursi tunggu menanti Dokter keluar dari ruangan UGD, setelah beberapa menit pintu ruangan terbuka dan menampilkan sosok Dokter perempuan bersama para Suster nya.


"Dok, bagaimana? " tanya Arzan.


"Keluarga pasien? " tanya nya.


"Iya, kita semua, " jawab Hanna.


"Tidak ada yang serius dengan pasien, hanya saja keadaan kemungkinan membuat nya terlalu syok dan sangat terkejut sehingga membuatnya beliau pingsan, " ujar Dokter tersebut.


"Apakah Dady baik - baik saja? " tanya Galen.


"Iya, pasien baik - baik saja, mungkin setelah sadar kalian bisa langsung membawanya pulang, " ucap Dokter itu.


"Baik, Terimakasih, Dok, " ucap mereka bersamaan.


"Sama - sama, kalau begitu saya permisi. "


*


Saat ini Reza telah sampai di Mansion Jungle Kingdom, ia langsung menghampiri sang adik yang hanya diam termenung di lesehan.


"Dek. "


"Kak, perasaan ku tidak enak, " ujar Nara.


Ini yang di maksud oleh Reza, ia melihat sangat jelas di raut wajah sang adik yang begitu terlihat gelisah. Tentu saja apa yang di rasakan oleh adiknya benar, bahwa terjadi bencana pada perusahaan keluarganya.


"Apakah kamu bermimpi? " tanya Reza.


"Tidak hanya saja... " Nara tidak bisa menjelaskan apa yang ia rasakan.


"Perusahaan Dady kebakaran, " jawab Reza yang membuat Nara terkejut.


"Ha, Apa ? "


"Iya, Kakak lihat di berita, katanya terjadi ledakan, " jawab Reza


"Kamu tidak kerumah sakit, Za? " tanya Bima.


"Tidak, aku hanya ingin tau kabar saja setelah kembali ke Mansion William, " jawab Reza.


"Za. " Aldo mendekat ke arah Reza, ia terlihat begitu berseri - seri.


"Kenapa kamu senyum - senyum gitu kayak orang kerasukan, " tukas Reza.


"Ada yang telah berbunga-bunga, " kini Sherly angkat suara.


"Maksudnya? " Reza, Vito dan Rio mengerutkan kening.


Sedangkan Nara hanya kaku di tempat, ia tidak berani memandang Ethan yang ada di sebelahnya. Aldo menarik lengan Reza dan membelakangi Nara, saat itu pula Vito dan Rio mendekat.


"Kalian bisik apa sih? " tanya Vito penasaran.


"Kita juga mau dengar, " ujar Rio.


"Nara jatuh cinta, " ujar Aldo perlahan.

__ADS_1


"Apa? " jawab ketiganya, mereka menoleh ke belakang menatap Nara yang memandang tajam ke arah mereka.


"Apa liat - liat! " ketus Nara.


Reza sedikit senang dalam dirinya, berharap dari sekarang hingga suatu saat nanti sang adik tidak akan pernah kesepian lagi.


"Siapa yang telah membuat adik ku jatuh cinta? " tanya Reza mengeraskan suaranya.


Sontak Ethan saat itu merasa dirinya tidak berdaya, apa yang harus ia katakan ke Reza? Ia telah berani menaruh perasaan terhadap adik sahabatnya itu.


Semua memandang ke arah Ethan, kecuali Vito dan juga Rio. Sang empu yang di tatap pun menjadi salah tingkah.


"Owh! Diam - diam nih? " Reza mendekat ke arah sahabatnya itu.


"Tentu saja tidak! " ucapan itu lolos begitu saja dari mulut Ethan.


"Tentu saja tidak apanya? " Reza memandang tajam.


"Apanya yang apanya? " pertanyaan bodoh macam apa ini? Saling melemparkan pertanyaan yang tidak di mengerti.


"Aku bertanya, kenapa kamu nanya balik? " balas Reza.


"Aku juga bertanya, kenapa nanya balik? "


Sungguh saat ini perasaan Ethan tidak karuan, berbagai macam penjelasan seketika sirna dalam dirinya.


"Sialan! Jangan main - main dengan ku! " seru Reza setengah tertawa.


"Aku tidak bermain - main dengan mu, Za, " kilah Ethan.


Nara hanya tercengang melihat interaksi keduanya, setelah itu menepuk keningnya karena kedua lelaki yang ada di depannya ini sama saja, sama - sama terlihat bodoh! Pikir Nara.


"Kalian berdua konyol! " tukas Nara.


"Hey, Ethan, kamu tidak menjawab ku? " ujar Reza.


"Apa? "


"Kamu mau terus diam - diam menjalin hubungan dengan adik ku? " Reza menautkan sebelah alisnya.


"Si-siapa bilang! " kilahnya.


"Ngaku saja, aku tau, " ujar Reza semakin gencar menggoda sahabatnya.


"Za, sudah lah, Ethan sepertinya tidak kuasa untuk menjelaskan, hahahah, " cibir Aldo.


"Ya... a- aku,,, ya gitu... " lidah Ethan seketika kelu.


"Kalian ya, sudahlah, masuk ke dalam! " seru Nara, ia segera berlari ke arah dalam tanpa memperdulikan siapapun lagi.


"Aku percaya padamu, asalkan jangan sakiti dia, " ujar Reza menepuk pelan bahu sahabatnya.


"Cieee.... langsung di terima nih sama calon Kakak ipar! " seru Bima.


"Cie... traktir dong... " Vito ikut menggoda.


"Sampai mana hubungan kalian? Apakah sudah.... " Rio ikut menggoda.


"Bodoh! Mana mungkin! " seru Ethan cepat. "Sepertinya otak Rio butuh di dinginkan oleh teh Rio! " ucap Ethan yang membuat semuanya tertawa.


"an-JHEer lah,,, "


"Hahahaha sudahlah sudah, sekarang masuk, nanti kita bahas tentang traktiran, " ujar Sherly membuat semuanya mengangguk.


*


Terlihat seseorang mengendap-endap sembari mengambil beberapa foto untuk di tunjukkan. Tak ada yang melihatnya dengan curiga, begitu hebat dengan akting serta aksinya yang tersembunyi.


[ Tuan, saya mendengar bahwa adik perempuan nya akan keluar bersama temannya, saya akan mengikuti dari arah belakang, ] lapor sang anak buah mengirim pesan.


Arres [ Terus ikuti, kalau sudah aman, baru tangkap dan bawa ke markas! ]


[ Siap, Tuan! ]


Ia memasukkan kembali benda pintar tersebut dan terus mengamati interaksi keluarga tersebut dari pintu yang sedikit terbuka.


"Kamu harus cepat pulang, tidak baik terlalu keluyuran, " pesan Arzan.


"Tentu, Kak, aku akan kembali secepatnya, " jawab Jennie.


Ia segera pamit kepada semua yang ada disana, sedang seseorang yang melihat ada pergerakan dari arah dalam, ia segera berpura-pura menjadi seseorang yang hanya sekedar lewat, setelah melihat Jennie keluar dari pintu dan menuju ke arah halaman rumah sakit, ia terus mengikuti jejak gadis tersebut.

__ADS_1


__ADS_2