
*
*
*
Hari sudah hampir malam, namun tidak membuat adik dan kakak itu cepat beranjak dari tempat mewah tersebut. Tanpa di sadari seorang pria dengan stelan jas kantor beserta istri dan anak nya menghampiri meja mereka
"Reza!!! " suara tegas itu membuat Reza seketika menghentikan candaan nya bersama Nara.
"Reza kenapa kamu tidak pernah pulang ? " tanya Hanna dengan sedikit marah.
Nara yang melihat mereka terlihat gugup seketika keringat dingin keluar dari dahi nya , Reza yang melihat kegugupan sang adik menggenggam tangannya erat memberikan ketenangan.
"Tidak perlu ikut campur dengan urusan saya, " balas Reza datar enggan menatap mata ayah nya.
"Berani - berani nya kamu ngomong seperti itu sama Dady, " gertak Arzan ingin. melayangkan pukulan namun di tahan oleh Bima.
"Jangan membuat keributan di sini, di sini tempat ramai apakah kalian tidak malu ? etika kalian di mana ? " tegas Bima sambil menghempaskan tangan Arzan.
"Diam kamu!!! Kamu tidak ada urusannya dengan keluarga kami ! " bentak Jonathan.
Seketika orang yang ada di restoran tersebut riuh dengan suasana ini, ada berbagai macam cibiran yang di lontarkan kepada mereka.
"Jika anda memang seorang ya terhormat maka anda tidak akan bersikap layak nya orang biasa di tempat yang seperti ini, permisi kami akan pergi. "
Bima menarik tangan Reza dan juga Nara untuk keluar dari tempat tersebut, ia tidak peduli apa yang di katakan oleh Jonathan, namun hal yang paling ia benci adalah menjadi sorotan orang - orang dalam situasi yang tidak bagus.
"Berani - berani nya anak itu, awas saja jika mereka pulang kerumah, " geram Jonathan.
Saat sudah sampai di parkiran Nara seketika meneteskan air mata , mengingat kejadian ketika dirinya di siksa dengan kejam nya oleh Jonathan, ia memeluk erat tubuh Reza ingin mencari kenyamanan supaya rasa takut dalam dirinya bisa hilang.
"A- aku ti dak mau kembali sama mereka, " ucap Nara sesenggukan.
"Sudah tenang lah , tidak usah di pikirkan kita tidak akan kembali bersama mereka, " jawab Reza tenang sambil menepuk punggung sang Adik.
"Al, kita langsung ke markas saja segera, " titah Reza.
"Baiklah. "
Mobil melaju menempuh perjalanan yang cukup panjang, Nara duduk di dekat jendela mobil yang di samping nya tak lain adalah Reza . Ia tidak ingin berjauhan meski hanya sebentar karena sumber semangat dan keberanian nya adalah sang kakak yang ketika ia kecil selalu bersamanya , saling memberikan semangat dan saling mendukung.
Andai nenek nya tidak pergi selamanya , pasti ia tidak hidup menderita selama ini pikirnya . Namun apalah daya ? Kita sebagai manusia hanya bisa mengikuti takdir hidup yang sudah di tentukan.
Begitu sakit rasanya ketika memory lama itu kembali, setelah kepergian sang kakak Nara hanya bisa meratapi nasib dengan penuh penderitaan , apakah kesalahan yang di buat ? Kenapa keluarga nya tidak menerima kehadiran nya ?
Setelah lama dalam perjalanan mobil mulai menyusuri hutan yang cukup luas. Sepi, sunyi dan gelap hanya suara deru mobil dan hewan - hewan kecil yang ada di sana hanya lampu mobil yang bisa menerangi jalanan.
"Kak kita kemana ? Kenapa lewat hutan ? " tanya Nara penasaran.
"Sudah diam saja , nanti ada tempat indah, " jawab Reza.
Nara tidak ingin banyak bertanya , ia sudah cukup lelah setelah lama dalam perjalanan ia bersender di pundak Reza dan ia pun terlelap , Reza yang melihat adik nya langsung terlelap ia hanya tersenyum sambil mengelus lembut rambut yang terurai.
Mobil merah telah sampai di sebuah tempat yang cukup luas, di sekitarnya di hiasi dengan lampu obor dan di suguhkan dengan sebuah bangunan mewah nan indah , kolam renang yang berada di tepi tak lupa berbagai macam bunga serta tanaman lainnya yang di susun rapi, sebuah papan besar yang diberikan gambar seekor singa dengan mahkota dan di bawah nya tertulis Jungle Kingdom.
Ya! itulah Mansion mereka , Mansion yang di bangun dengan begitu mewah dan cukup megah.
Tettttt....
Aldo memencet sebuah tombol yang berada di pohon yang cukup besar, dan muncul lah sinar merah sehingga para anggota di sana keluar dengan berbagai alat lengkap nya.
Nara terkejut dan langsung bangun dari tidur nya.
"Ini tempat apa ? " tanya nya spontan.
"Ayok turun. " Reza segera merangkul Nara untuk keluar dari mobil.
Semua anggota tercengang melihat seorang gadis cantik ,mungil dengan pipi chubby nya dan di rangkul oleh Reza keluar.
"Kalian tidak usah bengong, kita kedatangan orang spesial dan akan menjadi salah satu anggota kita di sini, " ucap Ethan tegas.
Semua mengangguk namun ada salah satu wanita yang merasa tidak terima kehadiran nya.
"Siapa dia ? " tanya nya dengan sikap dingin.
"Kamu tidak perlu menanyakan siapa dia, cukup ikuti perintah ku, " jawab Reza , ia tidak suka adik nya di tatap dengan mata tajam.
"Dia tidak berhak masuk di kawasan ini, jangan bilang dia perempuan murahan yang sengaja kamu bawa datang hanya untuk memuaskan naf** kalian, " gertaknya.
"Diam Sherly,,, dia adalah adik ku!! " bentak Reza.
Semua langsung memberi hormat kecuali Perempuan yang bernama Sherly.
"Selamat datang Queen, " ucap mereka serentak.
Nara mengerutkan kening. " Ha ? siapa yang kalian panggil Queen ? "
"Reza adalah pemimpin kami disini, jadi wajib bagi kami untuk lebih menghormati mu, " jawab salah satu anggota yang bernama Rio.
"Aku tidak faham apa yang kalian maksud,, tapi aku hanya ingin tidur aku ngantuk, " rengek nya bergelayut manja di lengan Reza.
"Astaga dek... bisa - bisanya ya kamu, " ucap Ethan menggelengkan kepala melihat tingkah Nara.
"Sudah lah Ethan,, bawa barang nya masuk , semuanya ayok silahkan masuk dan lanjutkan tugas kalian masing - masing, " ucap Reza.
"Siap! " jawab mereka serentak.
Semua kembali dengan tugas masing - masing , tidak peduli dengan seorang perempuan yang bernama Sherly yang terlihat kesal dengan semuanya.
"Sialan!!! Mentang - mentang pendatang baru sudah berani nya merebut posisi ku sebagai Queen, " geram nya.
Sherly memang lah perempuan yang berwatak tegas , dingin dan juga datar. Namun karena keegoisan hatinya ia hanya ingin mendapat kan posisi lebih dari yang lain bahkan ia sampai berani menaruh rasa kepada Reza.
Setelah sampai di dalam Ethan menyiap kan kamar untuk Nara, kamar yang begitu luas dengan nuansa abu di campur putih, dan pemandangan yang indah di balik jendela besar tersebut.
__ADS_1
"Ya ampun luas sekali,,,, bahkan lebih luas dari kamar ku sebelum nya, " guman Nara.
"Mulai sekarang kamu akan nyaman di sini ya, " ucap Ethan tersenyum.
"Ada yang kurang ? " tanya Reza pada Ethan.
"Tidak ada Za, semua sudah lengkap baju nara sudah bisa di taruh dalam lemari, " jawab Ethan.
"Oke thanks ya. "
"Tidak perlu berterimakasih susah senang kita sama - sama, " jawab nya santai.
"Malam ini kalian mau kemana? " pertanyaan Nara berhasil membuat Reza mengingat tugas nya untuk menjalankan misi.
"Ee... anu... ada kerjaan mendesak, " jawab Ethan sedikit gugup.
"Kenapa gugup? " tatapan Nara berubah layak nya tatapan elang yang sangat tajam.
Reza sudah tau jika di tanya lalu di jawab dengan jawaban gugup Nara tidak akan ada habis - habisnya untuk bertanya.
"Sudahlah nanti kamu liat sendiri, " jawab Reza.
"Baiklah, aku mau istirahat awas aja kalian tidak memanggil ku jika ada sesuatu, " ancam Nara.
'Aneh , sebentar lucu, sebentar gemesin sebentar kayak singa betina aja, ' batin Ethan.
"Jangan bertanya - tanya dalam hatimu dengan sikap ku, " ucap Nara menatap Ethan.
"Ha??? "
Reza seketika tertawa terbahak-bahak melihat kebingungan Ethan yang di buat oleh sang adik.
"Ayok keluar biarkan Nara istirahat, " Reza merangkul Ethan untuk keluar dari ruangan tersebut.
Di ruang tengah terlihat Bima dan Aldo sedang menyiapkan barang - barang untuk nanti malam beserta anggota lainnya.
"Kenapa muka Ethan linglung begitu? " tanya Aldo.
Ethan yang menyadari dirinya masih terlihat bingung segera mengusap wajah kasar. "Salah liat kali. "
"Sudah lah sudah, ini semua gara - gara nara sudah berubah dratis, " balas Reza.
"Ha maksud kamu gimana Za ? "
Kebetulan di sana ada temannya yang bernama Vito yang ikut bergabung bersama mereka ikut mendengarkan cerita dari sang ketua.
"Nara kayak nya nanti malam bisa di bawa, " ucap Reza, spontan ucapan tersebut membuat semuanya bengong.
"Kamu yakin ? Emangnya nara nggak kaget gitu ? " tanya Vito.
"Nanti kita lihat macan betina beraksi. "
"Intinya kita harus tetap waspada za, jangan biarkan nara dalam bahaya meski dia bisa bela diri, " pesan Bima.
"Betul apa yang di katakan bima , aku yakin kamu hanya ingin membangkitkan watak keras dalam diri Nara, " tebak Ethan.
Semua mengangguk mendengar rencana mereka yang akan membawa Nara terjun saat melakukan transaksi ilegal, sambil tetap fokus menyiapkan berbagai macam alat serta pasukan untuk berjaga - jaga Reza tidak pernah lengah sedikit pun dengan keadaan sekitar..
...
Waktu menunjukkan pukul 01.00 dini hari, Ethan mulai beraksi untuk melakukan tugasnya yang mengumpulkan beberapa orang untuk berjaga - jaga dan di bantu oleh Aldo.
"Ethan... berapa orang yang akan terjun malam ini? " tanya Aldo sembari memeriksa senjata yang akan mereka bawa.
"Sekitar tiga puluh orang saja, separuh nya sudah berjaga di tempat jadi kita bisa membawa mobil tiga saja, " jawab nya.
"Baguslah kalok sudah di atur ,malam ini nara ikut berarti kamu sama bima ikut sama kami juga, " ujar Aldo.
"Baiklah. "
Sedangkan di sebuah yang cukup gelap Nara masih terlelap dengan mimpi indahnya, di baluti dengan selimut tebal sambil memeluk bantal guling yang cukup empuk dan nyaman untuk nya.
Bleep!!
Seseorang menyalakan lampu kamar nya dan hanya tersenyum ketika melihat Nara hanya menggeliat namun tak membuka mata.
"Lucu banget sih kamu dek kalok lagi tidur, " guman Reza tersenyum kemudian ia membangun kan Nara.
" Dek bangun..." sambil menggoyang tubuh adik nya
"Hmmmhh. " hanya suara deheman yang keluar.
"Ayok bangun...ada sesuatu yang harus kamu tau, " bisik nya.
Nara dengan terpaksa membuka mata perlahan sambil mengucek nya. "Ini jam berapa sih kenapa malam - malam harus menceritakan sesuatu ngantuk banget.. hooaam. "
"Sudah cuci muka aja dulu nanti baju nya Kakak siapin, " jawab Reza.
Nara segera beranjak dari tempat tidur dan menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar nya itu dan segera mencuci muka, tak lama ia pun keluar dengan muka yang cukup segar, ia heran melihat jaket kulit berwarna hitam serta celana kulit yang senada.
"Kenapa harus pakek baju ini ? " tanya Nara.
"Jangan banyak tanya, kita tidak ada waktu banyak cepat pakai, " balas Reza.
Setelah memakai baju tersebut Nara mengikat bawa rambut panjang nya , ia sungguh terlihat berwibawa.
"Ayok keluar. "
Nara hanya mengangguk dan mengikuti Reza dari belakang, tubuh nya yang cukup tinggi membuat dirinya semakin terlihat tegas di tambah dengan sepatu boots berwarna hitam ia nampak seperti bukan adik nya Reza melainkan kekasih nya.
Saat sudah di luar, Nara terperangah melihat berbagai macam senjata yang sudah dikemas rapi pada masing-masing tempat nya , semua yang melihat kehadiran Nara dan Reza menunduk memberi hormat.
"Semua sudah siap? " tegas Reza.
"Siap!! "
__ADS_1
Hanya satu wanita yang tidak suka dengan kehadiran Nara dialah yang tak lain Sherly, ia selalu ikut andil bila ada misi khusus.
"Kita mau kemana? " tanya Nara pada Aldo.
"Kita pergi ke sebuah tempat untuk melaksanakan transaksi ilegal, " jawab Aldo.
Nara terdiam sejenak tidak mengerti tentang semuanya, namun biarlah pertanyaan itu ia simpan dan hanya ingin melihat dengan mata kepala sendiri.
"Yasudah kalok semua sudah siap ayok berangkat, " ajak Bima , semua keluar ke halaman sambil menaiki mobil masing - masing.
Saat Nara melihat berbagai macam persiapan Sherly mendekatinya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
"Kenapa kamu selalu mengikuti mereka? Apakah mereka tidak cukup kamu puaskan sehingga mereka membawa mu? " tanya Sherly dengan tatapan sinis.
Nara menatap Sherly dari atas sampai bawah. "Aku tau kamu senior disini tapi tidak usah menyombongkan diri jika kamu memang lebih hebat, " sarkas Nara melipat kedua tangannya di depan dada.
"Kamu iri dengan kemampuan ku ? Cuih sekali murahan tetap murahan, " cibir Sherly.
"Hahahahah.... iri kamu bilang? Hahahaha, " Nara tertawa terbahak-bahak mendengar tutur kata Sherly yang menyebutnya iri.
"Dasar perempuan murahan... " ia hampir melayangkan tamparan ke pipi Nara namun dengan sigap Nara menahannya.
"Tidak ada gunannya kamu memiliki kemampuan tapi tidak memiliki etika, " ucap dengan tatapan tajam sambil menghempaskan tangan Sherly.
"Nara!!! " teriak Bima , Nara segera menoleh sambil tersenyum.
"Ingat tidak ada gunannya menyombongkan diri di atas langit masih ada langit, " ia tersenyum dengan tatapan sinis dan berlalu meninggalkan Sherly yang hanya diam membisu.
Nara melambaikan tangannya sambil berlari menuju arah keempat kakak nya. "Kamu sedang apa dengan Sherly? " tanya Ethan.
"Hmm tidak ada , dia hanya butuh pengertian sedikit, " jawab Nara.
"Yasudah ayok masuk semua sudah siap, ingat ya nanti di sana harus ful pengamanan jangan kemana - mana bahaya, " nasihat Ethan.
"Dihh kalian yang bawa jadi terserah lah kalok ada kalian aku kan bisa bebas hehe, " cengir nya.
"Yang penting sekarang itu keamanan kamu Nar.. jangan membantah, " sambung Bima
"Iya deh. "
Setelah lama menunggu Reza yang mengatur para anggota bersama Aldo mereka segera naik ke dalam mobil, seperti biasa Reza duduk di dekat Nara.
"Lama banget Kak. "
"Iya maaf, ayok Al jalan."
Mobil segera melaju di ikuti oleh tiga mobil dari belakang, sungguh suasana saat itu sangatlah sunyi hanya suara deru mesin mobil serta kebisingan hewan malam . Nara terlihat tetap menikmati kegelapan yang mereka lewati, terpikir dalam benak nya hanya bulan sinar bulan yang menerangi jalan hutan itu, tidak ada seorang pun yang tinggal di sekitar sini kecuali sebuah bangunan markas yang di tempati nya.
'Sepi banget suasana nya, terlihat tenang namun ketenangan ini akan menjadi bahaya bila orang lain masuk ke daerah ini kecuali orang yang menempati bangunan itu, ' batin nya
Benar yang di ucapkan oleh Nara, sesuatu yang terlihat ramai dan berisik belum tentu ada bahaya namun ketenangan seperti hutan di malam hari inilah yang memiliki ribuan bahaya.
"Dek kamu kenapa melamun? " tanya Reza.
"Ah, tidak Kak hehe sedang menikmati kesunyian malam, " jawab Nara.
"Bukan kah ini yang ingin kamu rasakan dek? " tanya Reza sekali lagi.
"Darimana Kakak tau? "
"Selama di rumah kamu pasti tidak pernah merasakan ketenangan seperti ini, akhir nya kamu depresi dan memilih untuk pergi dari dunia ini selamanya, " jawab Reza.
"Benar Kak, tapi Kakak datang untuk membawa ku kembali semangat dan menjadi lebih kuat lagi. " ia menyenderkan kepalanya di pundak sang Kakak.
"Tetaplah menjadi perempuan kuat dan yang tidak bisa terkalahkan oleh siapapun, " pesan Reza membelai rambut sang adik.
"Pasti Kak. "
Ketiga teman Reza yang ada di dalam mobil bisa merasakan begitu besar kasih sayang Reza untuk Nara , mereka begitu terharu dan berpikir dalam hati masing-masing agar tetap saling memberikan yang terbaik.
Cukup lama dalam perjalanan mereka sampai di sebuah bangunan yang terlihat cukup tua dan terlihat sunyi tak ada kehidupan di sekitarnya, mereka menghentikan mobil di sana.
Semua anggota turun dan mencari posisi masing - masing , termasuk Sherly ia mengikuti beberapa anggota untuk bergabung.
Reza dan yang lainnya segera turun dari mobil, ia tetap menggenggam tangan Nara tidak akan pernah ia lepaskan sambil mengawasi sekitar.
"Aldo turunkan semua barangnya kita akan masuk kedalam sesuai kesepakatan, " kata Reza , Aldo mengangguk dan mengambil beberapa barang nya.
"Ini tempat apa? Sepi sekali, " ucap Nara menatap sekitar.
"Nanti kita lihat bersama, " jawab Ethan.
Mereka berlima melangkah masuk kedalam bangunan tua tempat mereka sering melakukan transaksi ilegal. Sementara didalam bangunan itu seorang laki - laki bertubuh kekar dengan tinggi sekitar 180 cm menyilang kan kedua kaki nya dan melipat tangan didada bersama beberapa orang kepercayaan nya.
Ia menatap jam tangan menunggu kedatangan tamu nya dan beberapa saat kemudian terlihat empat orang laki - laki bertubuh tinggi dan tegap namun penglihatannya jatuh kepada salah satu perempuan dengan tinggi sebahu dengan langkah tegas nya.
"Selamat datang tuan muda Reza, silahkan duduk, " sapa seorang pengawal sambil menunduk.
Reza mengangguk dan mereka duduk bersama sambil menatap ke arah orang dengan tubuh kekar itu, tatapannya tak kalah tajam dan dingin dari sang pemilik mata elang. Laki - laki tersebut memanggil salah satu pengawal nya yang sedang membawa 2 koper uang.
Reza melirik uang itu sekilas, dan menyuruh Aldo mengeluarkan barang yang akan ia jual. Nara yang ada di sana cukup kaget dengan kegiatan mereka malam ini, namun ia tidak memperlihatkan rasa kaget itu melainkan ia tetap terdiam. 'Jadi... melakukan transaksi ilegal wow... menarik ternyata kak reza kerjaan nya tidak main - main kerjaan yang sebenarnya apa? ' bisik Nara dalam hati , hal manalah yang tidak di fahami oleh Nara, sedangkan kecerdasan nya bisa mencapai rata - rata.
"Bagaimana Tuan? Apa barangnya sesuai yang anda ingin kan ? " tanya Aldo memastikan.
"Benar - benar sesuai apa boleh saya mencoba nya terlebih dahulu? " ucap laki - laki itu dengan seringai licik.
Nara bisa merasakan aura yang mengganjal dari orang itu, namun ia berusaha tenang dan bersiap siaga bila terjadi sesuatu ia menghembuskan nafas menenangkan pikiran serta isi hatinya.
Keempat laki - laki itu saling melirik satu sama lain, Bima mengangguk kan kepalanya tanda menyetujui permintaan klien nya begitu pula Aldo dan Ethan.
Klien tersebut berjalan ke arah sasaran yang sudah disiapkan dan memfokuskan bidikannya. "Aku hanya ingin melihat sejauh mana barang ini bisa membunuh musuh. " masih tetap pokus ke arah bidikannya
Mereka masih belum menyadari bahwa sasaran tersebut pokus ke arah Reza, namun tidak dengan Nara yang merasakan hal tersebut. Tiba - tiba tanpa mereka sadari Klien tersebut dengan cepat kilat mengalihkan bidikannya dan benar saja feeling Nara bahwa bidikan itu mengarah kepada Reza sang kakak dan.
Dorr!!
__ADS_1
Br*ngs*k!!!!!