
Bismillah 🤲
Happy Reading 🥳💜
*
*
Brak!
Suara pintu kayu yang terlihat rapuh di buka paksa oleh Reza, seketika pintu tersebut langsung ambruk akibat tendangan Reza yang tak main - main.
Rain yang melihat itu tercengang menelan ludah kasar, bagaimana jika dirinya yang di tendang seperti itu dan bernasib sama dengan pintu tersebut? Membayangkan nya saja membuat bulu kuduknya meremang merasa ngeri terhadap Reza.
Reza yang sudah melangkah masuk menatap bingung kepada Rain yang menatapnya dengan mata tanpa berkedip.
"Ada apa dengan matamu? " tanya Reza garang bahkan menaikkan satu alisnya.
Rain yang di tegur seperti itu langsung gelagapan kemudian berdehem untuk menetralkan keterkejutan nya.
"Ah.. ekhem... e-e i- iya ayok masuk. " bahkan Rain langsung berlari mendahului Reza yang kembali menatapnya bingung.
Reza hanya menggidikkan bahu tak tau lalu menyusul Rain yang ada di depannya.
Ruangan tersebut begitu terlihat sempit dan gelap, Reza yang baru saja masuk kedalam langsung waspada dengan gelapnya lorong tersebut. Ia teringat akan adiknya yang di kurung di sini semakin membuat perasaan nya bergejolak.
"Apakah lorong nya jauh? " tanya Reza.
"Tidak, tinggal dua puluh langkah, " jawab Rain.
Keduanya melangkah dengan cepat. Tanpa ragu, dan tanpa rasa takut, ada dua gadis yang harus di selamat kan, ada dua gadis yang harus kembali dengan nyawa yang masih ada.
.
Setelah memastikan sedikit jauh langkah mereka, kini sampai di tempat yang terlihat lebih gelap tetapi ada sedikit cahaya temaran di lorong tersebut, itu terlihat sedikit lebih luas hingga ketika keduanya lebih dekat....
"Aakkkkkhhhh!! " terdengar suara jeritan membuat keduanya terkejut.
"Disana! " ucap Rain segera berlari bersama Reza mendekat ke sumber suara tersebut.
***
Bugh!
Bugh!
Cairan mengalir di wajah Arres, bahkan kini terlihat wajahnya tak terbentuk akibat di hantam terus meneruskan oleh Vito.
__ADS_1
Kalian bertanya kenapa Arres tidak melawan? Bisa di bayangkan ketika Arres belum siap apapun dan langsung di terjang dengan pukulan keras dan bertubi - tubi oleh Vito apakah ada celah untuk mengeluarkan senjata atau melakukan persiapan untuk membalas?
Bahkan ketika Vito menyerang nya pistol yang di pegang Arres langsung di rampas kemudian kembali memukul tanpa ampun.
"Ini untuk mu karena sudah melukai Nara! " teriak Vito sembari memberi pukulan nya.
"Dan ini, karena kamu menumpahkan alkohol ke punggung Nara! " kembali Vito menendang Arres.
"He-hentikan.." suara berat Arres tak tahan dengan serangan ganas dari Vito.
Vito tertawa sini. "Apa?! Aku tidak dengar. " kekeh Vito.
"Aku bilang... hentikan! " suara teriakan Arres terdengar terpaksa.
"Hentikan kamu bilang?! Hentikan? Setelah apa yang kamu lakukan terhadap Nara? Asal kamu tau, Nara adalah adik kami! Perempuan paling berharga, perempuan yang seluruh pasukan Jungle Kingdom ratukan, kamu tau itu, ha?!!! BAHKAN, KAMU DENGAN BERANINYA MENEMBAK NARA!" jerit Vito.
Bugh!
Kembali menendang kasar tubuh Arres , Vito tidak peduli akan sakit yang di rasakan oleh pemimpin Organisasi berdarah dingin itu, ia sudah berjanji kepada Nara untuk membalas semua perbuatan siapapun yang melukai dirinya.
"Akkkhhhh!! " Vito menginjak bagian ulu hati Arres dengan keras hingga terdengar bunyi seakan-akan tulangnya sudah patah.
"Vito hentikan! " suara teriakan familiar mengehentikan aksi Vito yang sudah hampir membunuh Arres.
"Reza? " Vito menatap kedatangan Reza yang berlari kearahnya.
"Vito, lepaskan. Kamu bisa membunuhnya, " ucap Reza menarik tangan sahabatnya itu.
"A-apa? " kaki Reza mendadak begitu lemas, bahkan ia tak melihat adiknya di sekitar sini.
"B*j*Ng*n ini menembak Nara dua kali, Za, apakah kamu tidak khawatir ha?! " meskipun Vito tidak melihat sendiri Arres menembak Nara, tetapi ia sudah cukup bisa menebak pada bagian luka Nara yang berdarah, itulah keistimewaan Vito, dapat melihat hal - hal kecil dengan begitu jeli.
Reza menarik kerah Arres yang terlihat lemas, lalu menatap nya tajam. "Katakan apa yang kamu lakukan terhadap adikku! " bentak Reza kasar. "Jawab b*ngs*ttt!!!! "
Terdengar kekehan keluarga dari mulut Arres. "Lalu kenapa aku menembak nya? Aku belum puas sampai kalian semua satu persatu mati! " balas Arres tajam.
"B*j*ngannn!! "
Buagh!!!
Reza menghantam keras wajah Arres hingga berhasil membuatnya tak sadarkan diri. Vito menyeret tubuh Arres kemudian mengikat nya.
"Katakan dimana Nara! " tekan Reza menatap Vito.
"Rio membawanya keluar, kamu keluar lah duluan, aku akan mengurusnya, " jawab Vito menahan rasa sesak dalam dirinya. Cairan bening tiba - tiba merembes di pipinya, ia mengingat betapa menderitanya Nara dengan suara jeritan kesakitan yang ia dengar dari Video yang di kirim sebelumnya.
Tanpa pikir panjang Reza segera berlari ke arah luar mencari keberadaan Nara yang di bawa oleh Rio.
__ADS_1
"Baiklah, ayok kita keluar, " ucap Rain.
"Siapa dia? " tanya Vito melihat Rain mengangkat tubuh yang terlihat asing.
"Dia anak buah ku, Reano, " jawab Rain.
"Kenapa dia ada disini? " tanya Vito lagi.
"Dia awalnya membawa Nara keluar tetapi tanpa di duga Arres begitu cepat menemukan nya, " jelas Rain.
Vito hanya mengangguk kemudian menyeret tubuh Arres dengan begitu kasar, rupanya ia membalas perbuatan yang telah Arres lakukan terhadap Nara tadi.
***
Rio yang awalnya sudah bersiap akan menembak siapapun yang mendekatinya di kejutkan oleh dua orang yang begitu di kenalinya, bahkan hampir saja ia membunuh keduanya.
"Nara! " teriak Sherly dan Ethan bersamaan.
"Syukurlah kalian, ku kira anak buah Arres, " ujar Rio.
"Nara,,, bagaimana dengan Nara? " Sherly melewati Rio dan menarik Nara yang di papah oleh Jennie.
"Dia tertembak dan_ " Rio tak sanggup melanjutkan ucapannya.
"Dia kehilangan banyak darah, cepat bawa dia kerumah sakit, " sambung Jennie dengan air mata yang masih mengalir.
"Apa?! Bagaimana bisa? " jerit Sherly.
"Di-dia menyelamatkan ku.. " jawab Jennie sesenggukan.
Ethan segera mendekat dan mengangkat tubuh Nara yang tak sadarkan diri. "Nara, bertahanlah, aku ada disini, " bisik Ethan lembut, hatinya begitu hancur melihat keadaan Nara yang tak berdaya, ia dengan lembut menggendong tubuh tersebut seakan-akan takut akan terluka lagi.
"Cepat kita keluar, " ucap Rio.
"Dimana Vito? " tanya Sherly.
"Sedang menangani Arres, sudahlah mungkin Reza juga sudah sampai disana, kita keluar saja dari sini, " ujar Rio cepat dan di angguki oleh semuanya.
Mereka keluar dengan sedikit berlari, Ethan yang membawa tubuh Nara tak merasa terhalangi ketika dirinya mulai bergerak cepat, ia semakin mengeratkan pelukannya terhadap Nara, darah Nara kini sudah mengenai kemeja putih miliknya yang terbalut oleh rompi yang ia gunakan.
Sedangkan Jennie di bantu oleh Sherly, meski Sherly sedikit merasa kesal terhadap Jennie karena jika bukan gara - gara perempuan itu Nara tidak akan seperti ini, tetapi tidak ada waktu untuk melepas kekesalan nya.
*
*
Maaf karena lambat update 🤭🙏🙏 Author kasih bonus jadi dua bab😌❤️
__ADS_1
Jangan lupa jejak nya ya😉
Love banyak banyak buat kalian❤️