Misteri Cinta Gadis Mafia

Misteri Cinta Gadis Mafia
War pt. 4


__ADS_3

Hai teman-teman! Maaf ya tidak pernah update, karena seluruh episode telah author revisi ulangπŸ˜…πŸ˜… Ada kesalahan yang terjadi di berbagai bab tersebut!


Jadi sekarang semua bab sudah author perbarui ya,,,πŸ™‚πŸ€—


Jangan lupa berikan komentar ke bab yang sudah di perbarui ya, Author berharap kalian tetap memberikan dukungan yang terbaik πŸ˜‰πŸ™πŸ™β€οΈ


Mohon maaf kalau author membuat cerita yang kurang menarik!!


Semangat semuanya terimakasih sudah mau membaca !!! πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


Oke langsung sajaπŸ˜‰......


Bismillah 🀲


Happy Reading πŸ₯³πŸ’œ


*


*


Mendengar sebuah teriakan ketakutan dari Jennie membuat Reano tak tahan, sedangkan rombongan Aldo telah berada di jarak tujuh meter dari tempat nya menyerang persembunyian musuh.


"Tujuh meter dari sini, tempat persembunyian terlihat, " ucap Arzan sembari melihat dengan teropongnya.


"Choi, bagaimana? " Aldo menatap Choi yang telah selesai mempersiapkan bazooka.


"Sudah siap, apakah akan di luncurkan sekarang?! " terdengar suara Choi yang di dengar oleh Reza.


"Rain. " tanpa pikir panjang Rain yang mengetahui apa yang di maksud oleh Reza segera memberitahu Reano.


"Bersiaplah Reano. "


"Luncurkan sekarang! " suara tertahan Reano dapat di mengerti oleh Rain.


Rain mengangguk menatap Reza. "Luncurkan sekarang! " ucap keduanya serempak.


Choi melepas batang bazooka tersebut, dengan kepulan asap yang terlihat begitu mengerikan di udara bazooka telah mendekat ke arah halaman depan persembunyian milik musuh.


Hingga lima detik kedepan....


DUUARRR!!!


DUUARRR!!!


Dua kali bunyi ledakan memekakkan telinga yang berada di area bawah, semuanya sedikit menghindar ketika serpihan tanah melayang di udara. Goncangan yang begitu terasa dahsyat layaknya gempa bumi membuat rombongan Jungle Kingdom bertahan pada posisi aman.


Suara bel darurat telah di bunyikan, apakah rombong musuh telah siap?!


Dor!


Dor!


Dor!


"TIARAP!!!! " teriakan Bima menggelar.


Ratusan peluru melesat ke berbagai arah dari gedung tersebut, sontak seluruh pasukan Jungle Kingdom tiarap di atas tanah menghindari timah panas itu.


"F*ck*ng sh***, mereka telah menyiapkan penyerang darurat! " suara Rio terdengar geram yang sekarang posisi nya entah di sebelah mana.


"Waspada! " seru Ethan.


Para sniper kembali fokus menatap ke depan meski dalam posisi tiarap penglihatan mereka cukup bagus untuk memantau sekitar.


"Halaman samping! Mereka keluar dari halaman samping! " suara Eren terdengar.

__ADS_1


"Aku melihatnya, hey, Shuzi, maukah kamu bertanding denganku? " Chen yang entah sekarang dimana menantang Suzhi.


"Sepuluh detik menghabisi dua puluh musuh, jika kamu menang aku akan mentraktir mu, " balas Shuzi tersenyum bangga menerima tantangan.


Zhu yang mendengar perbincangan mereka ikut nimbrung. "Kalian tidak mengajak ku? Cih... ini tidak adil! "


"Dasar bocah tidak tau malu! " sahut Eren mendengar rengekan Zhu.


"Dasar old man..! Bisakah kamu tidak selalu membuat ku putus asa dengan kemarahan mu?! " balas Zhu sedikit kesal.


"F*ck you, Luhan Zhu,, aku akan mencekik leher mu setelah perang ini selesai! " geram Eren menekan kata - katanya.


"Owh... takut sekali.... " balas Zhu dengan suara ketakutan yang di buat - buat.


"Ngomong sekali lagi atau aku ledakkan otak tengik mu! " Chen ikut berkomentar, seketika Zhu tidak berani untuk berbicara.


Semua yang mendengar perdebatan itu hanya tersenyum di tempat masing-masing, sepertinya bocah tengik itu selalu seperti Tom and Jerry ketika bertemu dengan Eren, namun bagaimanapun tanpa adanya keributan dari dua orang ini mereka akan terasa sangat sepi.


Meski Eren terkesan irit bicara, tetapi Eren selalu melindungi para bocah tengik di sekitarnya, terutama dengan Zhu, karena hanya Zhu lah yang selalu bertindak sesuka hati.


***


Arres telah siap dengan semua perlengkapannya, mengumpulkan berpuluh-puluh pasukan didalam gedung tersebut, dengan langkah tegas ia berjalan menatap seluruh pasukan yang kini telah berbaris rapi.


"Apakah kamu sudah menyalakan penyerangan darurat? " suara dingin Arres menatap Furio.


"Tentu saja, ratusan peluru akan cukup memperlambat gerakan mereka, " jawab Furio menyeringai.


"Aku tidak akan keluar, bagian ku adalah dua gadis di ruangan itu, aku akan menuntaskan balas dendam ku. " mata Arres kian menatap dengan tajam.


"Aku akan membawa mereka keluar lewat halaman samping, " ujar Furio.


"Baiklah, semuanya ikuti perintah Furio, aku akan keluar setelah menghabisi dua gadis itu. "


Baru saja semuanya hendak berangkat keluar, salah satu dari mereka kembali memberi laporan.


Seluruh mata terkejut. Terlihat wajah lelaki itu berkeringat karena berlari cukup jauh dari ruangan bawah tanah menuju tempat kumpulnya ini.


"Apa?! " Furio tak terima ia bahkan menggebrak meja.


"Bagaimana bisa?! " dada Arres kembang kempis.


"Saya kebetulan lewat dari sana, dan setelah saya lihat tidak ada siapapun, lalu ketika saya masuk, saya melihat jejak darah yang menetes dan mereka keluar melalui jalan rahasia yang ada disana, " jawab nya sedikit terengah-engah.


"Furio bawa pasukan ke jalur keluar bawah tanah! Sisakan untuk menyerang disini, aku akan menyusul lewat depan ruangan itu! Br*ngs*k! Kita tidak boleh kalah! Aku yakin disini masih ada yang tersisa anak buah Rain, sialan!! Aku akan menghabisi seluruh anak Jungle Kingdom!! " teriak nya. Ia tak menyangka bahwa masih ada salah satu anak buah Rain yang telah memata - matai keadaan di markas miliknya.


"Baik, Semuanya keluar dari halaman samping!! Tiga puluh orang ikut aku ke jalan keluar bawah tanah! " perintah Furio.


"Siap Komandan! "


Akhirnya setelah di berikan beberapa instruksi, mereka keluar dengan langkah tegas mereka, seperti anak buah Jungle Kingdom, peluru mereka kalungkan di leher, berbagai macam senjata melekat pada tubuh mereka.


***


Pelarian dari sebuah kurungan bukanlah hal yang mudah untuk Nara, luka di punggungnya semakin membuat dirinya terasa lemah, berkali-kali Jennie ingin membantunya tetapi Nara hanya menggelengkan kepala.


Nara tidak mau menyusahkan siapapun, jika yang kena dirinya ia akan terima tetapi ia tak sanggup jika salah satu Saudaranya terkena dampak oleh sebuah kesalahpahaman dari musuh Kakak nya.


Reano terlihat sedikit panik, ia tak memiliki cara apapun di saat Nara seperti ini, yang ia harapkan adalah secepatnya sampai di ujung ruang rahasia untuk bertemu dengan Komandan nya beserta dengan Pemimpin Jungle Kingdom.


"Nona, apakah Nona baik - baik saja? " Reano tampak khawatir mendekati Nara.


Nara berusaha kuat untuk bertumpu dengan kedua kakinya. "Bawa Jennie pergi Reano, saya masih bisa sendiri, " ucap Nara.


"Maafkan saya, Nona. " tanpa aba - aba Reano langsung menaikkan Nara di atas punggungnya lalu dengan sekuat tenaga ia berlari, sedangkan Jennie sudah ada di depan.

__ADS_1


Nara tersenyum lirih, merasa bahwa dirinya adalah beban bagi dua orang ini. "Seharusnya kamu tidak perlu, Reano, aku masih punya kaki untuk berjalan. "


"Lebih baik seperti ini daripada mendapatkan murka Komandan Rain, " jawab Reano masih setia menggendong Nara.


"Haha.. bilang saja sama Rain bahwa saya yang mau di tinggalkan. " bahkan suara tawa Nara terdengar begitu lirih.


Reano memilih untuk tidak menjawab, ia hanya fokus menatap ke depan.


***


"Berapa lama lagi? " Reza yang sekarang tengah berjalan bersama dengan Rain mendekati ujung ruang rahasia tempat sang adik akan keluar merasa tak sabar.


"Tinggal sebentar, Tuan, itu lihatlah pintu kecil dengan kayu. " Rain menunjuk sebuah pintu kayu yang terlihat sedikit rapuh.


"Ayok kesana. " Reza hendak melangkah namun tiba - tiba...


Dor!


Dor!


"Tuan Reza! " Rain segera menarik Reza untuk menunduk.


Reza yang belum siap terjatuh bersamaan dengan Rain.


"F*CK!! Berani - beraninya!!! " Reza dengan cepat mengokang senjata nya membidik ke segala arah.


"Tuan, kita di serang! " teriak Rain sekali lagi melihat sepuluh rombongan yang mendekat ke arah nya.


Disana juga terlihat ada Furio dengan senjata Laras panjangnya, Rain dapat melihat senyum sinis Furio terhadap dirinya.


"Wah.. wah... aku tidak menyangka kamu terlalu hebat, Rain,,, " kekeh Furio bertepuk tangan. "Selamat datang, Tuan Reza. " Furio melirik Reza memberikan senyum smrik nya.


"Mau apa kamu?! " balas Rain menatap tajam.


"Minggir! Jangan halangi jalan saya! " dengan tatapan dingin Reza mendorong Furio hingga sang empu terjungkal ke belakang.


"Berani - beraninya kamu!! " teriak Furio ingin melayangkan pukulan.


Bugh!


Satu pukulan mendarat di wajah Furio menyebabkan darah keluar dari sudut bibirnya.


"B*ngs*t!! " teriaknya murka.


"SERANG!! " teriak nya kepada seluruh pasukan yang ia bawa.


"F*ck you! K*p*rat kamu! " amuk Reza, sungguh saat ini ia hanya ingin membebaskan adiknya, tetapi musuh tau keberadaan dirinya.


"Tuan, bagaimana ini? " Rain sedikit panik, karena jalannya di halangi oleh Furio beserta anak buahnya.


"Cepat selesaikan, kita tidak ada waktu, Bima selesaikan di sana bersama yang lain, dan cepat bebaskan Nara, kami di serang di sini! " Reza memberi informasi kepada seluruh pasukan.


"Baik, Za. "


Reza mematikan alat komunikasi nya. Begitu pula Rain mengabari Reano untuk tidak keluar dulu karena bisa jadi ketika mereka keluar ketiga orang itu akan di serang.


"Bagaimana kalau mereka ngejar lewat sini?! " tanya Reano panik.


"Aku akan berusaha secepat mungkin menyelesaikan serangan ini, bersembunyilah di tempat yang aman! " setelah memberi info, Rain mematikan alat komunikasinya dan langsung membantu Reza menyerang anak buah Scale Bones.


"Hahaha.... jangan terlalu percaya diri, Tuan Arres sudah berjalan ke arah lorong rahasia itu, " ucap Furio.


Reza yang mendengar nya mendadak tercekat, apa yang harus ia lakukan?!


"Mati kalian semua!! " teriak Reza tak tahan.

__ADS_1


Sedangkan Rain sudah menyerang musuh yang menyerbu nya, dengan keahliannya dalam memainkan pistol dalam hitungan dua detik ia sudah menghabisi lima anak buah Scale Bones.


__ADS_2