Misteri Cinta Gadis Mafia

Misteri Cinta Gadis Mafia
Di serang tiga lelaki


__ADS_3

Bismillah 🀲


Happy Reading πŸ₯³πŸ’œ


*


*


Sore menjelang, hembusan angin di sekitar hutan semakin terasa sejuk. Saat ini Nara berlatih di sebuah halaman luas, sepi dan sunyi hanya ada suara hewan - hewan kecil di disana yang menemaninya.


Nara sengaja tidak memberitahu kepada siapapun, bahkan ia keluar lebih awal ketika suasana di Mansion Jungle Kingdom telah sepi karena semuanya telah tidur siang.


Di berbagai pohon telah ia gantung tempat sasaran untuk latihannya. Senjata Desert Eagle telah berada di genggaman nya.


Dor!


Dor!


Dor!


Tiga kali butir peluru telah keluar dari sarangnya, menembak sebuah sasaran tepat yang menandakan bahwa inilah awal keunggulan seorang Gadis Adonara. Tembakan telah ia coba, kini ia mengambil sebuah belati kecil yang ada di balik jaket hitamnya.


Melihat sebuah pohon mangga yang begitu lebat, Nara menyunggingkan senyum kecil lalu dengan mata elang nya ia melompat dan melayang di udara, melayangkan dua senjata tajam tersebut ke arah bidikannya.


Tepat sasaran, empat buah mangga sekaligus berjatuhan, Nara segera berlari dan mengambil nya.


"Hmm,, cuma empat buah, lumanyan bawa ke Mansion, " gumannya memungut buah tersebut.


Ia kemudian mengambil dua belati tersebut, setelah menaruh buah itu di tempat yang tidak jauh darinya, ia kemudian menyelipkan belati tersebut di balik jaketnya, kemudian berganti dengan pistol yang tadi ia gunakan.


Dor!


Dor!


Dor!


Tiga kali suara bising kembali memenuhi keheningan hutan, beberapa buah mangga kembali berjatuhan, Nara sekali lagi tersenyum dan kembali memungut buah tersebut.


"Hmm, lumayan, ah Nara kamu memang hebat! " pujinya membanggakan diri.


Namun belum sempat ia memungut buah tersebut, kini tiba - tiba sebuah belati melayang ke arah nya. Nara dapat merasakan perubahan arah angin, dengan gerakan cepat ia melakukan kayang ke arah belakang, bertepatan dengan itu belati menancap di dahan pohon.


"Keluar! " teriak Nara, ia geram sekali dengan orang yang menyerang dari belakang.


Kemudian tiga lelaki dengan tutup wajah nya, ia keluar dan langsung secara bersamaan menyerang Nara.


"Sial! " umpat Nara, ia memasang kuda - kuda, mempersiapkan diri untuk menyerang balik.


Bugh!


Bugh!


Pertarungan kini terjadi antara satu lawan tiga, Nara tidak mudah menyerah, ia menggunakan segenap kemampuan nya untuk menahan serangan lawan.


Berusaha tenang, Nara tidak mengeluarkan sepatah katapun, meloncat dengan lincah ke arah belakang, menghindari serangan belati yang cukup tajam, bahkan Nara berkali - kali melakukan salto.


Bugh!


Pukulan telak mengenai dada salah satu lelaki tersebut, ia mundur ke belakang, kemudian dua lelaki kembali menyerang dengan gesitnya.


"Pengecut! " cibir Nara. "Berani sekali main keroyokan dengan seorang Wanita. "


"Hm, kemampuan mu tidak di ragukan lagi gadis kecil, " lelaki tersebut.


Bugh!


Bugh!


Bugh!


Pukulan demi pukulan terjadi, saling menekan menggunakan tenaga dalam.


Sett..

__ADS_1


Satu sabetan di lengan Nara ketika ia sedikit lengah dengan lelaki yang di sampingnya membuatnya meringis. Lelaki tersebut terkejut karena aksinya, namun salah satu lelaki mengangguk kan kepalanya tanda serangan tetap di laksanakan.


"Br*ngs*k! " umpat Nara, ia kemudian melompat, melayang di udara membuat tiga lelaki tercengang dengan aksinya.


Tentu saja, Nara layaknya memiliki sayap karena melakukan trik meringankan tubuh. Ia ingat yang di ajarkan oleh gurunya dulu, bahwa ketenangan bisa memaksimalkan tenaga serta pikirannya.


"Hiyak!!! " Nara melompat dan melayangkan tendangan sabit sehingga membuat tiga lelaki tersebut tersungkur.


Bugh!


Bugh!


Bugh!


Kembali pukulan di wajah mereka membuat tiga lelaki tersebut menyerah.


"Cukup hentikan! " teriak salah satunya.


Nara mengerutkan kening. "Kenapa? Menyerah? Cih... banci sekali tidak bisa mengalahkan gadis kecil seperti saya, " ujar nya menekan kata 'Gadis Kecil' seperti yang di ucapkan oleh lelaki itu sebelumnya, bahkan Nara hanya menggunakan tangan kosong, ia tidak menggunakan senjata apapun, baginya cukup lumpuhkan tanpa senjata itu sudah membuat lawan akan kesakitan.


"Katakan, siapa kalian! " bentak Nara, ia memandang tajam.


Tiga lelaki itu membuka penutup wajahnya perlahan sehingga membuat Nara tercengang.


"Kalian! " teriak Nara terkejut melihat ketiganya.


"Wah,,,, adik ku memang hebat! " puji Reza.


"Apakah sakit? " Ethan mendekat ke arah Nara melihat darah mengalir di lengan Nara.


"Maaf, dek, Kakak tidak sengaja, " ujar Bima, karena tadi belatinya lah yang mengenai lengan Nara.


"No problem, aku tidak selemah itu, Kak Bima, " kekeh Nara.


"Ternyata dari tadi kamu disini? " tanya Reza.


"Iya, darimana kalian tau aku disini? " Nara menatap ketiganya.


"Kakak hanya heran, sore gini biasanya kamu sudah bangun kalau di Mansion, tapi kami lihat kamu tidak keluar dari kamar, setelah kami periksa ternyata tidak ada, " jelas Reza, ia merobek kain penutup wajah tersebut dan melingkarkan nya di lengan sang adik.


"Lalu? "


"Lalu? " tanya Nara lagi.


"Lalu kami semua sengaja tiba-tiba menyerang memastikan apakah kekuatan mu bisa mengalahkan kita bertiga, " lanjut Ethan.


Nara kemudian mengangguk, ia memungut buah yang tadi ia petik dengan senjata nya. "Ini dibawa ke Mansion ya,,, " ujar Nara memberikan masing-masing lelaki tersebut untuk di bawa.


"Tidak ada kantung kah, dek? " tanya Reza.


"Oh iya lupa, hehehe, " Nara kembali merogoh jaketnya dan menemukan kantung kresek berwarna hitam.


"Sudah siap segala, " tukas Ethan


"Nemu di dapur tadi, awalnya tidak ingin bawa tapi ya aku berinisiatif untuk mencari buah di sekitar sini, apakah ada atau tidak, " jawab Nara.


"Ayok balik, tidak baik berlama-lama disini, " ujar Bima menaruh beberapa buah mangga kedalam kresek hitam.


Semuanya mengangguk, Nara berjalan di depan sedangkan tiga lelaki teras berada di belakang Nara.


*


Sinar matahari mulai tenggelam, berganti dengan langit malam yang akan datang. Setelah kembali dari tengah hutan, kini panglima serta pemimpin Jungle Kingdom telah berada di ruang tamu menikmati mangga yang tadi di petik oleh Nara.


Sedangkan kini Nara selesai mengobati luka yang ada di lengannya dan segera keluar ke ruang tamu.


"Bagaimana? Sudah di obati? " tanya Reza.


"Sudah. " Nara mengangguk.


"Serius tidak apa - apakan? " tanya Ethan.


"Ini hanya luka kecil, jangan khawatir, " ujar Nara sembari duduk di tengah Ethan dan Reza.

__ADS_1


"Ini mangga nya sudah selesai aku kupas, mari makan! " seru Sherly meletakkan beberapa piring yang berisi buah tersebut.


"Wah terlihat enak nih, " ujar Aldo segera mengambil bagian.


"Nara sudah jago nih, kita dapat bonus! " ujar Bima, Nara hanya tersenyum memandang semuanya.


Kemudian Reza juga mengambil bagian dan mulai mencicipi nya. "Enak, " ujar Reza setelah memasukkan satu potong buah mangga kedalam mulut nya.


"Darimana kamu tau kalau ini sudah matang? " tanya Aldo.


"Firasat! " jawab Nara singkat.


Ethan memotong beberapa buah dan mulai menyuapi Nara, Nara yang malu sedikit menundukkan kepala nya setelah menerima suapan dari Ethan.


"Hm,,, Za, pergi yuk, disini kita jadi nyamuk, " ujar Bima.


"Iya ayok. " Reza menyetujui ucapan Bima.


"Satu langkah kaki kalian patah! " ancam Nara membuat bulu kuduk mereka berdiri.


"Hahahaha! " Sherly tertawa kencang melihat lelaki tersebut yang memandang takut ke arah Nara, hingga Bima langsung memasukkan buah mangga yang telah di kupas begitu saja kedalam mulut Sherly.


"Hm, baru diam. " kekeh Bima.


"You f*ck, Bima! " seru Sherly mengacungkan jari tengah.


"Kak bagaimana kabar perusahaan William? " tanya Nara.


"Kakak belum lihat, sekarang kita pulang saja dulu, " ujar Reza.


"Baiklah. " Nara mengangguk dan kembali menerima suapan dari Ethan.


"Kakak jadi ke Cafe? " tanya Nara lagi.


"Iya, hanya saja sebentar, setelah berita muncul di TV kalau perusahaan Dady kebakaran Kakak segera balik ingin tau kondisi, tapi di tengah jalan Kakak kepikiran kalau langsung pulang atau cari Dady kerumah sakit bakal menimbulkan masalah, kamu tau kan mereka? " ujar Reza panjang lebar.


"Hm.. sepertinya tidak butuh di kasihani, biarkan saja. "


"Ini habisini dulu, " ujar Ethan kembali menyuapkan potongan mangga yang tinggal sedikit.


"Aku kenyang, " jawab Nara.


"Hm baiklah. " Ethan menaruh kembali piring kecil tersebut.


"Bagaimana tentang Organisasi Scale Bones? Kalian sudah menemukan tempat persembunyian nya? " kini Sherly angkat bicara, ia telah di jelaskan oleh Bima bahwa sebuah Organisasi Scale Bones telah merencanakan untuk menyerang Nara.


"Penjelasan Rain kalau pemimpin nya masih di kota New York, lalu berarti yang memerintahkan mereka pasti komandan nya kan? " tebak Aldo.


"Mybe... aku juga heran siapa yang berani mencari masalah hingga sampai meledakkan Perusahaan Keluarga ku, " ujar Reza.


"Kami akan menyelidiki nya, Za, kalau ini berhubungan dengan Organisasi Scale Bones maka itu akan bahaya, " ujar Bima.


"Baiklah, kita tidak bisa bertele-tele, kalau mereka mau menyerang maka kita semua harus sudah siap menghadapi, asalkan kita jangan sampai kalah satu langkah, " ucap Reza setuju.


"Kami akan berusaha memaksimalkan kondisi untuk berperang, dan kita harus tetap waspada, " tambah Ethan.


"Aku harap semuanya baik - baik saja dan masalah ini segera tuntas, aku pusing sekali kalah berurusan dengan perang, Grim Reaper belum ada kabar lagi. " Reza menghela nafasnya panjang dan memijit pelipisnya.


"Kita selesaikan satu persatu, " ujar Bima menepuk pundak sahabatnya.


Demikian percakapan mereka malam ini, setelah di rasa cukup Reza segera bersiap untuk pulang bersama Nara, awalnya Nara ingin mengendarai motor tetapi Reza melarang karena hari sudah malam, ia takut kalau tiba - tiba musuh menyerang adiknya.


Jadi mau tidak mau Nara mengalah dan membiarkan motor nya di Mansion Jungle, setelah pamit mobil tersebut melaju menempuh perjalanan malam.


*


*


Segini dulu ya guys πŸ™πŸ™πŸŒ Love you banyak-banyakπŸ”₯πŸ”₯πŸ™ƒπŸ˜πŸ˜πŸ’œ


Vote


Like

__ADS_1


Komen πŸ”₯πŸ˜πŸ’œ


__ADS_2