Misteri Cinta Gadis Mafia

Misteri Cinta Gadis Mafia
War pt. 9


__ADS_3

Bismillah 🀲


Happy Reading πŸ₯³πŸ’œ


*


*


Di lain tempat, tepatnya markas milik Rain, Jonathan yang telah lama menunggu kedatangan putranya yang sedang ada dalam medan pertempuran terlihat khawatir.


Namun, apakah ia hanya mengkhawatirkan Arzan dan juga Galen? Apakah ia tidak memikirkan Reza juga?


Hanna yang masih dalam keadaan tidak baik- baik saja terus menggumankan nama Jennie, berharap anak nya pulang dengan selamat. Berkali- kali terbangun hanya menanyakan sang putri kesayangan setelah di tenangkan oleh sang suami ia akan tertidur kembali.


Drttt.. Drrrttt..


Suara getar ponsel milik Jonathan membuatnya semakin tegang, entah telepon dari siapa yang membuat dirinya waspada.


"Apakah kamu sudah menemukan pelakunya? " tanya Jonathan setelah melihat nama sekretaris perusahaan nya.


"...."


"Bagaimana bisa kamu tidak menemukan nya? Apakah tidak ada cara lain? " tanya Jonathan lagi.


".... "


"Lalu apakah ada berkas penting yang ikut terbakar? " tanya Jonathan.


Tentu saja ia tidak tau karena selesai terjadinya ledakan tersebut ia langsung di larikan kerumah sakit setelah itu langsung pulang ke Mansion tanpa melihat keadaan Kantor nya.


"...."


"Syukurlah kalau begitu, beritahu berita selanjutnya tentang perusahaan, saya percayakan semuanya pada mu, " ucap Jonathan.


".... "


Telpon pun berakhir, Jonathan memijit keningnya pasrah, begitu kacau keadaannya saat ini, bahkan kabar kembalinya sang putri belum ada tanda apapun.


Ia kembali ke kamar, melangkah perlahan dan melihat Istrinya yang tengah tertidur lelap. Jam masih menunjukkan pukul 20.00 malam, tidak biasanya ia akan terlalu awal untuk mengistirahatkan tubuh nya, tetapi apa yang bisa ia lakukan sekarang?


Lebih baik ia tertidur melupakan sejenak masalah yang ada, menenangkan pikirannya dan berharap nanti anak - anak nya kembali dengan selamat.


***


Sementara di tengah hutan keni musuh sudah terlihat banyak yang telah gugur, bahkan separuhnya pasukan Jungle Kingdom terlihat kewalahan, ada yang terluka parah bahkan ada juga yang terluka goresan, luka kecil tersebut berasal dari pasukan Jungle Kingdom yang kekuatannya tak main-main.


Pasukan Scale Bones di luar kini telah tumbang dengan jumlah yang sangat banyak. Bima yang sedang memimpin pasukan lainnya segera menyerbu kedalam gedung tersebut.


"Masuk kedalam! Cari jalan menuju ruang bawah tanah! " teriak Bima membuat seluruh pasukan menyerbu kedalam.


"Siap, Komandan! " teriak mereka.


Sementara di tempat ruangan yang cukup gelap Nara sudah cukup kelelahan melawan pasukan Scale Bones, apalagi kekuatan Arres yang begitu kasar dan tak mudah di lumpuhkan membuat Nara hampir menyerah.


Arres yang melihat Nara sudah kelelahan ia semakin mengembangkan senyum smrik nya seakan-akan dirinya akan mencapai sebuah kemenangan pada malam ini, dan dengan kejam nya ia menendang Nara begitu keras hingga Nara terbentur ke dinding di samping nya.


Buagh!


"Akkkh.." hentakan dari punggung Nara begitu keras bahkan darah seketika muncrat dari mulutnya. Nara memejamkan mata meringis menahan sakit yang menjalar di seluruh tubuh nya.


"Nara! " Jennie yang sebelumnya masih bersembunyi merasa tak tega melihat keadaan Saudara nya tidak berdaya. Tapi, apakah Jennie sudah menganggap nya sebagai Saudara? Maybe...


Tawa melengking dari Arres semakin membuat suasana mencekam, Jennie tak peduli dan tetap berlari ke arah Nara yang sudah terlihat begitu lemas memegang dadanya.


Tanpa di duga, Arres yang melihat Jennie mendekat ke arah Nara segera menodongkan pistol ke arah keduanya.


"Jennie, jangan mendekat...! " ucap Nara melihat Arres yang menodong kan pistol. Dadanya begitu sakit, tetapi ia paksakan dirinya untuk berteriak.


Seketika sekelebat bayangan yang ada dalam mimpi Nara sebelumnya kini kembali memenuhi pikirannya. Apakah ia akan tertembak? Tidak! Bagaimanapun ia harus menyelematkan Jennie meski hanya dirinya yang terkena.

__ADS_1


Jennie tak menghiraukan ucapan Nara, yang ada dalam pikiran Jennie saat ini adalah mendekat dan membantu Nara.


"Jennie! Pergilah, jangan mendekat! " sekali lagi ucapan Nara tak di hiraukan.


Jennie yang sudah ada di dekat Nara segera menarik tubuh tak berdaya itu. "Diamlah! Aku tidak akan meninggalkan mu disini, bocah bodoh! " air mata terus mengalir membasahi pipinya.


"Pemandangan yang bagus, apakah ada kata terakhir sebelum peluru ini menembus jantung kalian?! " seringai kejam terlihat di wajah Arres.


"Jennie, pergilah! " ucap Nara lirih sekali lagi.


"Tidak! aku tidak akan per_ "


Dor!


"Akkkhh! "


"Nara! " belum sempat Jennie menyelesaikan ucapan nya, Nara yang melihat Arres menarik pelatuk langsung memaksa dirinya untuk mengangkat dan menubruk tubuh Jennie.


"Terlalu drama! Matilah kalian berdua!! " teriak Arres mengangkat senjata sekali lagi.


"Jennie awas! "


Dor!


Dua peluru telah menembus perut samping serta di bagian punggung Nara, sekali lagi wajab pucat tersebut memberikan senyum tipis kepada Jennie yang terlihat terkejut sekaligus gemetar.


"Sa-saya, sudah janji kepada orang tua mu untuk menyelamatkan mu dari sini, tanpa terluka sedikitpun, dan sekarang saya berhasil.... " ucapan panjang dan tersengal itu berhasil membuat hati Jennie terasa di remas - remas lalu di hancurkan.


"Tidak, kita harus segera keluar dari sini, kamu tidak boleh mati! " teriak Jennie frustasi.


Nara hanya tersenyum kecil sebelum menutup matanya. "Jika Kak Reza datang, beritahu dia bahwa aku menyayanginya, dan maaf saya tidak bisa kembali... tolong,,, jaga Kak Reza..! "


"No, no, no! Nara! Kamu tidak boleh mati, Nara! Buka mata mu! Br*ngs*k! " teriak Jennie, ia menggoyangkan tubuh Nara yang kini terlihat lemah.


Apa yang ada dalam mimpi Nara kini benar terjadi, tetapi beruntung nya Jennie tidak terkena oleh tembakan tersebut, semua ini berkat Nara, tetapi meski begitu dirinyalah yang menjadi korban.


Arres yang di teriaki seperti itu hanya tertawa menganggap semuanya lelucon. "Ikat dan seret dia! " perintah Arres ke arah anak buah nya.


"Siap, Tuan! "


Tiga anak buah bergerak ke arah dua gadis tersebut, Jennie berteriak histeris mencoba memberontak.


"Lepaskan! Kalian semua pantas mati! jeritan Jennie.


"Diam! " bentak lelaki tersebut lalu menatap Jennie dengan kasar. Ia mengikat keduanya dengan rantai.


"Kalian bukan manusia! Bahkan adik ku yang sudah seperti ini kamu masih melakukan hal kasar? Aku berharap mayat mu akan membusuk di neraka!! " air mata tak mampu di tahan olen Jennie, ia terus menjerit, memaki dan memberontak, tetapi hal itu sia - sia saja ia lakukan.


"Kamu pikir aku peduli? Terserah kalian berdua mati ataupun tidak! " ucap Arres tajam bahkan terlihat dari aura nya begitu di butakan oleh dendam yang harus saat ini terbalaskan.


"Jennie... " suara lirih Nara membuat Jennie tercekat, ia tak sanggup melihat darah sudah melumuri tubuh sang adik, itu bahkan terlihat sangat mengerikan.


"Nara, maafkan aku... tetapi aku mohon bertahanlah!! " lirih Jennie.


"Seret mereka! " teriak Arres.


Nara sudah tak ada tenaga lagi, ia memaksa menatap ke arah Reano yang masih tak sadarkan diri dengan kepala belakang yang terlihat mengeluarkan cairan berwarna merah, ia tak ada harapan untuk meminta bantuan siapapun.


Mendengar perintah dari Tuannya. Seketika mereka menyeret tubuh Nara dan Jennie begitu kejam, suara jeritan yang begitu memekakkan telinga terdengar jelas di ruangan tersebut, tentu saja karena kulit Jennie yang tergores oleh lantai yang tidak menggunakan kramik, bahkan berbahan kasar.


"BERHENTI! " suara teriakan begitu menggelegar di ruangan tersebut.


Arres yang melihat asal suara itu seketika mengumpat tetapi...


Bugh!


Vito menerjang tubuh Arres dengan kasar sehingga sang empu yang belum siap terpental begitu keras.


"F*ck sh***, berani - berani nya kalian! " teriak Arres murka.

__ADS_1


Vito tak peduli ia terus menghajar Arres dengan membabi buta, tak peduli wajah Arres akan hancur dengan pukulan keras darinya.


Bugh!


Dor!


Dor!


"MANUSIA MACAM APA KAMU HA!! LEPASKAN NARA! " teriak Rio menerjang seluruh anak buah Arres yang ada disana.


Anak buah yang menyeret tubuh Nara tumbang akibat lesakkan peluru dari Rio. Nara yang setengah sadar melihat dua lelaki yang tak asing baginya kemudian berguman dengan senyuman tipis.


"Kalian datang... "


Rio yang kini menghampiri Nara mendengar suara tersebut begitu lirih, hatinya terasa di remas kuat oleh sesuatu. Dia sudah menganggap Nara adik angkatnya bahkan adik kandungnya sendiri, melihat keadaannya seperti ini rasanya begitu hancur, mungkin saja Reza yang akan melihat keadaan adiknya pula akan terjatuh tak berdaya.


"Nara,," Rio langsung dengan cepat melepas rantai tersebut.


"Tolong bawa dia keluar, dia sudah kehilangan banyak darah, Nara tertembak " ucap Jennie setelah melepas rantai dari dirinya.


Rio yang melihat Nara yang berlumuran darah merasa susah bernafas. "Dek... buka matamu, tolong jangan pergi, Kakak janji akan membalas semuanya setelah ini.! " tak di sangka buliran bening jatuh di pipi Rio.


Nara ingin mengangguk mendengar hal itu tetapi ia tak sanggup hingga ia kini benar - benar tak sadarkan diri.


"Bertahanlah, Queen.. " ucap Rio lirih, ia begitu panik melihat keadaan Nara yang sudah tak sanggup lagi untuk membuka matanya.


"Vito, apakah kamu bisa?! " teriak Rio yang sudah seperti orang kerasukan terus menghantam wajah Arres tanpa ampun.


"Pergilah! " balas Vito berteriak tak mengalihkan pandangannya sedetikpun dari Arres.


Setelah mendengar suara Vito, Rio kembali berlari ke arah luar setelah menghabisi seluruh anak buah Scale Bones yang tak terlalu banyak.


Baru saja ia beberapa langkah dengan Jennie yang yang ada di belakangnya, terdengar langkah kaki dari depan membua Rio semakin panik.


"Mereka mengejar kita? " tanya Jennie panik.


"Tidak, suara dari arah depan, kemungkinan mereka tau kita ada disini, " ucap Rio terus menoleh kesana-kemari berharap ada tempat untuk bersembunyi tetapi nihil, ruangan itu berbentuk lorong yang lurus tak ada tempat untuk bersembunyi.


Ia perlahan menurunkan Nara, tak ada pilihan lain selain menyerang mereka.


"Bisakah kamu memegangnya? Aku akan melawan mereka, " ucap Rio.


Dengan cepat Jennie mengangguk. "Hati- hati, " ucap Jennie sedikit canggung dan di balas anggukan Rio.


Jennie ada di belakang dengan Nara yang di papahnya, sedangkan Rio berada di depan menghalangi siapapun yang akan menyerang mereka, hingga...


Tuk


Tuk


Tuk


Suara ketukan sepatu semakin membuat jantung Jennie berdetak kencang, sedangkan Rio sudah mengambil pistol yang tadi ia selipkan di pinggang nya.


Satu detik...


Dua detik...


Tiga detik...


Dan...


"Ethan, Sherly! "


*


*


Like dongπŸ™πŸ™πŸ™πŸ₯ΊπŸ˜‰πŸ˜‰β€οΈ

__ADS_1


__ADS_2