Misteri Cinta Gadis Mafia

Misteri Cinta Gadis Mafia
Nara Sakit


__ADS_3

Bismillah 🤲


Happy Reading 🥳🥳💜


*


*


*


🌲🌲🌲🌲


Jam menunjukkan pukul 1 dini hari, kesunyian malam semakin membawa suasana sangat mencekam di tengah hutan tersebut bahkan berbagi macam suara hewan mulai terdengar.


Nara masih setia dengan isak tangis nya , ia tak menyangka akan berakhir seperti ini sungguh sangat menyakitkan.


"Hiks ... kakak jahat!! " ucap Nara ia tidak kuat lagi untuk menahan semua nya , namun tiba - tiba kepalanya yang pusing semakin menjadi dan pandangannya mulai kabur.


Brugh!!


Ia pun pingsan begitu saja. Ethan dan Aldo yang baru masuk keruangan Nara terkejut dan segera menghampiri nya.


"Ya ampun, dek... dek bangun dek..."


Aldo yang panik segera menghampiri Nara.


"Cepat bawa ke kasur Al,, " titah Ethan.


Aldo dengan segera membopong tubuh Nara dan membawanya ke atas tempat tidur.


"Ambil kan air hangat biar aku obati lukanya, " ucap Ethan yang menyelimuti tubuh Nara.


Sedangkan Aldo tanpa pikir panjang segera mengambil air dan pakaian milik Nara yang masih ada di kamar tersebut tak lupa kotak P3K.


"Apakah tubuh nya panas? " tanya Aldo.


"Benar Al,, tubuh nya panas. "


"Aku ambil kan handuk kecil untuk mengompresnya, " ucap Aldo di angguki oleh Ethan.


Tak lama kemudian Aldo kembali sambil membawa tisu basah. " Pakek ini untuk membersihkan wajah nya, " ucap nya sambil menyodorkan tisu basah.


Ethan mengelap lembut wajah Nara membersihkannya dari sisa - sisa air mata yang keluar, setelah dibersihkan ia pun mengobati luka lebam yang ada di sudut mata Nara dan juga sudut bibir nya yang sedikit mengeluarkan darah karena tamparan Reza.


"Apakah kita akan mengganti bajunya? " beo Aldo.


"Nara tidak akan nyaman tidur seperti ini, mau dibiarin? Yang benar saja kamu, " cetus Ethan.


"Ha? Berarti kita liat tubuh Nara dong, " ucap nya ngasal.


Plak!


"Awh apaan sih main tampol aja, " ringis Aldo.


"Punya mulut rada kurang ajar ya,,, awas ngomong gitu lagi tuh mulut ku tampol, " ancam Ethan.


"Heheh iya maaf, terus bagaimana? "


"Baju Nara pakek resleting kamu pegang aja selimut nya, ntar aku pakein lewat atas kepala, " ucap Ethan.


"Oke. "


Aldo dan Ethan melakukan nya dengan sangat hati - hati dan telaten, akhir nya mereka pun telah selesai mengganti baju Nara tanpa melihat sedikit pun bagian tubuh Nara.


"Syukurlah berhasil, " ucap Ethan.


"Yasudah aku beresin semuanya dulu, " ucap Aldo ia pun membawa kotak P3K itu keluar dan mengganti air untuk mengompres Nara.


Malam semakin larut, Ethan dan Aldo masih terjaga mereka tidak tidur untuk menjaga Nara hingga suara ketukan terdengar di pintu kamar nya.


"Masuk, " ucap Ethan.


"Bagaimana keadaan Nara? " tanya Bima mendekat kearah tempat tidur.


"Badan Nara panas Bim, tapi udah cukup turun, butuh istirahat sama gantiin kompres udah bisa turun panas nya, " ucap Ethan.


"Kasihan juga dia,,, semoga dia segera sembuh, " ujar Bima.


"Keadaan reza gimana Bim? " tanya Aldo.


"Reza hanya butuh ketenangan saja, nanti kalau sudah membaik pasti dia kesini, " ucap Bima.


"Syukurlah , nggak nyangka banget Reza semarah itu sama adek nya, " timpal Ethan.


"Sama aku juga nggak nyangka, " sahut Aldo.


"Kejadiannya seperti apa? " tanya Bima.


"Tadi saat Nara membawa motor keluar dari area balap kami sudah datang lebih awal, dan kami sempat lihat sih selesei balap ada seorang laki - laki yang tidak mau mengalah karena kalah taruhan sama Nara dan menimbulkan geng yang satunya marah dan menyerbu, saat itu Nara tidak sengaja kena oleh pukulan mereka dan Nara memilih untuk pergi, " jelas Ethan panjang lebar.


"Pantas saja Reza marah, dia khawatir dengan keadaan Nara tapi bagaimanapun juga semarah - marah nya Reza aku yakin dia tetap sayang sama adek nya, " ucap Bima.

__ADS_1


Obrolan tersebut berlangsung lama hingga matahari sudah mulai terbit menampakkan cahaya yang membuat mata silau ,namun enggan untuk membukanya.


Bima menatap Nara yang sedikit bergerak dan mengelus rambut Nara lembut. " Masih mau tidur dek? " tanya Bima.


Ia perlahan membuka matanya menatap sekitar dan melihat Ethan dan Aldo yang tertidur pulas di samping nya.


"Kenapa kalian disini ? " tanya Nara tersenyum tipis.


"Semalam kamu demam, jadi kami bertiga menjaga mu," jawab Bima.


Nara menunduk dengan perasaan sedih. " Apakah kak reza tidak mau menemuiku? " tanya nya.


Bima hanya berdehem sambil berpikir. " Hmm Reza masih dikamar sepertinya nanti dia kesini. "


"Sudahlah Kak, jika Kak Reza memang tidak mau tidak apa, aku tau aku salah karena telah membohongi nya, " ujar Nara dengan suara bergetar ingin menangis.


"Apakah kamu menangis? " tanya Bima mendongakkan wajah Nara, ia melihat mata tersebut merah dan berkaca - kaca.


Tidak aku baik - baik saja, Kakak keluar saja aku masih mau istirahat, " ucap nya merebahkan tubuhnya dan memilih untuk istirahat.


"Kamu kecewa dek? " tanya Bima.


"Pergilah Kak, aku ngantuk, " ucap Nara , sakit ya sakit rasanya ketika ia terbangun ia tidak lagi melihat wajah tampan sang kakak kesayangan nya. Kenapa ia harus sesakit ini? apakah ia tak sanggup jika Reza pergi dan ikut membenci nya seperti saudaranya yang lain?


"Baiklah , tapi apakah kamu masih ada yang sakit? " tanya Bima memastikan.


"Aku baik - baik saja." hanya ucapan itu saja yang terlontar dari bibir Nara.


Bima menghela nafas panjang. " Baiklah kakak keluar cepat membaik," ucap nya lalu melangkah pergi.


Sedangkan Nara ia hanya berbaring dengan perasaan sedih, kecewa dan merasa bersalah semuanya campur aduk hingga tanpa disadari air matanya jatuh kembali.


"Hiks... kenapa harus kecewa seperti ini? sakit!! " gumannya dan memilih memejamkan matanya kembali.


Ethan yang sedari tadi mendengar percakapan Nara dan Bima ikut merasa sedih, ya dia terbangun saat Nara mempertanyakan Reza namun ia memilih diam dan berpura-pura tidur.


'Aku tau kamu kuat dek, ' batin nya , kemudian ia bangun dan memilih untuk segera membersihkan diri tak lupa ia juga membangun kan Aldo yang tak jauh darinya.


"Al bangun..sudah pagi... nanti Reza marah, " ujar Ethan menggoyangkan tubuh sahabat nya.


"Hmmm masih ngantuk Et, " jawab nya.


"Sudahlah, nanti tidur dikamar lagi, " ucap Ethan.


Dengan keadaan malas ia memaksa tubuh nya untuk bangun. "Hmm baiklah. "


"Ayok keluar." ajak Ethan dan hanya di angguki oleh Aldo.


"Sampai kapan kamu akan memarahi adik mu? " suara tersebut mengalihkan perhatian nya namun enggan menatap.


"Entahlah Bim, " jawab nya singkat.


Bima menghampiri Reza dan menepuk pelan pundak nya. " Jangan terlalu lama memarahinya dan mendiami nya , apakah kamu tidak memikirkan hal yang akan terjadi jika kamu hanya mendiami nya? " tanya Bima.


"Tapi dia sudah melakukan kesalahan Bim,, dia juga membohongi ku, " elak Reza.


"Aku tau kamu kecewa, tapi pernahkah kamu berpikir jika kamu terus mendiami nya dia akan merasa kamu menjauhinya seperti keluarga kalian yang lain, " tutur Bima.


Reza hanya menghela nafas pasrah. " Entahlah Bim, aku masih kecewa, " ungkap nya.


"Aku harap kamu tidak terlalu lama mendiaminya , dan tadi malam dia pingsan sesuasai kamu menamparnya sehingga dia jatuh sakit, " ujar Bima ia pun berlalu tanpa memperdulikan Reza yang terkejut.


Sakit?...


Reza segera keluar dari kamar nya dan menuju kamar sang adik memastikan apakah ia benar - benar sakit.


"Al ambilin aku bawang merah dong, " ucap Ethan.


Dua sahabat itu tengah berkutat di dapur untuk membuat makanan, ya rutinitas sehari-hari tidak ada latihan untuk pagi ini para anggota hanya bersantai.


Aldo pun mengambil beberapa bawang merah yang ada dj depannya. " Sherly kayak nya belum tau soal nara yang ada disini, " ucap Aldo.


"Memangnya kamu tidak telpon gitu ? " tanya Ethan.


"Belum, nanti dah aku telpon, " ujar nya.


Setelah dua hari Nara pulang kerumahnya, Sherly mendapatkan kabar bahwa ibu nya sedang sakit didesa sehingga ia terpaksa pulang untuk beberapa hari.


"Hmm ya kasihan juga aku lihat Nara, tapi aku sempat mendengar nya bicara sama Bima, " ucap Ethan.


"Bicara apa? " tanya nya kepo.


"Nara kayak nya marasa bersalah banget sama Reza, bahkan dia tadi merasa sedikit kecewa karena Reza tidak menemuinya, " jawab Ethan.


"Ya semoga saja hubungan mereka segera membaik, " harap Aldo.


"Benar tuh, walaupun Reza marah seperti itu dia sayang banget sama Nara, " ujar Ethan dan Aldo hanya mengangguk.


"Kalian sedang apa?? " Bima yang berdiri di belakang Aldo membuat nya terlonjak kaget.


"Busettt kamu Bim,, bikin kaget aja, " protes Aldo.

__ADS_1


"Heheh kalian asyik banget ngobrol nya," ujar Bima.


"Lagi masak Bim, kalau tidak ada Sherly susah juga ya masakin diri sendiri," ungkap Ethan.


"Ciee ada yang kangen, " goda Bima.


"Ogah!! " timpal Ethan.


"Beneran nih? Biasanya kamu juga tidak ngeluh Et, " Aldo ikut - ikutan menggoda sahabat nya.


Plok!!


Ethan tak segan-segan memukul belakang kepala Aldo dengan kesal. " Kamu jangan ikut - ikutan Al,, nanti kualat, " ucap nya kesal.


"Yee biasanya kamu juga yang goda aku sama si kunyuk!! " elak Aldo.


"Si kunyuk siapa sih?? " tanya Bima.


"Itu si Dora, yang sering datang kesini cariin Aldo , ternyata saat di tolak sama Aldo sampai sekarang tuh anak nggak pernah lagi datang kesini, " ucap Ethan sambil tertawa.


"Hahah patah hati akut tuh Dora,, tega banget kamu Al, " Bima ikut tertawa.


"Bisa nggak sih nggak usah bahas dia!! " protes Aldo kesal.


Akhir nya mereka tertawa bersama sambil Bima ikut membantu mereka untuk menyiapkan sarapan pagi , suasana saat itu cukup ramai meski hanya mereka bertiga yang memasak di dapur namun karena kerandoman mereka bertiga dapur tersebut dipenuhi dengan suara tawa.


Reza menghela nafas perlahan ketika ia sampai di pintu kamar adik nya , menyetabilkan kan perasaan supaya ia tidak marah ketika bertemu Nara.


Ia melangkah masuk dan hal pertama yang ia lihat adalah melihat adik nya yang masih tertidur lelap dengan wajah pucat pasi , keringat mengalir dari keningnya.


"Dek... " panggil Reza pelan ia nampak khawatir dan memegang kening adik nya.


"Ya ampun demam kamu tinggi sekali, " ucap Reza terkejut ia segera mencari keberadaan sahabat nya.


Bima dan kedua sahabatnya yang masih sibuk di dapur mengerutkan dahi melihat Reza yang berlari kearah mereka.


"Kenapa kamu lari- lari Za? Kayak orang lagi main kejar - kejaran aja, " tanya Aldo.


"Nara... demamnya semakin naik, " ucap Reza dengan raut wajah cemas.


"Apa!! " ucap mereka kompak.


Mereka segera berlari menuju kamar Nara untuk melihat kondisinya.


"Kenapa kamu tidak menghubungi Dokter Za? " tanya Ethan.


"Hp aku lagi cas di kamar, lobet, " ucap Reza.


"Yasudah aku hubungi Dokter dulu, " ucap Bima mengambil HP nya di dalam saku celana nya.


"Dokter Dika akan segera kesini, " ucap nya setelah selesai menelpon dokter khusus untuk Jungle Kingdom.


Beberapa menit kemudian Dokter yang di telpon oleh Bima pun datang.


"Permisi, " ucap nya sopan.


"Silahkan masuk Dok, " ucap Reza dan di angguki oleh Dokter tersebut.


Mereka menunggu dokter itu selesei meriksa Nara setelah selesai dokter Dika pun kembali menatap mereka.


"Ada apa? " tanya Bima.


"Adik saya baik - baik saja kan Dok? " tanya Reza.


"Dia adik kamu Za? " tanya Dokter Dika.


"Iya memang nya kenapa? " tanya nya.


"Pantas saja, dia seperti ini kamu habis marahin dia kayak nya, " tebak Dokter Dika.


Dokter Dika salah satu dokter khusus untuk Orang yang berhubungan dengan Jungle Kingdom sehingga mereka terlihat akrab dan layak nya seperti teman.


"Ya karena dia sudah melakukan hal yang fatal, " jawab Reza seadanya.


"Memang nya dia kenapa Dok? " tanya Ethan kepo.


"Hmmm adik kamu hanya merasa terbebani saja, dia seperti banyak pikiran oleh sebab itu panas nya semakin naik , tapi itu tidak bahaya hanya saja dia butuh istirahat yang cukup dan jangan lupa membeli obat yang sudah saya tuliskan, " jelas Dokter Dika dan memberikan secarik kertas kepada Reza.


"Baiklah Dok, terimakasih, " ucap Reza.


"Jangan terlalu menekannya, hanya itu saja kalau begitu saya famit, " ucap nya dan di antar oleh Bima sampai ke pintu.


Reza membenarkan selimut adik nya dan mengelus lembut rambut hitam panjang nan indah itu, Aldo dan Ethan merasa iba melihat raut wajah Reza yang terlihat lesu dan merasa cemas.


"Pasti nara akan segera membaik," ucap Ethan menepuk pundak Reza memberi semangat.


"Benar tuh apalagi Nara juga gadis yang kuat, " timpal Aldo.


"Terimakasih sudah menjaganya semalam, " ujar Reza tersenyum tipis.


"Santai aja, kami kan sudah menganggap nya adik sendiri yakan Al ? " ucap Ethan di angguki oleh Aldo.

__ADS_1


Suasana diruangan tersebut cukup sunyi dan tak seperti biasanya, Reza merasa bersalah atas apa yang ia lakukan terhadap adik nya namun bagaimanapun Reza hanya ingin yang terbaik buat Nara. Hanya itu!!!!!


__ADS_2