Misteri Cinta Gadis Mafia

Misteri Cinta Gadis Mafia
Map cokelat


__ADS_3

Bismillah 🤲


Happy Reading 🥳💜


*


*


Dalam kamar, suara isakan tangis terdengar dari bibir seorang gadis yang tidak lain ialah Nara, ia tiba - tiba saja terbangun, suasana yang begitu terlihat gelap di sekitar kamarnya, dengan pencahayaan temaram ia menatap alarm di atas nakas dekat tempat tidur nya itu.


Rupanya jam sudah menunjukkan pukul 10.00 malam, ia tertidur 5 jam lebih lama, mungkin saja ia terlalu kelelahan di tambah dengan tubuh nya yang masih belum terlalu pulih.


Dengan malas ia beranjak dari tempat tidurnya, melihat ke arah jendela. Inilah yang selalu ia lakukan, menatap langit malam yang di penuhi oleh taburan bintang, di sertai dengan cahaya bulan yang tampak begitu bersinar terang, suara hewan malam semakin menambah suasana sunyinya malam.


Nara menghembuskan nafas perlahan, air mata menetes mengingat kebersamaan nya dengan sang Kakak, begitu ia rindukan. Ia layaknya tali yang begitu saling terikat sangat kuat seakan-akan bila putus maka akan menyebabkan rasa sakit yang luar biasa.


Nara tidak menyangka akan merasakan hal seperti ini ketika di tinggal lagi oleh sang Kakak, bukan seperti dulu tetapi sekarang ia berada di sekitar orang - orang yang masih menyayangi nya, di tambah dengan adanya sang kekasih, tetapi tetap hal itu tidak membuat Nara merasa baik, ia sekarang mengerti, ternyata kebahagiaan nya adalah dimana sang Kakak tetap ada di sisi nya.


"Hiks... kapan Kak Reza kembali? Kenapa meninggalkan ku begitu saja? "


Meninggalkan tanpa memberitahu hal yang sangat tidak di sukai oleh Nara, ia trauma dengan masa lalu di mana sang Kakak pergi meninggalkan nya begitu lama, ia takut Kakak nya tidak akan kembali, mengingat pula masih ada musuh yang sedang mengincar mereka.


Seketika pikirannya buyar di kala ia mendengar suara ketukan pintu kamarnya.


Tok... Tok...


"Masuk! " ucap Nara dan pintu pun terbuka.


Ia melihat Bima masuk kedalam kamarnya, tersenyum lembut dan menghampirinya.


"Apakah Kakak mengganggu waktu mu? " tanya Bima mendekat.


Nara menggeleng. "Tidak, " jawab nya lalu mengajak Bima untuk duduk di sofa. "Silahkan duduk. "


Bima pun hanya menurut, tak lama juga Nara ikut duduk di dekatnya.


"Ada yang mau Kakak bicarakan, " ucap Bima memulai pembicaraan.


"Tentang apa? " tanya Nara menoleh.


"Reza menelpon, dia menanyakan tentang mu_ "


"Kenapa dia harus peduli setelah meninggal kan ku begitu saja? Bilang saja tidak usah peduli! " jawab Nara memotong ucapan Bima.


Bima melihat raut wajah kesedihan di pada Nara, ia pun mengelus lembut rambut gadis yang ia anggap sebagai adiknya itu. "Reza melakukan itu demi dirimu, dek, Reza tidak membawa mu karena nanti jika kamu ikut maka akan mudah untuk musuh menargetkan mu. " Bima menjeda ucapan nya melihat reaksi Nara, tetapi Nara hanya diam tak menjawab.

__ADS_1


"Coba kamu bayangkan, di saat kamu terluka saja Reza sudah tidak bisa melakukan apa - apa lagi, di rumah sakit, dia rela tidak tidur hanya untuk menjaga mu jika ada orang yang tiba - tiba masuk dan melakukan hal yang tidak inginkan terhadap mu, dek. Ketahuilah Reza sangat menjaga mu dengan baik, dia takut kehilanganmu, " jelas Bima panjang lebar.


Nara yang mendengar hal itupun mulai terisak. "Apakah aku salah marah terhadap nya? Seandainya Kak Reza memberitahu ku sejak awal. "


"Reza tidak ingin membuat mu khawatir terhadap nya, dan juga kondisi mu masih belum pulih sebaiknya kamu pulihkan dulu kondisi mu, jangan terlalu bersedih Reza akan tetap menelpon, " ujar Bima menepuk pelan pipi Nara.


Nara mengangguk. "Iya, Kak, aku akan secepatnya pulih, " jawab Nara.


***


Di tempat lain, Reza, Vito dan Rio telah sampai di Mansion William. Setelah memarkir kan mobilnya di bagasi Reza langsung masuk kedalam dan terlihat suasana begitu sepi tidak seperti biasa ketika ia masuk kedalam pasti akan terdengar ocehan dari orang tua nya itu.


"Za, kamu pulang? "


Suara berat terdengar dari lantai atas, disana Arzan keluar dari kamar dan melihat kedatangan nya itu.


"Dimana yang lain? " tanya Reza setelah Arzan turun mendekati nya.


Arzan mengajak ketiganya untuk duduk dan mulai membuka percakapan.


Arzan menghela nafas berat lalu menjawab. "Dady sepertinya sakit, Za, karena memikirkan perusahaan yang terkena ledakan waktu itu. "


"Apakah Dady tidak menyuruh bawahannya untuk menyelidiki? " tanya Reza, saat ini Reza tidak ingin menimbulkan keributan, karena dirasa keluarganya saat ini sedang berada di ambang kehancuran, meskipun Reza masih benci dengan Ayah dan Ibu nya tetapi mereka masih tetap memiliki ikatan antara anak dan orang tua.


"Sudah, tetapi hasilnya nihil, semua CCTV di hancurkan, " jawab Arzan lesu.


Tentu saja Arzan terkejut, karena baru kali ini Reza mau membantu nya setelah penculikan tentang Jennie waktu itu. "Serius, Za? "


"Mn, aku tidak sendiri, Rio dan Vito akan membantu, karena mereka sudah aku percayai. " Reza menatap kedua sahabatnya itu.


"Syukurlah, pasti Dady akan senang, oh iya bagaimana keadaan Nara? " tanya Arzan lagi.


Kali ini Reza yang memasang wajah sedih. "Aku meninggalkan nya tanpa memberitahu. "


"Apa? Tapi kenapa? "


"Hmm, aku takut musuh mudah mengincarnya kalaupun dia ikut dengan ku. "


"Jadi benar kamu mafia, Za? "


Reza tidak bisa mengelak lagi, ia hanya mengangguki ucapan Saudara nya itu. "Apakah ada masalah? "


"Tapi ini bahaya, Za? Lalu apa saja yang kamu lakukan selain membunuh orang? " tanya Arzan penasaran.


"Aku tidak membunuh orang tanpa alasan, aku hanya mengerjakan hal yang harus di kerjakan, lagipula kalau tidak ada yang mengganggu urusan ku aku tidak akan melakukan hal di luar batas, " jawab Reza santai.

__ADS_1


"Sejak kapan? "


"Aku rasa ketika masih SMA atau kuliah aku lupa! "


"Maafkan aku, mungkin karena kami juga kamu seperti ini, " ujar Arzan menunduk.


"Sudahlah, masa lalu biarkan saja berlalu, aku berharap kamu sebagai Kakak ku tidak berubah seperti dulu lagi, " ujar Reza yang kini sudah menaruh kepercayaan terhadap Saudaranya itu.


"Tentu saja, aku sudah berjanji untuk tidak melakukan hal yang salah lagi, ya meskipun aku tidak tau bagaimana perasaan Momy nanti. "


"Jangan di pikirkan, aku tidak peduli, jika Momy masih menganggap kami sebagai anak nya aku tidak akan masalah tapi jika tidak aku akan pergi, " ucap Reza langsung membuat keputusan.


"Aku yakin Momy bisa menerima mu lagi, " ucap Arzan tersenyum.


"Mn, kita lihat saja nanti. "


"Baiklah, kalian istirahat saja dulu, besok pagi kita akan mulai menyelidiki nya sama - sama, " ucap Arzan.


"Baiklah. "


Reza mengantarkan Vito dan Rio ke kamar tamu yang ada disana, setelah itu ia kembali ke kamarnya.


***


Reza menaiki tangga setelah Arzan lebih dulu meninggal nya, ia tidak benar - benar memasuki kamarnya tetapi kamar Nara yang sekarang ada di hadapannya.


Ia mencoba membuka, dan ternyata kamar itu tidak terkunci, ia masuk dan di suguhi dengan ruangan yang masih sama tetapi tetap terlihat masih bersih tak ada debu sedikitpun, mungkin saja para Maid yang berkerja disini tidak pernah melupakan kamar ini untuk selalu di bersihkan.


Setelah menutup pintu dan menguncinya, ia masuk kekamad mandi membersihkan tubuh nya terlebih dahulu, lalu berjalan ke arah lemari mengambil piyama nya yang dulu sempat tertinggal ketika ia sering tidur dengan sang adik.


Setelah memakai piyama ia kembali ke arah tempat tidur tetapi ketika ia melangkah suara ketukan di lantai terdengar berbeda.


Reza mengerutkan kening. "Apakah lantainya longgar? " gumamnya.


Kakinya terlalu masuk kedalam bawah tempat tidur ketika ia beranjak ke atas, ia mencoba menarik perlahan kasur tersebut dan mengetuk ke arah lantai.


"Bekas sayatan? " Reza semakin di buat penasaran dengan hal itu.


Kemudian ia mencari sebuah pisau yang ada di atas meja, mungkin itu bekas Nara yang sering memakan buah di kamarnya, ia langsung mencungkil kramik yang terlihat bekas sayatan teras dan terbuka.


"Apa ini? Apakah Nara menyimpan rahasia yang tidak aku ketahui? " pikiran Reza saat ini di penuhi dengan berbagai pertanyaan, kemudian pandangan nya jatuh pada map berwarna cokelat itu.


Ia mengambil benda tersebut. "Berkas apa ini? " tanpa banyak tanya lagi, ia langsung membuka map tersebut mengeluarkan kertas yang ada di dalam.


Kerutan di keningnya semakin dalam ketika membaca tulisan berhuruf besar 'SURAT WASIAT DAN PEMILIK SAH HARTA WARIS' .

__ADS_1


Mata Reza membola ketika melihat apa yang tercetak jelas di kertas tersebut


__ADS_2