Misteri Cinta Gadis Mafia

Misteri Cinta Gadis Mafia
Perubahan Reza


__ADS_3

Bismillah 🤲


Happy Reading 🥳💜


*


*


Dengan aura kepemimpinan yang kini keluar, para pengawal yang berjaga disana merasa tercekat betapa dingin dan datarnya pemimpin mereka sekarang, ketika melihat sang pemimpin lewat di antara mereka segera mereka menunduk memberi hormat.


"Selamat datang, Tuan Muda Reza, " ucap salah satu pengawal di ikuti oleh yang lain.


"Mn. " Reza hanya mengangguk lalu segera melanjutkan langkahnya.


Dengan langkah tegas dan penuh wibawa, ia melihat Yeru dan Qui beserta para sahabatnya yang tengah mengobrol tanpa mengetahui kehadiran nya. Reza mendekat dan hanya menyapa sebentar, tak menanyakan tentang sang adik kemudian melewati mereka dengan sikap acuh tak acuh.


Sampai di dalam, ia melihat Nara yang kini telah mengintrogasi Arres yang terlihat lemah sedangkan Furio masih belum nampak sadarkan diri.


"Keluar. " ucapan dingin Reza mengejutkan keduanya.


"Kakak? Sejak kapan? " tanya Nara melihat Kakaknya yang dengan wajah tidak mengenakkan.


"Baru saja, " balas Reza singkat.


"Kakak ngapain disini? " tanya Nara lagi.


"Keluar lah, ada hal penting yang harus aku bicarakan dengan nya, " ujar Reza menunjuk Arres.


"CK... Tidak mau kak, aku baru saja akan menginterogasi nya, " tolak Nara.


Namun melihat tatapan tajam Reza begitu menakutkan, Nara merasa menciut dan memilih untuk segera keluar.


"Baiklah. " Nara segera keluar.


"Ethan, panggil Yeru dan Qui kesini, sekalian sama Bima hanya ketiganya, aku tidak ingin yang lain, " perintah Reza.


"Baik, Za, " ucap Ethan segera menyusul Nara keluar.


Reza mendudukkan dirinya pada sebuah kursi kayu yang tidak tau darinya, ia menatap tajam ke arah Arres yang menunduk.


"Kamu masih berani tidak mau mengaku? " pertanyaan tersebut membuat Arres mendongak.


"Apa maksud mu? " balas Arres.


"Aku tidak perlu memberitahu mu apa yang ku maksud yang jelas jangan pernah membohongi ku! " bentak Reza.


"Apa lagi yang kamu inginkan Reza? Tidak puas kah kamu membuat adik ku menderita?! " suara Arres tak kalah kencang.


"Bukan adik mu, tapi adik Arres! " tekan Reza membuat Arres meneguk saliva kasar.


"A-apa maksud mu? Tentu saja adik ku, " sarkas nya.

__ADS_1


Reza tidak menjawab, ia tau orang ini berbohong, ia hanya menunggu dengan sabar dua anak buah yang selalu bersemangat kalau masalah untuk menyiksa.


"Tuan Reza, " ujar mereka ketika baru datang, terlihat Bima juga mengikuti mereka.


"Yeru, Qui, laksanakan tugas kalian, " perintah Reza tegas.


Keduanya yang tau apa yang di inginkan oleh sang Tuan pun mengangguk. "Siap, Tuan. "


"Ada apa, Za? " tanya Bima.


"Bangunkan dia! " perintah nya menunjuk Furio dan di angguki oleh Bima.


Pria yang sekarang mengaku bernama Arres ataukah ia benar - benar Arres Arlington, menatap takut ke arah Reza, hal itu di sadari oleh Reza, ia bisa menebak bahwa Pria yang ada di hadapannya ini ketakutan. Reza sudah bisa tau bahwa ia memang bukan Pria yang bernama Arres tetapi orang lain yang telah di kirimkan, karena Arres bukanlah semudah itu takut dengan sesuatu yang seperti ini, bahkan bisa di bilang kekuatan Arres setara dengan Reza.


"Sudah siap, Tuan, " ucap Yeru.


"Mulaikan, " ujar Reza dingin.


Keduanya mendekat ke arah Pria yang terlihat ketakutan itu. "Hey, apakah kamu ingin merasakan getaran yang menyakitkan? Kamu pasti rugi jika tidak mengatakan nya, " ucap Yeru terkekeh.


"Apa yang kalian inginkan baj*Ng*n! " umpatnya.


"Jangan mengumpat di hadapan Tuan!! " bentak Qui langsung mendekatkan sebuah alat setrum ketubuh Arres sehingga ia menjerit kesakitan.


"Katakan yang sebenarnya kamu siapa! " tatapan yang begitu nyalang terhadap Pria tersebut.


"Aku? Bukankah kamu sudah tau siapa aku? " jawabnya dengan nafas terengah-engah.


"Bagaimana kalau aku mencabut kuku mu? Pasti menyenangkan! " tukas Yeru mendekat kan sebuah penjepit yang mirip dengan tang.


Pria itu merasakan takut yang luar biasa, apakah ia akan memberitahu yang sebenarnya? Lalu setelah itu apa yang akan terjadi dengan dirinya? Bahkan Reza yang ada dihadapannya seperto tidak akan pernah mau memberinya ampun karena hampir melecehkan adiknya bahkan melakukan sesuatu yang sangat kejam terhadap Nara.


"Cepat katakan atau seluruh kuku mu semuanya aku cabut! " kini Yeru nampak geram sehingga ia menjambak rambut Arres.


"Akkhhh le-lepaskan! " teriaknya.


"Katakan!! " bentak Qui ikutan.


"Kalian pikir semudah itu? " balasnya.


"Oke, berarti kamu harus merasakan nya sekarang, " ujar Yeru lalu mulai melakukan aksinya mencabut kuku jari kaki Pria tersebut.


"AKKKKHHHH HE-HENTIKAN!! " teriaknya tak kuasa merasakan sakit.


"Aku tidak akan berhenti sebelum kamu memberitahu Tuan ku, " jawab Yeru.


Reza menatap itu dengan senyuman devil nya, terlihat mengerikan jika di lihat oleh orang biasa. Sedangkan Bima yang sudah membangunkan Furio dengan ember yang sudah berisi air berhasil membuat nya segera membuka mata.


"Kamu tidak ingin mengatakan sesuatu, kalau begitu tunggu giliran mu setelah Tuan Arres palsu mu itu! " tekan Bima menatap tajam, Furio tidak menjawab, ia menatap siksaan yang di dapatkan oleh Tuan nya itu, betapa mengerikan nya, bahkan ia sendiri merasa ikut ngilu ketika melihat Tuannya telah di cabuti kuku - kukunya itu, betapa kejam mereka pikirnya.


Nara yang berada di luar penasaran dengan apa yang sedang terjadi di sebuah ruangan yang berisi jeruji besi itu, ia ingin sekali masuk dan melihatnya tetapi Ethan yang sekarang berstatus menjadi kekasihnya mencegahnya untuk ikut masuk.

__ADS_1


"Diam saja disini, tidak baik masuk kedalam, " ujar Ethan lembut memegang lengan Nara.


"Tapi, aku hanya ingin melihatnya, " ujar Nara.


"Sayang, kamu tau kan tadi Kakak mu terlihat tidak baik, bagaimana kalau dia memarahi mu? " ujar Ethan lembut menyampirkan rambut Nara yang sedikit berantakan.


Nara yang di perlakukan begitu lembut kini merona dengan wajah memerahnya, Sherly, Aldo tak lupa Rio dan juga Vito yang melihat adegan seperti itu ingin sekali ia menangis, betapa bucin dua orang di hadapannya ini tanpa tau tempat.


"Dasar bucin! " ucap Sherly ketus.


Ethan yang mendengar nya hanya mengabaikan dengan acuh.


"Awas saja kalau kamu berani membuat Nara menangis, " ancam Sherly menatap tajam.


"Lily, sudahlah, " ujar Nara tersenyum lembut ke arah perempuan yang sudah ia anggap sebagai Kakaknya itu.


"Tapi, Nar_ "


"Jangan khawatir, aku akan menepati janji ku, " ujar Reza memotong ucapan Sherly.


"Jangan sampai Reza malah menembak mu dengan Glock nya, Et, bahaya. " Aldo menimpali dan hanya di angguki oleh Ethan.


"Apakah Reza mengatakan sesuatu? " tanya Vito.


"Tidak, dia hanya menyuruh mu memanggil mereka bertiga. " Ethan menghela nafas gusar, entah hal apa yang membuat sahabatnya itu berubah begitu dingin sekarang.


"Apa yang terjadi dengan Kak Reza? Kenapa dia sangat dingin? " Nara yang penasaran sedari tadi tidak kuasa untuk tidak bertanya.


Ketiga orang yang di tanya memilih untuk diam, entah apakah yang mereka pikirkan bahwa hubungan Nara dan Ethan yang membuatnya berubah ataukah hal lain? Bisa di bilang bahwa Reza terlalu posesif terhadap adiknya, takut Nara akan merasakan trauma jika Ethan tidak menepati janjinya.


"Entahlah, mungkin saja gara - gara kecurigaan mu waktu itu, bahwa yang didalam bukan Arres melainkan orang lain, " jawab Rio seadanya.


"Benar, bahkan Yeru sudah menceritakan bahwa dia juga sudah curiga semenjak kita menyerang mereka, " tukas Aldo.


"Yeru curiga? " tanya Ethan.


"Benar, dia sudah curiga karena seharusnya pasukan Scale Bones itu tidak begitu lemah, bahkan bisa di katakan mereka tidak bisa di kalahkan dengan mudah, seperti apa yang di katakan oleh Bima sebelumnya atau Nara sendiri, " ujar Sherly.


"Kalau bukan itu Arres, lalu mereka siapa? Dan dimana Arres yang sebenarnya, apakah mereka akan menyerang kita kembali? " terlihat kecemasan dalam wajah Nara, ia takut akan terjadi sesuatu kedepannya.


"Tenanglah, separuh anak buah juga sedang menyelidiki keberadaan nya, " ucap Sherly.


Rio yang teringat sesuatu kini angkat suara. "Aku juga tadi siang melihat Rain datang menemui Reza, " ujarnya.


"Rain? Untuk apa? " tanya Nara.


"Entahlah, tadi antar oleh Chen, aku belum sempat menanyakan nya ketika bertemu di luar sebelum Vito muncul dan masuk ke Mansion, dia langsung pergi, " jawabnya.


Aldo mengangguk. "Sepertinya Reza sudah tau sesuatu sehingga tidak heran dengan suasana hatinya yang begitu buruk, " ucapnya.


"Nanti kita tanyakan, " ucap Ethan di angguki oleh mereka.

__ADS_1


__ADS_2