Misteri Cinta Gadis Mafia

Misteri Cinta Gadis Mafia
Hal mengganjal


__ADS_3

Bismillah 🤲


Happy Reading 🥳💜


*


*


Lorong rumah sakit terlihat begitu sepi, dengan lampu yang sedikit redup tak ayal bagi orang yang begitu takut membuat dirinya menjerit merinding. Tetapi beda hal nya dengan lelaki muda yang masih duduk di kursi tunggu dengan sebuah ruangan yang ada di dekatnya.


Menghela nafas beberapa saat, kemudian teralihkan dengan bunyi ponsel yang terasa menganggu. Mengerutkan kening melihat nama yang ada di ponselnya.


"Aku tidak menerima kegagalan! " ujar nya langsung.


"....."


"Katakan! "


"....."


"Mn, bagus, kembilah dengan cepat, aku akan menyuruh yang lain menjemput kalian di bandara. "


"..... "


Beberapa menit kemudian telpon terputus.


***


Disisi lain, seseorang yang baru saja selesai menelpon, ia menghela nafas lega.


"Bagaimana? " tanya temannya.


"Komandan Rain menyuruh kita untuk kembali besok, " jawab nya.


"Baiklah, aku akan mengumpulkan beberapa file serta memindahkan video ke flashdisk, aku takut ini akan hilang, " ujar temannya.


"Hmm, kalau di pikir -pikir kenapa Komandan Rain begitu sangat berusaha keras menyuruh kita mencari bukti ini? Apakah Komandan ada hubungan dengan Nona Zemira? "


"Entah lah, aku juga tidak tau. " jawab nya kemudian beralih mengambil laptop milik nya dan mulai mengerjakan kembali tugas nya.


***


Malam terlihat semakin larut, hampir jam satu dini hari, Rain melipat tangannya di dada kemudian mencoba menenangkan pikiran sambil memejamkan mata.


Puk!


Tepukan di bahu membuat dirinya tersentak. "Ah.. Tuan Aldo, " sapa Rain sedikit terkejut.


"Jangan memanggil ku Tuan, panggil saja aku Aldo, " ujar nya sembari duduk di dekat Rain.


"Haha.. iya baiklah, ada sesuatu? " tanya Rain kikuk.


Aldo menatap ke arah Rain. "Tidak, apakah kamu membawa pakaian ganti? Kalau tidak pakai saja pakaian ku, " tawar Aldo memberikan beberapa pakaian lebih nya yang telah di ambilkan oleh anak buah Jungle Kingdom.

__ADS_1


"Tidak, seperti nya sebentar lagi aku juga akan pulang, biar anak buah ku yang lain berjaga disini sebelum kembali lagi, " tolak Rain halus.


"Hmmm.. baiklah, bagaimana anak buah mu? "


"Hanya luka di belakang kepala, beruntung tidak terlalu parah, " jawab Rain sedikit sendu, mengingat Reano adalah satu - satunya anak buan sekaligus sahabat terdekatnya.


"Jangan bersedih, semoga aja cepat segera pulih, " ujar Aldo.


Rain hanya mengangguk. "Nona Nara bagaimana? " tanya nya balik.


"Belum sadar, operasi nya memang berjalan dengan lancar, " balas Aldo, lagi - lagi Rain hanya mengangguk.


Kembali tempat tersebut menjadi hening sebelum Aldo berpamitan. "Baiklah, aku harus segera kembali kesana, kamu tidak apa - apa? "


"Tidak, kamu pergi saja, sebentar lagi anak buah ku datang, " ujar Rain tersenyum tipis.


"Oh, baiklah. "


Aldo kemudian berjalan meninggalkan Rain yang masih terduduk di kursi tunggu tersebut, Rain yang melihat punggung Aldo menghilang, ia segera masuk kedalam ruangan milik Reano.


***


Lampu yang begitu terlihat redup, meninggalkan keheningan dalam ruangan yang berisi banyak manusia tersebut, memejamkan mata terlihat lelah, helaan nafas khawatir karena sosok yang masih terbaring dan penuh dengan alat medis yang menancap di tubuh nya tak kunjung membuka mata.


Krieet..


Suara gesekan pintu kamar mandi menampilkan seseorang yang terlihat segar karena baru selesai mandi.


Ethan mengerjap pelan ketika merasa terusik. "Ada apa? " tanya nya sedikit serak. Ah.. ia terlalu banyak menangis hari ini karena memikirkan Nara.


"Mandilah, bersihkan tubuh mu, ini pakaian mu, " ujar Sherly memberikan pakaian ganti milik Ethan.


"Mn, terimakasih, " balas Ethan mengambil pakaian tersebut lalu segera beranjak ke arah kamar mandi.


Sherly kemudian mengambil benda pipih nya melihat jam yang sudah larut, ia mengelus pelan rambut panjang milik Nara sebelum beralih ke arah Bima yang kini juga ikut tertidur di samping Reza.


"Nara,,, cepatlah sadar, kami semua mengkhawatirkan mu, " ujar Sherly pelan menatap ke arah Nara.


Ia kemudian kembali merebahkan tubuhnya di sofa, mencoba memejamkan matanya akibat terasa lelah karena pertempuran tadi.


***


Sementara di ruangan yang berbeda, terlihat adua laki - laki terbaring di sofa yang terlihat panjang, persis seperti ruangan milik Nara, tetapi sedikit berbeda dan tidak terlalu mewah.


"Kita belum memberitahu Dady dan Momy, " ujar Galen.


"Aku sudah memberitahunya tadi, kata Dady, Momy sampai sakit karena kita belum kunjung kembali, " jawab Arzan menghela nafas panjang.


"Apa?! Lalu bagaimana keadaan Momy? " tanya Galen khawatir.


"Tenanglah, anak buah Rain memberikan pelayanan baik kepada mereka, kita juga harus pulang besok, lagipula Dokter juga sudah mengizinkan, " balas Arzan.


"Syukurlah kalau begitu. "

__ADS_1


Ruangan tersebut kembali hening. Hari yang penuh menegangkan telah mereka lewati, tak menyangka bakal ada peristiwa seperti ini, dan yang paling tak di sangka pula adalah Saudara mereka yang begitu banyak memiliki pasukan khusus.


Entah darimana Reza bisa membangun Organisasi yang begitu besar seperti ini? Itulah di pikiran keduanya, selama ini mereka tidak tau apapun tentang Reza, bahkan Reza juga terkesan menutupi dirinya sendiri.


***


03.00 pagi, semua yang berjaga di ruangan VVIP milik Nara kini kembali terbangun, padahal waktu masih banyak untuk kembali tidur, tetapi mereka lebih memilih untuk menghabiskan waktu untuk berjaga, hanya tertidur beberapa jam mereka kembali terbangun.


Semuanya duduk melingkar di atas hambal berbahan lembut yang ada di atas lantai, tentu saja itu telah di sediakan oleh Dokter Dika karena terlalu akrab dengan semuanya, bertahun - tahun Dokter yang kini entah memiliki anak berapa, sudah begitu setia dan betah menjadi Dokter khusus untuk Jungle Kingdom, sebab itu, setiap anggota Jungle Kingdom yang berobat kesana tentu langsung akrab dengan Dokter tersebut.


"Apakah seluruh pasukan telah kembali? " tanya Reza yang baru keluar dari kamar mandi tetapi terlihat matanya begitu bengkak akibat terlalu banyak menangis, tak jauh beda dengan Ethan, tetapi Ethan sedikit terlihat lebih baik.


"Aku sudah menelpon Eren dan yang lainnya, semua sudah beres, " ujar Rio.


"Bagaimana dengan b*j*ngan itu? " kini Sherly ikut bersuara.


"Yeru dan Qui sudah mengurus nya, sampai sekarang mereka belum sadar, " timpal Vito sembari memainkan Game di laptop kesayangannya yang sebelumnya di ambilkan oleh salah satu anggota Jungle Kingdom.


"Tentu saja dia belum sadarkan diri, aku memukul nya penuh tenaga! " sarkas Reza menghela nafas.


Semuanya tertawa ringan. Tetapi hanya Bima yang kini langsung berubah ekspresi nya.


"Kenapa? " tanya Ethan.


"Kalian tidak merasa ganjal dengan pertempuran nya? " pertanyaan tersebut membuat semua terlihat bingung.


"Maksud kamu apa? Bicara yang jelas! " tukas Aldo.


"Sebelumnya yang kita tau bukankah Organisasi Scale Bones terkenal dengan kelicikan dan kehebatannya? " ujar Bima.


"Lalu? " timpal Sherly.


"Ck.. aiyaaa.. tentu saja aku curiga kalau mereka bukanlah Organisasi Scale Bones yang asli! " jawab Bima gusar.


"Ck... jangan berbicara omong kosong! Bukankah sudah jelas tato mata elang di tangan mereka? " ujar Ethan.


"Ya memang sudah jelas tapi_ "


"Ka--kak-- "


Ucapan Bima tiba - tiba terhenti, hening, ruangan tersebut kini hening, semua mata saling memandang, tak ada sedikitpun yang bersuara.


Tunggu!


Apakah mereka bermimpi atau berhalusinasi? Ataukah ini kenyataan? Kenapa seperti terdengar suara yang tidak asing di belakang mereka? Seketika bulu kuduk mereka meremang, tak ada satupun yang berani menoleh.


"Shibal! " umpat Ethan dengan khas bahasa koreanya.


*


*


Hallo guys! 😓🤓👏👏😌😌

__ADS_1


__ADS_2