Misteri Cinta Gadis Mafia

Misteri Cinta Gadis Mafia
Memulai pertukaran


__ADS_3

Bismillah 🤲


Happy Reading 🥳💜


*


*


Dengan perasaan penuh tekanan, Nara berusaha sekuat tenaga untuk menahan getaran pada tubuh nya. Sejujurnya ia takut, tapi bukankah dengan ketakutan kita dengan begitu kita tidak akan meremehkan lawan? Berkali-kali tangan nya menggenggam setir mobil, menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan.


Nara bukanlah seorang pahlawan, ia hanya manusia biasa, pasti akan ada rasa takut dalam dirinya. Namun berkali-kali ia tekankan bahwa ia harus bisa berkorban demi keluarganya, sebenci apapun itu Keluarga nya terhadap Nara ia akan berusaha menyelamatkan mereka selama ia mampu.


Mendengar lelucon para anak buah Kakak nya, Nara sedikit merasa tenang, bahkan percaya diri bahwa mereka tidak akan pernah membiarkan dirinya kenapa-napa.


"Aku melihat ada mobil berwarna putih mendekat, apakah kalian melihatnya? " seru Chen.


"Ya, ya, kami melihat nya. " Aldo terus menatap ke arah layar.


"Apakah itu penculiknya? " tanya Arzan mendekat.


"Tidak tau, itu sepertinya anak buah nya, " jawab Aldo.


Reza merasa was - was, ia kemudian langsung memberitahukan Nara. "Dek, mereka sudah ada di depan, apakah kamu bisa? "


Nara melihat nya meski jarak sedikit jauh, kemudian ia menjawab. "Aku melihatnya, Kak, tenanglah, aku pasti bisa, " jawab Nara yakin.


Sherly mengepalkan tangan kuat - kuat, menahan rasa sesak dalam dirinya. "F*ck! Seharusnya aku saja yang berangkat, aku yang ada disana! Kenapa harus Nara..! " lirih Sherly tidak tega mendengar sedikit suara gemetar dari Nara.


"Sherly, tenanglah, mungkin saja mereka tidak akan percaya bahwa kamu itu adalah Nara, aku yakin sebelum Furio menghubungi kita menggunakan nomor itu, dia sudah tau wajah kita, " ucap Bima.


Sherly menghela nafas. "Aku akan menebas leher mu, Furio br*ngs*k!! Bahkan aku akan menangkap ketua lakn*t mu itu!! " desis Sherly geram.


"Semuanya! Bersiaplah! " seru Reza.


Pasukan yang masih ada di dalam ruangan pemantau segera keluar mengambil seluruh alat perang mereka.


"Helmi, atur anak buah dengan baik! Lindungi saudara kalian, dan jangan biarkan pasukan Jungle Kingdom menyerang sendirian, " ucap Rain tegas kepada salah satu tangan kanan nya.


"Siap, Tuan! " ucap nya, ia juga bergegas mengambil bebagai macam peralatan.


"Apa yang akan kalian lakukan? " tanya Galen menatap seluruh anak buah Reza dan Rain sudah memakai senjata lengkap.


"Arzan, Galen, saya tidak tau apakah kalian memiliki sedikit perasaan antara adik dan Kakak terhadap Nara, untuk kali ini kalian diam lah disini, saya bersama yang lain akan mulai bergerak sekarang, " ucap Reza tegas dan datar.


"Ba-bagaimana kalau kami ikut? " tawar Arzan.


"Arzan! " Hanna langsung menatap tajam.


"Kamu tidak akan bisa melawan mereka, " tambah Jonathan.


"Tidak, aku harus ikut, Za, untuk menebus kesalahan ku biarkan aku mengikuti kalian, " ujar Arzan memohon.


Ethan mendekat. "Seberapa pengalaman nya kamu dalam menembak? Apakah kamu bisa menghindari lesakkan peluru? Apakah kamu bisa berkelahi? " tatapan Ethan sinis.


Bima langsung menyenggol lengan Ethan. "Ethan. "


Ethan paham kalau Bima menyuruhnya untuk diam, kemudian Galen angkat suara. "Kami memang tidak pernah memegang benda seperti itu, kami hanya pernah ikut latihan taekwondo, tapi bukankah kalian bisa mengajari kami untuk menggunakan nya? " tanya Galen meyakinkan mereka.


Reza mengerut kan kening, Reza tidak pernah tau kalau dua Saudara laki - lakinya ini pernah belajar bela diri, tetapi ia tidak menanyakan apapun. kemudian ia menghela nafas pasrah. "Baiklah, kalian berdua ada di pihak saya. " Reza mengambil sebuah Pistol S&W 500M, pistol tersebut ialah pistol paling mematikan di antara Pistol Desert Eagle, peluru dari Pistol tersebut dapat menembus dan menghancurkan targetnya.


"Pakai ini, gunakan kalau dalam keadaan mendesak, jangan terlalu mengandalkan senjata, gunakan kemampuan bela diri yang lainnya, " ucap Reza memberikan dua buah Pistol ke arah Saudara nya itu.


"Tentu saja, " ujar Galen ia menatap Arzan menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Saya harap kalian tidak sampai salah target. "


"Reza! Apa - apaan kamu, ha?! Kamu mau membahayakan mereka?! " teriak Hanna.


"Momy! Sekali ini saja bisa tidak jangan terus menyalahkan Reza?! " ganti Arzan yang berteriak.


"Keadaan sedang mendesak, ini demi Jennie dan keluarga kita, tolong, Mom, jangan terlalu egois! Sudah cukup Momy begitu mudahnya langsung mengorbankan Nara demi keegoisan Momy! " mata Arzan nampak memerah sedikit menimbulkan rasa kecewa kepada Ibu nya.


"Maaf, Mom, kali ini aku dan Kak Arzan harus ikut turun tangan, " tambah Galen.


Hanna membisu, ia tidak menyangka kedua Putranya itu berada di pihak Reza, ia tidak bisa mengatakan apapun kemudian Jonathan menariknya.


"Dady harap kalian tidak terluka, Dady percaya sama kalian, " ucap Jonathan.


"Terimakasih, Dad, " ucap Arzan dan Galen bersamaan.


"Tuan Muda Reza, adik anda akan segera keluar dari mobil! " seru Rain.


Nara tidak mendengar pembicaraan apapun di tempat Kakak nya, ia hanya fokus menjalankan mobil sehingga ia kini bertemu dengan beberapa anak buah Scale Bones. Namun belum sempat ia membuka pintu mobil ia melihat seorang Pria berwajah tegas dan kelicikan begitu tercetak jelas pada wajah nya.


"Turun sekarang! " tegas Furio. Bahkan ia menodong kan sebuah senjata ke ara Nara.


Nara bergeming, ia tidak melakukan apapun, namun pandangan tetap tajam.


"Aku ulangi turun sekarang atau aku tembak! " bentak Furio.


"Dek.. hati - hati, " lirih Reza dari seberang. "Chen, kalau ada tanda Nara dalam bahaya tembak saja semuanya! " perintah Reza tegas.


"Siap, Tuan! " seru Chen yang masih di atas pohon.


Tentu saja semuanya merasa tegang, karena semuanya tau bahwa ini pertama kalinya Nara masuk kedalam kandang musuh sendirian.


"Suzhi! Bergerak ke arah alur yang telah di tandai oleh Chen, kalian akan bertemu di sana, dan ingat tetap waspada! " seru Ethan menatap anak buahnya.


"Siap, Komandan! " ucap Suzhi.


"Turunkan Jennie! " balas Nara tak kalah tegas dan dingin.


"Hm, kamu pikir semudah itu? Cepat kemari atau kepala mu aku tembak! " bentak Furio lagi.


"Dek.. ikuti apa yang di katakan, jangan takut, " ucap Reza masih terdengar dari arah alat komunikasi.


Langkah demi langkah Nara mendekat ke arah Furio, Nara menghela nafas perlahan menetralkan detakan jantungnya. Bukan dia saja yang merasakan hal itu, semua yang ada di seberang bahkan tidak lebih ketakutan daripada Nara.


Eren dan juga Zhu yang berada di atas pohon bersama dengan anak buah lainnya bersiap menarik pelatuk melihat ke arah mereka, bahkan Chen juga ikut mengawasi melalui layar ponsel nya yang sedang melakukan live streaming.


"Di mana Jennie?! " tanya Nara dengan nada datar ketika ia hanya berjarak satu meter dengan Furio


"Mendekat lah ke mobil! " perintah lelaki itu, tidak peduli dengan pertanyaan Nara.


"Dek, jangan mau! Pastikan Jennie keluar dulu dari mobil okey? " perintah Reza melarang Nara untuk berjalan.


Nara paham akan ketakutan Kakak nya, bukan kah mereka ingin Nara yang menggantikan Jennie? Jadi ia harus dapat pastikan bahwa ini bukanlah sebuah kelicikan dari mereka.


"Saya ingin melihat Jennie, baru saya akan mendekat ke arah mobil. " nada bicara Nara tetap tenang namun dingin.


"Mendekatlah atau suadara mu itu aku tembak! " ancam Furio menatap Nara tajam.


"Chen! Lihat ke arah mobil apakah benar disana ada Jennie?! " perintah Reza ,seharusnya bukan seperti ini yang ia inginkan.


"Tuan, saya tidak melihat dengan jelas, ada anak buah Furio di dekat mobil dan menghalanginya, jendela mobilnya sangat gelap mereka menutup rapat, " jawab Chen.


"Sh***!! Apa mau mereka sebenarnya! " teriak Ethan frustasi.

__ADS_1


"Reza, bagaimana ini? " ucap Sherly cemas.


Reza nampak menahan amarah. "F*ck, Arres! Awas saja kalau aku bertemu dengan mu! " Reza mengepalkan tangannya.


"Saran ku tidak apa Nara mendekati mobil dulu, memastikan Jennie ada disana, kalau sudah benar terkonfirmasi Jennie di dalam mobil bukankah kita akan langsung bergerak? " ucap Arzan memberikan pendapatnya.


"Kalau kamu tidak mendekat ke mobil kamu akan kami tembak sekarang juga! " kini anak buah yang di bawa Furio membentak Nara.


Nara bergeming, ia tidak bisa melakukan apapun, apakah ia akan menuruti mereka? Ia takut justru salah langkah, tetapi tidak ada pilihan lain. Jika ia terus saja terlihat ketakutan maka musuh akan semakin gencar mempermainkan dirinya.


"Br*ngs*k! Kalau Nara tidak mau mendekat Jennie akan di tembak di tempat bukan? " amuk Reza, emosi kian membara.


Nara menghela nafas berat, biarlah kali ini jika ia benar-benar di tangkap setidaknya Jennie kembali dan pengorbanan nya tidak sia - sia, toh Kakak nya juga akan segera menyelamatkan dirinya.


"Baik, saya akan mendekat! " putus Nara, ia melangkah ke dekat mobil.


"Nara... " lirih Ethan terdengar.


"Dek,,, jangan... " ucapan Reza bergetar, ia memukul kepalanya sendiri dengan telapak tangan.


Ketika Nara telah sampai di dekat mobil, pintu mobil tersebut terbuka dan dapat melihat seorang gadis perisis seperti Jennie, dengan baju yang telah koyak bahkan luka di sekujur tubuh nya, namun yang membuat Nara semakin bimbang kepalanya di tutup dengan kain hitam.


"Turun kan dia sekarang! " tegas Nara menatap tajam ke arah Furio.


"Jika aku menurunkan nya jangan sekali-kali kamu mendekat, atau kepala mu dan saudara mu akan aku tembak! " ancam Furio mengarahkan pistol ke arah nya.


Nara tidak melakukan apapun, ia mencoba mengikuti arah permainan Furio saat ini. "Taechan! " panggil Furio ke arah anak buah nya yang masih duduk di dalam mobil.


"Iya, Komandan? " ia segera mendekat.


"Periksa tubuh nya apakah ada penyadap suara ataukah alat pelacak! " tandas Furio membuat detak jantung Nara semakin berdetak kencang.


"Siap, Komandan! "


"Apa - apaan membiarkan laki - laki melihat tubuh saya? Dasar br*ngs*k mesum! " jerit Nara.


"Diamlah atau benar sekarang aku menembak mu! " ancam Furio.


"Tembak sekarang saya tidak takut! " bentak Nara.


Beberapa anak buah Furio memegang tangan Nara, Nara mencoba memberontak bahkan ia menendang area vital mereka sehingga mereka terjatuh ke tanah.


"Kamu benar - benar mau mati sekarang! " Furio mengarahkan Pistol ke arah kepala Nara.


"Chen! Lakukan sekarang! " teriak Reza, ia tidak tega melihat adik nya di perlakukan seperti itu.


"Semuanya sekarang! " Bima mengintruksikan kepada para anak buah yang masih di markas untuk segera keluar ke arah jalan yang di tempati Nara sekarang.


Dor!


Dor!


Tembakan bersahutan ke arah Furio dan juga Nara, dengan gesit nya Furio menarik Nara membuatnya menjadi penghalang.


"Aku tau kamu mendengar ini, Reza, hahahah, kalau sampai anak buah mu menyerang ke arah ku maka adik kesayangan mu akan mati sekarang juga! " ancam Furio menahan kedua tangan Nara dengan kuat sehingga Nara tidak bisa memberontak lagi, bahkan pistol dengan tangan kanan nya ia arahkan ke kepala Nara.


*


*


Like..


Vote....

__ADS_1


Komen ......


💗💗👯 Terimakasih semuanya 👍👍 🙂


__ADS_2