
Bismillah 🤲
Happy Reading📖 💜🙂
*
*
"Benarkah? " tanya Nara begitu antusias.
"Sure! Kalian bersiaplah, Papi mau kembali ke kamar dulu, Papi akan menyuruh asisten Papi untuk mengurus semuanya. " Pratama langsung melangkah naik ke atas.
"Yeee makan malam! " ucap Nara antusias.
"Seneng banget sih, " ujar Reza.
"Hm, makan malam sama Papi, " jawab Nara.
"Za, kamu sudah lihat pergerakan nya? " bisik Ethan kepada Reza, mengingat tujuan utama nya juga untuk keluar.
Reza segera mengeluarkan tablet dari balik jas nya, Nara yang melihat milik Kakak nya itu pun mendekat.
"Kakak kapan beli ini? " tanya Nara menunjuk tablet Kakak nya.
"Sudah lama semenjak di luar negeri, " balas Reza tetap fokus melihat layar benda pipih tersebut, Nara juga ikut memandang ke arah layar begitu pula Ethan.
"Ini kan Mansion kita, " guman Nara.
"Iya, Kakak sengaja memantau pergerakan dirumah itu, " balas Reza singkat.
"Kenapa? " tanya Nara lagi tetapi Reza tidak menjawab.
Ethan melangkah pindah ke sisi Nara dan duduk disana, ia kemudian memberi kode kepada Nara untuk tidak terlalu banyak bertanya.
"Ikut yuk, " ucap Ethan menarik lengan Nara, Reza hanya tetap diam dan fokus melihat ke layar.
Sesampai di luar Nara segera menarik tangannya. "Ada apa? " tanya Nara.
"Reza belum menceritakan apa - apa sama kamu? " tanya Ethan.
"Cerita apa? "
" Kamu ingatkan kemarin ketika kita berada di gudang markas, " ujar Ethan.
__ADS_1
"Lalu? "
"Rain itu adalah salah satu pasukan yang menyerang kamu di danau waktu itu, Reza tidak langsung membunuhnya selesei berbicara karena menurut nya dia tidak pantas untuk di bunuh, " jelas Ethan panjang lebar.
"Apa?! Ta-tapi ini tidak mungkin. " Nara tidak menyangka seseorang yang di kiranya baik ternyata ialah dalang di balik penyerangan tersebut.
"Kamu pikir ketika berada di gudang penyiksaan terjadi apa? " tanya Ethan, ia heran kenapa Nara tidak langsung bisa menebak sesuatu yang terjadi.
"Aku pikir dia anak buah nya Kak Reza, aku pikir mereka kesana waktu itu hanya untuk membahas hal penting, dan melihat Rain terluka aku rasa sih wajar aja karena mungkin telah melawan musuh, " jawab Nara yang berhasil membuat Ethan memijit keningnya. "Jadi itu tempat Kak Reza sering membawa tahanan nya? " tanya Nara lagi.
"Iya, sedikit jauh kan dari Mansion JK? Kamu masih belum mengetahui apa saja di tempat itu, " ujar Ethan.
"Lalu apa yang di temukan oleh Kak Reza dari Rain? "
"Rain itu bukan sembarangan anggota, mereka memiliki organisasi yang begitu hebat sehingga dengan para anggotanya bisa membantu sebuah kelompok untuk menguasai dunia, " jelas Ethan, Nara hanya terdiam menyimak penjelasan dari Ethan.
"Entah kenapa mereka ingin menangkap mu, dek, makanya beberapa hari yang lalu Reza memerintahkan seluruh pasukan bergerak untuk memantau mereka, akhirnya salah satu anak buah Rio berhasil menemukan nya yaitu Rain, karena memiliki tato mata elang yang sama persis yang di lihat oleh Aldo ketika penyerangan di danau. " sesekali Ethan merapikan rambut Nara yang di terpa oleh udara malam.
Nara menunduk, ia berpikir kenapa ia bisa sebodoh itu dalam mengetahui tentang hal penyerangan, kenapa dia bisa begitu polos? Apa yang bisa ia lakukan?
Kemudian Ethan menangkup wajah Nara dengan kedua telapak tangannya, memandang mata indah nan bulat. Hal itu membuat Nara salah tingkah sendiri, ia menunduk dengan muka merona merah.
"Jangan berpikir tentang apapun saat ini, kamu harus fokus untuk kedepannya, masalah ini biar kami yang akan menyelesaikan nya, " ucap Ethan lembut.
"Aku tidak mungkin diam saja,Kak, aku harus ikut membantu, " ujar Nara memegang kedua tangan Ethan.
"Apakah aku terlalu menyusahkan? " tanya Nara berkaca-kaca.
"No! Tentu saja tidak! Siapa bilang kamu menyusahkan, justru dengan adanya kamu Reza bisa sedikit tenang untuk memikirkan sesuatu sebelum bertindak, " jawab Ethan tersenyum tulus.
"Baiklah, aku akan berusaha untuk menjadi terbaik buat kalian semua. Aku akan mencoba sesuatu yang belum aku ketahui, " ujar Nara sedikit bersemangat.
"Lakukan lah selama kamu mampu, asalkan jangan sampai luar batas , " ujar Ethan.
"Iya,Kak. "
"Ayok masuk, mungkin Pak Pratama sudah siap. " Ethan menggandeng tangan Nara untuk kembali masuk kedalam.
***
"Kalian sudah siap? " tanya Pratama sebelum menaiki mobilnya yang di kemudikan oleh sopir pribadi nya.
"Sudah, " jawab mereka kompak.
__ADS_1
"Kita naik satu mobil ya, Papi akan duduk di depan kalian di belakang, " ujar Pratama yang di angguki oleh mereka bertiga.
Semuanya telah masuk kedalam mobil, Nara di apit oleh dua Pria sekaligus Kakak nya yang berada di sisi kanan dan kiri. Mobil mewah tersebut melaju menempuh suasana malam yang terlihat tak begitu ramai.
Sepanjang perjalanan Nara terus terdiam sambil menyenderkan punggungnya ke arah belakang, ia tak habis pikir kenapa bisa sepolos itu bertanya kepada musuh nya saat berada di gudang penyiksaan.
'Aku akan terus latihan untuk menyiapkan segala sesuatunya, aku tidak boleh lemah, sudah cukup aku bertingkah layaknya anak kecil, " batin Nara dalam hati. Kini tekad nya sudah kuat untuk berusaha menjadi yang terbaik untuk kedepannya.
"Mikirin apa? " tanya Reza menatap wajah lesu adiknya.
"Tidak ada, hanya sedikit pusing saja, " kilah Nara enggan menatap Kakaknya.
"Ada masalah? " tanya Pratama menghadap belakang.
"Tidak ada,Pi, " jawab Nara.
Reza merasa sedikit aneh dengan tingkah adiknya, kenapa berubah menjadi pendiam begini? Biasanya dia paling cerewet kalau sedang ramai.
Rea menatap Ethan dan bertanya namun Ethan hanya menggidikkan bahu tidak tau. "Ada apa? " Reza memegang tangan adiknya.
"Tidak ada,Kak, " jawab Nara segera melepas pegangan saat itu. Reza hanya bisa terdiam tidak tau harus apa lagi.
"Kalau ada masalah cerita, " timpal Ethan.
Nara saat ini sedang tidak ingin di ajak mengobrol apapun, ia cukup pusing setelah mendengar cerita dari Ethan, di tambah Kakak nya yang tidak ingin bercerita hanya karena tidak mau ia terluka di tangan musuh. Sungguh membuat perasaan Nara sakit karena merasa dirinya hanyalah beban di antara Kakak nya.
Nara memejamkan mata mencoba menghilangkan pikiran yang tidak penting, namun itu sungguh sulit untuk nya, ia harus berlatih apa? Apakah ia harus bertemu dengan guru yang mengajarkan nya bela diri dulu?
Setelah beberapa menit di perjalanan, mobil pun sampai di sebuah restoran mewah nan elegan, cukup hanya kalangan atas saja yang bisa masuk ke tempat ini. Berbagai macam bunga serta lampu warna-warni yang menghiasi setiap iringan langkah para pengunjung untuk kedalam.
Semua turun dari mobil, Nara berusaha menguatkan hatinya supaya tidak boleh berlaku manja dengan siapapun, ia menegakkan tubuh layaknya seorang pemimpin. Dengan sebatu boot hitam di padukan dengan jaket kulit kulit hitam dan rambut yang di biarkan bergerai menambah kesan kecantikan dalam dirinya.
"Ayok masuk, Papi sudah pesan tempat khusus untuk kita, Papi yakin asisten Papi tidak salah memilih tempat, " ujar nya girang.
"Iya,Pi, " jawab Reza tersenyum.
Mereka segera melangkah masuk kedalam, Nara berjalan di tengah Ethan dan Reza, sedangkan Pratama berjalan di depan. Para pengunjung termasuk kaum wanita menatap tak berkedip ke arah dua pemuda tampan itu, tentu saja mereka iri melihat Nara, berjalan di antara dua pangeran dan raja dalam sebuah organisasi besar.
Wajah Nara berubah seketika, saat ini tidak ada Nara yang menatap dengan penuh kesenangan, ia hanya menatap datar persis seperti orang yang sangat tidak bisa berbaur dengan banyak orang, meski saat ini Nara ingin bergelayut manja di tangan Kakak serta Ayah angkatnya tetapi ia tahan hanya untuk bisa membiasakan diri.
*
*
__ADS_1
Vote
Like komen 🥰